Saturday, November 19, 2011

Imaji Yang Terbingkai Nihilisme

Denny Mizhar*
http://sastra-indonesia.com/

Nada-nada membentuk satu komposisi musik mengalun dan mengalir mendorong tubuh untuk bergerak dengan beragam tingkah. Musik yang mewakili ruang imajiner sedang dicarinya oleh sekelompok orang dengan membawa bingkai berwarna hijau. Suara itu belum diketahui dari mana asalnya. Hal itulah yang membuat sekelompok orang-orang mencari. Dengan tingkah komedian yang terbentuk lewat gerak karikatural: mengalir, patah.

Pencarian akan bayangan, suara yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan mengenakan busana warna-warni, dengan gaya bermain-main (dolanan), dengan kata-kata dan gerak tubuh hingga paduan antaranya menyatu membuat tawa sesekali mengucur dari penonton yang memenuhi gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang pada Rabu 06 April Kamis 07 April 2011 Pukul 19.00 WIB. Itulah adegan pembuka pertunjukan Teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang yang mengarap pertunjukan teater dengan mengadaptasi dari cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Aji Darma (SGA), Cerpen yang ditulis pada tahun 90’an.

Permainan grouping dan komposisi di panggung tapal kuda semakin menegang ketika ditemukannya asal suara, di sanalah bermula keteganggan antar aktor untuk mamusuki ruang di mana tempat asal suara tersebut berada, bingkai menjadi metafor tempat suara berada diekplorasi oleh aktor-aktor. Dalam keheningan dan ketenangan yang dikondisikan untuk menuju dan penjernian diri aktor masing-masing munculah penari perempuan. Penari yang menghampiri setiap aktor. Para aktor pun membayangkan dalam ruang imaji masing-masing, entah apa yang menjadi imaji para aktor. Hanya aktor sendiri yang tahu. Tetapi simbol penari menarik garis imajinasi para aktor tentang perempuan. Perempuan yang menjadi pijakan tafsir imaji sebebas-bebasnya. Kutipan di booklet:

“Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia. Lantas segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang-dendang kecil itu, yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi terdengar mantab dan penuh semangat. Namun yang dinanti-natikan Pak RT bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya”.

Simbol imajinasi perempuan yang divisualisasikan lewat penari. Munkin inilah yang tak dilepas oleh sutradara dari naskah aslinya sebagai teks awal (cerpen) menuju teks kedua (pertunjukan teater). Hingga akhirnya para tokoh tersebut menemukan suara tersebut yang berada dalam kamar mandi. Ramai-ramai menengok, nihil hasilnya. Hal tersebut juga diungkapkan oleh sutradara pada sesi diskusi seusai pentas berakhir “Ruang imaji tak terbatas tetapi juga terbatas akhirnya dan akhirnya menemui kekosongan”.

Pertunjukan Dilarang Bernyanyi Di Kamar Mandi oleh KBKB menitik beratkan pada unsur gerak. Adapun dialog-dialog yang dilakukan para aktor kebanyakan mengarah pada komedian hanya pada kondisi pembangunan dramatik dialog-dialong menjadi tragedi dan sedikit liris bisa dibilang secara utuh garapannya adalah komedi tragedi. Seperti dialog setelah konflik kecil saat pencarian asal suara ditemukan dan salah satu aktor memberikan peringatan agar bersabar. Para aktor pun duduk, salah satu memimpin untuk mengkondisikan kesabaran dengan konsentrasi. Kalimat dialognya berbunyi “Titik membesar, titik berubah warna, ….. titik Puspa”, dialog yang awalnya serius menjadikan penonton tertawa.

Pertunjukan teater yang disutradari oleh Agus Fauzi Ramdhan telah mengalami metamoforsis dari teks cerpen aslinya. Berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh Gusmel Riyadh dalam melakukan pengadaptasian cerpen karya SGA pada judul yang sama. Gusmel hanya memindahkan teks cerpen dan memberi tambahan gambaran visualisasi di panggung: susana, latar dan pencahayaan. Dan adaptasi Gusmel yang banyak dimainkan oleh kelompok-kelompok teater. Sedangkan Agus Fauzi Ramadhan dalam melakukan adaptasi dengan cara mengabil spirit dan tema teks cerpen tersebut. Tokoh-tokoh tidak dijelaskan siapa dia, sedang teks cerpen aslinya ada beberapa tokoh diantaranya Pak RT, Hansip, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak dan Zus. Aktor yang terdiri dari delapan laki-laki dan satu permapuan penari di antaranya: Sindu Dohir Herlianto, Muhammad Zainy, Sri Wahyudi, Andrean Fahreza Nur Wicaksono, Ervin Lukmanul Hakin, Aga Shakti Kristian, Muh. Fatoni Rohman, Avan Fauzi, dan satu penari yakni Anggar Syaf’iyah Gusti. Dalam kelompok KBKB pentas mereka adalah perdana, patut diapreseasi. Pertunjukan yang juga akan dimainkan dibeberapa kota Batu (Gd. Simonstok), Pasuruan, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Adapun catatan yang perlu diperhatikan adalah pemilihan panggung tapal kuda atau U, diperlukan pembagian ruang dan bloking yang tepat. Hal tersebut menjadi sedikit kekurangan pentas Dilarang Bernyanyi Di Kamar Mandi KBKB. Adapun hal-hal lain secarah utuh adalah pemilihan bentuk gerak yang beragam menjadikan keutuhan bentuk terganggu. Secara utuh pesan tersampaikan apa yang diharapkan sutradara lewat pertunjukan teater. Meskipun, dalam setiap penonton yang memiliki latar belakang berbeda akan tidak sama karena gangguan-gangguan kecil saluran komuniksasi yang terjadi, dari penyampai kepada penerima hal ini adalah wajar.

Malang, April 2011

*Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang

Friday, November 18, 2011

Pram, Sastra, dan Religiusitas

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kebimbangan dan kesaksian yang sehat
lebih baik daripada kepercayaan atau keyakinan yang buta
dan yang hanya baik bagi golongan yang kehilangan akalnya.
Pemujaan pada Tuhan adalah sahabat karib kefanatikan
yang biasanya bergandengan tangan dan tiap kesempatan
dipergunakan mereka untuk membunuh akal
–malakulmaut kemerdekaan berpikir dan kemajuan.
–PRAMOEDYA ANANTA TOER, Masalah Ketuhanan dalam Kesusastraan

Pram seorang realis besar Indonesia abad ke-20. Kecintaan pada dunia realis telah ditunjukkan dalam sebagian besar novelnya. Namun realisme Pram bukan sesuatu yang gepeng atau kering, melainkan sebaliknya; realisme yang percaya pada revolusi seorang diri dengan mendudukkan karya sastra kepada tanggungjawab sosial.

Sebenarnya antara pemikiran Pram dengan Takdir Alisjahbana tentang tanggungjawab dan selera seni berdekatan. Bahkan beberapa gagasan progres Takdir kita temukan dalam esai-esai Pram. Kendati begitu, Pram tentu tak seperti Takdir yang hendak memotong kontinuitas sejarah lokal demi mengejar sebuah kemajuan model Barat. Pram bahkan sempat pernah menyebut ”kebudayaan imperialisme Amerika Serikat harus dibabat”, dan dengan ringan mengutip ucapan Bung Karno: Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!

Perkenalan saya dengan Pram adalah perkenalan lewat sejumlah novelnya. Namun saya berjumpa pertama kali sekaligus yang terakhir dengan novelis besar Indonesia ini baru pada tahun 2002. Kala itu saya tak bisa melupakan wajahnya yang sudah keriput, kulit yang menempel dibadan yang tampak melorot. Tulang-tulang di pergelangan tangannya mulai menonjol. Pipinya mulai mengempot, dan wajahnya mulai menonjol. Sorot matanya yang dulu begitu tajam, waktu itu tampak redup. Suaranya yang dulu menggelegar dan membuat lawan-lawan debatnya merinding dan mencekam ketakutan, menjadi parau dan tampak nuansa kearifan seorang kakek. Tangannya pun sudah tak mampu lagi untuk menggenggam pena sebagai senjata satu-satunya yang dulu ia bangga-banggakan. Ketika berjalan, kakinya hampir-hampir tak mampu menyangga lutut.

Pram meninggal tahun 2004, saya masih di Jakarta. Saya melihat prosesi pemakamannya secara Islam lewat media. Seorang kawan menceletuk: ”wah, pemakaman Pram secara Islam itu tidak benar. Pram kan seorang atheis”. Aku hanya diam. Tak berniat menjawab. Mungkin kawan ini terlampau terpengaruh kampanye negatif sastrawan Manifes Kebudayaan, pikirku. Memang, salah satu esai Pram yang bertajuk ketuhanan, telah dinilai oleh beberapa sastrawan yang tergabung dalam Minifes Kebudayaan dengan mengaitkan Pram seorang yang tidak percaya pada Tuhan.

Sastra dan Kekuasaan

Lepas dari anggapan itu, yang nanti akan kita buktikan dalam novel-novel dan esai Pram, bagaimana pun novelis ini seorang yang tak bisa dilepaskan dengan kekuasaan. Ungkapan-ungkapannya tentang pemberedelan yang dilakukan penguasan atas karya dan dirinya sering muncul dalam laporan orang-orang hilang. Adegan awal memulai sebuah kisah tentang penghilangan manusia secara paksa; enforced disappearances, kata orang-orang di Komnas HAM. Pram sendiri tidak hilang, bahkan ia sendiri mengakui hikmah di baliknya pelarangan karyanya. Tidak ada drama pembantaian yang dilakukan Adolf Hitler yang dikenal dengan sebutan Malam dan Kabut—Nacht und Nebel Erlass dalam karya Pram atau yang dilakukan penguasa seperti halnya Elie Wiesel. Tapi, seperti kemudian kita saksikan bersama, Pram yang hampir mati justru hidup, bahkan karyanya lebih hidup dari karya-karya sastra lain.

Pram memang sering menohok kekuasaan politik. Tapi tetraloginya tak ada komunis kata Rendra. Dan Rendra betul. Bahkan kritik yang dilakukan Pram terhadap kekuasaan jauh lebih keras dalam novel Bukan Pasar Malam dan Mereka yang Dilumpuhkan ketimbang Bumi Manusia. Dalam Bukan Pasar Malam Pram justru menohok kekuasaan dengan gaya stilis yang kuat dan menohok.

Kendati begitu, Bumi Manusia lebih cocok sebagai studi pascakolonial yang mendekonstruksi ilusi modal dan kekuasaan kolonial yang pernah berlangsung di Nusantara. Keterbelengguan Pram pada masa hidunya dan kemampuannya membebaskan dirinya tanpa melupakan, pada akhirnya memang menghasilkan apa yang leh Karlina Leksono disebut sebuah ”penyelesaian yang berbeda terhadap berbagai bentuk pengingkaran terhadap martabat manusia”. Karlina masih menaruh percaya pada sastra dengan kekuatan kata. Tapi, sewaktu-waktu ia tak jarang mengeluh, “Ah, Republik Kata-kata. Semua harus dikata, tak satu pun yang mau kerja dan berbuat”.

Pram telah berbuat. Sampai ketika ia berpelung ke pangkuan ilahi tahun 2004, ia telah berbuat begitu banyak untuk Indonesia. Kendati pelarangan atas karya-karyanya sampai akhir hayatnya masih belum dicabut. Namun Pram bebas menyatakan pendapat. Bahkan ketika ia ikut mendeklarasikan PRD, tak ada yang mengusiknya. Puluhan tahun menjadi manusia bubu telah membentuk wataknya yang berani menghadapi apa saja, bahkan ancaman maut.

Terakhir saya membaca pandangan Pram dalam wawancara dengan majalah Play Boy. Kecintaannya terhadap generasi muda tidak pernah berubah. Tapi ia kecewa dengan tokoh PRD yang justru memutuskan sekolah ke Inggris dan bukannya sekolah bersama massa partai. Pram memang bukan makhluk gerombolan yang suka meneriakkan slogan-slogan dan kampanye di jalanan. Dalam kesehariannya ia lebih banyak menyendiri. Melakukan refleksi di ruang kamar sempit tempat dia menuangkan refleksi-refleksi perjalanan hidupnya. Sikap kesendirian inilah yang kerapkali menghasilkan novel dengan kualitas yang belum tertandingi di negeri kita hingga hari ini. Namun, kesendirian semacam itu bukanlah kesendirian dengan tiadanya perbuatan—seperti umumnya berlaku—sebab kesendirian seorang pengarang adalah kesendirian yang melahirkan empati dan tindakan melawan segala bentuk yang hendak melupakan.

Pram memang ibarat situs perjalanan kesusastraan modern Indonesia sendiri, yang tertatih-tatih dalam mencari bentuk dan menyikapi zaman. Novelis ini mengalami begitu banyak hal untuk dikenang dan dicatat. Ia seorang anak desa yang menjadi urban. Pengarang yang aktif menyuarakan harga diri kemanusian Indonesia, kendati harga dirinya sendiri di injak-injak.

Puluhan karya sastra yang dihasilkan dalam rentang 50 tahun lebih kepengarangannya menjadi ladang subur bagi persemaian (bahkan pertikaian?) gagasan dan pertaruhan politik kekuasaan di sini. Dengan wataknya yang keras, dan kritik-kritiknya yang tajam di tahun awal 1960-an, banyak yang merasa terganggu dan gerah.

Pram memang bukan seorang yang pandai berbasa-basi. Bahkan Bung Karno yang begitu berpengaruh pada zamannya seringkali mendapat sasaran kritiknya. Ia pernah mengkritik keras buku Sarinah. Menurutnya, buku itu hanya menghasilkan sikap yang tidak berwatak, sebentuk kumpulan bahan mentah yang tak berjiwa, atau kumpulan sesobekan kertas tua di keranjang takakura perpustakaan.

Pram pernah juga mengkritik novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Novel ini mengangkat tema seputar tegangan Barat dan Timur yang “dipenting-pentingkan”, sehingga si pengarangnya lupa pada kemestian untuk menerima-memberi. Tak luput pula karya pengarang Anak Agung Gde Agung, yang menurut Pram banyak mengambil secara mentah-mentah kebudayaan Barat sebagai ukuran kebudayaan Indonesia—sebuah ukuran yang sangat ganjil, seperti halnya menilai cuka dengan ukuran kecap.

Sebelum menjadi orang Lekra, ia pernah mengkritik Lekra. Waktu itu Lekra menuduh bahwa setelah Chairil Anwar mati, sastrawan angkatan 45 telah mati pula. Pram membela angkatan 45—walau ia sendiri sangat kritis terhadap angkatan ini dan hanya memasukkan Chairil dan Idrus sebagai yang pantas menyandang gelar angkatan 45—dengan mengatakan bahwa tidak betul itu. Tuduhan Lekra dan juga S.T. Takdir itu tidak benar. Memang satrawan 45 sudah tidak ada lagi sejalan dengan bergesernya iklim kekerasan dalam Revolusi Bersenjata ke arah iklim pengalaman hidup yang normal. Anggatan 45 pernah ada, tapi sekarang tidak kecuali karya-karya peninggalannya. Ini diucapkan Pram dalam esai 45 Indonesia Dalam Sejarah Kesusastraan di majalah DUTA tahun 1953.

Watak keras Pram memang agak berkurang dalam novel tetralogi: Bumi Manusia ( 1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). Pram banyak bermain dengan alur yang agak terarah, tapi pada saat yang sama, tetralogi itu mampu menyihir para pembaca untuk ikut bersimpati dalam perjuangan tokoh-tokohnya menegakkan keadilan dan kemanusian. Akibatnya, banyak sekali kritikus sastra memahami perubahan watak tokoh yang ditindas dalam novel tetralogi tak sekuat dalam karya terdahulunya.

Tahun 2004 penerbit Lentera Dipantara menerbitkan catatan lama Pram yang tercecer di berbagai media massa, yang diberi tajuk Menggelinding 1. Buku ini merupakan napak tilas penting atas kreativitas kepengarangan Pram yang memang “menggelinding” dalam rentang waktu tak sampai sepuluh tahun (1947-1956).

Pram merekam ingatan-ingatan sosial tentang sejarah, politik, agama, sastra dan kebudayaan. Meski sebagian besar dari karya-karyanya yang pernah terbit di tahun 1950-an belum seluruhnya ditemukan, kekayaan gagasan Pram begitu menjulang. Bagi Koesalah Soebagyo Toer, dari lima puluh enam tulisan Pram sejak 1947-1956, yang terkumpul dalam buku Menggelinding I itu, hanya empat puluh persennya yang bisa ditemukan kembali.

Agaknya, penerbitan tulisan-tulisan awal Pram diniatkan sebagai bahan bacaan lain dari apa yang pernah kita ketahui lewat novel-novelnya. Kelainan itu tentu dengan alasan-alasan bahwa Pram tidak hanya seorang penulis novel dan sejarah yang bernas, tetapi sajak-sajaknya, esai, cerita pendek, refortase media, kolom, opini bahkan karya terjemahan tak kalah pentingnya mewariskan ingatan kolektif dari apa yang pernah terjadi di negeri pascakolonial.

Pram bahkan pernah menulis beberapa puisi. Tapi Pram gagal menulis puisi. Dan puisinya terlampau kering dari metafor. Pram memang seorang prosais, dan di sana-sini seorang esais. Ia sangat produktif mengisi esai di rubrik buletin DUTA. Bahkan, majalah Mingguan Merdeka yang diasuh oleh Darmawidjaja—gurunya sendiri—pernah juga memuat tulisannya. Masalah menulis, jelas Pram sudah mengerjakannya jauh sebelum tahun 1947. Ia berkali-kali menyatakan bahwa ia menulis sejak masih di kelas 3 Sekolah Dasar (atau Sekolah Rakyat). Beberapa naskah yang ditulisnya selama masih bertugas di Bekasi (1945-1947) bahkan pernah disita oleh marinir Belanda di stasiun Klender.

Dalam biografinya tentang Hikayat Sebuah Nama, Pram pernah mengeluarkan majalah Sekolah Taman Siswa yang memuat juga tulisannya. Namun, seperti kita ketahui bersama, separuh lebih dari tulisan-tulisan Pram diberbagai jurnal dan surat kabar di atas telah raif, terutama sejak meletusnya kudeta 1965.

Dalam menulis, Pram banyak menggunakan nama samaran. Seperti diceritakan Koesalah Soebagyo Toer, paling tidak ada sembilan bentuk namanya, sebelum akhirnya ia menggunakan nama terakhir itu. Ia menggunakan nama Pramoedya Tr., Pr. Toer, Ananta Toer, Pramoedya Tr., M. Pramoedya Toer dan lain-lain.

Dalam sebuah tulisan terjemahan; “115 Buah wasiat Majapahit (beberapa petikan)”, ia menggunakan nama Pramoedya Tr. Dalam tulisan “Si Pandir” dan “Bunda untuk apa kami dilahirkan” tulisan Lode Zielens yang dia terjemahkan, ia memakai nama Ananta Toer, dalam sajak berjudul “Huruf”, ia menggunakan nama M. Pramoedya Toer, dalam tulisan “Kalau Mang Karta di Jakarta”, “Ori di Jakarta” dan “Dayakhayal, ketekunan, keperwiraan dan ilmu” ia menggunakan nama Pr. A. Toer, dalam “Bingkisan; Untuk adikku R” ia menggunakan nama Pramoedya Toer, dalam “Keluarga Mba Rono Jangkung”, ia memakai nama Pram Ananta Toer, dalam “Lemari Buku”, “Kedailan sosial para pengarang Indonesia” dan “Sepku”, ia memakai nama Pramudya Ananta Tur, dalam “Kalil siopas kantor” , “Yang tinggal dan yang pergi”, dan dalam puisi “Anak Tumpahdarah” ia memakai nama Pramoedya Ananta Toer.

Mengapa begitu banyak nama samaran yang dipakai Pram saat menulis diberbagai jurnal dan surat kabar waktu itu? Kita hanya bisa menduga-duga jawabnya: pertama, berkaitan dengan kekuasaan waktu itu yang sebetulnya tak kurang represifnya melakukan sensor dan bredel. Bahkan, di tahun ketika pemberlakuan PP. Nomor 10 oleh Soekarno, Pram ditangkap dan dipenjara karena ia menentang keras kebijakan itu.

Kedua, sebagai sosok penulis muda yang mengidap “libido” menulis yang luar biasa produktif, ada rasa tidak enak jika tulisan-tulisannya “menghegemoni” seluruh media tanah air. Dan samaran nama seperti ini lazim digunakan oleh penulis-penulis di zaman Orde Baru, bahkan hingga saat ini. Ketiga, mengikuti apa yang dikatakan Koesalah Soebagyo Toer, sikap seperti itu bukan sekedar masalah teknis, melainkan ada hubungan dengan pencarian psikologis mengenai jati diri dan tempatnya di tengah masyarakat umumnya dan lingkungan kepengarangan khususnya. Ketiga, mungkin sebagai pencarian nama yang diras pas dan cocok.

Pram, sebagaimana para penulis umumnya, tak puas dengan hanya satu bentuk tulisan. Ia menulis beberapa catatan pribadi, sajak-sajak tanah air, perjalanan dan refortase hingga laporan-laporan jurnalistik yang tangguh, yang begitu penting menghargai perjalanan waktu.

Menulis bagi Pram merupakan langkah penting untuk menjaga ingatan agar tak mudah (di) lupa (kan). Dan sastra adalah media paling ampuh bagi Pram untuk menjaga ingatan melawan lupa itu. Pram melukiskan karakter manusia Indonesia dan elit politiknya yang baru saja selesai merayakan kemerdekaan. Dalam Bukan Pasar Malam dengan liris ia mengisahkan tokoh ayah yang didera TBC hingga akhirnya harus pergi untuk selama-lamanya. Dari judulnya, karya ini syarat metafor, yakni metafor pasar malam: sebuah kisah tentang hiruk-pikuk manusia Indonesia modern yang terjebak sendirian di tengah-tengah kemeriahan pasar malam.

Pram rupanya membayangkan eksistensi dirinya yang terasing sendirian di tengah-tengah gegap-gempitanya suara Revolusi Indonesia, sementara satu persatu temanya pergi untuk selamanya, sedang yang belum pergi berharap-harap cemas menanti giliran. Di tengah orang ramai, Pram tetap merasa kesepian, sendirian, bahkan penderitaan.

Pram pernah bilang, wajah demokrasi yang kita warisi tampak seperti binatang melata yang pasrah dalam diam dalam menerima kenyataan. Pram kemudian mengusulkan agar kita hidup seperti laron yang mencari api, meski ia harus terbakar dan mati, tapi ia mati sebagai orang yang berguna. Seperti halnya Socrates yang mengejek demokrasi, yang memberinya hak untuk mengejeknya, Pram telah menggunakan haknya untuk meruntuhkan sophisme, mengkritik demokrasi sebagai perkoncoan, dan jadi perintis baru bagi dunia kepengarangan.

Demokrasi, kata Pram, mengandaikan “setiap orang boleh jadi presiden. Setiap orang boleh memilih pekerjaan yang disukai. Setiap orang mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat kita tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh –ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan kita boleh berbuat sekehendak hati kita, bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau kita tak punya uang, kita akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi katanya, engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi”.

Dengan kata lain, demokrasi hanya akan menguntungkan segelintir kaum elit penguasa dan mencampakkan kaum miskin yang telah bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan. Saya kira, di sini letak relevansi kritik Pramoedya terhadap demokrasi, yang akhir-akhir ini masih terus diperdebatkan. Refleksinya atas demokrasi menghasilkan pandangan yang getir dan tajam tentang sejarah masa depan sebuah negeri pascakolonial.

Sebagai konsekwensi dari sikapnya yang berani, Socrates harus kehilangan nyawanya sendiri. Sementara Pram mengatakan: kematian di selingkungan kata-kata belaka adalah kematian yang selamanya mengikuti di belakang tiap perkembangan atau kemajuan. Kematian selamanya menjadi bahaya yang mengancam kedewasaan pikir manusia dari abad ke abad. Keberanian menghadapi mati dan hal-hal yang baru sangat diperlukan dalam masa perubahan sekarang ini. Sebuah keberanian yang, betapa pun ganjilnya, muncul dari hati yang jujur.

Apa yang terjadi pada Pram semasa hidupnya tak lebih sebagai sebuah ironi di tengah republik kata-kata. Sebuah negeri yang dalam ungkapan Pram dilukiskan sebagai ”negeri di mana orang gampang memaafkan, gampang mengakui dan juga gampang melupakan. Itulah negeri Indonesia. Ke-Indonesia-an, dimana kegagalan demi kegagalan, pukau demi pukau terlentang tebal di depan. Dan sukses hanyalah bagian yang memperkokoh konspirasi dan harmoni musik dukacita… Apa yang pernah diperbuat umat manusia, adalah permulaan dari segala yang hendak diperbuatnya di kemudian hari. Mereka mungkin tersenyum puas dari segala yang hendak diperbuatnya. Kalau Tuan kenal Baco–manusia renaisans Eropa—Tuan akan mengenal apa arti permulaan. Apa arti perbuatan tuan sendiri?…Akhirnya, manusia dalah biang keladi nasib dan sejarahnya sendiri. Tiap-tiap orang memaki: Tukang becak pun memaki parlemen. Aku mau tetap sendiri. Aku bukanlah makhluk gerombolan.”

Sistem apa pun tak akan pernah membenarkan terjadinya pelanggaran kemanusian yang berlarut-larut. Puluhan tahun ia harus mendekam dalam penjara, kreatifitas dan kebebasan berkarya dilarang dan disensor, caci-maki yang tak henti-hentinya dilakukan oleh lawan-lawannya politik. Barangkali tak mengherankan bila A. Teeuw (1980) menaruh simpati padanya dan menyebut dirinya sebagai penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah hanya dalam satu abad.

Almarhum Y.B. Mangunwijaya dan Sapardi Djoko Damono menganggap roman Bukan Pasar Malam sebagai karya yang berhasil dalam sejarah kepengarangan Pram. Kesaksian tokoh-tokoh dalam roman ini menunjukkan bagaimana sejarah kita telah diselewengkan oleh mereka yang sama sekali tak mengerti makna sejarah. Demokrasi yang menjunjungtinggi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ternyata hanya mimpi yang penuh ilusi.

Sejak Demokrasi Terpimpin hingga Demokrasi Pancasilanya Soeharto, mimpi keadilan sosial hanya melahirkan ketidakadilan sosial. Bagaimana mimpi besar Bung Karno untuk mewujudkan masyarakat proletar yang berdaya, ternyata melahirkan diskriminasi rasial yang menakutkan. Diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 10/1959 (atau P.P. 10) adalah contoh kebijakan yang sangat tegas ditolak oleh Pram, meski ia harus mendekam dalam penjara. Tak sepenuhnya benar anggapan bahwa Pram adalah “anak spiritualitas” dan pendukung gagasan demokrasi Bung Karno.

Dengan menyindir para aktor demokrasi, Pram kembali melontarkan kritiknya terhadap sistem ini: “Setiap orang boleh jadi presiden. Setiap orang boleh memilih pekerjaan yang disukai. Setiap orang mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat kita tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh, ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan kita boleh berbuat sekehendak hati kita, bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau kita tak punya uang, kita akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi katanya, engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi”.

Pram menyebut uang sebagai ciri dari sistem demokrasi elitis, sementara yang melarat, demokrasi hampir tak memiliki makna apa-apa. Dengan kata lain, demokrasi hanya akan menguntungkan segelintir kaum elit penguasa dan mencampakkan kaum paria yang telah bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan. Saya kira, di sini letak relevansi kritik Pram terhadap demokrasi, yang akhir-akhir ini masih terus diperdebatkan. Refleksinya atas demokrasi menghasilkan pandangan yang getir dan tajam tentang sejarah masa depan sebuah negeri pascakolonial. Dalam buku ini, ia mengatakan secara tegas: “ di antara kuburan mereka yang dianggap pahlawan itu, ada yang terdapat bajingan yang karena salah penyelidikan termasuk juga dalam golongan pahlawan”.

Pram kecewa pada mereka yang secara terang-terangan mencoba melupakan sang ayah, yang dalam kesaksian-kesaksian orang ketiga dalam roman Bukan Pasar Malam, sangat pantas mendapatkan predikat pahlawan. Ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai guru dan pejuang kemerdekaan, tidak pernah disinggung dan dimasukkan dalam buku pelajaran sejarah resmi. Buku sejarah tentang pahlawan-pahlawan nasional tak lebih sebagai buatan rezim resmi yang menipu. Kalimat-kalimat reflektif Pramoedya melukiskan bagaimana makna kemerdekaan telah jauh dari arti semula. “Dan kini, belum lagi setahun kemerdekaan tercapai ia sudah tak digunakan lagi oleh sejarah, oleh dunia, dan oleh manusia”. Dengan menggunakan orang ketiga sebagai penutur, Pram kembali mengingatkan kita:

“Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan—kecewa oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yang jadi bobrok itu—bobrok dengan segala akibatnya. Mereka yang dulu jadi Jenderal di daerah gerilya, mereka yang tadinya menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu, jadi pemimpin pula di daerah gerilya dan jadi bapak rakyat sungguh-sungguh. Dan ayah Tuan membela kepentingan mereka itu. Tapi, kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi”.

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa Pram dalah situs kesusastraan Indonesia yang akan selalu mengingatkan kita akan pentingnya memperjuangkan politik ingatan untuk melawan lupa. Jika kemudian Milan Kundera pernah memformulasikan bahwa: “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa”, jauh-jauh hari Pram sudah mengingatkan hal itu. Ia telah memberikan pelajaran berharga, bagaimana pentingnya melakukan perlawanan terhadap kekuasaan dengan menjaga dan menuliskan ingatan melalui karya sastra. Sebab, seperti yang selalu diingatkan dalam perjuangan Pram, sejarah kita ditulis bukan oleh mereka yang dikalahkan, tetapi oleh para jenderal yang menang–history is written by the winning general!

Sastra, Agama, Tuhan

Dalam esainya bertajuk Masalah Ketuhanan dalam Kesusastraan (1953), Pram mengatakan: masalah Tuhan tidak akan habis-habisnya dibicarakan dalam sastra. Namun, sampai tahun 1953 Pam masih melihat sebagian besar pengarang Indonesia dalam mendekati Tuhan terlebih dahulu harus menyiapkan seperangkat keyakinan sebagai konsesi. Sungguh aneh baginya, kaena hakikat dari kepercayaan itu sendiri begitu luas, yang tanpa kejujuran akal-pikiran maka ia bisa berubah kefanatikan. Dan sepanjang sejarah, kata Pram, orang-orang fanatik inilah yang seringkali dijadikan umpan di tiap medan pertempuran. Dan karena kefanatikan itu pula, membuat mereka jadi buta akal, yang cuma melihat satu sinar saja. Dan itu pula yang ditujunya, hendak direguknya habis-habis.

Kematian yang romantis selalu datang dan pergi sepanjang zaman, juga dalam buku-buku dalam tiap zaman. Bagi mereka yang membaca buku-buku sastra dan filsafat yang sering termaktub kalimat-kalimat yang seakan-akan meniadakan, mengejek atau mengingkari Tuhan, perkataan janggal adalah terlamapu lunak untuk itu. Sebaliknya, perkataan itu diganti dengan marah. Dan ini adalah soal yang gampang dimaklumi di negeri ini.

Dalam kesusastraan, konflik pemahaman tentang Tuhan tidaklah merupakan kejadian setempat, tetapi suatu pemberontakan seorang pengarang terhadap anggapan-anggapan biadab tentang Tuhan. Pujangga seperti Hamzah Fansuri dan Syekh Siti Jenar, kata Pram, adalah sosok dari pengarang yang memahami Tuhan bukan dalam keyakinan buta. Hamzah Fansuri dan Siti Jenar terpaksa memberikan jiwanya karena pemahaman Tuhan di luar kebiasaan.

Bagi Pram, bila ada satu golongan yang mencemooh Tuhan, kita harus hati-hati untuk menganggapnya sebagai durhaka, sebab bukanlah yang dimaksudkan dengan Tuhan itu sendiri, justru tiap orang yang berpikir ke arah itu tidaklah akan mendapat penyelesaian yang memungkinkan ia berpuas hati. Cemoohan semacam itu dilemparkan oleh sekelompok golongan kepada pengertian-pengertian yang diisikan pada nama itu oleh sang Kebiasaan. Seperti halnya kebiasaan para diktator yang turun-temurun, yang memang menghendaki agar semua dapat terangkum dalam kekuasaannya. Sebagaimana dalam segala ketertiban masyarakat, maka hal ini pun ada pemberontak-pemberontak yang menentang kediktatoran Kebiasaan (keyakinan resmi).

Pemikiran Pram telah melahirkan pandangan yang religius dan humanis. Pram nyaris tak pernah berhenti mencari makna di balik semua perkataan manusia tentang Tuhan. Apa yang pernah dipahamainya tentang Tuhan, direfleksikan, dibongkar dan direfleksikan kembali. Esai Masalah Ktuhanan dalam Kesusastraan ini pernah ditampik beberapa penulis yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan dan secara simplistis disimpulkan bahwa Pram atheis (Lihat buku Prahara Budaya, terutama bagian lampiran). Padahal, pemahaman tentang Tuhan bagi Pram adalah sebuah proses yang tidak sekali jadi lalu dianggap selesai, dan perdebatan pun berhenti sampai di situ. Apa yang diyakini dan dipahami manusia tentang Tuhan diungkapkannya kembali sampai ia menemukan sifat hakiki yang unik, yang cerdas dan—mungkin juga—subversif.

Pram memahami Tuhan sangat kritis, bahkan mengambil jarak dan wasapada: ia-sekaligus-tak (minjam ungkapan Sindhunata). Dalam tulisan-tulisan awalnya, Pram banyak bersentuhan dengan ide tentang Tuhan dalam kesusastraan. Menurutnya, pengertian manusia tentang Tuhan dengan sendirinya akan jauh berlainan sifatnya daripada pengertian usang atau yang telah diusangkan yang diberikan oleh kebiasaan (mainstream). Refleksi terhadap Tuhan menghasilkan sebuah pandangan yang nyaris menyimpan aura mistik dan magis sendiri, yang jika dibaca dalam terang etika keagamaan resmi, mungkin bisa disebut a-religius.

Pram melihat bahwa diskusi tentang masalah ketuhanan seakan-akan Tuhan mendapat tempat dua macam dalam jiwa manusia. Tuhan di satu tempat adalah Tuhan yang dikehendaki agar dipercaya, dianut, dipatuhi. Tuhan di tempat lain lagi adalah Tuhan sebagai obyek, sebagai sesuatu yang dikehendaki agar diurai, dipahami. Dengan demikian, ada Tuhan yang harus dipercai dan Tuhan yang harus dipahami. Yang pertama, adalah akibat—atau hendaknya sebagai akibat—dari yang kedua.

Bila yang ada pada seseorang hanya yang pertama belaka, ini tidaklah mengherankan. Ia adalah suatu soal tukang sulap yang mana seluruh jawaban sudah sedia. Yang kedua adalah, soal pencarian, pengertian, perjuangan jiwa—tak ubahnya dengan seseorang yang dengan tekunnya mencari unsur-unsur baru yang belum pernah dikenal orang, atau mendapat obat baru yang belum pernah didapatkan orang, untuk kelangsungan sejarah kemanusian. Kebimbangan dan kesaksian yang sehat adalah lebih baik daripada kepercayaan atau keyakinan yang buta, dan yang hanya baik bagi golongan yang kehilangan akalnya.

Mereka yang memandang Tuhan sebagai titik mati yang tak boleh disinggung-singgung, sesungguhnya tidak perlu benar mengutuk demokrasi yang mengakui hak asasi manusia, yang mana dengan hak-hak ini pula Socrates (dalam demokrasi antiknya) mengejek demokrasi yang memberinya hak untuk mengejeknya, tapi yang juga telah mempergunakan hak-haknya untuk meruntuhkan kekuasaan sophisme, dan jadi perintis baru dalam lapangan filsafat, sebagai konsekwensi dari keberandalannya itu, ia harus kehilangan nyawanya sendiri. Tanpa ada gebrarakan semacam ini dalam lingkungan masalah ketuhanan, maka pemikiran hanya terbatas pada selingkungan kata-kata belaka, dan kemudian pengertian akan tersepak kian kemari. Orang akan terjerat dalam kekuasaan dogma-dogma melulu. Dan sesungguhnya, kematian di selingkungan kata-kata belaka adalah kematian yang selamanya mengikuti di belakang tiap perkembangan atau kemajuan. Dan kemampusan ini selamanya menjadi bahaya yang mengancam kedewasaan pikir manusia dari abad ke abad.

Tiap istilah, tiap pengertian, dan tafsir tentang Tuhan menurutnya, akan senantiasa berubah. Maka, kesusastraan sebagai cermin kehidupan manusia tentu saja mau tak mau membawa-bawa masalah Tuhan di dalamnya. Namun sayangnya, kebanyakan para sastrawan Indonesia masih terjebak dalam melukiskan Tuhan sebatas sebagai Tuhan yang dipercaya suntuk memecahkan segala masalah. Sementara Tuhan yang dipahami sangat jarang ditemukan dalam novel-novel kesusastraan Indonesia. Karena itu, Tuhan dalam pengertian inilah yang menjadi garapan para sastrawan. Tuhan yang dipuja selamanya akan memberikan kesan bahwa ada sesuatu penindasan rohani yang sebenarnya tidak perlu diperkuat dalam suatu ketertiban umum.

Bagi Pram, keberanian mengkaji azas-azas pemikiran bisa jadi jalan untuk mengerti, memahami, dan memaknai. Tanpa keberanian, jalan ke arah penindasan hak asasi manusia akan semakin terbuka lebar. Keberanian untuk menafsirkan Tuhan dengan pikiran dan kalbu yang dinamis akan menghilangkan keragu-raguan tentang Tuhan itu sendiri. Pemberontakan terhadap pakem dan tafsir resmi atas Tuhan harus dilakukan, dan tugas seorang sastrawan untuk menciptakan makna baru tentang Tuhan yang tidak pemarah dan tukang memangsa, tapi Tuhan yang indah dan berani. Pengertian Tuhan semacam ini akan membawa karya sastra sebagai cermin masyarakat dan cermin kepribadian pengarangnya. Sastra dengan kadar religiositas semacam inilah yang akan melahirkan karya sastra yang subversif.

Emansipasi Kartini dalam Karya Pram

Harus saya catat di sini bahwa Pram begitu terpukau pada Kartini. Pandangan Pram tentang kebebasan dan kritiknya atas agama dan ketidakadilan gender begitu dekat dengan Kartini. Emansipasi agama dianggap sebagai sebuah keharusan jika agama akan tetap punya pesona bagi pemeluknya, juga banyak diwarnai oleh pertemuan Pram dengan Kartini. Dengan menohok pandangan orang terhadap agama yang rigid, Pram bahkan pernah dikampanyekan sebagai sastrawan atheis.

Dalam roman Gadis Pantai tampak nuansa pergulatan Kartini masih begitu kuat membayangi kritik yang dilakukan Pram terhadap sistem feodalisme Jawa yang menempatkan perempuan sebagai abdi laki-laki. Gagasan emansipasi yang dibawakan Pram dalam novel-novelnya memiliki banyak kesamaan pandangan dengan Kartini dalam Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pram sangat mencintai Kartini dan telah mengambil tidak kurang dari separuh semangat emansipasi Kartini dalam karya-karyanya. Berkali-kali Pram mengakui bahwa ia beguru dengan surat-surat Kartini. Pram sendiri telah menghasilkan buku riset yang langka bertajuk Panggil Aku Kartini Saja—yang diterbitkan petama kali oleh N.V. Nusantara, Bukittinggi-Djakarta, 1962. Buku ini lahir oleh sebuah desakan kecintaan Pram pada Kartini.

Novel Bumi Manusia, dengan perwatakan tokoh Nyai Ontosoroh dan putrinya Annelis, Pram menampilkan kesan sebagai sosok emansipasi perempuan yang menyerupai Kartini. Menurut penjelasan Minke, Nyai Ontosoroh tak menyimpan rasa kompleks terhadap pria, bahasa Belandanya sangat fasih, ”seperti seorang guru dari aliran baru yang bijaksana”, ya seperti Kartini—soko guru pendidikan itu. Nyai Ontosoroh adalah sosok perempuan yang telah meninggalkan dapur rumah tangganya dengan mengenaka baju-kerja dan mencari kehidupan pada perusahaan orang, berbaur dengan pria tanpa rasa canggung.

Annelis sendiri dilukiskan Minke sebagai gadis dengan sifat ke kanak-kanakan yang tidak tamat SD tapi mahir dalam mengkoordinasi pekerjaan yang begitu banyak, sering menunggang kuda sendirian, memerah susu sapi jauh lebih banyak dari yang dihasilkan semua pemerah; ”gadis luar biasa, seperti seorang ibu melayani rakyatnya dengan ramah; jangankan pada sesama manusia, pada kuda pun ia berkasih sayang, lebih agung dari dara yang pernah kuimpikan”, kata Minke:

Tak berlebihan bila suatu waktu di dekat perkebunan, tiba-tiba Minke mencium Annelis nyaris tanpa disadarinya sendiri. Bagi Minke, apa yang dilakukannya bukanlah karena ia jatuh cinta, atau ini tentang kisah cinta: ”tak ada cinta dan kisah cinta muncul mendadak. Saya tak mengerti cinta”, kata Minke pada Jean dengan polos. Pram sendiri dalam beberapa wawancaranya pernah mengatakan bahwa dia nyaris tak pernah merasakan artinya jatuh cinta. Cinta adalah rasa kebudayaan, cinta mendadak bukanlah cinta. Tapi Jean Marais tak kehilangan akal untuk menasehati Minke ketika menceritakan tentang keluarga Nyai Ontosoroh lewat frase yang paling menggugah laki-laki: ”Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Dahsyat!

Pram begitu kagum pada sosok Kartini dengan semboyan ”aku mau” itu. Bahkan dalam salah satu kisah Bumi Manusia, Pram melukiskan kesannya terhadap Kartini sebagai guru yang telah mendorongnya jadi penulis: ”Memang ada banyak wanita hebat. Hanya saja baru Nyi Ontosoroh yang pernah kutemui”. Sebelum Ontosoroh, Pram menyebut seorang perempuan pribumi yang cerdas lewat tokoh Minke:

Dan semua teman sekolah tahu ada juga seorang wanita Pribumi yang hebat seorang dara, setahun lebih tua daripadaku. Ia putri Bupati J—wanita Pribumi pertama yang menulis dalam Belanda, diumumkan oleh majalah keilmuan di Betawi. Waktu tulisannya pertama diumumkan ia berumur 17 tahun. Menulis tidak dalam bahasa ibu sendiri! Setengah dari teman-temanku menyangkal kebenaran berita itu. Mana bisa ada Pribumi, dara pula, hanya lulusan E.L.S., bisa menulis, menyatakan pikiran secara Eropa, apalagi dimuat di majalah keilmuan? Tapi aku percaya dan harus percaya, sebagai tambahan keyakinan aku pun bisa lakukan apa yang ia bisa lakukan. Kan telah kubuktikan aku juga bisa melakukan? Biar pun mash tarap coba-coba dan kecil-kecilan? Bahkan dialah yang merangsang aku untuk menulis.

Orang tahu siapa sosok perempuan pribumi yang diceritakan Pram di atas, dan saya kira perempuan yang ingin dipanggil Kartini saja itulah yang telah ikut mebentuk pandangan ”feminisme” Pram—walau bukan satu-satunya. Berbagai persoalan besar yang digugat Kartini kita temukan juga dalam gugatan Pram; terhadap kolonialisme, pendidikan, feodalisme, penindasan terhadap perempuan, hingga agama.

Kartini seorang pribumi yang sudah mengenal bahan bacaan dari Eropa dan seorang penulis surat upaya yang mengagumkan dengan bahasa Belanda yang fasih. Pram seorang Jawa yang tak menulis dalam bahasa ibunya, tetapi pandangan dan semangat pembebasannya sangat Eropa. Revolusi Prancis telah membentuk watak emansipasi Kartini dan Pram. Dalam novel tetraloginya, Pram sendiri bahkan sempat dicekam kebimbangan dalam menempatkan bahasa Melayu dan bahasa Belanda, dan ia sendiri sangat fasih berbahasa Belanda, tapi menulis dengan bahasa Melayu—atau bahasa Indonesia. Nnovel-novel awalnya, seperti Keluarga Gerilya, Mereka yang Dilumpuhkan, Bukan Pasar Malam, dan Gadis Pantai, bahasanya terasa lebih Melayu ketimbang karya orang Melayu Sumatera sendiri pada waktu itu.

Kritik yang dilakukan Pram terhadap agama sangat diwarnai semangat emansipasi Kartini, yang keduanya khas pandangan pencerahan Eropa. Agama, sebagai harapan satu-satunya untuk membebaskan rakyat dan kaum perempuan bumiputera dari keterbelengguan, dalam penghayatan Pram dan Kartini justru berwajah menindas. Sistem perkawinan, sitem perceraian, sistem pembagian harta waris dan zakat yang rigid dan diskriminatif, lebih banyak merepresentasikan keinginan laki-laki dan kolonialisme ketimbang kaum perempuan bumiputera. Perselingkuhan kolonialisme-feodalisme telah membuat Nusantara berada dalam kegelapan, dihempas badai dan dirundung duka, sebagaimana kita lihat dalam frase awal telisik ini.

Bagi Pram, kebimbangan dan kesangsian yang sehat mengenai agama dan Tuhan, jauh lebih baik ketimbang keyakinan yang buta, dan yang hanya baik bagi golongan yang kehilangan akalnya. Kartini menggugat agama dengan sangat menohok khas kritikan kaum intelektual Eropa abad ke-19. Agama baginya telah kehilangan semangat emansipasinya. Kartini bahkan menunjukkan kepada kita betapa sistem patriarki yang bertamorfosis dengan sistem feodalisme dan kolonialisme itu ternyata tidak hanya telah merendahkan derajat kaum perempuan, namun juga telah menempatkan perempuan sebagai abdi kaum penjajah.

Dalam surat-menyuratnya tampak tergurat nada sastrawi dalam bentuk surat upaya dengan gaya puisi-prosa yang terkadang begitu getir mempersepsikan masa depan Nusantara. Kartini, sebagaimana juga Pram, tampak gamang dan gelisah dalam menempatkan buah pikirannya di tengah arus besar perubahan sejarah negeri pascakolonial, mulai dari persoalan pendidikan, filsafat, agama, sastra, budaya, sejarah, hingga ke persoalan (kuasa) bahasa Jawa, Melayu, dan Belanda.

Bagi Pram, apa yang dikatakan bebas oleh Kartini tak berarti bebas berbuat sekehendak hatinya tanpa perlu mengenal batas. Bila Kartini menyebut kata bebas dalam suratnya, yang dimaksudkannya ialah kebebasan jiwa. Orang Indonesia, kata Pram kemudian, masih belum bebas dalam menafsirkan kehendak Tuhan dengan terlebih dulu harus menyiapkan seperangkat keyakinan sebagai konsesi. Hakikat dari kepercayaan yang begitu luas menjadi kerdil, dan tanpa kejujuran nurani dan pikiran maka seorang yang beragama sekali pun bisa berubah menjadi fanatikus yang buta. Dan sepanjang sejarah, orang-orang fanatik inilah yang seringkali dijadikan umpan di tiap medan pertempuran.

Baik Pram maupun Kartini, keduanya melihat penyelewengan dan kemerosotan agama bukan dari sebuah pembacaan tanpa realitas, tapi keduanya menyaksikan dari dekat bagaimana agama telah dimanipulasi untuk kepentingan ideologis-politis yang menempatkan teks melulu sebagai legitimasi untuk membenarkan kesewenang-wenangan yang kelak akan kita temukan juga dalam pandangan Adonis—penyair dan pemikir Arab-Islam kontemporer. “Benarkah agama itu restu bagi manusia?” tanya Kartini dalam surat betanggal 6 Nopember 1899. Kartini ragu, gamang, bukan karena ia tak percaya bahwa di dalam Islam masih terkandung kebaikan dan rahmat bagi manusia dan semesta raya, tapi ia terlanjur menyaksikan “betapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu”, tulisnya.

Tak berhenti di situ, Kartini pun tak tanggung-tanggung mengarahkan penanya kepada Islam, dan ia juga mengatakan dirinya turunan kaum muslim, tapi baginya, “Tuhan Allah hanyalah kata seruan, sepatah kata, bunyi yang tiada arti dan rasanya”. Sementara Pram mengakui, pemberontakan terhadap Tuhan bukanlah sesuatu yang baru bagi pengarang-pengarang di Indonesia, dan Kartini telah memulainya. Bila ada satu golongan yang mencemooh Tuhan, kata Pram, maka kita harus hati-hati untuk menganggapnya sebagai jahanam, sebab bukanlah yang dimaksudkannya adalah Tuhan yang sebenarnya, justru tiap orang yang berpikir ke arah itu tidaklah akan mendapat penyelesaian yang memungkinkan ia berpuas hati.

Cemoohan terhadap Tuhan adalah cercaan yang dilemparkan oleh golongan tertentu kepada pengertian-pengertian yang diisikan pada nama tersebut oleh sang rezim kebiasaan. Seperti halnya kebiasaan para diktator yang turun-temurun, yang memang menghendaki agar semua dapat terangkum dalam kekuasaannya. Sebagaimana dalam segala ketertiban masyarakat, kata Pram, maka hal ini pun ada pemberontak-pemberontak yang menentang kediktatoran kebiasaan (keyakinan resmi dan mayoritas).

Kartini menolak agama yang dijadikan legitimasi oleh sebagian orang untuk berperang atas nama Islam dan Kristen di bumi Nusantara. Pram membaca dalam banyak surat kabar bagaimana Islam, Kristen, dan Hindu saling membenarkan perang dan menghancurkan kemanusiaan di India dan Bangladesh. Kedua penulis ini begitu terluka menyaksikan kalangan agamawan yang masih terus menjadikan agama yang terorganisir sebagai sandaran teologis dalam perang dan mengukuhkan sistem patriarki warisan feodalisme Jawa dan kasta di India itu.

Dalam suratnya tertanggal 13 Agustus 1900, yang ditujukan kepada Abendanon, Kartini mengkritik Islam yang melegitimasi poligami dan pembodohan terhadap perempuan. Demikian pula dalam suratnya bertanggal 23 Agustus 1900 yang ditujukan pada nyonya Zeehandelaar, gugatannya terhadap sistem perkawinan, serta gambaran betapa sulitnya seorang istri yang meminta cerai kepada suaminya kendati harus mengemis berkali-kali, merupakan contoh gugatan Kartini terhadap agama, yang belakangan ini begitu semarak diwacanakan oleh kaum feminis.

Kartini menampilkan empat perubahan yang diharapkannya yang dimulai dari ”habis malam terbitlah terang, habis badai datanglah damai, habis juang sampailah menang, habis duka tibalah suka”. Sudahkah kegelapan yang dilihatnya pada penduduk pribumi itu melahirkan cahaya terang? Jawabnya tentu sangat pesimis. Sistem perkawinan dan perceraian dalam Islam yang dikritik Kartini lebih dari satu abad lampau masih belum berubah.

Pram dan Kartini bukan hanya jadi juru bicara emansipasi dan kemerdekaan kaum perempuan pada zamannya, namun telah membuktikan bahwa keduanya bukan manusia yang mudah dijinakkan. Gugatan Kartini dan Pram terhadap Islam dan sistem feodalisme Jawa tidaklah harus dilihat dari antropologi dengan tendensi rasisme, karena sebagaian besar kaum intelektual Jawa masih mempersepsinya demikian. Kritik kedua pujangga ini terhadap Kuasa Jawa justru meberikan alternatif bagi penghayatan sasta dan religiusitas yang membebaskan. Sasta dan religiusitas yang mendorong tegaknya harkat dan martabat kaum perempuan dan rakyat kebanyakan tak bisa tunduk pada feodalistik.

Ungkapan-ungkapan yang bernada dekonstruksi terhadap agama telah menempatkan Kartini dan Pram dalam barisan tokoh kritis dalam memandang agama dan Tuhan. Sebuah laku yang, kendati oleh Kartini sering digugatnya, telah memberikan teladan dari hasil pencariannya: “Kami telah menemukan Dia; karena kini ini kami tahu—kami rasa, bahwa senantiasa ada Tuhan dekat kami, dan mendjagai kami. Tuhan itu akan mendjadi penolong, pembudjuk hati, tempat kami berlindung didalam kehidupan kami jang akan datang dan ini sudah terasa oleh kami”, tulisnya dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902. Surat terakhirnya bertanggal 7 September 1904 melukiskan “Tuhan tiada akan tuli mendengar sekian banjak jerit hati yang mendoa”.

Kendati Pram sering disebut sebagai pemikir yang nyinyir dalam memandang Islam, dalam roman Keluarga Gerilya dan Bukan Pasar Malam, kita akan menemukan sosok pergulatan yang intens dalam pencarian hakikat ketuhanan. Babak akhir Keluarga Gerilya melukiskan dengan suasana religius mirip doa: “Tuhanku, biarlah aku mengalami fajar merah sekali lagi. Ya, Tuhanku, aku paham akan alamat yang Kauberikan padaku. Dosaku banyak. Aku Tahu. Dan Engkau Mahamengetahui. Engkau sendiri yang mengizinkan dosa-dosa itu berlaku di dunia ini. Dan berpuluh-puluh jiwa telah kuputuskan untuk korban pada bangsa baru yang Kaulahirkan di tanah airku. Bangsa ini Kaulahirkan di atas dosaku—dosa kita semua. Ya, aku tahu—alamatMu itu sudah kupahami. Akan sampailah ajalku…”
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Thursday, November 17, 2011

Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Jodoh, Rizqi, Mati, iku mung siji, tapi sewu dalane.”

A. Prolog

Kaidah filsafat Jawa di atas, sepintas ndemel terdengar, tapi akan terus menguntit-ngiang di telinga orang yang serius mendalami filsafat dan apalagi jika hendak menjadikan konsep pemikiran dan laku hidup. Coba fikirkan sejenak! Jodoh dimaksutkan untuk menyebut idiom pertemuan dua hal atau lebih yang saling menguntungkan (simbiosis mutualis).
Di mana pertemuan yang bersifat sinergial tersebut berimbas ke saling melengkapi kebutuhan berkehidupan. Pada skala yang lebih luas, jodoh dapat kita simulasikan ke pertemuan belbagai hal, semisal: Sosial, Politik, Budaya bahkan Asmara dll. Namun lebih khusus, istilah ‘satu’ yang disebut jodoh adalah pertanda awal sebuah pertemuan yang berhubungan ruang dan waktu, diperlukan batasan jelas sejak kapan pertemuan itu terjadi.

Demikian juga Rizqi, adalah pertambahan nilai dalam berbagai hal baik secara finansial atau psikis yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan, menyelesaikan klise-klise nisbi, kekoteran, atau kelengkapan yang semakin melengkapi dan melingkupi bagi kelangsungan hidup. Hanya saja pada tataran nilai tertentu, rizqi kemudian dibagi menjadi rizqi yang barokah dan tidak barokah. Kedua jenis rizqi tersebut jika hendak dihadapkan pada efek eksternal, sebab-akibat yang kemudian berpengaruh praktis pada diri dan lingkungan di luar tubuh yang disebut becik ketitik-olo ketoro.

Sederet dengan Jodoh dan Rizqi adalah Pati-Mati. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dalam eksistensi kehidupan, bahwa ketiga rumus Jodoh, Rizqi dan Pati, adalah proses baku yang disyaratkan pada yang bernama ‘Hidup’. Mati, begitu  bunyinya, lepasnya ruh dari jasad. Di mana sejak ‘mati’ itu terjadi, tidak berfungsi lagi seluruh perangkat jasad dalam pertaruhan eksistensi kehidupan riel. Untuk menyebut istilah mati, orang Jawa sering memakai ungkapan lugas “lakon uripe wes entek (tugas seseorang untuk hidup sudah berakhir).”  Tentu, tidak sertamerta mati itu terjadi, ada suatu proses terlebih dulu menuju mati yang disebut ‘ke-mati-an, gejala yang mengarah ke kejadian mati. Nah, menuju titik temu pada satuan Jodoh, satuan Rizqi dan satuan Pati inilah banyak cara hingga seribu macam jalan.

B. Sastra Tan Rudydov Berbaris Penulis Lamongan

Dari prolog di atas, Saya hendak menggiring ke satu titik pembicaraan mengenai perjodohan sahabat Tan Rudolf. Berangkat dari kegemaran menulis, lelaki kelahiran Lamongan ini bertemu jodoh hidupnya berkat tulisan yang rajin ia publikasikan di buku elektro (kitab google).

Meski tidak berbentuk uraian-uraian panjang, tulisan Tan Rusydov tergolong bermuatan pemikiran-pemikiran yang menteg (berbobot), hasil pemahaman yang diulet sedemikian rupa, Ia tuangkan mirip puisi Haiku Jepang.

Jika suatu saat Tan sempat meng-antologikan tulisannya, akan sejalan dengan langkah yang ditempuh Nurel Javissyarqi (Penyair Lamongan) dalam buku Kitab Para Malaikat (PUstaka puJAngga 2007). Dalam buku KPM, Nurel Javissyarqi sengaja menyuguhkan karya sedikit nyleneh, berbeda bentuk dari kelaziman metode kepenulisan. Kalimat-kalimat pendek yang ditemukan Nurel dalam setiap tempat dan waktu, Ia susun menyerupai ayat-ayat, dalam arti, satu kalimat yang berhasil ia rampungkan, menjadi satu ayat khusus beserta muatan intuisi dan tafsirnya yang belum tentu bersinggungan dengan kalimat berikutnya. Jika Nurel menandai khusus sebentuk kalimat puisinya dengan angka Romawi, Tan memberi tanda dalam satu kalimat pemikirannya dengan kata ‘Kawat’.

Jika Tan Rusydov (=) Nurel Javissyarqi, maka keduanya (=) menempati barisan penulis Lamongan lain yang telah menggegerkan jagat kesusastraan Indonesia. Di bencah Lamongan yang dahulu masyarakat Jombang akrab menyebut dengan istilah daerah yang “lek ketigo gak iso cewok, lek rendeng gak iso ndodok” ternyata bermunculan penulis berbobot, sebut saja di antaranya Rodli TL dengan garapan naskah teaternya, A. Syauqi Sumbawi dengan berbagai antologi Puisi, Cerpen dan Novelnya, Javed Paul Syatha, Imamuddin SA, Alang Khoirudin, Mohammad Alif Mahmudi, Herry Lentho, Denny Mishar, Agus B. Harianto, Bambang Kempling, ZTF Boy Pradana, Mashuri, Supaat I. Lathief, …dll. Hanya saja Tan dan Nurel akan lebih kecil (Lorong Gelap Yang Mengasyikkan. Dalam prolog KPM itu Maman S. Mahayana membariskan Nurel sealiran dengan Socrates, Plato, Giodano Bruno, Galileo Galelei, Rene Descartes, Copernicus, Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Derrida, Ibnu Thufail, Ibnu Arabi, Ibnu Sina, Al-Hallaj, Al-Ghazali, Muhammad Iqbal).

Sebagaimana Nurel, Tan dan penyair umumnya dijaring dan ditangkap Maman S. Mahayana dalam paragraf pertama dalam prolog KPM: “Hamparan semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah, seketika itu pula ekspresinya muncerat berhamburan, bercipratan, menerabas apa pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilinya sesuka hati. Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa, say hallo, atau bahkan juga gugatan. Ia sekedar hendak mempresentasikan gumpalan kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram dalam kerajaan gagasannya. Boleh jadi ia lahir atas kesadaran, bahwa gagasan yang sekian lama dipenjara, bakal berakibat buruk pada denyar pikiran dan denyut batinnya. Mungkin juga ada kesadaran lain, bahwa tuhan tidak melarang makhluknya berkisah tentang apa pun. Bukankah tidak ada undang-undangnya yang menyatakan bahwa tuhan kelak akan menghukum manusia yang mengumbar imajinasinya, bergentayangan ke berbagai imajinasi yang lain? Bahkan, sebaliknya, tuhan menempatkan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari makhluk lain, justru antara faktor imajinasi itu.”

Berikut adalah tulisan Tan Rusydov  yang Ia susun dengan kode-kode ‘Kawat’-nya. Meski ada beberapa pemikiran yang tergolong liar dan nakal atau sekedar senda-gurau, namun semuanya terlihat jelas bahwa Tan berbasis Sastra Arab yang Ia rampungkan selama kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lulusan tahun 2008.

// Kawat | Ide

Kita tidak harus menjadi Platon-(Athena, 428/427-347/346 SM), jika di Indonesia sering ditulis dan diucapkan Plato (tanpa n), karena filsafat masuk negeri ini lewat bahasa Belanda, sedangkan kata Yunaninya Pla/twn (Platon)-jika ingin menjadi penulis, pemikir dan perenung yang murung. Kita bisa menciptakan-merubah-melahirkan ide sesuai batas kemampuan kita, sebenarnya tak ada “batas” yang abadi dalam proses hidup ini, yang ada adalah “langkah yang berhenti”, artinya kita dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan itu ada, karena kita mau untuk mewujudkannya dan kita pasti akhirnya tahu.
Orang-orang yang tak mengenal alat-alat tulis, dan tak pernah mengucapkan a, b, c dan 1, 2, 3…itu juga bisa kita sebut perenung dalam kehidupannya, tentu saja mereka menjadi filosof di lingkar hidupnya.
Orang-orang yang selalu merenung, mengenang, menyesali dan menangis karena cinta yang sepele itu juga bisa dikategorikan filosof-filosof romantika di jalinannya dengan kekasihnya yang hilang atau lebih tepatnya berganti medan hati.
Penonton yang setia di depan layar televisi adalah pembaca yang cermat kalau tidak bisa disebut pelotot iklan-iklan pembohong besar dalam kenyataannya.
Kuli-kuli pasar yang letih dan berkeringat adalah filosof jail saat melihat bokong-bokong wanita baik janda atau anak gadis kita.
Dewan yang-katanya terhormat-duduk di gedung kura-kura dan Nusantara adalah perancang-peramu-pelaku dalam sarang Koruptor dan Kleptokrat, tentu saja yang tersisa yang baik yang tak terlihat dari mata telanjang kita.
Dan masih banyak lagi yang bisa kita tulis jika ingin menulis dengan ada “ide” atau “tanpa ide”, hanya saja “melangkah” itu perlu tapi juga bertahap, kita ingat perkembangan anak-anak.
Kita menatap tembok kosong, putih dan retak-retak kecil, juga bisa menjadikan kita seorang Platon di tempat dan waktu yang berbeda.
Sepandai apapun orang dalam tempurung otaknya, ia akan dilupakan dalam sejarah hidupnya, paling lama ia dikenang oleh orang-orang yang dekat dan kemudian hilang-lenyap kalau saja tak ditulis oleh orang lain.
Tulislah sederet nama iklan dalam setiap hari kita temukan, bisa merk sampo, sabun, pembalut, pasta gigi, jajanan pabrik dan pasar, nama-nama mantan pacar dan orang-orang yang dilupakan, maka akan menjadi sebuah tulisan yang menarik, dan tentu saja akan menjadi puisi yang bagaimanapun ia bisa membacanya, bahkan yang mati suri, tak percaya? Buktikan saja dengan tulisanmu!
Salam budaya!

Kawat Status Bersanding 2 (Aforisme)

Di atas tanah Arab tidak pernah ada sejarah kedamaian, setidak-tidaknya perang terselubung. Arabisme kok dibanggakan.
Bangsa ayam paling menderita di mulut manusia, dari jenisnya. Ayam bersahabat dengan tikus dan manusia menjadikan musuh.
Tanpa mempercayai hari akhir (Kiamat, Yaumul akhir, dan nama Kepunahan lain) tanpa sadar manusia menciptakan sendirinya. Keimanan itu datang saat ketakutan dengan sedikit sembunyi ke diri tiap manusia.
Bumi merasa takut saat manusia dilahirkan kembali, ia sedikit lega dengan kematian satu-satu manusia. Satu bumi dipeluk hampir 7 miliar manusia dengan segala tangannya.
Aku paling suka meraba tanah, kupikir aku membangun rumah semuat seekor semut dan kubuat sekalian kuburan, ya persis pada Pic-Prof Tan Rusydov.
Je-ja(ring So)sial. sebenarnya laut sudah membiru di layar saat ikan-ikan dan terumbu karang mengubah diri jadi sastra-politik-agama-filsafat dalam sejarah budayanya sendiri. Ada (laut) Facebook yang tidak melaut? mungkin saja.
Kata ayahku; lebih baik cerewet di Facebook daripada cerewet di mimbar khotbah, seminar atau senayan….*_^.
Surau-surau dan masjid itu membuat telingaku berdarah mendengar puisi yang muntah, apakah tidak ada puisi yang berbisik ya…
Aku sudah berjalan di bawah yang hampir purnama, ada petir di halaman_ku. Aku lebih tertarik dengan purnama puisi senyummu, kenapa ya, mungkin engkau bisa membuat_ku malu. *_^.
Barang siapa yang mampu menguasai bahasa puisi, ia menguasai dunianya….yeah, meskipun dianggap gila dengan ketelanjangannya.
Entah ya, setiap yang kulihat dari aneka rupa wajahmu adalah puisi, dan itu pasti membuat_ku berdiam diri sambil diam-diam mencatat apa yang pantas menjadi diksi dan artikulasi, padahal aku ini paling tak paham dengan teori puisi. ^_*.
Ada yang bilang bahwa humor paling tinggi dan paling abadi adalah bahasa-puisi, meskipun sang penyair ditusuk nisan sendiri atau ia dibakar dengan marahnya api.
Siapa bilang puisi itu rumit, ibaratkan saja tangisan bayi di pagi hari/ Siapa bilang puisi itu sepi, anggap saja lalu-lalang transportasi/ Siapa bilang puisi itu rasa, ah, mungkin saat ini engkau kelaparan. ^-^.
Bahkan gigitan nyamuk kubaca sebagai puisi yang meminta ejakulasi dini, apalagi gigitanmu.
Garis hidup puisi tidak ditentukan oleh si penyair, tidak juga buku dan pasar. Ia termaktub di kehidupannya sendiri, bisa lapar, marah, kenyang, gembira juga bisa ngantuk. Selamat tidur puisi. Oh ya, salam buat pacar gelapmu. ^_^.
Kopi pagi dan puisi, semacam wanita muda merona dengan si dingin lelaki, hendak merengkuh embun yang dipeluk lekuk puisi.
Tiap pagi di pasar, yang kutemukan jajanan puisi, penyair janda, lidahnya menjulur kemana-mana, sampai ke dada keringku.
Kata siapa wanita di Facebook kesepian, ia datang dengan puisi. Lelaki yang paling kesepian meski sudah beristri.
Orang utan, simpanse, bonobo, gorila : Great Apes/ Siamang dan Owa : Lasser Apes/ Manusia : Apes doank, pemicunya.
Panca Sila itu puitis sekali….dan Tan Rusydov salah satu penggalinya. ^_^.
Sewaktu Sekolah Dasar, Tan Rusydov menjadi delegasi Cerdas Cermat dengan topik P4, kalah tapi dengan kepala tegak, karena itu bukan perlombaan puisi, lebih baik tahu diri. ^_^.
Beginilah, jam burung Tan Rusydov kembali pulang ke sarang, merehatkan puisi, namun terjangkit insomnia kelas tinggi. *_^.
Sudah dengan bantuan Bob Acri dengan Sleep Away_nya…Jazz 2004…masih juga puisi jingkrak-jingkrak di kepalaku.
Ayamku telah bertelur 9 puisi, sampai malam ini ia angkrem dan seringkali kuintip untuk membaca tiap telurnya.
Puisi adalah kegelapan, siapa yang ingin gelap ia berpuisi.
Begini ya, kalau ada yang tidak paham dengan maksud, anggap saja itu puisi.
Kalau ada yang membiasakan “maaf” dalam hidup, selama itu pula terbiasa dengan “lupa” dalam hidupnya.
Penyair itu kapal kertas kecil/ Puisi menjadi samudera tanpa tepi/ Bumi adalah kata, lalu maknalah yang membentang angkasa.
Menu masih sama; Nietzsche. Aku oseng-oseng dan kujepit dengan irisan tempe. Karbohidrat cukup. Secangkir zam-zam Bengawan Solo. Syukur itu sedikit makmur.
Puisi itu kekuasaan, manusia menjadi budaknya.
Fenomena itulah puisi paling indah di mataku, ia juga paling dalam di hatiku, ia sangat perkasa di putaran otakku. Tidak ada selain fenomena itu sendiri, termasuk puisi.
Puisi paling banyak menawarkan janji daripada mulut politisi/ Puisi bisa ditepati/ Politisi ingkar janji/ Selamat pagi!
….Kehendak untuk Berkuasa….puisilah panglimanya. tanpa penyair tak perlu pembaca.
Keimanan itu puisi, artinya apa, iman tak akan bisa diperdebatkan. Omongkosong dengan aliran, faham, madzhab dan semua.
Puisi mestinya tak diajarkan, puisi tidak ada sejarahnya dan nirkepunahan. Hanya kedunguan yang bisa mengujarkannya.
apakah puisi juga mandi, mungkin makna apek dan kecut yang mengajak manis menghampiri. senandung senja dan kopi kekasih.
puisi = aforisme/ tidak ada kelengkapan atas fenomenanya dan diterima/ditolak begitu saja.
Sejatinya politik itu puisi anak tiri, ia rakus dan angkuh, tapi malas bekerja. Puisi selalu membawa pesan perlawanan!!
Tidak ada jalan puisi kembali, sebab ia tidak punya kamus kerja-rodi. Dan di setiap perjalanannya selalu dengan darah, airmata, juga keringatnya sendiri.//

Setelah mengenal Tan, semakin bertambah data Saya mengenai jumlah penulis Lamongan yang terangkum dalam buku Antologi Sastra Lamongan Gemuruh Ruh (PUstaka puJAngga 2008).

C. Tan Rusydon Bertemu Jodoh

Berperantara teman Amrulloh (peminat sastra dan seni yang sedang menyelesaikan S2 Ekonomi di Undar-Jombang) saya mengenal Tan. Yang menarik bagi Amrulloh hingga bercerita ke Saya adalah bagaimana tulisan ‘Kawat’ Tan bisa ditunggu para penggemarnya. Bahkan, ketika media blogs  yang dipakai khusus untuk mengunggah Kawat-Kawat Tan, terblokir, peminat tulisan Tan, hingga mencari dan bertanya-tanya. Yang paling berharga bagi Tan atas tulisannya ialah ketika tuangan rasa dan pemikirannya menyentuh hati Siti Muamalah, dara jelita kelahiran Ploso-Jombang yang telah lama berdomisili dan sukses di Nusa Dua Bali. Bagi Mala, betapa anugerah hidup tersempurna jika ceruk palung hatinya bisa dipenuhi Tan hingga akhir hayat. Lebih dari itu, Mala merasa, dalam diri Tan ada nilai tak terhingga bagi umat manusia yang ia merasa perlu turut merawatnya.

Berkaca dari jati diri tulisan, Tan dan Mala kemudian saling menziarai belantara jiwa masing-masing hingga ke wilayah pedalaman sekali pun. Betapa keduanya saling terpukau menyaksikan bunga warna-warni dalam berbagai pertamanan perdu yang menyeruakkan wewangian semerbak. Taman-taman yang menghampar luas. Tentu sangatlah mudazir jika kemudian keduanya tidak menjadi sepasang kupu-kupu berasayap jelita yang terbang beriringan ke sana-ke mari, hinggap di kelembir berhelai-helai dedaunan dan kelopak. Bukan sekedar keasyikan ke dua kupu-kupu dengan adanya bunga, melainkan penyejuk teduh bagi setiap pelupuk mata yang memandang. Apalah arti taman dan kupu-kupu tanpa pelupuk mata, meski keduanya sudah indah sedari asali.

Tan, sang lelaki kemudian bercericit, mengibaskan sayap, menggelar keindahan tiap helai bulu-bulunya di bawah tenggaran matahari. Sang pemilik spermatozoon sejati itu pun bergerak aktiv keluar menemui ovarium yang bersifat menunggu. Alkhasil, pada 29 Agustus 2011, sehari menjelang puasa, Tan berhasil menemui Mala. Dari pertemuan pertama tersebut kemudian terbentanglah sajadah panjang bagi lamunan kedua muda-mudi ini untuk meletakkan dahi saling mensujudi gelaran hidup sepanjang massa. Tentu bukan saling menyembah setara Tuhan, melainkan saling mengagungkan atas hasil karya Tuhan yang teramat indah (jodoh) dan dipersembahkan atas diri mereka.

Nyanyian cinta segera bersenandung di antra ke duanya. Mereka tak bosan mengeja ulang ayat cinta yang berserakan. Dunia hilang menjelma kekasih. Apa pun yang di hadapannya tampil sebagai wajah kekasih, bayangan menguntit ke mana pun diri berada. Seperti Kahlil Gibran, ke duanya terjangkit Gairah Asmara sedemikian hebat (Diva Press  2004): Laksana setangkup gandum, cinta menyatukanmu dengan wujudnya, mengulitimu sampai engkau bugil-bulat, menyerutimu sampai engkau terbebas dari lapis luarmu, meleburkanmu demi memutihkanmu, menghancurkanmu sampai engkau menjadi liat, dan akhirnya menuntunmu memasuki api sucinya, lalu engkau pun menjelma roti suci sebagai perjamuan bagi Tuhan // Cinta dan semua yang dipercikkannya, pemberontakan dan semua yang ditumpahkannya, kebebasan dan semua yang diterbitkannya, adalah bagian dari Tuhan, dan Tuhan adalah ketakterbatasab pikiran dalam semua keterbatasan dunia // Aku memiliki kawan dari diriku sendiri yang melipurku ketika malapetaka hari hari kian mengganas. Ia menemaniku manakala musibah demi musibah kehidupan menimpa.

Seri berikutnya, Tan mulai membuka beberapa kitab kajian wanita, katurangganingnya, untuk menyelami lubuk terdalamnya. Wanita, sosok makhluk unik yang tak kunjung selesai dibaca. Wanita yang oleh kawan Mardi Luhung hingga usia sepuh itu tetap mengatakan ‘Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku’. Pun juga yang diterawang Nurel dalamKPM pada bab: Membuka Raga Padmi. Perempuan itu kembang di pertamanan mimpi, siapa tandas menghirup kedalamannya, misteri kelembutan bakal sampai // wanita membawa ruhmu ke puncak padang padat pasir lamunan bagaikan rerumputan hijau bergoyangan atas bisik ketinggian // Jangan memegang sayap kekupu, nanti meronta tinggalkan bekas luka, tangkaplah lewat pandangan saja, lantaran dirinya telah memahami semerbak angin di udara.

Atau, Tan mengulangi gelombang sejarah Adam pada hari Tarwiyah dan Arafah. Di tengah kejumudan menyisir bentangan samudera dan benua untuk menemukan Hawa sang kekasih hati, teman surga-dunia dari tulang rusuk sendiri, Adam tepekur lelah di Jabal Rahmah. Ia duduk bersendeku, dagu tepat di tengkuk lutut, sedang telapak tangan merangkul ke dua kaki dan bersilang di atas telapak kaki (depan mata kaki). Ketika itulah keputusasaan Adam memuncak. Nisbi rasanya menemukan jodoh yang tercipta sejak di surga dulu. Tiba-tiba angin semilir dari bukit sebelah, angin yang berhembus membawa aroma Hawa. Seketika Adam jenggirat, lek teko ambune gak panggling, ini mesti aroma Hawa sedang berada di sekitar Jabal Rahmah. Adam pun berdiri sembari melepas bidik matanya ke bebukitan sekeliling. Ketika itu samara-samar dan sayup-sayup terlihat sekelebat Hawa. Sepontan Adam berteriak sekeras halilintar yang terpercik dari kerinduan menggumpal berabad-abad, menyeruak dalam dada. Alkhasil keduanya pun berpelukan di Jabal Rahmah pada hari Wuquf tanggal 9 Dzulhijjah.

Saat kerinduan memuncak, kebimbangan pun mengiringi. Pada sisi tersebut, Tan bertemu ruas dengan apa yang dijelentrehan Alang Khoirudin dalam bukunya: Percikan-Percikan Cinta Kado Pernikahan Untuk May (istri Alang Khoirudin), Pustakailalang 2006. Dalam buku yang tersusun 11 bab itu, Alang mengulas khusus perihal kelemahan wanita yang berkarakter seperti tulang rusuk, keras dan cenderung membengkok. Maka, jika kasar meluruskan, akan patah. Pun juga demikian, jika tidak diluruskan akan terus mblarah. Wanita identik dengan anting-anting yang tak henti bergoyang. Terlebih dihadapkan pada bahjat menyatukan dua hal yang berbeda. Di situ akan tumbuh dua ego bertabrakan, yakni ego ‘aku’, dan ego ‘dia’. Untuk menghilangkan ‘aku’ dan ‘dia’, maka ke duanya harus melebur menjadi ‘Dia’, Yang Maha Sejati. Di sanalah tataran berumahtangga dipertanyakan, opo gunane rabi lek gak iso ngajak anak-bojo nyedak marang Gusti.

Lain Tan, lain Mala. Sebagai wanita, Mala pun ingin mengamalkan hadist-hadist dan ayat yang terangkum dalam kitab Uqudul Lijjaini, kitab basis bagi perempuan jika berumahtangga karya Imam Nawawi Benten. Atau kitab serupa yang lebih moderat, yakni Qolat Li Jaddati karya Muhammad Rasyid al-Uwald yang di-Indonesiakan oleh M. Abdul Rahiem Mawardi, (Dar Ibnu Hazm, Beirut, Libanon 1415 H / 1994 M). Buku tersebut memuat rumus-rumus bahwa wanita sebagai power ruh pengendali keutuhan rumahtangga.

Pendambaan naluriyah bagi setiap insan adalah terwujudnya kebahagiaan berumahtangga, sebuah nilai yang tak sebanding ditukar berapa pun, dengan apa pun. Kesalahan mendasar bagi penghuni kehidupan adalah ketika meletakkan standart ke-bahagiaan di atas harta-benda. Maka lahirlah rumus: jika bergelimangan harta ia akan bahagia, namun jika tidak akan susah. Padahal, ada banyak kemerdekaan hidup cukup mengolah: kaya dalam kemiskinan, terang dalam kegelapan. Dengan kata lain, sugeh yo gak sombong, mlarat yo gak susah, biasa wae, sing penting bahagia.

Jika saatnya terjadi, kapan Mala ditakdir mendampingi Tan, tidaklah berlebihan yang dituntut dan dilakukan Mala, kecuali sekedar sebagai sosok istri dalam Novel The Home and the Word, Rabindranath Tagore (Penerima Nobel Sastra tahun 1913): “suami-istri itu sama haknya dalam bercinta atas pasangan.” Aku tidak membantah dalam hal ini. Tetapi hatiku berkata bahwa pengabdian bukan berarti ketidakbersamaan, justru malah meninggikan derajat kebersamaan. Karena kenikmatan kebersamaan yang tinggi itu akan selalu abadi, dan tidak akan menjadi kebersamaan yang rendah dan vulgar.

Cintaku, sungguh mulia hatimu, karena tidak mengharapkan pengabdianku. Tetapi bila engkau mengingat pengabdianku, itu berarti anugerah bagiku. Kamu perlihatkan cintamu dengan menghiasiku, mendidikku, memberi apa yang kuminta, bahkan apa yang tidak kuminta. Aku melihat kedalaman cinta dari kelopak mata ketika kau memandangku. Aku juga rasakan kepedihanmu dalam menjaga cintamu padaku. Kau cintai tubuhku seperti bunga dari surga. Kau cintai keseluruhan diriku seolah-olah benda berharga milikmu yang tak ada duanya di dunia.

Aku bangga dengan persembahanku padanya, karena inilah kekayaanku yang membuat suami bersujud di gerbang pintuku. Tetapi kebanggaan seperti ini bisa menghalangi penyerahan total cinta perempuan. Andai pun aku duduk di tahta ratu yang menerima persembahan, maka persembahan itu menuntut semakin banyak hal yang tak terpuaskan. Adakah kebahagiaan sejati bagi seorang perempuan yang berkuasa atas diri laki-laki? Hanya dengan merendahkan diri dalam pengabdianlah maka jiwa perempuan akan terselamatkan.

Wanita dengan adat ketimuran masih berpeluang dibanggakan suami. Kesetaraan derajat dengan kaum laki-laki yang dipahami wanita Timur ialah bagaimana wanita berposisi sama dengan suami, mewujudkan cinta yang ditemukan bersama hingga berkembang dan melebar berupa keturunan anak cucu, beserta keharmonisanya. Konsep wanita Timur sedemikian detail mengamping perkembangan anak cucu untuk mencapai pribadi tangguh. Yakni pribadi yang muncul dari keseimbangan kasih-sayang atas keutuhan rumahtangga. Tidak sekedar menemukan cinta lalu membubarkannya. Membincang harapan wanita Indonesia, Saya menulis khusus dalam judul: Wanita Indonesia, Tiang Ibu Pertiwi (lacak google).

Sangat berbeda dengan kebudayaan wanita Barat kontemporer, di mana kebanggaan wanita Amerika dalam hal pernikahan hanya sebatas penghapus julukan bahwa dirinya sangkal jodoh, perawan morek yang gak payu rabi. Setelahnya akan memilih jalan single parent/ menjanda dengan dalih tuntutan wanita karier. Wanita Barat lebih enjoi dari tuntutan kewajiban sebagai istri yang mereka nilai terlalu ribet mengganggu kepuasan dirinya. Pola hidup semacam ini meletakkan batu pertama kegagalan menjadikan keturunan tangguh, sebab sejak awal anak sudah diajari mental pengecut yang tidak berani bertanggungjawab terhadap kodrat bahwa dirinya adalah wanita.

Ada banyak pertimbangan sesungguhnya antara Tan dan Mala sebelum memasuki dunia penyatuan mereka, namun keduanya sepakat menghadapi segala rintangan bersama. Sehingga pada Selasa, 01 Nopember 2011, mereka melangsungkan pernikahan di desa Sentul, kecamatan Tembelang-Jombang. Tidak sebatas itu, sang istri sedang mengurus visa hendak mentraktir suami berbulan madu ke Negeri Kanguru-Australia.

Dengan niat suci mengikuti kesempurnaan sunnah Rasul dan ridlo semua pihak, semoga bahtera rumahtangga Tan-Mala sampi di wilayah mawaddah wa rahmah. Seperti apa konsep mawaddah wa rahmah tercapai? Dari beberapa buku tuntunan berumahtangga, Saya tertarik pemikiran radikal Emha Ainun Nadjib pada suatu Pengajian Padhang mBulan yang menyinggung khusus soal be-rumahtangga.  Emha memaparkan bahwa konsep mawaddah wa rahmah ialah aturan rumahtangga yang dibentuk dan dipatuhi anggota keluarga. Bukan suami atau istri yang menjadi pemimpin dalam rumahtangga, melainkan hukum yang sudah disepakati keduanya. Artinya, baik suami, istri, anak, harus patuh pada hukum rumahtangga yang diterapkan pada suatu keluarga. Dalam konsep demikian, siapa yang melanggar aturan, ia akan terhukum oleh aturan itu sendiri.

Emha mencontohkan satu kinerja konsep mawaddah wa rahmah semisal: suami mendapat uang berapa pun dari hasil kerjanya, diserahkan sepenuhnya pada sang istri tanpa sisah sedikit pun. Bukan istri sebagai istri, namun istri sebagai menejer PT Mamawaddah Wa Rahmah yang mereka jalankan. Sebaliknya, jika suami ingin membeli hal sepeleh pun harus meminta uang pada sang istri. Bukan sebagai istri suami meminta, melainkan pada menejer PT Mawaddah Wa Rahmah. Kelebihan teori Emha tersebut pada ketersangkutan istri-menejer-keluarga dalam kiprah di luar mereka, ketika suami berada terpisah dalam tugas, ia memberi sebatang rokok pada teman, atau bersedekah pada orang tertentu, uang yang suami pakai bukan dari kantong sendiri, melainkan dari keuangan PT Mawaddah Wa Rahmah. Artinya, meskipun memberi sereceh uang pada pengemis, atau sebatang rokok pada teman, pahalanya tercatat hingga seluruh keluarga. Konsep Emha inilah yang orang Jawa bilang istri itu suwargo nunut, neroko katut. Maka suami harus pandai menyertakan keluarganya memasuki batas wilayah surga.

Dalam pertemuan pengantin Jawa, ada tradisi Jago-an, yakni pengantin laki-laki disimbolkan se-ekor ayam Jago yang bernama Sawung Seto Wono (sawung = ayam jantan, seto=putih, wono= alas / hutan). Artinya, pengantin laki-laki, diidamkan seorang ksatria yang sudah melanglangbuana ke berbagai perguruan suci, ilmu sejati. Ayam pejantan ini sengaja mencari sosok ayam betina yang bernama Sekar Joyo Mulyo, sing durung rontok saripatine (sekar= kembang, joyo=jaya, mulya=mulya). Durung rontok saripatine=belum terkonstaminasi berbagai teori yang meruntuhkan derajat kewanitaan sebagai wanita. Sastra-sastra Jawa tersebut khusus diudal ketika acara pertemuan pengantin yang menggelar Roro Pangkon yang selengkapnya bisa dibaca pada tulisan bahasa nJombangan Saya yang berjudul Bubak Kawak-Roro Pangkon (lacak google). Namun sekelumit pengharapan masyarakat Jawa pada sejoli yang menikah, tergambar pada sebagian tulisan Saya berikut:

Pangkringane: Kajeng Krudo Mandero
Peturone: Dalem adi gondo, bantal piwulang, kemul pitutur
Kurungane: Lahir lan bathin
Mudune: Nduk jengkar guling, kursi gading, artine sak jerone gerdin, dodo siji tinawonan.
Turune: Nduk jero bakupon sing isi putri kewudanan, sang putro nibo pangkon.
Kluruk’e: Wayah jam 8 isuk, metu nduk pengayomane Sidodadi ngadep nang bapak Naib, diapit poro priyayi laras karo agomone.

D. Tan Rusydov Hibah Perpustakaan

Selama kuliah di Yogyakarta, Tan tergolong mahasiswa yang peduli dengan buku. Sekian uang saku yang dikirim ayahnya (H. Pasrah), ditabung dan dibelanjakan buku yang ia lacak dari gang perbukuan di Yogya. Hingga pada titik Tan menikah, seperti yang dituturkan pada Amrul, “hai Bro! Tolong jaga dan manfaatkan dengan baik buku-buku saya ya! Aku membelinya dulu sekitar 50 juta-an.”

Inisiatif Tan memberikan buku perpustakaannya pada Amrul, seorang kawan lama yang berdomosili di Kwadungan-Badas-Sumobito, setelah menemukan kesepakatan dengan Mala perihal kepulangan setelah menikah. Dengan perhitungan cermat akhirnya terputuskan bahwa Tan akan mengikuti sang istri di/ke Pulau Dewata. Sementara keluarga di rumah yang tidak ada militansi terhadap dunia perbukuan, tentu akan membuat sekian buku perpustakaan Tan mandeg dan mubazir. Agar lebih efektif, terawat dan lebih bermanfaat besar orang lain, seluruh buku perpustakaan Tan akhirnya diberikan, dititipkan, dihibahkan atau apa pun namanya, yang jelas pada 12 Oktober 2011 lalu, ia mengusung bukunya hingga satu colt penuh ke kediaman Amrul di Kwadungan.

Belajar dari cara Tan memberlakukan perpustakaan di atas, kita dapat menilai arti sebuah konsistensi terhadap dunia perbukuan. Di mana Tan, berfikir kemanfaatan komulatif, yakni fungsi sebuah buku dibaca tersebar di masarakat. Artinya, semakin banyak bacaan yang beredar di masyarakat, semakin luas pula penyebaran berbagai ilmu yang dipahami masyarakat. Sikap Tan tersebut melahirkan wacana bahwa yang membeli buku belum tentu membaca. Meski bagi kolektor buku pasti ada saatnya buku yang ia beli akan dibaca. Sementara di sisi lain, yang mengalami keterbatasan membeli buku, akan terbagi bisa membaca.

Sikap Tan yang demikian termasuk ‘pustakawan’berhati kaya. Meski ia belum membaca buku yang dibeli, sedang orang lain mendahului mendapatkan ilmu dari buku yang ia beli, tidak rugi sedikit pun baginya, sebab tujuan utama bagi penjelajah ilmu adalah meningkatkan pengetahuan secara merata.

Era-percetakan yang hadir sebelum era-google, sertamerta menciptakan militansi yang luar biasa terhadap pencari wawasan. Tidak bisa dipungkiri. Hingga era media elektonik yang lebih efektif dan efisien: praktis, ringan, tidak memerlukan bahan kertas ber-ton ton untuk memuat sebuah tulisan, pemangkasan biaya produksi kertas yang apalagi dikuasai kapitalisme produksi (perdagangan), masih kita jumpai pustakawan ’konyol’. Pustakawan jenis ini berulah menumpuk buku persis burung membikin sarang. Tidak memperhitungkan siapa dan apa sempat dirinya membaca. Bahkan demi terpandang sebagai kolektor buku, beberapa dosen membangun buku pustakanya dengan ‘meminta’mahasiswa dengan alasan ‘titip dibelikan’ saat mencari referensi skripsi. Tentu saja sang mahasiswa akhirnya sungkan meminta uang harga buku, takut kalau skripsinya mendapat kendala.

Tentu dari kedua jenis pustakawan di atas ialah seberapa mereka bersikap seperti gerobak keledai mengusung buku, apa arti sebuah buku pada tempat yang tidak berkaitan dengan pembelajar.

E. Saya Membaca Puisi Antologi Pernikahan Tan-Mala

Sengaja Tan menampung puisi kiriman teman jejaring yang ia kenal untuk diantologikan khusus sebagai kado pernikahannya dengan Mala. Tentu tidak berharap banyak bagi pengirim tulisan untuk kado pernikahan Tan-Mala, kecuali jika setiap kata berfrekuensi do’a, puisi itu merupakan entri point tersendiri bagi mempelai. Syukur berfungsi sebagai energi positif yang menguatkan sendi-sendi kekokohan rumahtangga kedua mempelai. Di antara pengirim tercatat nama Yeni Francisca, Arasandi, Taufik Jokolelono, Sulis Gingsul, Umi Widiarti, Hazil Aula, Fidelis Situmorang dll. Saya sendiri mengirim puisi ‘Istriku’dalam antologi tersebut. Tidak hanya mengirim, Saya yang sempat hadir pada malam resepsi juga didaulat membacakan puisi di sela-sela gebyar orkes elektrunan.

Istriku

istriku
engkaulah bulan ndaru yang jatuh di sepertiga malamku
bulan kemerahan
turun menempa tempayan ubun-ubunku

setelahnya
terhiaslah warna-warni permadani
pada tahta cinta yang kuhuni
singgasanalah cinta
aku raja dan kau ratunya
kasih sayang menjelma dayang-dayang
berkerumun mengerubuti
risau dan rindu menyembah, mengabdi

istriku
gravitasi ‘kita’ sedemikian hebat
penyatuan yang menghilangkan ‘aku’ dan ‘kau’ mejadi ‘kita’
hingga partikel atom terkecil pun
kita adalah suluk asmorondonotirtodauno
aku angin dan engkau hawa
aku semilir mencari kesejatian
panas-dingin
dingin-panas
anak ke tujuh
ibu bumi
bapak mentari
lahirlah
sejuk-sejuk
damai-damai
bersahaja

dalam istana cinta tak ada kita
melebur
menyatu
satu, satu, satu
anak kita
para pangeran
yang rambutnya mirip denganku
sedang alisnya mirip denganmu.

Di antara berbagai acara yang memperkenankan Saya membaca puisi, merupakan kebanggan tersendiri bisa membaca di resepsi pernikahan, sebab di sana Saya menyaksikan kebahagiaan pertemuan dua insan yang saling menyinta. Selain itu, puisi yang selama ini hanya dinikmati komunitas tertentu, di sana puisi dapat didengarkan masyarakat ndeso klutuk yang terperangah.Tidak besar harapan Saya dengan keterlibatan membaca puisi tersebut, kecuali sekedar menghantarkan Tan-Mala pada kesadaran yang: -Nyawa mereka sudah dijodohkan sejak berjuta-juta tahun lalu di Suralaya

-Anak mereka sudah lahir di Cakrawala
-Mata mereka akan bertatapan berabad-abad
-Hingga maut datang menjemput
-Namun cinta tak akan larut.

*) Sabrank Suparno. Peserta Temu Sastra Jawa Timur 2011. Bergiat di Lincak Sastra-Jombang.

Friday, November 11, 2011

Suatu Malam di Ujung Tahun

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Sepi dalam keramaian. Mungkin itulah gambaran batinku saat ini. Di tengah muda-mudi sedang mempersiapkan pesta dalam menyambut pergantian tahun baru, aku menyendiri di sebuah taman bunga di halaman rumah. Taman yang asri dengan semerbak bau wangi bunga yang sedang mekar. Kelopaknya yang elok dengan dikelilingi binatang penghisap madu, kudekati dan kuciumi tanpa mempedulikan ancaman binatang-binatang itu menyengat hidungku. Oh, betapa harum dan indahnya bunga ini.

Sejak siang tadi teman-teman berencana mengajakku begadang semalam suntuk di alun-alun kota. Namun aku menolak. Teman-temanku menyadari dan tidak tersinggung sedikit pun karena aku menolaknya dengan cara yang halus. Dan mereka rata-rata tahu tabiatku. Sebenarnya sejak dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku tak pernah sekali pun mengikuti pesta dalam menyambut pergantian tahun baru. Aku lebih suka menyendiri meratapi usiaku yang semakin tahun semakin bertambah tua seiring dengan pergantian tahun baru itu. Kebetulan tanggal 1 Januari adalah hari ulang tahunku. Sebuah momen yang sangat tepat untuk memperbaiki diri dari segala dosa dan salah yang kulakukan pada tahun sebelumnya.

Rusli, teman akrabku, pernah berkata pada saya bahwa aku ini adalah anak yang kuper alias kurang pergaulan. Namun ucapannya itu tak membuatku lantas menjauh darinya. Aku tetap berteman akrab dengannya Aku tetap berpegang teguh pada jati diriku. Sebagai orang yang suka menyendiri di saat muda-mudi larut dalam pesta perayaan menyambut tahun baru.

“Apa gunanya menghambur-hamburkan uang untuk mabuk-mabukkan? Masih banyak kegiatan lain yang positif tanpa membutuhkan biaya,” kataku pada Rusli.

“Apakah ini tidak bermanfaat?” bantah Rusli kemudian.

“Memang ada manfaatnya, tapi lebih banyak sia-sianya daripada manfaat yang kita peroleh”.

“Kalau tidak ada manfaatnya kenapa para pejabat itu, kok, mengundang masyarakat untuk merayakan pergantian tahun baru di alun-alun dengan mengadakan pesta kembang api dan terompet yang tentunya memakan biaya tidak sedikit?”

“Mereka itu hanya sekedar mencari popularitas belaka. Sok merakyat pada mereka yang datang di laun-alun.”

“Ya, sudahlah kalau kamu tidak mau. Saya akan berangkat sendiri. Selamat Tahun Baru, ya!”

“Terima kasih!”

Sepeda motor yang diparkir di halaman rumahku kemudian dipacu dengan suara meraung memecah keheningan malam bercampur gerimis lembut yang membelai wajahnya.

“Oh, zaman edan. Zaman sudah tua,”

Aku menyendiri meratapi pergantian tahun baru ini dengan mengadakan malam renungan di taman bunga tepat di depan rumahku. Segera aku mencari tempat yang sunyi di tengah-tengah taman itu. Sebuah tikar aku gelar kemudian aku bersimpuh untuk melakukan meditasi sambil menunggu pergantian tahun baru.

Udara malam semakin dingin di tengah gerimis yang juga ikut mewarnai pergantian tahun baru ini. Tetesan air hujan membelai rambut hingga wajahku kemudian merembet hingga ke bibirku yang selalu berdoa dan membaca apa saja memohon keselamatan pada Sang Pencipta dalam tahun yang akan datang ini. Pikiranku semakin memuncak ketika aku teringat ayah bundaku yang sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku teringat ketika keluargaku masih utuh. Ayah, ibu, kakak dan adik bergembira ria di taman ini. Aku teringat ayahku yag selalu menasihati diriku agar kelak menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Anak yang bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Juga ibuku yang selalu membela diriku jika ayah emosi ketika pulang kerja dan tidak memembawa hasil apa-apa sedang aku hanya bermain-main saja di taman ini juga. Kakakku walau ia sering mengajakku bermain tak jarang memukuliku hingga aku menangis dan berlari merengek minta perlindungan ibu. Adikku yang lucu yang selalu merengek minta gendong di punggung. Kini mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

Sewaktu kakakku akan mengikuti acara wisuda di kampus, ayah, ibu, kakak dan adik berngkat bersama-sama dalam satu kendaraan. Aku kebetulan tidak ikut karena sekolahku ada kegiatan ulangan semester. Sangat disayangkan sebenarnya tidak bisa hadir dan menyaksikan kakak yang diwisuda setelah belajar selama empat tahun di kampus terkenal di ibu kota itu. Namun nahas nasib rombongan keluargaku. Ketika di sebuah tanjakan mesin mobil yang mereka tumpangi mati. Tanpa kendali mobil tersebut mundur dan masuk ke jurang. Mobil tersebut hancur dan keluargaku tewas semua dalam kejadian itu.

“Ayah, ibu, kakak, adik!” tanpa terasa mulutku memanggil-manggil mereka. Dan sesaat kemudian air hujan terasa asin bercampur air mata yang tak kusadari mengalir bersama tetesan gerimis.

Aku baru terjaga dari meditasi ketika bunyi petasan dan kembang api bersahut-sahutan di alun-alun kota diiringi raungan suara sepeda motor dengan knalpot yang sengaja diblong tanpa ada pengedap suara. Suara terompet pun ikut bersahut-sahutan di sepanjang jalan sekitar alun-alun. Muda-mudi berboncengan dengan dandanan beraneka macam. Mereka meniup terompet sekuat nafasnya. Rusli yang berboncengan dengan teman wanitanya mendekati diriku kemudian meniupkan terompet secara bersama-sama kepadaku sembari mengucapkan selamat tahun baru.

“Terima kasih! Terima kasih!”

Kemudian mereka kembali berputar-putar mengitari alun-alun kota dengan mengendarai sepeda. Ada yang berdiri, menggantung di atas jalan beraspal, menyunggingkan pantatnya dan berbagai atraksi lainnya. Mereka berekspresi untuk mencari perhatian dari rekan-rekan yang lain tanpa menghiraukan keselamatan mereka sendiri.

Warna kembang api menghias langit yang terbungkus gelap malam. Kilatannya menembus angkasa sesekali mengeluarkan rentetan bunyi letusan. Kemudian diiringi sorak sorai kegembiraan.

“Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru!” ucap mereka pada siapa saja yang mereka jumpai di alun-alun itu. Muda-mudi di sekeliling alun-alun itu berpelukan hangat menyambut pergantian tahun. Bahkan tak jarang dari mereka yang berpesta dengan mengacung-acungkan botol minuman keras dengan berteriak sesuka hatinya.

“Apakah seperti itu cara pemuda dari sebuah bangsa yang beradab dalam merayakan pergantian tahun? Tahukah mereka makna dari pergantian tahun baru itu?” Tanya dalam hatiku.

Sebenarnya merayakan pergantian tahun baru tidak berarti harus berpesta pora, konvoi kendaraan, atau minum-minuman keras. Merayakan pergantian tahun baru dapat dilakukan dengan mengadakan acara renungan malam untuk meneliti perbuatan kita pada setahun yang lalu. Apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya? Atau sama saja. Atau bahkan tahun ini lebih jelek dari tahun sebelumnya. Atau kita bisa dengan mengadakan doa bersama. Memohon kepada Tuhan agar diberi umur panjang sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan amal kebajikan, menambah pahala, mencari ridho Tuhan sebagai bekal kehidupan kekal nanti.

Namun mereka masih muda tentu jiwanya masih labil. Mereka ingin mengekspresikan dirinya bahwa dirinyalah yang paling hebat dibandingkan dengan yang lain. Sehingga melakukan hal-hal yang tidak pantas menurut ukuran budaya kita.

Kerumunan muda-mudi itu tiba-tiba semburat menjauh dari suara rintihan salah seorang pemuda. Ya, ada seorang pemuda yang meringkuk, terkulai lemas bersimbah darah. Perutnya robek dan sebagian ususnya terbuarai keluar. Aku penasaran ingin segera melihat siapa pemuda tersebut? Dengan langkah cepat dan hati-hati karena takut terkena imbas dari kejadian itu, aku mendekati pemuda yang sudah ditinggal lari oleh pemuda yang lain.

“Rusli! Rusli! Kenapa kau? Katakan Rus, siapa yang tega melakukan ini?”tanyaku pada Rusli dengan setengah memaksa.

Rusli hanya bisa memandang tajam ke arahku tanpa bisa berucap apa-apa. Tangannya bergerak menunjuk ke arah pojok alun-alun. Kuikuti saja gerak tangan Rusli sebagi bahasa isyarat pengganti lisannya yang sedang menahan sakit.

“Siapa, Rus yang Kau tunjuk?”

“An…An…Anita!” jawabnya terbata-bata yang tak lama kemudian Rusli meregang nyawa. Ia tewas.

“Rusli……!” teriakku dengan lantang hingga membuat orang yang berkerumun di pojok alun-alun menoleh ke arahku.

Jasad Rusli yang tergolek tak bernyawa perlahan kutaruh di atas rerumputan alun-alun. Kuberanjak dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Rusli sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Kumelihat sekilas dari sela-sela orang yang berkerumun di tempat itu. seorang gadis yang menangis sesenggukan dengan menyilang kedua tangannya menutupi payudara dan kemaluannya.

“Masya Allah! Anita?!”

Langsung aku mendekatinya dan menutupkan pakaiannya yang tercabik-cabik dari tubuhnya. Rupanya Anita telah diperkosa oleh beberapa pemuda yang sudah melarikan diri dari tempat kejadian itu. Menurut pengakuan dari beberapa orang yang melihat kejadian yang memalukan sekaligus memilukan itu ada sekitar lima pemuda yang memperkosanya. Rusli hendak melindungi Anita dari aksi bejat mereka namun Rusli tidak mampu menghadapi kelima pemuda yang dalam keadaan mabuk tersebut sehingga ia terkapar bersimbah darah terkena sabetan senjata tajam dan kepalanya dikepruk dengan botol meniuman keras.

Sesaat kemudian suara ambulance yang dikawal beberapa kendaraan polisi datang kemudian polisi segera mengamankan tempat kejadian dengan melingkarkan garis polisi agar memudahkan proses evakuasi. Mayat Rusli diangkut dengan ambulance ke rumah sakit guna keperluan otopsi. Sementara Anita juga demikian, ia divisum oleh tim dokter rumah sakit untuk meyakinkan pihak berwajib bahwa ia telah menjadi korban pemerkosaan.

Pesta pora tahun baru berubah menjadi tangis duka bagi diriku karena nasib yang dialami temanku. Dan aku bingung harus bagaimana mengatakan semua itu kepada orang tua mereka. Apakah aku harus menceritakan peristiwa yang sebenarnya? Atau harus aku tutupi peristiwa yang menimpa Anita demi masa depannya? Aku kebingungan. Kemudian aku pasrahkan saja semua pada Tuhan Yang Mahatahu segala-galanya.

*) Cerpenis tinggal di Wanar, Pucuk Lamongan.

Belati

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“kalau kau hendak bertandang, bawalah belati yang kau janjikan pada hari kamis atau ahir pekan”

mungkin, tak ada yang pernah tahu seperti apa pemburuan yang terjadi dalam lingkaran dingin seperti ini. termasuk aku yang selalu saja membiarkan rasa pasrah itu berlari lebih dulu, mendahului apa saja. tangan yang tak sampai satu meter, kaki yang mulai kaku dan mata yang memandang tak lebih dari ujung marka.

“aku membawa belati yang masihlah basah, nona!”

belati yang pernah bersarang di perut bapakku, tetap menyimpan bau anyir. meski kembang tujuh rupa dari segala macam ujung kuburan paling angker aku kumpulkan, dan dicampurkan pada air yang ditimba dari ceruk tujuh sumur paling keramat aku siramkan sebagai tumbal. kilatnya yang samar masih perih.

“bagaimana aku bisa tau dan percaya bahwa belati ini masih basah, niman?”

“dengarkan saja detak jantungnya, nona”

“hah, kau sudah gila?”

“bolehlah kau berkata begitu, sebab masih banyak pemaklumanku pada yang belum membuktikan”

pada gagang yang berbentuk punuk unta, atau yang lebih mirip kepala manusia purba itu, ada detak yang teratur. seperti bunyi yang keluar dari tubuh jam pada dinding kamarku. pada malam-malam hening diselingi dengan suara lolong anjing yang membuat suasana semakin nampak cekam. detak itu akan keluar dari gagang belati dengan susah payah. entah semacam lintah atau cacing merayap melalui ujung jari manis menjalar menuju telapak tangan dan masuk pada tubuh nadiku.

maka, setiap pagi akan ada tubuh yang segar kembali. dan jika kau akan bertanya apakah detak itu masih bersemayam dalam diriku pagi ini, aku tak bisa menjawab. sebab setiap kali detak itu menyusup, aku seperti terhipnotis dan tertidur, atau semacam mabuk yang menahan muntah, hanya bisa mengeluarkan liur.

“lalu bagaimana kau bisa mengatakan tubuh segarmu bersebab dari detak belati itu, niman?”

“lihatlah, bekas luka pada pergelangan tanganku, nona!”

mungkin, pada malam penyusupan itu ada perombakan besar-besaran pada organ tubuhku. pohon akasia dan beringin yang tumbuh di dalam dadaku dipangkas dengan rapih membentuk dinosaurus seperti dalam filem-filem. rumput liar dicabuti lalu di ganti dengan rumput taman yang hijau dan rata semacam permadani, tapi aku sarankan kau tak mulai tergoda dengan kata-kata. sebab masih tersisa dan mungkin lebih banyak keliaran dalam hijau itu. telapak kakkiku diganti dengan kaki kuda. seperti pada dongeng rakyat madura tentang peri yang berkaki kuda, berparas cantik dan tampan, namun sungguh mengerikan. sedang otakku diamplas sampai licin dan mengkilat. bahkan tiap lekukannya tak tumbuh lagi lumut dan karang. tapi sekali lagi kau tak boleh mudah percaya akan hal yang mengkilat itu.

” sekarang apa maumu, niman?”

“aku hanya ingin kau percaya dan menerima belati ini, nona!”

“tapi, pada penejlasanmu tadi kau memintaku tak percaya padamu”

“itu hanya sekedar nasehat, mungkin, agar kau tak lupa padaku, nona!”

“kau punya alasan lain, niman?”

“tidak, selain karena aku mencintai kau dan anak-anakku”

***

hari kamis, tanggal tigabelas, bulan enam, tahun duaribu. belati yang aku temukan dari dalam goa tiga tahun lalu telah aku hujamkan pada perut bapakku. oleh karena terjadi perselisihan dalam perut yang menjerit-jerit dan tersebab bapakku tak mau lagi membakar tungku pada punggungku yang telah basah oleh airmata.

malang.2011

TEOLOGI PENDIDIKAN:

Upaya Pembebasan Manusia dari Alienasi Peran Kemanusiaannya
Ahmad Syauqi Sumbawi *
http://sastra-indonesia.com/

Pendahuluan

Perbincangan mengenai pendidikan tidak akan pernah mengalami titik akhir, sebab pendidikan merupakan permasalahan besar kemanusiaan yang akan senantiasa actual untuk diperbincangkan pada setiap waktu dan tempat yang tidak sama atau bahkan sama sekali berbeda. Pendidikan dituntut untuk selalu relevan dengan kontinuitas perubahan.

Dalam realitas kehidupan, sebagai kondisi riil pendidikan, dapat dilihat adanya perubahan sosial yang begitu cepat, proses transformasi budaya semakin deras dan dahsyat, juga perkembangan politik global yang tidak stabil, kesenjangan ekonomi yang begitu lebar serta pergeseran nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, mengharuskan pendidikan untuk memfokuskan arahnya pada kondisi sosial kemanusiaan di atas. Hal ini merupakan konsekuensi logis karena pendidikan harus senantiasa toleran dan tunduk pada perubahan normative dan cultural yang terjadi dalam masyarakat. Akan tetapi yang lebih penting, bahwa pendidikan merupakan lembaga sosial yang berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai.

Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua komponen penting yang saling terkait satu sama lain dalam peningkatan kualitas hidup manusia. Di satu sisi, pengembangan dan kelestarian kebudayaan berlangsung dalam proses pendidikan dan memerlukan pengelolaan pendidikan. Sementara itu, pengembangan pendidikan juga membutuhkan sistem kebudayaan sebagai akar dan pendukung berlangsungnya pendidikan tersebut. Pengembangan kebudayaan membutuhkan kebebasan kreatif, sedangkan pendidikan memerlukan suatu stabilitas budaya yang mapan.

Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya, demikian juga sebaliknya. Selanjutnya, kualitas kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia pendukungnya. Keduanya saling berhubungan positif, di mana ketiadaan salah satunya menyebabkan stagnasi dan distorsi dalam banyak aspek.

Berkaitan dengan peran penting pendidikan dalam pembentukan kebudayaan manusia, Islam sebagai sistem ajaran yang komprehensif, tidak luput memberikan perhatian kepada pendidikan. Dalam hal ini, al-Qur’an memposisikan dirinya sebagai sumber inspirasi universal, yang selalu menyapa perubahan dan dinamika dalam masyarakat, dan secara ideal memberikan solusi-solusi dasar atas segala permasalahan kehidupan manusia.

Pengamatan terhadap situasi dan kondisi sosiologis yang terjadi di masyarakat dewasa ini menunjukkan terjadinya pergeseran nilai pada hampir setiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Termasuk juga nilai-nilai budaya yang mulai tercerabut dari akarnya, nilai sosial yang banyak terilhami oleh rembesan atau penetrasi dunia luar, terutama melalui sekulerisasi dan westernisasi.

Dengan berbagai media yang tersaji di segala lokasi beserta informasinya, hal ini dapat memunculkan high risks bagi stabilitas kultural, di mana para generasi muda seringkali mengalami split personality. Kondisi semacam ini tampak pada fenomena di sekolah atau lembaga pendidikan mereka yang selalu disajikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kesusilaan, dan sebagainya, namun dalam kehidupan riilnya, mereka banyak menjumpai hal-hal yang sering bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Juga, nilai-nilai ekonomi yang cenderung kepada sistem kapitalis serta pergeseran nilai-nilai kemanusian yang lain. Lebih jauh, proses distorsi nilai seperti ini juga terjadi dalam lembaga pendidikan —tidak terkecuali lembaga pendidikan Islam—. Sementara di sisi yang lain, pendidikan seringkali dipandang sebagai institusi paling strategis untuk mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang telah terdistorsi tadi. Reposisi nilai-nilai kemanusiaan ini mutlak diperlukan sebagai upaya untuk membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan.

Berdasarkan uraian di atas, kajian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, yaitu pertama, bagaimana pengertian tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan teologi dan pendidikan? Kedua, bagaimana konsep manusia dan konsep pendidikan dalam Islam? Ketiga, bagaimana posisi teologi pendidikan dalam upaya membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya?

Pengertian Teologi dan Pendidikan

1. Pengertian Teologi

Istilah teologi lahir dalam tradisi Kristen. Secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani, berarti ilmu ketuhanan. Akan tetapi, pengertian menurut Steenbrink dianggap kurang cocok karena teologi memang tidak bermaksud membicarakan permasalahan tentang ketuhanan, baik wujud, sifat, maupun perbuatan-Nya, yang dalam tradisi Islam disebut ilmu kalam. Dalam hal ini, teologi tidak identik dengan ilmu kalam yang berusaha mempertahankan keyakinan seputar masalah ketuhanan dari serangan-serangan pihak luar dengan menggunakan pendekatan filsafat atau dalil-dalil aqli.

Encyclopedia of Religion and Religions, menyebutkan bahwa teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta, namun kerapkali diperluas mencakup seluruh bidang agama. Teologi, dengan demikian, memiliki pengertian luas dan identik dengan ilmu agama itu sendiri. Pengertian inilah yang kemudian secara umum dipakai di kalangan Kristen. Dalam diskursus ilmiah, istilah teologi biasanya mempunyai arti khusus, yaitu refleksi orang beriman tentang bagaimana bentuk atau nilai-nilai kualitas iman yang dimilikinya. Menurut Anselmus, teologi adalah iman yang mencari pengertian. Dengan pemaknaan yang hampir sama, Muslim Abdurrahman mengatakan bahwa teologi adalah interpretasi berdasarkan keimanan.

Sedangkan menurut Niko Syukur, teologi adalah pengetahuan adikodrati yang metodis sistematis dan koheren, tentang apa yang diwahyukan Tuhan. Dapat dikatakan bahwa teologi adalah refleksi ilmiah tentang iman. Teologi merupakan ilmu yang “subyektif” yang timbul dari dalam, yang lahir dari jiwa yang beriman dan bertaqwa berdasarkan wahyu. Sementara Eka Darmaputra mengemukakan bahwa teologi adalah upaya untuk mempertemukan secara dialektis, kreatif, serta eksistensial antara “teks” dan “konteks” antara “kerygma” yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual. Lebih sederhana dapat dikatakan bahwa teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman pada konteks ruang dan waktu tertentu. Dapat juga dikatakan, bahwa teologi adalah pengkajian, penghayatan (internalisasi), dan perwujudan (aktualisasi) nilai-nilai ketuhanan (iman) dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan.

2. Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan, dalam bahasa Inggris “education”, berakar dari bahasa Latin “educare”, yang dapat diartikan pembimbingan berkelanjutan. Apabila diperluas, arti etimologis itu mencerminkan keberadaan pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia.

Menurut Mohamad Natsir, pengertian pendidikan adalah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya. Sementara Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab 1 ayat 1 menyebutkan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Apabila dikaitkan dengan Islam, pengertian pendidikan antara lain, menurut Dr. Yusuf Qardawi sebagaimana dikutip Azyumardi Azra yaitu pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis pahitnya.

Endang Saefuddin Anshari memberi pengertian secara lebih tehnis, pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntunan dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi), dan raga obyek didik dengan bahan-bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran Islam. Pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Muhammad Saw.

Sedangkan menurut hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.”

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, terdapat perbedaan antara pengertian pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan secara umum merupakan proses pemindahan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perbedaan tersebut dalam hal nilai-nilai yang dipindahkan (diajarkan). Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai yang dipindahkan berasal dari sumber-sumber nilai Islam yakni Al-Qur’an, Sunah dan Ijtihad.

3. Teologi dan Pendidikan

Dalam kalangan Muslim, Islam dipandang sebagai agama universal, di mana tidak hanya berisi ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan seluruh makhluk di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh tugas penting manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menghidupkan dan memakmurkan bumi.

Secara sosiologis, dimensi universalitas Islam di atas, dalam tataran kehidupan manusia akan terus menimbulkan ragam pemahaman seiring dengan perbedaan situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Hal ini tidak lain disebabkan bahwa, ketika universalitas diterapkan dalam kehidupan manusia, maka yang kemudian muncul adalah partikularitas, di mana partikularitas ini akan terus berkembang untuk bersesuaian dengan perubahan dan kebutuhan kehidupan manusia. Meskipun demikian, universalitas Islam tetap kekal serta menjadi dasar dan sumber inspirasi dalam seluruh proses kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan.

Al-Qur’an merupakan sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia dengan bahasanya yang lemah lembut, balaghoh yang indah, sehingga al-Qur’an membawa dimensi baru terhadap pendidikan dan berusaha mengajak para ilmuwan untuk menggali maksud kandungannya agar manusia lebih dekat kepada-Nya.

Petunjuk pendidikan dalam al-Qur’an tidak terhimpun dalam kesatuan fragmen, tetapi diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Qur’an, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksudkan tersebut.

Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, yang bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut.

Rasulullah Saw dipandang sukses dalam mendidik masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudi tinggi dan akhlak mulia. Pada mulanya masyarakat Arab adalah masyarakat jahiliyah, sehingga perkataan primitif tidak cukup untuk menggambarkannya, hingga datang Rasulullah Saw yang membawa mereka untuk meninggalkan kejahiliahan tersebut dan mencapai suatu bangsa yang berbudaya dan berkepribadian yang tinggi, bermoral serta memberi pengetahuan.

Al-Qur’an memberi petunjuk atau arah, jalan yang lurus mencapai kebahagiaan bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 16, yaitu :

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Muhammad Saw sebagai utusan Allah untuk manusia di bumi ini diberi amanat oleh Allah sebagai penerima wahyu, yang diberi tugas untuk mensucikan dan mengajarkan manusia sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 151. Dalam ayat tersebut, mensucikan diartikan dengan mendidik, sedang mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dan metafisika dan fisika.

Tujuan yang ingin dicapai dengan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dalam surat Al-Dzariyat (51) ayat 56, yaitu:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Maksudnya Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepada Allah.

Manusia dan Pendidikan dalam Islam

1. Konsep Manusia dalam Islam

Perspektif dasar Islam terhadap manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Berdasarkan sudut pandang ini pula, filsafat pendidikan Islam memposisikan manusia dan segala aspeknya dalam konteks pendidikan. Dari pemikiran ini, maka perspektif filsafat pendidikan Islam akan berbeda dengan filsafat pendidikan umum, yang konsepnya berasal dari pemikiran para ilmuwan (non muslim) yang umumnya menafikan prinsip perspektif tersebut. Dalam perspektif para ilmuwan ini, manusia cenderung ditempatkan pada posisi yang netral.

Kajian tentang hakikat manusia adalah bagian dari filsafat yang disebut ontologi atau metafisika. Problem yang dihadapi filsafat tentang manusia ini, mengacu pada upaya untuk menjawab pertanyaan tentang hakikat manusia.

Paham materialisme, yang memandang hakikat manusia sebagai unsur materi, agaknya sulit untuk mengakui adanya unsur rohaniah dalam diri manusia. Sesuai dengan prinsip ajarannya, paham ini menganggap manusia sebagai unsur-unsur materialisme-mekanistis yang kompleksitasnya terdiri atas aspek-aspek fisiologis, neurologis, fisika, dan biokimia. Semua unsur tersebut bekerja di bawah satu sistem “organisasi” yang berpusat pada sistem pusat syaraf, yaitu “mind”. Akan tetapi, mind di sini lebih mendekati syaraf yang bersifat neurologis dan bukan psikis.

Sedangkan menurut paham dualisme, bahwa manusia sebagai makhluk adalah integritas antara jasmaniah dan rohaniah. Manusia diposisikan sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk dikembangkan pada kedua unsur tersebut. Adapun upaya pengembangannya dihubungkan dengan berbagai teori kependidikan yang berlandaskan kepada pemikiran filsafat rasional atau produk kemampuan optimal pemikiran murni manusia.

Kedua perspektif di atas, bagaimanapun akan berbeda dengan perspektif ilmuan Muslim yang merumuskan pendapatnya dan dasar ajaran Islam. Seperti al-Farabi (w. 950) dan al-Ghazali (w. 1111) menyatakan bahwa manusia terdiri atas unsur jasad atau badan dan ruh atau jiwa. Dengan jasad, manusia dapat bergerak dan merasa, sedangkan ruh, manusia dapat berpikir, mengetahui dan sebagainya.

Dalam al-Qur’an, manusia disebut dengan berbagai nama sebagai berikut, yaitu al-Basyr, al-Insan, al-Naas, Bani Adam, al-Ins, Abd Allah, dan khalifah Allah. Nama sebutan ini mengacu pada gambaran tugas yang seharusnya diperankan oleh manusia. Berkaitan dengan hal itu, maka untuk memahami peran manusia, perlu dipahami konsep yang mengacu kepada sebutan yang dimaksud. Pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yang disandangnya.

Manusia dalam konsep al-Basyr, dipandang dari segi biologis. Sebagai makhluk biologis berarti manusia terdiri dari unsur materi, sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material, berupa tubuh kasar atau ragawi. Dalam hal ini, manusia merupakan makhluk jasmaniah yang secara umum terikat kepada kaidah-kaidah umum dari kehidupan makhluk biologis, seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Manusia memerlukan makanan dan minuman untuk hidup, dan juga memerlukan pasangan hidup untuk melanjutkan proses pelanjut keturunan.

Penggunaan kata al-Insan sebagai kata bentukan yang termuat dalam al-Qur’an, mengacu kepada potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Potensi tersebut antara lain berupa potensi untuk bertumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun secara mental spiritual. Perkembangan tersebut meliputi kemampuan untuk berbicara, menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu, dengan mengajarkan manusia melalui kalam (baca tulis), dan segala apa yang tidak diketahuinya, kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal di alam ruh, dalam bentuk kesaksian. Potensi untuk mengembangkan diri ini (secara positif) memberi peluang bagi manusia untuk mengembangkan kualitas sumber daya insaninya. Dengan cara menumbuhkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, diharapkan manusia dapat menjadi makhluk ciptaan yang mengabdi kepada Penciptanya, melalui berbagai kemampuan kreatif dan inovatif yang dimilikinya.

Kosakata al-Naas dalam al-Qur’an, pada umumnya dikaitkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan perempuan, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa, untuk saling mengenal di antara mereka. Manusia merupakan makhluk sosial yang secara fitrah senang hidup berkelompok, sejak dari bentuk satuan terkecil (keluarga) hingga ke satuan yang paling besar dan kompleks, yaitu bangsa dan umat manusia. Dalam konteks kehidupan sosial, peran sosial manusia dititikberatkan pada upaya untuk menciptakan keharmonisan hidup dalam masyarakat.

Manusia sebagai Bani Adam, tersebut dalam tujuh tempat dalam al-Qur’an. Dalam konteks ayat-ayat yang mengandung konsep Bani Adam, manusia diingatkan Allah agar tidak tergoda oleh syaitan, pencegahan dari makan dan minum yang berlebihan serta tata-cara berpakaian yang pantas saat melaksanakan ibadah, bertaqwa dan mengadakan perbaikan, kesaksian manusia kepada Tuhannya, dan peringatan agar manusia tidak terpedaya hingga menyembah syaitan, dengan memberi peringatan kepada manusia mengenai status syaitan sebagai musuh yang nyata. Penjelasan ayat-ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia selaku Bani Adam dikaitkan dengan gambaran peran Adam saat awal diciptakan. Pada saat Adam akan diciptakan, para Malaikat seakan mengkhawatirkan kehadiran makhluk ini. Mereka memperkirakan dengan penciptaannya, manusia akan menjadi biang kerusakan dan pertumpahan darah. Hal itu kemudian terbukti bahwa Adam dan istrinya (Hawa), karena kekeliruannya, akhirnya terjebak oleh hasutan syaitan, sehingga Allah mengeluarkan keduanya dari surga sebagai hukuman atas kelalaian yang diperbuat oleh keduanya.

Manusia dalam konsep al-Ins, mengacu pada hakikat penciptaannya. Dalam hal ini al-Qur’an mengemukakan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Oleh karena itu, manusia dalam hidupnya diharapkan akan selalu menyadari hakikat dirinya tersebut. Manusia dituntut untuk dapat memerankan dirinya sebagai pengabdi Allah secara konsisten dengan ketaatan total. Ketaatan kepada Allah merupakan peran puncak manusia dalam segala aspek kehidupannya, karena atas dasar dan tujuan tersebut, manusia diciptakan oleh-Nya.

Al-Qur’an juga menyebut manusia dengan Abd Allah, yang berarti abdi atau hamba Allah. Abd Allah, dalam arti dimiliki Allah, mencakup seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak. Kepemilikan Allah terhadap makhluk tersebut merupakan kepemilikan mutlak dan sempurna. Dengan demikian, Abd Allah tersebut tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan seluruh aktifitasnya dalam kehidupan. Di samping itu, manusia disebut Abd Allah juga disetarakan dengan konteks kata tersebut. Kata Abd, juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri. Ibadah kepada Allah merupakan sikap dan pernyataan kerendahan diri yang paling puncak dan sempurna dari seorang hamba. Kemudian ibadah itu sendiri berupa pengabdian yang hanya diperuntukkan kepada Allah semata.

Konsep selanjutnya tentang manusia adalah khalifah Allah. Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebelum manusia diciptakan, Allah telah mengemukakan kepada para Malaikat tentang penciptaan seorang khalifah di muka bumi. Untuk mengemban tugas-tugas kekhalifahan itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan berbagai potensi, salah satunya bekal pengetahuan.

Berdasarkan konsep-konsep tentang di atas, setidaknya manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu pertama, sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kedua, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Ketiga, sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Keempat, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

2. Konsep Pendidikan dalam Islam

Merujuk kepada informasi al-Qur’an, pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan Islam dipresentasikan melalui kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim.

Tarbiyah berasal dari kata Rabba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an, yaitu:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik (rabbayaaniy) aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa: 24)

Menurut Syed Naquib Al-Attas, tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara menjaga dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang dan tumbuhan. Sedangkan Samsul Nizar menjelaskan kata tarbiyah mengandung arti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan dan memproduksi baik yang mencakup kepada aspek jasmaniah maupun rohaniah.

Kata Rabb di dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 169 kali dan dihubungkan pada obyek-obyek yang sangat banyak. Kata Rabb ini juga sering dikaitkan dengan kata alam, sesuatu selain Tuhan. Pengkaitan kata Rabb dengan kata alam tersebut seperti pada surat Al-A’raf ayat 61, yaitu:

“Nuh menjawab: Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan Tuhan (Rabb) semesta alam.”

Pendidikan diistilahkan dengan ta’dib, yang berasal dari kata kerja “addaba”. Kata ta’dib diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik. Kata ta’dib tidak dijumpai langsung dalam al-Qur’an, tetapi pada tingkat operasional, pendidikan dapat dilihat pada praktik yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasul sebagai pendidik agung dalam pandangan pendidikan Islam, sejalan dengan tujuan Allah mengutus beliau kepada manusia yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Allah juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya Rasul adalah sebaik-baik contoh teladan bagi kamu sekalian.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Selanjutnya Rasulullah Saw meneruskan wewenang dan tanggung jawab tersebut kepada kedua orang tua selaku pendidik kodrati. Dengan demikian status orang tua sebagai pendidik didasarkan atas tanggung jawab keagamaan, yaitu dalam bentuk kewajiban orang tua terhadap anak, mencakup memelihara dan membimbing anak, dan memberikan pendidikan akhlak kepada keluarga dan anak-anak.

Pendidikan disebut dengan ta’lim yang berasal dari kata ‘alama’ berkonotasi pembelajaran yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan pendidikan ta’lim dipahami sebagai sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas peserta didik. Proses pembelajaran ta’lim secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam oleh Allah. Adam sebagai cikal bakal dari makhluk berperadaban (manusia) menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari Allah Swt, sedang dirinya (Adam) sama sekali kosong. Sebagaimana tertulis dalam surat al-Baqarah ayat 31 dan 32, yaitu:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”

“Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari ketiga konsep di atas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’dib dan ta’lim. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

Teologi Pendidikan dalam Upaya Pembebasan Manusia dari Alienasi Peran Kemanusiaannya

Rusaknya rasa kemanusiaan dan terkikisnya semangat religius, serta kaburnya nilai-nilai kemanusiaan dan hilangnya jati diri budaya bangsa merupakan sebuah kekhawatiran manusia yang paling klimaks dalam kancah global. Namun ironisnya, itulah fenomena yang terjadi dewasa ini. Tatanan kehidupan manusia mengalami perubahan yang mendasar, generasi muda yang mendewakan budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, dan sebagainya. Permasalahan ini muncul terkait dengan begitu gencar dan sistematisnya ekspansi budaya asing, yang menempatkan sarana informatika sebagai sebuah trend yang paling mutakhir dan paling digandrungi, sehingga setiap celah kehidupan manusia, yang sangat tertutup dan rahasia sekalipun, dapat dimasuki, bahkan diintervensi. Setiap sisi kehidupan sudah dihinggapi oleh apa yang dinamakan globalisasi informatika, yang berimplikasi pada transparansi dan keterbukaan di setiap aspek kehidupan manusia. Dunia telah menjadi big village, di mana apa yang terjadi pada belahan bumi yang sangat jauh, dapat dengan segera didengar dan dilihat beritanya dalam waktu yang singkat. Dengan cepat pula, berita tersebut memberikan dampaknya bagi kehidupan manusia tanpa kecuali, positif maupun negatif.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bidang informatika di atas, menyebabkan jarak-jarak menjadi semakin pendek. Waktu dan masa menjadi lebih efisien dengan begitu mudahnya kita mengadakan hubungan dan komunikasi. Di samping itu, kesibukan dan aktivitas keseharian manusia yang luar biasa, menjadikan hari-hari terasa lebih pendek dari sebelumnya.

Menghadapi kemajuan iptek yang luar biasa itu, respon manusia ternyata masih terbelah, bahkan terkesan mendua. Di satu pihak, manusia merasa senang atas kemajuan iptek yang secara umum memberikan kemudahan-kemudahan bagi kehidupan manusia. Di lain pihak, nurani kemanusiaannya mengeluh, karena harus beradaptasi dengan situasi baru yang tidak lagi human-centric, melainkan sangat techno-centric.

Dalam situasi dan kondisi yang semakin techno-centric ini, populasi manusia yang memenuhi dunia, tidak lagi secara otonom dikontrol oleh nurani kemanusiaannya, melainkan oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang dominan, terutama sekali iptek. Manusia dalam dunianya yang makro benar-benar menyandarkan hampir segala harapannya kepada hasil iptek, meskipun belum sampai pada taraf yang serius, yakni techno-mania.

Memang, manfaat teknologi pada batas-batas tertentu membantu mempermudah manusia, dan hal ini menjadikan manusia sebagai makhluk dengan keunikan yang ironis. Lawan utamanya bukan lagi bencana alam atau sebangsa binatang buas di hutan-hutan, tetapi hasil kemampuannya sendiri dan manusia sesamanya yang menggunakan kemampuan itu. Dengan kata lain, manusia modern menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, dengan tidak mengesampingkan manfaat iptek dalam membantu memudahkan kehidupan manusia, iptek juga memberi dampak negatif. Dalam batas-batas tertentu, dampak destruktif iptek itu telah menundukkan manusia menjadi sangat tergantung kepadanya. Manusia tidak lagi mampu mengendalikan hasil buatannya, tetapi sebaliknya, dia didekte oleh perangkat-perangkat canggih hasil produknya sendiri. Manusia pun menjadi robot dari makhluk raksasa bernama iptek buatannya sendiri. Dari perspektif hunamisme, perkembangan iptek seperti demikian sejalan dengan proses dehumanisasi kehidupan. Agar tidak terjadi tragedi demikian, humanisasi technosphere harus menjadi kenyataan.

Permasalahan terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi di atas, masih ditambah lagi dengan krisis kehidupan lainnya, seperti perilaku manusia yang cenderung memperoleh kekayaan material sebanyak mungkin melalui cara apapun sebagai imbas dari semakin kokohnya pandangan hidup yang positivisme-materialistik, euphoria perilaku politik demokratis dan kemunafikan politik yang diwarnai dengan fenomena “politik uang” dan “uang politik” dengan dalih hukum, asas praduga tak bersalah, Lembaga Penegak Hukum yang tidak berdaya memberantas korupsi, dan sebagainya. Munculnya terorisme dan kekejaman perilaku yang dilakukan oleh pihak “lemah” melawan pihak “kuat” akibat perlakuan tidak adil dan otoriter pihak penguasa, dan merebaknya budaya yang berkembang dari pandangan hidup hedonisme-materialistik dengan maraknya pornoisasi kehidupan sosial masyarakat, melalui menjamurnya video porno yang begitu mudah diakses dan gratis, seks bebas, tindakan mesum, pencabulan, dan sebagainya.

Bagaimanapun kompleknya permasalahan dan krisis kemanusiaan di atas, solusi yang terbaik harus senantiasa diusahakan, sekalipun dengan melakukan pendekatan melalui simbol-simbol yang amat rumit dan hanya dapat dilakukan secara gradual mengingat komprehensi tentang konsepsi dasar manusia yang turut menentukan langkah berikutnya. Untuk itu, semestinya, manusia sebagai makhluk yang berketuhanan mulai mencoba mengaktualisasikan dan mengkaji lebih dalam dan concern terhadap sinyal-sinyal konsep antropologis yang ditampilkan al-Qur’an. Dari sini, nilai-nilai etis-religius sebagai norma sentral al-Qur’an tidak hanya melangit, tetapi juga membumi, dalam arti dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk membangun peradaban umat manusia untuk menjadi lebih baik dan diridlai-Nya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi lahir dan berkembang melalui pendidikan —demikian juga dengan permasalahan-permasalahan lain yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan—, maka salah satu terapi terhadap berbagai masalah di atas, tentunya harus dilakukan dengan pendekatan terhadap sisi-sisi pendidikan pula. Oleh karena itu, dalam reorientasi pendidikan ini, pemikiran yang mengedepankan paradigma pendidikan (Islam) yang berwawasan kemanusiaan (humanistik) menjadi sangat penting dan diperlukan.

Pendidikan seringkali dipahami sebagai fenomena individu di satu pihak, dan fenomena sosial-budaya di pihak lain. Sebagai fenomena individual, pendidikan bertolak dari suatu pandangan antropologi dengan pemahaman terhadap manusia sebagai realitas mikrokosmos dengan kepemilikan potensi-potensi dasar —dalam Islam disebut fitrah— yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang. Dengan mengacu pada pandangan dasar tersebut, pendidikan difokuskan pada orientasi internal manusia, berupa pengembangan potensi dasar insaniah. Sementara pendidikan sebagai fenomena sosial-budaya, diarahkan pada orientasi eksternal dalam kerangka perkembangan budaya masyarakat, sehingga dalam realitas kehidupannya, manusia mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam tinjauan ini, pendidikan dimaknai sebagai proses kulturisasi (pembudayaan), yakni sosialisasi (pemasyarakatan) nilai-nilai, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berkembang dalam masyarakat.

Dengan cakupan makna strategis pendidikan tersebut, pemikiran yang memberikan acuan konseptual yang tepat tentang manusia, juga peta perkembangan budaya, menjadi sangat penting. Kajian permasalahan manusia dalam hal ini merupakan suatu keharusan filosofis, agar pendidikan mengarah pada pola-pola pengembangan potensi manusia secara humanistik —baik lahir maupun batin—, bukan malah sebaliknya.

Dari telaah teologi-filosofis-antropologis terhadap referensi-referensi tentang manusia terutama referensi-referensi Islam, diperoleh pemahaman bahwa, selain sebagai hasil imajinasi yang sempurna dari Tuhan, manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu pertama, sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kedua, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Ketiga, sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Keempat, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

Berangkat dari kerangka konseptual di atas, serta kesadaran bahwa untuk mengembangkan potensi insaniah serta sosialisasi nilai-nilai, ketrampilan, dan sebagainya, harus melalui kegiatan pendidikan, maka manusia dituntut untuk menyelenggarakan praktik pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanistik). Dalam paradigmanya, pendidikan humanistis ini memandang manusia sebagai suatu kesatuan yang integralistik. Dalam hal ini, manusia harus dipandang sebagai manusia, yaitu sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, manusia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Sebagai makhluk, batas antara hewan dan malaikat harus dipisahkan dengan tegas, yakni antara memiliki sifat-sifat rendah dengan sifat-sifat kemalaikatan atau sifat malakut (sifat-sifat luhur). Sebagai makhluk dilematik, dia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam kehidupannya. Sebagai makhluk moral, ia senantiasa bergulat dengan nilai-nilai. Sebagai pribadi, manusia memiliki kekuatan konstruktif dan kekuatan destruktif. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki hak-hak sosial dan harus menunaikan kewajiban-kewajiban sosialnya. Kemudian sebagai hamba Allah, dia juga harus menunaikan kewajiban-kewajiban ubudiyah.

Pendidikan humanistik diharapkan mampu memperkenalkan apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga sebagai khalifah Allah. Dengan demikian, pendidikan humanistik dimaksudkan membentuk insan manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggungjawab sebagai insan manusia individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, dia memiliki tanggungjawab moral kepada lingkungannya, berupa keterpanggilannya untuk mengabdikan dirinya demi kemaslahatan masyarakatnya.

Dengan berpandangan kepada pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan (humanistik) di atas, maka terdapat harapan besar bahwa nilai-nilai pragmatis ilmu pengetahuan dan teknologi, permasalahan-permasalahan dan krisis kemanusiaan lainnya, tidak akan membunuh kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Lebih lanjut, dengan pendidikan tersebut, dunia manusia diharapkan akan terhindar dari tirani teknologi. Di samping itu, adalah untuk mendorong terciptanya hidup dan kehidupan yang kondusif bagi manusia, serta membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan.

Penutup

Berdasarkan uraian dan analisa di atas dapat disimpulkan, antara lain sebagai berikut, yaitu pertama, Islam dipandang sebagai agama universal, di mana tidak hanya berisi ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan seluruh makhluk di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh tugas penting manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menghidupkan dan memakmurkan bumi. Sebagai dasar ajarannya, al-Qur’an merupakan sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia dengan bahasanya yang lemah lembut, balaghoh yang indah, dengan tamsil-tamsil sebagai sarana refleksi manusia, sehingga al-Qur’an membawa dimensi baru terhadap pendidikan dan berusaha mengajak manusia untuk menggali maksud kandungannya agar manusia lebih dekat kepada-Nya. Petunjuk pendidikan dalam al-Qur’an tidak terhimpun dalam kesatuan fragmen, tetapi diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Qur’an, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksudkan tersebut.

Kedua, perspektif dasar Islam terhadap manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Akan tetapi dalam kehidupannya, al-Qur’an menyebut manusia dengan berbagai nama sebagai berikut, yaitu al-Basyr, al-Insan, al-Naas, Bani Adam, al-Ins, Abd Allah, dan khalifah Allah, di mana kesemuanya ini mengacu pada gambaran tugas yang seharusnya diperankan oleh manusia. Setidaknya manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kemudian, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Selanjutnya, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

Sementara merujuk kepada informasi al-Qur’an, pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan Islam dipresentasikan melalui kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Dari ketiga konsep di atas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’dib dan ta’lim, yang menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

Ketiga, posisi teologi pendidikan (Islam) adalah sebagai dasar reorientasi pendidikan yang mengarah kepada nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena sosial di masyarakat yang menunjukkan begitu kompleksnya permasalahan dan krisis kemanusiaan. Dengan berpandangan kepada pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan (humanistik), maka diharapkan permasalahan-permasalahan dan krisis kemanusiaan dapat diatasi, terlebih lagi, adalah untuk membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan. (*)

DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saefuddin, Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam, Jakarta: Usaha Enterprise, 1976

Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003

Azra, Azyumardi, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu, 1998

——-, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu, 2005

Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi dalam Dunia Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: al-Husna, 1987

Mujib, Abdul, dan Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Agenda Karya, 1993

Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta: Sipress, 1993

Natsir, Muhammad, Capita Selekta, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001

Sanaji, Kasmiran Wiryo, Filsafat Manusia, Jakarta: Erlangga, 1985

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Bandung, Mizan: 1994

——-, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996

Steenbrink, Karel A., Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1987

Suhartono, Suparlan, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006

Al-Syaibany, Oemar Mohammad at-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979

Syam, Mohammad Noor, Filsafat Kependidikan dan dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1986

Tobroni, Pendidikan Islam: Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualis, Malang: UMM, 2008

*) Penulis tinggal di Jotosanur Rt 2 Rw 3 No.319 Tikung Lamongan.
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia Template by Bamz | Publish on Bamz Templates