Sunday, May 27, 2012

SASTRA DI MATA IGNAS KLEDEN : Mengulas Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan

Manneke Budiman, MA
http://www.fib.ui.ac.id/

Membaca Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan serasa menyaksikan bangkitnya kembali kritikus Subagjo Sastrowardojo, yang pernah gemilang dengan karyanya Sosok Pribadi dalam Sajak bertahun-tahun yang lalu. Sejak kepergian Subagjo Sastrowardojo, terasa betul ada kevakuman dalam produksi kritik sastra yang berbobot hingga lahirnya buku Ignas ini. Ia tidak hanya memberikan contoh yang baik kritik sastra yang bermutu, tetapi juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara membuat kritik sastra yang bermutu. Ia juga memperlihatkan bagaimana gagasan dapat dielaborasi baik secara ekstensif maupun intensif, bergerak keluar-masuk teks sastra yang sedang diulasnya, dan menciptakan hubungan serta relevansi antara yang khusus atau spesifik dan yang umum atau universal.
Bahkan tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa kehadiran buku Ignas Kleden ini semestinya menjadi suatu tonggak baru yang penting dalam aktivitas kritik sastra dan penulisan kritik sastra di Indonesia. Ignas berangkat dari persoalan yang paling fundamental dalam studi sastra, yaitu pertanyaan apa yang sastra dan apa yang bukan sastra, dan ini adalah suatu langkah yang berani karena persoalan ini pulalah yang sesungguhnya menggelitik para pakar sastra selama ini. Ketidakmampuan mereka untuk memberikan jawaban yang tuntas dan memuaskan justru menjadi faktor penting yang memngkinkan studi sastra untuk terus berkembang dengan dinamis.

Ignas mendekati persoalan ini secara multidimensional. Sastra dibahas mulai dari hubungannya dengan masyarakat yang melahirkannya sampai ke kaitan antara sastra dan kebenaran. Enam pertanyaan yang dilontarkan Ignas adalah pertanyaan-pertanyaan hakiki yang tak henti-hentinya digeluti oleh para sarjana sastra di manapun juga mereka berada. Pertama, apa yang membedakan sastra dari tulisan-tulisan jenis lainnya? Kedua, bagaimana sastra terkait dengan kebudayaan yang melahirkannya? Ketiga, bagaimana sastra dimaknai dalam hubungan dengan penulisnya? Keempat, apakah sastra harus kontekstual? Kelima, bagaimana ‘persaingan’ antara sastrawan dan kritikus sastra dapat dijelaskan? Dan keenam atau terakhir, apa hubungan antara sastra, realitas objektif, dan imajinasi?

Keenam pertanyaan ini coba dijawab oleh Ignas lewat esei-esei kritis tentang berbagai genre sastra dan sastrawannya, serta masalah-masalah yang diangkat dalam karya-karya itu. Saya tak hendak mengulas esei-esei itu satu persatu karena hal serupa telah pernah dilakukan oleh Faruk pada harian Kompas beberapa waktu yang lalu. Saya hanya akan mengambil beberapa gagasan yang dilontarkan oleh Ignas dalam sejumlah eseinya sebagai titik tolak kritik saya atau memberikan catatan kepada beberapa hal yang menarik dalam pengamatan saya atas buku ini.

Pada awal tulisannya, Ignas secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak berbicara tentang sastra sebagai seorang kritikus sastra, melainkan lebih sebagai seorang pembelajar sastra atau, dalam kata-kata Ignas sendiri, keterlibatannya dengan sastra “bukanlah suatu keterlibatan profesional” (hal. 4). Posisi ini justru memberikan keleluasaan baginya untuk tidak mengikuti ‘pakem’ kerja kritikus sastra (apapun bentuknya itu jika ada). Barangkali, ini sebabnya mengapa banyak pembaca buku ini yang berkomentar bahwa pendekatan yang digunakan Ignas tidak konvensional dan cenderung melahirkan gagasan-gagasan yang filosofis alih-alih sastrawi. Secara lebih gamblang dikatakan bahwa intervensi gagasan-gagasan filsafat dalam banyak esei dalam buku ini telah menyebabkan kekaburan batas antara kritik sastra dan esei filsafat. Saya akan menanggapi hal ini setelah terlebih dahulu kembali pada persoalan-persoalan elementer yang diangkat oleh buku ini.

Dalam menjawab pertanyaan pertama, Ignas berpegang pada dikotomi yang agak konvensional, yakni antara makna tekstual dan makna referensial. Dalam pandangannya, sastra berinteraksi baik dengan dunia di dalam dirinya sendiri, yang menghasilkan makna tekstual, maupun dengan dunia di luar dirinya, yang menghasilkan makna referensial. Ignas berkeyakinan bahwa hal yang membuat sastra menjadi unik—yang membuat sastra adalah sastra—adalah pengedepanan makna tekstualnya. Apakah secara implisit ada penilaian mutu atau penetapan standar peringkat disini, yakni bahwa karya sastra yang lebih menitikberatkan pada makna referensialnya, dengan demikian, adalah karya sastra yang bobotnya lebih rendah daripada karya yang mengutamakan makna tekstualnya?

Kedua, walaupun Ignas mengakui adanya hubungan antara sastra dengan kenyataan di luar dirinya, hubungan antara keduanya lebih bersifat “simbolik” daripada kausal. Hubungan itu dikatakan simbolik karena selalu mengandung ambivalensi. Bagi Ignas, sebuah simbol berperan ganda karena ia mengungkapkan sesuatu dan, pada saat yang sama, menyembunyikannya. Dengan kepekaan yang tinggi, Ignas mampu menghindari jebakan pemikiran yang menghubungkan sastra dan lingkungan budayanya secara deterministik dan simplistik. Sastra, dengan demikian, diperlakukan sebagai sebuah dunia yang kompleks dan tidak sekadar refleksi pasif realitas di luar sana.

Selain itu, Ignas juga menempatkan sastra di antara tegangan antara sepasang dikotomi lainnya, yaitu antara makna tekstual dan makna yang diberikan oleh penulisnya. Berbeda dengan pendirian para penganut Kritik Baru yang mengharamkan pertimbangan atas maksud penulis dalam memaknai sebuah karya sastra, Ignas tetap berpendapat bahwa tafsir penulis atas karyanya sendiri patut diberi tempat dalam medan pemaknaan, tetapi status tafsir penulis itu tidak lebih istimewa dari tafsir pembaca lain. Posisi ini memungkinkan kritik sastra untuk berbicara tentang produksi sastra di samping tentang konsumsi sastra tanpa perlu merasa bersalah.

Namun, Ignas juga menegaskan bahwa, pada saat kita berbicara tentang pengaruh sebuah karya pada pembacanya, bukan isu produksi yang terutama berperan, melainkan latar belakang dan pengalaman hidup pembaca atau cara pembaca meresepsi karya tersebut. Penegasan ini penting karena ia memberikan tempat yang adil dalam kritik sastra kepada fungsi pragmatik sastra dalam kaitan dengan pembacanya, yang juga dipersoalkan oleh para pengikut Kritik Baru.

Pembahasan tentang persaingan antara sastrawan dan kritikus sastra adalah salah satu bagian yang paling menarik bukan hanya dari segi bagaimana posisi Ignas dalam menyikapi hal ini, tetapi juga dari segi bagaimana tegangan antara kedua pihak itu muncul dan mewarnai esei-esei Ignas sendiri dalam buku ini. Ignas melihat bahwa pada dasarnya perdebatan berkisar pada persoalan apakah kritik sastra adalah suatu “pekerjaan ilmiah” atau “kegiatan kesenian.” Bagi Ignas, bobot sebuah kritik sastra diukur dari keberhasilannya memahami sebuah karya sastra, dan bukan dari kecanggihan teori atau metode yang digunakan oleh kritikusnya. Artinya, sebuah kritik baru berhasil apabila kritikus mampu “mengapropriasi sifat-sifat kesusastraan suatu karya” dan mengeksplisitkannya dalam kritiknya (hal. 19).

Plato dalam Republic mengecam Homerus karena, dalam pandangannya, sebagai seorang penyair Homerus berpretensi mengerti semua urusan, mulai dari bagaimana caranya membuat kereta sampai bagaimana merencanakan strategi perang. Sikap ini, menurut Plato, berbahaya karena ‘pengetahuan’ yang dihasilkan dari sikap sok tahu sastrawan itu bisa saja diterima sebagai pengetahuan sejati oleh pembaca yang belum matang. Bila ada banyak sastrawan berkeluh-kesah bahwa keutuhan dan keindahan karya sastra kerap dirusak oleh pisau bedah akademis yang ada di tangan kritikus, maka di sini kita menjumpai keluh-kesah yang dicurahkan oleh seorang ‘akademisi’ yang melihat bahwa lahannya—pengetahuan atau knowledge—diserobot oleh sastrawan. Ilmu terancam kedudukannya oleh puisi sebagai agen penyampai atau penafsir kenyataan.

Akan pelik soalnya jika kita harus menjawab sejauh mana yang akademik diperkenankan mengintervensi yang artistik dan sebaliknya. Ignas cukup bijak untuk tidak menawarkan jawaban yang tertutup kepada persoalan ini. Namun, kita dapat melihat dengan cukup jelas bahwa Ignas pun—sebagai seorang kritikus yang bukan profesional dan bukan pula seorang sastrawan, tetapi adalah seorang ilmuwan sosial dengan basis akademik yang kokoh—harus bergulat menyiasati batas-batas pemisah antara kedua wilayah ini. Sebagai penulis esei-esei yang terbit di buku ini, beratnya upaya penghayatan Ignas terhadap masalah ini tidak hanya terjadi pada tataran konseptual, tetapi juga berlangsung pada proses penulisan esei-esei itu sendiri.

Dalam artikel terakhir dalam buku Enam Pertanyaan, Ignas mengemukakan sebuah definisi esei yang menantang: “…esei adalah tawar-menawar dan kompromi antara konsep-konsep ilmu pengetahuan yang didefinisikan secara formal dan polisemi bahasa puisi yang dimungkinkan oleh penciptaan metaphor-metafor yang menerobos batas-batas makna yang telah dibakukan” (hal. 466). Meskipun esei terbuka bagi subjektivitas maupun objektivitas dan, karena itu, memiliki keluwesan yang luar biasa, dalam bayangan Ignas tampaknya subjektivitaslah yang lebih ditonjolkan karena dikatakan “…sebuah esei bukan saja menjelaskan dan membuat pembacanya mengetahui lebih banyak atau memahami lebih baik” karena esei juga mengundang pembacanya untuk lebih terlibat secara pribadi “dengan simpati, empati atau antipati, dengan sukacita atau rasa kesal, dan bahkan dengan perasaan cinta dan benci” (hal. 463).

Wujud pemikiran ini dalam esei-esei Ignas jauh lebih kompleks daripada apa yang mungkin dikesankan oleh pernyataan-pernyataan di atas. Dalam esei tentang sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany, misalnya, kita melihat analisis yang ekstensif, yang melibatkan diskusi konsep-konsep abstrak, seperti Verdinglichung, Geworfenheit, Weltanschuung, dan licencia poetica, kita dapat menjumpai paragraf-paragraf akademis, seperti:

Perjuangan menentang patriarki dilakukan dengan cara mempersoalkan, menegasikan, dan mendekonstruksikan pranata yang secara tradisional menjadi alat untuk membenarkan dan melestarikan dominasi kaum laki-laki dalam perkawinan dan kehidupan berkeluarga. Kombinasi cinta dan kesetiaan, yang biasanya diasumsikan menjadi landasan utama kerukunan keluarga, secara eksplisit disangkal dan ditolak… Lawan bertarung tidak saja harus dikalahkan, tetapi harus diselesaikan secara kanibal. Puncak rasa lapar dihadapkan pada suguhan daging di atas meja makan. Pemberontakan gender tampil sebagai antitese yang keras, yang mudah-mudahan menelurkan kesetaraan baru antara laki-laki dan perempuan, sebagai sintesanya. (hal. 323)

atau seperti:

Jelas sekali di sini, bahwa pada penyair Sutardji Calzoum Bachri dan penyair Jerman Hugo Ball, penggunaan bunyi-bunyi yang tidak ada rujukannya dalam kamus itu, menunjukkan suatu pemberontakan yang radikal terhadap semantik dalam bahasa. Sutardji bahkan dalam “Kredo Puisi”-nya menolak perhambaan kata-kata oleh konsep-konsep, yang kemudian mengungkung kata-kata tersebut dalam pengertian yang dibakukan dan menyebabkan kata-kata itu kehilangan kemerdekaannya. Dalam kata-kata Sutardji sendiri: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas”. Karena itu dalam menyajak dia pun mempunyai visi sendiri tentang tugas puisi dan peran kata-kata dalam sajak… (hal 331-332)

Pada dua contoh kasus ini, kita menyaksikan kritik sastra dalam operasionalnya. Pada petikan pertama, kandungan puisi Dorothea, “Buku Harian Perkawinan”, berhasil di-“apropriasi” oleh Ignas dan dieksplisitkan secara efektif tanpa kelebihan beban teori. Sementara itu, pada petikan kedua, interioritas sajak Hugo Ball dan Sutardji Calzoum Bachri, yang oleh Ignas dijadikan pembanding dalam diskusi sajak-sajak Dorothea, diangkat ke tataran eksterioritasnya sambil tetap mempertahankan keseimbangan dan relevansi yang tinggi di antara keduanya.

Namun, pada bagian lain esei ini kita juga dapat menjumpai adanya suara lain yang, barangkali oleh Ignas dirujuk dengan istilah “subjektivitas”, tetapi bagi saya tampak sebagai pengaburan posisi kritikus dan sastrawan. Tidak jelas lagi apakah Ignas sedang berbicara sebagai seorang pengaji sastra atau sedang menjadi ‘penyair bayangan’ yang puitikanya saling tindih dengan puisi Dorothea Rosa Herliany yang menjadi subjek kajiannya. Misalnya, pada petikan berikut ini kita mendengar Ignas kritikus sastra berbicara, tetapi puitika ekspresinya bukan merupakan bagian dari kritik sastra dan lebih mirip sebagai puitika sebuah syair:

Menghadapi kehampaan yang serba mencekam, pedoman yang dapat jadi penunjuk jalan, muncul sebagai suatu kebutuhan mendesak. Sejarah mungkin dapat menjadi pegangan. Sayangnya, kenisbian dunia menjadi juga kenisbian sejarah. Kebudayaan adalah tempat orang bertukar tanda dan berbagi isyarat, namun kenisbian, kebiasaan berlupa akan kembali membuatnya tanpa makna dan sia-sia. Para pendahulu telah mewariskan banyak pengalaman yang dapat jadi pegangan sekarang. Namun, ingatan manusia teralu singkat, sementara masa lampau yang dapat menjadi pelajaran, sering dihindari sebagai beban bagi kemedekaan. (hal. 314)

Demikian juga petikan lain dari esei yang sama di bawah ini:

Kalau tempat senantiasa nisbi, maka perjalanan selalu buntu. Keinginan berjumpa harus diganti dengan usaha berkirim kabar kepada siapa pun di tempat jauh. Maka surat diposkan, telegram dikirim, dan merpati dilepas dari sangkar. Ikhtiar ini pun tak menambah banyak gairah dan harapan. Telegram hanya sanggup membuat seseorang menunggu seperti layaknya menanti Godot yang tak kunjung tiba, surat tak pernah sampai ke alamatnya, sementara merpati pos kembali ke sangkarnya. Kehidupan tampil dalam wujudnya yang paling minimal: kutukan bagi manusia untuk berupaya, meskipun usahanya ditakdirkan untuk sia-sia. Mengapa Sisiphus selalu menggoda? Mengapa terus-menerus mendorong batu besar ke puncak bukit, meskipun tahu pasti batu itu segera menggelinding kembali ke tanah datar atau terhunjam ke jurang yang dalam? (hal. 316)

Pada kedua petikan ini muatan puitis cukup sarat: ada paralelisme dalam struktur ujaran, repetisi kata-kata dan ujaran-ujaran, bahkan aliterasi pada bunyi-bunyi, dan pertanyaan-pertanyaan retorik, disertai dengan perenungan yang sifatnya refleksif. Semuanya membangun suasana puitik yang cukup kental yang kontras dengan sikap dan pendekatan yang digunakan pada dua petikan sebelumnya. Kedua jenis pengungkapan yang berbeda ini secara berselang-seling muncul dalam keseluruhan esei Ignas ini dan menghadapkan pembaca pada persoalan status serta suara kritikus dalam konteks “persaingan”-nya dengan sastrawan. Jika Plato cemas bahwa filsafat akan terpinggirkan oleh puisi dalam usahanya menyampaikan kebenaran, Ignas lewat tulisan kritisnya atas puisi justru meleburkan gagasan-gagasan akademiknya dalam domain bahasa puitik.

Juga tak begitu jelas apakah ini wujud dari penggabungan tiga metode—metode empiris-analitis, metode historis-hermeneutis, dan metode sosial kritis—dalam tulisan yang dipaparkan Ignas pada bagian lain bukunya. Lewat penggabungan itu, Ignas hendak “mencapai sebuah sintesa di mana ilmu-ilmu sosial dapat berkembang tanpa harus terjebak dalam situasi yang merugikan hubungan-hubungan komunikasi yang manusiawi” (hal. 369). Lebih jauh lagi, Ignas hendak melihat suatu ilmu sosial yang berupa:

…”teori sosial kritis yang bersifat empiris-ilmiah tanpa menjadi ilmu empiris-analitis, yang bersifat filosofis dalam arti kritis, tetapi tidak menjadi “filsafat pertama” tanpa presuposisi, yang bersifat historis tanpa terjebak dalam historisisme, dan yang bersifat praktis dalam arti terarah pada praktik politik, yang bersifat emansipatoris, tetapi tidak menjelma menjadi kontrol yang bersifat tenologis-administratif.” (hal. 369)

Permasalahan menjadi lebih pelik lagi karena, selain apa yang saya lihat sebagai pengaburan-pengaburan itu, ada hal lain yang kian membuat esei-esei Ignas menjadi menggelitik untuk dikaji bukan dari segi subtansinya—karena kualitas Ignas dalam hal ini sulit untuk disangkali oleh siapa pun—tetapi dari segi strategi penulisannya. Pada sejumlah eseinya yang lain, terlihat ada ‘perebutan ruang’ antara kritik Ignas atas karya yang sedang dikaji dan semacam ‘metakritik’ (yang tidak persis sama dengan pengertiannya menurut Adorno) yang seakan mengomentari kritik yang sedang dikerjakan itu.

Dalam eseinya tentang karya-karya Umar Kayam, secara menarik Ignas berbicara tentang kecenderungan Kayam untuk terlibat terlalu jauh dalam novel atau cerpennya. Hal ini khususnya tampak pada ketiadaan jarak yang diambil oleh Kayam sebagai seorang peneliti budaya di satu pihak dan Kayam sebagai seorang sastrawan di lain pihak. Dalam istilah Ignas, Kayam bukanlah seorang ahli dalam pen-jarak-an (distanciation), melainkan seorang ahli dalam keterlibatan (belongingness). Akibatnya, tokoh-tokoh dalam karya-karya Kayam seolah tak memiliki kemandirian dan terlalu didikte oleh penulisnya.

Namun, dalam berargumentasi untuk menyampaikan gagasan-gagasan tersebut Ignas menempuh strategi yang, bagi saya, cukup mengusik sekalipun menarik untuk dikaji lebih jauh. Dalam esei tentang Kayam itu, ada porsi yang sangat besar yang diambil oleh diskusi-diskusi tentang tokoh-tokoh lain dalam dunia referensial, yang sama sekali berbeda dari tokoh-tokoh dalam dunia tekstual karya-karya Kayam. Ada diskusi panjang-lebar tentang Jalan Tak Ada Ujung-nya Mochtar Lubis, tentang Lahami Marah Rusli, tentang teks-teks Putu Wijaya, tentang novel Rosamunde Pilcher, yang ditimpali di sana-sini oleh nama-nama besar, seperti Clifford Geertz, Leo Loewenthal, Walter Benjamin, Max Weber, Georg Lukacs, Paul Ricoeur, dll. Bahkan, ada daftar perbandingan antara tokoh-tokoh dalam Para Priyayi dan dalam The Shell Seekers (Rosamunde Pilcher) yang lengkap dan panjang.

Apa konsekuensi kehadiran deretan panjang karya/sastrawan pembanding dan tokoh pemikir dunia ini bagi esei Ignas? Yang jelas, aliran gagasan utama yang langsung berkenaan dengan teks-teks Kayam sendiri sering di-interupsi oleh perbandingan-perbandingan itu, dan ini membuat pembaca tak jarang kehilangan jejak atau mengalami ketidaknyamanan dalam membaca. Di atas kritik terhadap karya-karya Kayam, Ignas menumpangkan semacam ‘metakritik’ yang menanggapi substansi kritik terhadap Kayam. Petikan-petikan dari teks-teks lain hadir dengan cukup padat. Pada akhirnya, pembaca bisa jadi bertanya-tanya kemana sesungguhnya Ignas hendak membawa mereka? Apakah ia hendak berbicara tentang karya-karya Umar Kayam pada khususnya ataukah hendak menyampaikan naratif-naratif besar tentang sastra pada umumnya?

Bila pada akhir esei Kayam dinilai lebih berhasil melakukan reproduksi literer atas struktur masyarakat yang hendak dikritisinya daripada menginisiasi perubahan sosial secara literer, Ignas dalam eseinya ini lebih berhasil memperkenalkan keunikan berbagai teks sastra dan pengarangnya, serta pemikiran sejumlah tokoh ilmuwan sosial dan budaya, daripada membantu pembaca memahami teks-teks Kayam secara lebih komprehensif.

Hal serupa juga muncul dalam esei tentang Putu Wijaya. Ignas menjelaskan bagaimana Putu jatuh dalam jebakan metanaratif yang menumpulkan ketajaman naratif cerpen-cerpennya sendiri. Akibatnya, walaupun Putu tergolong sangat produktif menghasilkan karya-karya, produktivitas ini tidak diimbangi oleh mutu yang tinggi. Meskipun demikian, Ignas tak lupa juga untuk bersikap seimbang dengan memperlihatkan segi-segi keunggulan Putu Wijaya. Di antaranya, kelebihan Putu terletak pada kemampuannya menggunakan kebebasan penuh untuk memainkan sebuah gagasan, yang oleh Ignas dipandang sebagai suatu orisinalitas.

Namun, sama seperti esei tentang Kayam, diskusi tentang Putu dalam esei ini juga sarat dengan interupsi yang pada taraf tertentu berguna untuk membantu pembaca memahami Putu dengan lebih baik, tetapi karena frekuensi interupsi yang cukup tinggi serta panjangnya ulasan yang menginterupsi itu, proses penjelasan dan pemahaman malah menjadi tersendat dan berlangsung dengan lebih rumit. Ada Charles Morris, Nietzsche, Pasternak, Ricoeur, Schleiermacher, Clifford Geertz, dan bahkan Pramudya Ananta Toer yang, di satu pihak, menunjukkan betapa ekstensifnya pembahasan Ignas atas karya-karya Putu, tetapi di lain pihak, ekstensi yang luas dan jauh itu juga merusak aliran narasi tentang Putu sendiri. Sentralitas Putu Wijaya didesak ke pinggir oleh frekuensi kemunculan nama-nama dan pemikiran-pemikiran lain yang tidak secara langsung terkait dengan karya-karya Putu.

Secara singkat, kedua jenis permasalahan yang hadir dalam esei-esei Ignas ini langsung berkenaan dengan pernyataan penting yang dikemukakannya dalam tulisannya tentang simbolisme dalam cerpen, yang membahas 18 cerpen pilihan Kompas tahun 1997. Di situ ia dengan tegas menyatakan bahwa “pemujaan kepada kenikmatan” dapat mengakibatkan pudarnya manfaat sebuah analisis, sedangkan “pemujaan terhadap metodologi” dalam studi sastra dapat menghilangkan kenikmatan membaca karya sastra (hal. 148). Saya rasa Ignas, tanpa sadar, sedikit banyak juga terperangkap di antara kedua situasi tersebut. Ini memperlihatkan betapa sulitnya dalam praktiknya untuk membuat sebuah esei terbuka buat subjektivitas dan objektivitas sekaligus, meskipun secara ideal inilah sasaran yang hendak dicapai.

Dalam eseinya yang berjudul “Kebudayaan dari Posisi Seorang Seniman”, yang secara khusus membahas pemikiran-pemikiran budaya Rendra sebagai seorang penyair, bahkan sama sekali tak ada persentuhan dengan dunia tekstual puisi dalam bentuk dialog dengan puisi Rendra itu sendiri. Padahal, beberapa kali Ignas menekankan pentingnya kerja kritik sastra dalam memperlihatkan bagaimana makna tekstual itu beraksi untuk menjadikan puisi sebagai puisi. Tidak ada petikan atau potongan syair Rendra sama sekali kecuali dalam bentuk penyebutan judul-judul syairnya, dan perbincangan tentang Rendra hanya menjadi sekadar ilustrasi bagi pembicaraan yang lebih serius dan makro tentang kebudayaan.

Terlepas dari sejumlah persoalan ini, sekali lagi harus dinyatakan bahwa buku ini juga sarat dengan contoh kritik sastra yang bermutu tinggi yang berisi pemikiran-pemikiran yang hanya dapat ditelurkan oleh seseorang dengan pengetahuan, kecerdasan, dan keluasan pengalaman seperti Ignas. Bagian-bagian itu mendemonstrasikan kemampuan Ignas untuk memadukan yang subjektif dan yang objektif serta yang analitik dan yang puitik dalam suatu harmoni. Misalnya, saya contohkan dua buah petikan dari tulisan Ignas yang membahas puisi karya Mochtar Pabotinggi, “Karaeng”: … Sajaknya berjudul “Karaeng” adalah sebuah epos kecil yang mengharukan dan sekaligus meyakinkan. Sebab Karaeng yang tegak di hulu kapalnya dan mengawasi badai di balik samudra, akhirnya menemukan samudra yang sama riuhnya bergolak dalam dirinya…” (hal. 280). Dan selanjutnya, setelah diselingi cuplikan sajak:

Suatu kontras yang indah dan impresif muncul bagaikan relief yang membusung dari pahatan dinding, tanpa ketahuan akal-akalan penyairnya untuk menemukan diksi yang optimal, karena di luar ada riuh badai di balik samudra, sedang dalam dirinya Karaeng mengahdapi samudra yang bergolak sedemikian rupa, sehingga deru musim hanya melintas bagaikan denting yang sayup-sayup sampai. Cerita tentang kepahlawanan Karaeng bukanlah suatu deskripsi historis dalam sajak sebagai formatnya, tetapi suatu penyampaian figuratif, tempat suatu pernyataan seorang penyair tampil bagaikan kiasan yang mengisyaratkan maksud dan makna lain yang justru tidak terucapkan. Puisi seakan-akan pantun yang seluruhnya bermuatan sampiran, karena isi pantun tersebut sebetulnya tersirat dalam kepala dan hati masing-masing pembacanya. Ibaratnya, bintang-bintang hanya menyampaikan cahaya kelap-kelip, tetapi pelaut sejati selalu menemukan makna dan petunjuk “yang selalu dibaca leluhurnya.” (hal. 281)

Dalam kedua petikan ini terlihat konsistensi upaya Ignas untuk tetap membumikan analisisnya sedekat mungkin dengan teks yang menjadi subjeknya, sehingga pernyataan-pernyataan umum tentang puisi tidak pernah meninggalkan pijakan spesifik dalam sajak yang menjadi titik tolak pengembangan pemikiran. Juga tak ada interupsi dari nama-nama dan gagasan-gagasan besar yang memenuhi hall of fames dunia ilmu pengetahuan seperti dalam beberapa eseinya yang lain. Justru faktor inilah yang menambah ketajaman analisis Ignas atas sajak Mochtar Pabotinggi ini.

Contoh lain bisa diambil dari eseinya tentang kumpulan sajak Joko Pinurbo, Di Bawah Kibaran Sarung. Dalam salah satu bagian pembahasannya Ignas berargumentasi:

Pertanyaannya ialah mengapa penyair Joko Pinurbo selalu memandang tubuh manusia dengan nada yang ironis, dengan bitter aftertaste, yaitu rasa pahit yang menyusul setelah kita menelan sesuatu? Apakah tubuh manusia tidak menimbulkan pesona apapun pada penyair ini? Jawabannya saya kira harus dicari dalam hubungan penyair ini dan lirik. Pilihannya untuk tidak mempedulikan alam luar, rupanya mempunyai akibat bahwa dia tidak sempat lagi mendengar cicit burung, nyanyian hujan, atau bunyi desah bambu yang diterpa angin, yang hanya dapat didengar dari alam. Kegembiraan liris inilah yang menurut pendapat saya tidak terasa dalam sajak-sajak ini, yang memfokuskan perhatiannya pada tubuh manusia semata-mata. Yang terdengar adalah humor yang pahit, seperti seseorang yang menertawakan segala sesuatunya, sedemikian rupa, sampai kita tak yakin lagi apakah dia sedang bercanda dan bergembira ataukah dia sedang menangis dan merintih dalam hati, atau bahkan kehilangan akal warasnya. (hal. 257-258)

Pada petikan ini, Ignas membuka dialognya dengan puisi Jokom Pinurbo melalui beberapa pertanyaan yang secara strategis dilemparkan dan tidak hanya berfungsi secara retorik belaka. Strategi ini membuka jalan baginya untuk masuk secara intens dalam analisis yang konkret karena secara kukuh berbasis pada teks. Dalam paragraph yang padat tetapi solid ini, Ignas membawa pembaca tahap demi tahap untuk mengikuti alur argumentasinya tentang isi puisi, yang dengan sangat baik diakhiri dengan kesimpulan atau penilaian atas makna. Kesemuanya dilakukan melalui suatu pembacaan dekat yang tak pernah lepas dari makna tekstual karya.

Pada akhirnya, barangkali boleh dikatakan bahwa keseluruhan permasalahan yang diangkat ataupun dihadapi Ignas dalam buku Enam Pertanyaan ini pada dasarnya berkisar di seputar hubungan antara sastra, ilmu, dan imajinasi, yang merupakan pertanyaan keenam dan terakhir buku ini. Pada esei yang membahas hal ini, Ignas melemparkan sebuah pertanyaan penting yang jawabannya tidak sepenuhnya hadir secara nyata, tetapi terus menghantui perjalanan esei-eseinya, yakni: “Kalau tanggapan kita tentang realitas objektif selalu dipengaruhi oleh konstruksi yang dibuat oleh imajinasi kita sendiri, maka di manakah letak perbedaan antara kenyataan empiris dan kenyataan imajiner?” (hal. 22). Seandainya pertanyaan ini bisa dijawab, mungkin kita akan mendapatkan juga jawaban bagi pertanyaan apa yang sastra dan apa yang bukan sastra. Barangkali gerakan keluar-masuk yang dilakukan Ignas dalam esei-eseinya, yang bagi saya menyebabkan kekaburan itu, adalah bagian dari upaya untuk menguji apa yang merupakan realitas objektif dan apa yang merupakan imajinasi sendiri. Beruntung bahwa Ignas menyadari adanya komplikasi ini dan membantu kita untuk menyadarinya juga.

Namun, yang pasti, jika pertanyaannya adalah: “Apakah karya-karya yang dibahas ini, telah memperoleh suatu kajian yang mempunyai dasar-dasar yang dapat diperiksa kembali oleh pembaca, dan telah dikerjakan dengan suatu tingkat kesungguhan yang dituntut oleh jenis-jenis pekerjaan seperti ini”?, maka tanggapan saya adalah bahwa Ignas telah sepenuhnya memperlihatkan kesungguhannya, dan hasilnya adalah sebuah buku yang bukan hanya berisi kritik atas berbagai karya sastra Indonesia, tetapi juga merupakan sebuah manual kritik sastra yang berguna bagi siapa pun yang ingin mendalami dunia ini dengan lebih intens. Dan untuk itulah buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan ini patut mendapatkan pujian.

* Tulisan ini disampaikan pada Diskusi sastra buku Ignas Kleden: Sastra dalam Enam Pertanyaan yang diselenggarakan oleh Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tanggal 1 April 2005 di kampus FIB UI Depok.
** Manneke, MA. adalah dosen Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

0 comments:

Post a Comment

◄ New Post Old Post ►