Thursday, September 15, 2011

Imanku Tertelungkup di Kakinya

(Catatan Kecil Kumpulan Cerpen Mahmud Jauhari Ali)
Hamberan Syahbana
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Saya baru saja membaca sebuah kumpulan cerpen karya Mahmud Jauhari Ali yang berjudul Imanku Tertelungkup di Kakinya. Kumpulan cerpen ini terbit edisi cetakan pertama April 2010 oleh Penerbit Araska Publisher Yogyakarta 2010. Sebuah buku kecil dengan disain cover yang indah menawan oleh N. Anjala dan editor Wiwik Indayani S.Pd.
Buku ini juga di komentari oleh Arsyad Indradi salah seorang Sastrawan/Penyair Nasional yang berdomisili di Banjarbaru Kalimantan Selatan, Agus R. Sarjono anggota Dewan Redaksi Majalah sastra Horison, Dimas Arika Mihardja (Prof. Dr. Sudaryono, M.Pd) dosen Bahasa dan Sastra Universitas Jambi, Tajuddin Noor Ganie sastrawan dan Pemimpin Pusat Pengkajian Masalah Sastra Kalimantan Selatan, dan Hamberan Syahbana.

Seperti biasa, cerpen-cerpen karya Mahmud begitu tenang tapi tetap mengharukan penuh greget dan menggugah nurani. Gaya menulis yang terbiasa dengan apik dan santun mengaduk-aduk berbagai masalah dengan imaji-imaji yang bernuansa humanis religius dan filosofis, membuat buku ini enak dibaca, diresapi, direnungkan dan dihayati. Dia juga sangat piawai menyajikan secara cermat nilai-nilai tradisi, sosial kemasyarakatan, relegi, budaya, estetis yang saling kait berkait dalam domain nilai moral dan kemanusiaan. Diantaranya nilai da’wah Islamiyah yang penuh dengan tuntunan hidup berumah tangga dan bermasyarakat. Kesemuanya tersaji dengan manis dalam: Tangisnya Membasahi Pundakku (hal. 11), Ustad Muda dan Perempuan Hamil (hal 18), Kuning, (hal 36) Imanku Tertelungkup di Kakinya (hal 46),Ia pun Terlihat Berbeda (hal 58), Darah dan Irisan Buah (hal 66), Aku Kembali kepada Kata (hal 75), Malam Lebaran di Penghujung Waktu (hal 82), Lamut (hal 92), dan Kala Cemburu Membakar Jiwa (hal 99).

Buku ini semakin dibaca ulang, direnungkan, diresapi dan dihayati maka filosofisnya semakin dapat dipahami, dan tentunya semakin jelas pula permasalahan-permasalahannya. Karena semua cerpen dalam buku ini bukan hanya jalinan cerita kosong, tapi lebih pada sebuah cermin pergumulan hidup dan kehidupan anak manusia yang bisa jadi telah terjadi di sektar kita, bahkan di mana-mana. Buku yang penuh ungkapan pikiran dan perasaan kepedulian Mahmud Jauhari Ali terhadap lingkungan sekitar, sosial kemasyarakatan dan sosial keberagamaan yang disajikannya lewat kritik dan sindiran halusnya. Secara piawai nurani pembacanya diarahkan menuju kesadaran penyesalan dan pertaubatan. Semuanya disajikannya dengan bahasa yang santun tenang balarut banyu yang pada akhirnya bermuara pada pencerahan jiwa, iman dan takwa.

Dalam buku ini betapa manisnya dan hampir tak terasa dia menyindir dan mengkritisi kebijakan yang melindas persawahan dan sungai di mana ia punya kenangan indah di masa kanak-kanaknya. Kini tak ada lagi sawah di sini. Sungai yang dulu menjadi sumber irigasi pun telah mati. Kini hanya kulihat menguning di bekas sawah kami. Bukan menguning oleh padi, melainkan menguning oleh warna bangunan perumahan yang memadatinya. [Kuning hal 45]

Mahmud juga sangat piawai merangkai kata dan menyajikannya lewat imaji visual membuat pembaca seakan-akan benar-benar melihat: Tubuhnya kemudian roboh di tanah becek dekat pohon beringin yang berdiri tegak. Tak ada manusia lain yang tahu ia roboh. Diciumnya mayat adik kesayangannya. Mayat wanita muda itu kini dipeluknya erat-erat. Ia menangis, hatinya pedih, wajahnya seperti orang gila yang sedang meringis campur tawa (Pemuda Tampan dalam Hutan, hal. 29). Udara semakin dingin. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan derasnya disertai angin kencang. Ia menggigil, suhu tubuhnya naik. Kala itu ia sangat menyesal, mengapa ia tak pernah menuruti kata-kata ayah dan ibunya. (Pemuda Tampan dalam Hutan, hal 33)

Tepat di hadapanku, seorang pemuda roboh dengan luka di tubuhnya. Seragam satpamnya yang putih dinodai darahnya sendiri yang masih segar hampir sewarna dengan kulit buah jambuku. Ia dihajar dua orang perampok sadis yang menyantroni toko emas milik pengusaha Cina. (Darah dan Irisan Buah, hal. 69)

Dia terdiam lagi. Lidahnya beku bak ditimpa gulungan es kutub selatan, hingga tak bisa lagi bergerak lincah seperti biasanya. Kutarik tubuhnya keluar dari kamar jahanam itu. Kulihat wanita cantik yang dari tadi di sebelahnya, ditingkahi ketakutan teramat sangat. ( Ustad Muda dan Perempuan Hamil. hal. 20)

Keesokan harinya, orang-orang yang hendak melaksanakan salat ied menemukan sesosok mayat lelaki muda tertindih sepeda motor di dekat mesjid. Wajah mayat lelaki itu terlihat bahagia. Bibirnya tersenyum beku. (Malam Lebaran di Penghujung Waktu. hal. 91)

Latifah yang melihat Romi hendak menembakkan peluru keduanya ke tubuh Hamid, langsung menjadikan dirinya perisai. Tak pelak lagi, Latifah pun roboh bersimbah darah. (Kala Cemburu Membakar Cinta, hal. 106) Romi benar-benar tak bisa membantah kata orang tua itu. Ia baru sadar, selama ini dia belum mencintai Latifah sepenuh hati. Ia menyadari pula bahwa selama ini hanya ketertarikan yang melekat di hatinya kepada Latifah (Kala Cemburu Membakar Cinta, hal. 108)

Buku kumpulan cerpen ini menarik untuk dibaca semua kalangan, dan ditinjau dari sudut manapun tetap menarik, patut dijadikan bahan pembahasan dalam essei, skripsi dan karya ilmiah lainnya. Dengan terbitnya kumpulan cerpen ini berarti bertambah lagi satu bacaan sastra karya anak banua yang patut kita acungi jempol. Selamat buat Mahmud Jauhari Ali.-

Banjarmasin, Mei 2010

Lelaki Lebah (terbitan Tuas Media)

Terbit di: Tuas Media
Judul: Lelaki Lebah
Tebal: IV + 308 halaman
Penulis: Mahmud Jauhari Ali
ISBN: 978-602-99269-1-0
harga: Rp 40.000,00
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

Narasi pembuka novel ini menarik. Sangat menarik, menggambarkan masyarakat di kota Banjarmasin dengan manusia urban. Novel Lelaki Lebah bercerita dengan indah, tentang kehidupan masyarakat di daerah Kalimantan. Mahmud Jauhari Ali menggunakan kata-kata sederhana melukiskan imajinasinya begitu ringan dan mengalir. Penguasaan latar oleh penulis yang dilukiskan dalam novel Lelaki Lebah ini membuat nilai tambah karena novel ini membuat kita melihat bagaimana situasi masyarakat di Palangkaraya atau pun Banjarmasin. Pengarang menampilkan kosakata budaya seperti “kuyang, kalakai, pian, ulun, nyawa” menjadikan novel ini sarat dengan nuansa lokal yang perlu dibaca oleh masyarakat di luar wilayah Kalimantan. Bagaimana kehidupan yang sederhana itu dimaknai oleh Mahmud Jauhari Ali membuat novel ini menarik dan harus dibaca.

Dra. Dad Murniah, M.Hum/Nia Samsihono, Kepala Subbidang Pembinaan Kebahasaan dan Kesastraan Pusat Bahasa/Badan Perlindungan Bahasa

Membaca novel ini, kita seakan diajak berwisata di keindahan bumi Kalimantan. Kehidupan sehari-harinya sangat tergambar. Dan Hafiz, tokoh aku dalam novel ini, adalah tokoh yang dapat dijadikan ilham bagi pembaca, dan dia berada di alur cerita yang sangat inspiratif. Sebuah karya novel yang patut dibaca.

Putra Gara, penulis novel Samudra Pasai

Membaca novel Mahmud Jauhari Ali membuat saya seakan terseret dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan. Berkenalan dengan tokoh-tokohnya, serta mengakrabi setiap jengkal alam dan budayanya. Lelaki Lebah, sebuah novel yang kental dengan warna lokal yang eksotis, menggelitik empati, kaya wacana dan penuh motivasi.

Shabrina WS, penulis novel Pelari Cilik

…Dalam novel “Lelaki Lebah” ini, dengan alur yang mengalir, sang “aku” yang menjadi “lensa kamera” sekaligus photografer”nya, menangkap dan sekaligus merekam peristiwa-peristiwa keseharian yang dialaminya sepanjang perjalanan. Baru kemudian, ketika sampai pada sub judul “Lelaki Lebah”, peristiwa-peristiwa keseharian itu sampai pada pemaknaannya, yakni sebagai konstruksi dari bangunan tafsir surat An-Nahl (lebah), yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Yakni usaha sang “aku” untuk memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk ayah, kekasih, tetangga dan keluarga. Melalui novel “Lelaki Lebah” nya ini, Mahmud Jauhari Ali telah menunjukkan potensinya untuk bisa berkembang dan menjadi salah seorang novelis masa depan Kalimantan, khususnya Banjarmasin dan Palangkaraya.

Aant S. Kawisar, novelis, cerpenis, esais, penyair, dan pelukis (pernah menjadi salah seorang redaktur majalah sastra Horison).

Menjadi PNS yang ditempatkan di luar daerahnya sendiri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Mahmud Jauhari Ali menuangkannya dengan gaya penceritaan yang memikat. Membaca novel ini secara utuh membawa kita pada nuansa etnik dayak yang khas berpadu dengan nilai-nilai Islami. Lelaki Lebah menyadarkan kita pada satu hal bahwa nuansa religi tak melulu ada di pesantren.

Nailiya Nikmah JKF, dosen sastra, pengurus FLP Wilayah Kalsel, penulis buku Rindu Rumpun Ilalang

*) Silakan pesan ke inbox fb Mahmud Jauhari Ali Full atau ke nomor 087815594940, tulis nama/alamat/jumlah. http://tuasmedia-2.blogspot.com/2011/03/lelaki-lebah.html

Melestarikan Folklor, Mempromosikan Bahasa Lokal

Djoko Pitono
http://ppsjs.blogspot.com/

ilang jenenge kawula,
sirna datan ana keri,
pan ilang wujudira,
tegese hyang widi,
ilang wujude iku,
anenggih perlambangipun,

lir lintang karainan,
kasorotan ngilang ing rudita.
[Sunan Drajat, dalam Sinom]

Lembaga Kebudayaan Lamongan (LKD) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan menggelar acara seminar tentang folklor Lamongan, rembug budaya, dan juga bedah novel Pendekar Sendang Drajat (PSD) karya sastrawan dan budayawan terkenal Viddy AD Daery.

Apresiasi yang tinggi layak diberikan kepada para pemrakarsa dan pendukung acara ini. Bukan basa-basi kalau saya sampaikan hal ini. Di tengah maraknya gempuran beragam produk asing, termasuk karya sastra dan budaya, muncul perhatian untuk tidak sekedar mengingat folklor tetapi juga melestarikan dan mempromosikannya. Sudah sepantasnyalah bila Pemkab Lamongan mendukung acara ini, karena dalam beberapa tahun ini laporan dan berita “keajaiban” daerah ini umumnya menyangkut perkembangan ekonomi dan perdagangan. Tak ada yang membantah bahwa Lamongan memang maju pesat, terutama sejak daerah ini dipimpin oleh Bupati Masfuk.

Tetapi bagaimana kondisi kehidupan seni dan budaya di daerah ini, itulah yang bakal didiskusikan dalam acara hari ini.
Kita sekarang berbicara tentang folklor. Makhluk apakah ini? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, folklor didefinisikan sebagai adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, tetapi tidak dibukukan. Atau, ilmu adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang tidak dibukukan.

Menurut Prudentia MPSS, staf pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), folklor dibagi dalam dua jenis, yaitu tulisan (keberaksaraan) dan lisan. Folklor tulisan di antaranya meliputi arsitektur rakyat, kerajinan tangan, tenun tradisional, dan musik tradisional. Folklor lisan di antaranya berupa cerita rakyat, legenda, mite, dongeng, hukum tak tertulis, dan mantra-mantra pengobatan.

Mungkin ada yang bertanya, boleh jadi dengan nada sinis, untuk apa di tengah globalisasi seperti sekarang ini kita membicarakan produk-produk kuno seperti itu? Zaman gini masih bicara folklor? Adalah hak seseorang untuk bicara seperti itu. Tetapi jelas, folklor bukanlah cerita omong kosong. Prudentia menegaskan, folklor adalah budaya yang mampu digunakan sebagai jendela atau alat untuk memahami masyarakat atau komunitas yang menciptakannya, termasuk kecenderungan- kecenderungan penguasa.

Terkait dengan ini, Lamongan adalah daerah yang kaya dengan folklor. Cerita-cerita rakyat yang terkait dengan Sunan Drajat saja amat banyak. Apa yang telah dirintis oleh Saudara Viddy adalah upaya menggali dan mempromosikan warisan budaya masyarakat Lamongan. Novel Pendekar Sendang Drajat (PSD) memang kisah fiktif, tetapi Viddy mampu mengemasnya sedemikian rupa dengan warna sejarah di seputar Sunan Drajat. Sudah lama masyarakat kita tidak menikmati cerita-cerita silat berlatarbelakang sejarah Jawa, seperti Bende Mataram dan Api di Bukit Menoreh. Novel PSD akan mengisi kekosongan tersebut.

Siapa yang akan menyusul Saudara Viddy? Saya pribadi yakin, daerah ini memiliki bibit-bibit pengarang dan intelektual yang bagus. Kepedulian para cerdik pandai di daerah ini, juga Pemkab Lamongan, akan memacu semangat generasi muda untuk berkarya. Tetapi yang jelas, untuk menggali khasanah folklor di Lamongan dan mempromosikannya tentu memperlukan ketrampilan dan pemahaman hal-hal yang terkait dengan itu. Salah satunya adalah ketrampilan dan permahaman bahasa daerah atau lokal.

Untaian kata-kata yang indah dalam tembang Sinom yang diwariskan Sunan Drajat seperti ditulis di awal tulisan ini adalah sekedar contoh. Seberapa banyak anak-anak sekolah kita yang memahami makna tembang tersebut?

Pentingnya Bahasa Lokal

Di tengah iklim globalisasi sekarang ini, bahasa lokal terasa makin tersingkir. Apa yang sering dibicarakan adalah peranan bahasa Inggris yang makin kuat. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di internet. Di banyak negara, para pembela bahasa mengeluh karena bahasa Inggris “merusak” bahasa-bahasa lokal. Di Prancis, Rusia, Italia , Indonesia hingga Brasil di Amerika Selatan, penggunaan bahasa Inggris menyeruak di mana-mana.

Papan-papan reklame dan iklan sering menggunakan bahasa Inggris. Di seminar-seminar, sebagian pembicara sering menggunakan bahasa Inggris, juga menggunakan kutipan-kutipan dalam bahasa itu. Mengapa bahasa Inggris tak terbendung?

Pentingnya bahasa Inggris sekarang adalah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Bahasa itu berkembang pesat karena besarnya pengaruh ekonomi, politik, budaya hingga militer Inggris, yang kemudian digantikan Amerika Serikat setelah berakhirnya Perang Dunia II. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk Internet juga banyak dimotori Amerika sehingga kekuatan bahasa Inggris pun makin kokoh. Bahasa Inggris memang telah menggantikan kedudukan bahasa Jerman di bidang iptek dan bahasa Prancis di bidang diplomasi.

Tetapi di tengah gencarnya penyebaran bahasa Inggris, sebenarnya juga sedang berkembang kesadaran baru tentang pentingnya peran bahasa-bahasa lokal dan bahasa-bahasa etnis. Berkembang pula upaya secara “diam-diam” untuk menyelamatkan bahasa-bahasa yang hampir punah. Di negeri ini, misalnya, para pakar bahasa telah memperingatkan bahaya punahnya bahasa-bahasa daerah. Termasuk bahasa Jawa, meskipun penuturnya cukup besar.

Kecenderungan menyangkut bahasa-bahasa yang tersingkir itu sebenarnya memberikan banyak pelajaran berharga. Orang boleh jadi akan diketuk hatinya untuk kembali ke fitrahnya semula, sebagai manusia yang tak bisa dilepaskan dari bahasa ibu (native tongue). Selain itu, mungkin juga tumbuhnya kesadaran betapa pentingnya penghormatan pada setiap bahasa yang ada untuk memelihara harmoni di masyarakat. Bukan tak mungkin pula akan tumbuh minat dan motivasi untuk mempelajari bahasa-bahasa nenek moyang, suatu cara untuk memahami budaya masyarakat tertentu secara utuh.

Setiap Bahasa Indah

Kesadaran untuk menyelamatkan bahasa lokal juga muncul di masyarakat Indian di Santa Fe , New Mexico , Amerika Serikat. Dalam acara Native Youth Language Fair, para siswa SMU keturunan Indian menyanyikan lagu-lagu dalam beragam bahasa Indian. Tak kurang 13 bahasa yang digunakan, mulai dari bahasa Indian Cherokee dan Comanche hingga Oneida, Navajo dan Apache.

Ada pernyataan yang memedihkan sekaligus membesarkan hati dari acara tersebut. Direktur Institut Bahasa Pribumi, Inee Yang Slaughter, mengatakan, meskipun tempat-tempat perlindungan masyarakat Indian di seluruh Amerika makin meningkat, banyak suku Indian memandang bahasa-bahasa mereka sudah punah. Dari 300 bahasa Indian atau lebih, hanya 175 bahasa yang masih hidup.

Dari bahasa-bahasa itu, hanya 20 bahasa yang dipandang sebagai sebagai Kelas A, artinya digunakan oleh semua usia; 30 bahasa masuk Kelas B, yang hanya dipakai orang dewasa; 70 bahasa masuk Kelas C, yang hanya dipakai kakek dan nenek; dan 55 bahasa termasuk Kelas D, yang hanya digunakan orang-orang Indian berusia di atas 70 tahun.

Lenyapnya bahasa-bahasa itu tak dipisahkan dari sejarah kelam hubungan ras di Amerika di masa lalu. Sejarah mencatat bagaimana upaya asimilasi pada abad ke-19 menorehkan kesengsaraan pada masyarakat Indian. Banyak anak Indian dipisahkan secara paksa dari keluarganya dan dimasukkan asrama-asrama sekolah. Mereka dipaksa menghilangkan semua identitasnya sebagai orang Indian. Kadang-kadang mereka dipukuli karena berbicara bahasa ibunya.

Selain menyangkut kebijakan, perselisihan antara kelompok masyarakat dengan kelompok lain atau suatu negara dengan negara lain sering pula berakar dari ketidakpahaman bahasa dan budaya.

Satu poin penting di sini adalah tidak ada bahasa yang lebih unggul atau lebih indah. Setiap bahasa indah dan punya keunggulan sendiri. Hanya orang yang congkak –atau sebaliknya rendah diri — yang percaya satu bahasa tertentu lebih indah, lebih merdu atau lebih rasional dari bahasa lainnya. Terlepas dari kekuatan perannya, setiap bahasa tentu punya keindahan. Kata “jujur” sama derajat dan sama merdunya dengan honest, sama dengan eerlijk, juga tak beda dengan honnete.

Demikian juga kalimat bahasa Jawa Panjenengan pidalem wonten ing pundi? Kalimat ini tidak lebih rendah tingkatnya, juga tidak kurang merdunya dibanding kalimat dalam bahasa lain: Di mana anda tinggal?, atau Where do yo live?, atau Waar woont u?, dan juga Ou demeurez-vous?

Penghormatan pada eksistensi bahasa-bahasa lokal dewasa ini memang tuntutan. Kita memang harus semakin sadar bahwa dalam galaksi bahasa, setiap bahasa seseorang adalah bintang.

Persoalannya, ketika kita bicara tentang folklor di negeri ini, termasuk di Lamongan, apakah senjata kita seperti bahasa daerah (dan kuno) sudah memadai?

*) Djoko Pitono adalah Jurnalis, Pengarang, dan Editor Buku.
–kiriman Viddy AD Daery melalui milis
Dijumput dari: http://ppsjs.blogspot.com/2009/08/melestarikan-folklor-mempromosikan.html

Sunday, September 11, 2011

Pergerakan Sastra di Malang

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Polemik pembacaan atas pergerakan sastra di Malang dan pengakuannya pada wilayah Jawa Timur terjadi sejak lama. Tan Tjin Siong (1989) pernah menulis dengan nada gugatan dengan judul “Peta Sastra Malang” : “Sebagai warga Jatim pecinta sastra, rasanya kurang sreg kalau selama ini hanya keberadaan atau kegiatan sastra di Surabaya yang mendapat porsi paling banyak untuk dibicarakan. Ada kesan penganak tirian terhadap daerah lain…. Nah, apa Malang tak punya peta sastra yang menarik untuk dibicarakan? Ada. Bahkan bahkan peran sastranya di Jawa Timur tak bisa diabaikan”.
Apa yang dituliskan oleh Tan Tjin Siong mendapat balasan oleh Sauripan Sadi Hutomo (1994) dalam bukunya “Kronik Sastra Indonesia di Malang” bahwa gugatan oleh Tan Tjin Siong tidak berdasar jika melihat dokumentasi-dokumentasi secara mendalam apa yang dilakukan oleh generasi pendahulunya di Malang. Sauripan Sadi Hutomo membagi dua pembacaan atas sastra Malang yaitu pembacaan sastra secara Emik dan Etik. Pembacaan bersifat Etik yakni pembacaan yang dilakukan oleh orang luar Malang sedang Pembacaan Emik pembacaan yang dilakukan oleh orang Malang sendiri.

Apa yang dilakukan oleh W. Harianto (WH) dengan tulisannya di Kompas Jatim pada 23 Desember 2010 adalah pembacaan secara Etik terhadap Perpuisian Mutahir Malang. WH menyebutkan ada nama tiga penyair Mutahir Malang. WH mengatakan “Terbukti pada beberapa tahun terakhir, booming penyair itu hanya euforia dan pseudo-reality. Namun, tidak banyak yang tercatat dari Malang ketika arah perpuisian kita sebatas kontemplasi redaksi di ruang tertutup”. Menjadi pertanyaan saya adalah ruang tertutup itu ruang yang hanya bisa dinikmati penyairnya saja atau tertutup hanya di Malang? Tetapi realitasnya tidaklah benar jika hanya berada dalam ruang tertutup itu. Jika menelisik gerakan penyair-penyair Malang. pada era 2000-an hingga sekarang. Misalnya terbitnya beberapa antologi puisi secara komunitas yang meluas atau persingungan penyair-penyair Malang antar komunitas dengan daerah lain. WH juga mengatakan bahwa “Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim”. Peryataan itu akan gugur dengan sendirinya jika membaca antologi cerpen “Pledooi: Pelangi sastra Malang dalam cerpen” yang diterbitkan oleh MOZAIK BOOK bekerjasama Dewan Kesenian Jawa Timur.

Selain itu penyebutan nama-nama penyair mutakhir oleh WH masih belum merepresentasikan penyair Malang. Masih ada beberapa nama yang harus di sebutkan dalam dimanika kepenyairan Malang. Selain Ragil Suprinto Samid, Yusri Fajar dan Denny Mizhar masih ada beberapa nama jika hendak menyebutkan nama-nama penyair mutakhir Malang di antaranya Abdul Mukid, Lodzi Hadi, Lubis Grafura, Liza Wahyu, Masdar Zaenal, Masaly, Aziz Abdul Ghofar Andi Wirambara, Faradina I, Amrullah Budari, Ria AS, Tsabit Nur Paramita, Johan W, Royan Dwi J, Hasan Caleg, dll. Nama-nama itu yang pernah mengisi buku-buku antologi puisi yang diterbitkan secara indie, antologi puisi tunggal juga bersama ataupun mempublikasikan karyanya melaui media internet.

Gerak Sastra Malang

Jika WH melakukan pembacaan secara etik maka saya akan membaca secara emik. Gesekan-gesekan penyair malang dengan pergerakannya seusai periode 90-an. Pertama dapat diamati lewat komunitas-komunitas yang dibentuk oleh penyair Malang. Ada beberapa komunitas diantaranya Forum Penyair Muda Malang, Bengkel Imajinasi, Komunitas Sastra Reboan Pustaka Rakjat, Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis UM, Komunitas Jalaludin Rumi, Komunitas Pramoedya, Komunitas Sastra Parkiran, Lembah Ibarat, Mafia Sastra UMM, dll. Saya pikir kesepian Puisi Malang yang disitir oleh WH tidaklah terjadi. Interaksi karya dan diskusi karya terjadi dalam komunitas-komunitas tersebut. Beberapa komunitas-komunitas tersebut pernah disinggahi beberapa penyair atau sastrawan yang sudah punya nama di percaturan sastra koran ataupun mereka yang terlibat dalam dinamika sastra Indonesia. Dan mereka melakukan diskusi intens.

Bagi saya, tidak perlu risau, Malang tidak perna dibaca oleh otoritas sastra Jawa Timur. Toh HB Jasin penah menulis “sastra berbahas Indonesia tidak hanya terjadi di pusat saja (baca: jakarta) tetapi di daerah-daerah juga ada (Sauripan, 1994). Ungkapan seorang paus sastra tersebut dapat digubah menjadi sastra tidak hanya terjadi di surabaya tetapi juga ada di Malang ataupun daerah-daerah wilayah Jawa Timur. Maka tidak menjadi soal jika Malang tanpa harus dibicarakan oleh Surabaya tapi Malang bergerak kesustraannya dengan caranya sendiri.

Akan tetapi interaksi antar komunitas-komunitas sastra di Malang kira-kira setahunan ini mulai redup. Karena penyair atau sastrawan Malang kebanyakan adalah mahasiswa, setelah lulus kuliah, sedikit yang menetap di Malang. Sehingga naik turunya komunitas-komunitas sastra di Malang terjadi. Kampus tidak bisa dipisahkan dengan gerak perpuisian di Malang. Karena basis atau kantong-kantong komunitas sastra masih didonomasi oleh kampus. Dari pergerakan sastra di Malang masih menyisakan satu problem, yakni pembacaan atas karya-karya penyair Malang secara mendalam dan koprehensip. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena kurangnya kritikus sastra di Malang (?).

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang.

‘Puisi Saya Antitesis Puisi W Haryanto’

Indra Tjahjadi
Pewawancara: R. Giryadi
Suara Indonesia, 20 September 2005

Sejak berkenalan dengan W. Hariyanto, Indra Tjahja dimengakui mulai belajar menulis puisi. Energi kreatrf kepenyairannya diakui, selain lewat buku-buku bacaan tetapi lewat perkenalannya dengan penyair W.Hariyanto. Karena tertarik dengan bahasa ungkap puisi W. Hariyanto, Indra berusaha ‘mempelajari’ gaya penulisan W. Hariyanto, dengan mencoba menjadi ‘juru ketik’ puisi-puisi W.Hariyanto. “Tetapi anehnya setelah saya membuat puisi, justru menjadi antitesis dari pemikiran We,” kata Indra kepada R. Giryadi wartawan Suara Indonesia dikediamannya Jl. Potro Agung II/5 Surabaya, Sabtu (20/11).
Sejak saat itulah, proses kreatrif mereka secara konseptual memiliki arah yang berbeda meski Indra mengakui, We memiliki kekuatan lompatan diksi yang basiknya jelas, yaitu culture Surabaya.Setelah itu, Indra mencoba mencari bahan-bahan bacaan lain. Selain itu dia juga mencoba aktif diberbagai gerakan yang ada di kampusnya Universitas Airlangga Surabaya. Namun, secara tidak langsung Indra juga mengakui campur tangan cerpenis Sony Karsono, juga melecutnya untuk mempelajari tentang konsepsuriallisme yang terus diperkenalkan oleh Sony di forumnya Rumah Biru.

Di tengah kesibukannya mengajar di Fakultas Sastra & Filsafat Universitas Panca MargaProbolinggo, Indra juga aktif menterjemahkan karya-karya sastra bahasa asing kedalam bahasa Indonesia. Perkenalannya dengan buku-buku barat dan literature dari penulis Indonesia, Indra mengakui banyak mempengaruhi proses penciptaanya.

Bagai mana proses penciptaan puisi-puisi Indra? Dan bagaimana Indra memperoleh bahan-bahan bacaan untuk menambah pengetahuannya? Lalu apa hubungannya buku-buku bacaan dengan proses kreatifnya? Berikut wawancara dengan Indra Tjahjadi, salah seorang penyair muda dari Surabaya.

Apa kesibukan Indra akhir-akhirini?

Saya sedang mempersiapkan antologi puisi tunggal saya ‘Ekspedisi Waktu’. Desember ini insy’allah akan terbit. Puisi itu sayakumpulkan dari karya tahun 1995 sampai karya tahun 2004. Buku itu diterbitkanoleh penerbit Atlas, Jakarta. Puisi-puisi saya yang mengeditori JJ.Kusni, salah satu tokoh sastrawan eksil.

Selain itu?

Membantu penerbitan puisi Dewan Kesenian Jawa Timur bersama W. Hariyanto. Tahun ini DKJT menerbitkan dua antologi puisi, milik penyair Aming Aminudin dari Mojokerto, dan Mashuri dari Surabaya. Di Jatim penerbitan buku-buku sastra sangat sepi, padahal sastrawan Jatim sangat produktif. Setiap tahun,DKJT masih bisa menerbitan 2 buku, dan itu harus bergiliran. Padahal jumlah sastrawan kita banyak dan produktif.

Berbicara masalah buku,dari mana Indra mendapatkannya?

Terus terang di Surabayabuku-buku literature sangat terbatas. Untuk mencari buku-buku barat kita harus ke Jakarta atau ke Jogjakarta. Kalau itu dikira lebih mahal, biasanya juga terpaksa memfoto kopy buku yang dimiliki teman atau terkadang juga mencarai bahan di internet.

Buku yang kali pertamaIndra baca dan bisa menggerakan energi kreatif, bukunya siapa?

Sebelum berkenalan lebih jauh dengan W. Hariyanto, Sony Karsono, Imam Muhtarom, Mashuri, dan lainnya saya tidak punya teman. Bahanbacaan pun sedikit. Kali pertama yang saya baca puisi karya Acep Zazam Noor dari kumpulan ‘Dari Kata Hujan’. Saya mengagumi puisi Acep dan juga puisi Jamal D Rahman, ‘Airmata Diam’. Dua penyair ini terus terang sedikit mempengaruhi proses kepenyairan saya, pada periode awal, sekitar tahun 1994-an. Begitu jugapenyair romantic John Keats, Baudelaire. Dan juga ‘Arsitektur Hujan’ karya Afrizal dan juga sajak-sajak Kreapor, banyak memberikan ispirasi pada saya.Sajak-sajak Kreapor bagi saya menarik. Bahkan saking sulitnya mendapatkan sajak-sajaknya, saya sampai mencari di perpustakaan Surabaya Post. Meski tidak sepenuhnya saya terpengarauh oleh ke empat tokoh tersebut, tetapi saya mengakui dari situlah saya memulai menulis puisi dan tahu puisi yang baik. Puisi-puisi Gunawan Muhammad, ‘Asmaradana’ saya juga tertarik.

Bagaimana dengan peran Sony Karsono?

Sony Karsono banyak memberikan dapak kepada pribadi saya.Tetapi selain itu, dia juga memberikan dampak yang cukup meluas dikalangan teman-teman penyair seangkatan saya di Unair yang sering nongkrong di warung ‘Emak’ depan kampus Karang Menjangan. Sony memperkenalkan saya dengan karya-karya sastrawan Perancis seperti Rimbault, TS. Elliot. Dan terutama soal konsepsurialisme.

Tetapi secarapenulisan, kepada siapa Indra banyak belajar?

Tahun 1997 saya dekat We (W. Hariyanto, penyair yang lebihdulu muncul sebelum Indra Tjahyadi, red). Tetapi terus terang, pada akhirnya setiap kali saya membuat puisi yang terinspirasi dengan puisinya We, justru yang muncul bukan kesamaan pemikiran tetapi merupakan antitesis dari pemikiran We.

Di sini kami sering saling ‘berolok-olok’. We sering menyarankan saya untuk mengambalikan diksi ke semangat cultural. Kalau kitatinggal di Surabaya, ya semangat Suroboyoannya itu yang diangkat. Tetapi bagi saya, justru sebaliknya bukan diksinya tetapi cultural sebagai semangat penciptaan, karenaterus terang saya membawa semangat cultural yang berbeda dengan We. We, orang Surabaya asli, sementarasaya berasal dari persilangan berbagai cultural. Ibu saya Bandung, Bapak Jakarta, saya lahir di Jakarta, dan dibesarkandi Surabaya.

Banyak orang yang mengatakan puisi-puisi saya dengan We, itu tidak terlalu benar. Henri Mardi Luhung (penyair Gresik, red), pernah mengatakan pada saya, bahwa We, lompatan diksinya begitu jauh dan nilai filosofinya lebih kental. Sementara puisi saya lebih ekspresif. Tetapi saya mengakui belajar menulis puisi dari We, karena pada masa awal dulu, saya sering mengetikan naskah We yang akan dikirimkan ke media massa.

Indra Tjahjadi, Lahirdi Jakarta 21 Juni 1974. Alumi Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya ini menulispuisi sejak tahun 1994. karya-karyanya tersebar di berbagai media massa luar dan dalamnegeri. Karya-karya puisinya pernah dimuat di AIAA News (Australia), Bahana (Brunei). Puisinya dalam bahasa Inggris dimuat di Big Lick Literary Review; aMulticultural Arts Ezine yang di terbitkan Roanoke, Virginia-USA dan Conestoga Literary Journal. Di Indonesia puisi-puisinya pernah dimuat antara lainHorison, Jurnal Puisi, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, republika, Surabaya Post, Suara Indonesia, Jawa Pos, dan lain sebagainya. Manuskrip kumpulan puisinya yang berjudul ‘Di Bawah Nujum Kabut’ tercatat sebagai salahsat7u nominasi penghargaan KSI Award 2003. Tahun 2002 bersama, W. Haryanto, Indra Tjahyadi, Mashuri, Muhammad Aris, mendeklarasikan ‘Manifesto Surrealisme’di Gallery Surabaya.

Apa yang melatariterbitnya ‘Manifesto Surrealisme’?

Ini salah satu sikap terhadap kekosongan gagasan, setelahbangsa kita disibukan dengan efuria reformasi yang begitu dasyat sekitara tahun 1998. pada awalnya kami yang sering berkumpul di warung kopi, mempelajari konsep-konsep dadaisme, yang kalau disini kita bisa melihat puisi-puisi karya SaifulHadjar. Tetapi di situ kami tidak menemukan sesuatu dasar estetika yang jelas. Pada saat itu Sony memperkenalkan konsep Surrealisme yang diliputi suasana revolusi Perancis.

Kami melihat kesamaan perjuangan atas hakikat kemanusiaan yang utuh. Dan konsep Surrealisme memberikan syarat estetik yang jelas bila dibandingkan dengan konsep dadaisme. Dari sinilah kami pingin bicara. Dengan semangat manifesto itu, kita ingin menghindari pengucapan yang politis yang leterlek dalam puisi. Sehinga alat ucap itu tidak mencair tetapi padat danlebih simbolis.

Semangat ini justru sekarang menjadikan banyak orangmengeklaim, kecenderungan sastrawan Jatim lebih banyak yang bernuansakan Surrealisme. Barangkali mereka benar, karena menurut saya ada missing-ling dengan aspek cultural yang ada di Jatim. Orang-orang Jakarta, memandang Jatim, seperti bom yang meledak. Puisi-puisinya banyak yang menggunakan bahasa yang melompat-lopat dan lebih gelap.

Sejak saat itu konseppenulisan Indra berubah?

(Diam sejenak) Puisi-pusisi Acep masih sering melintas dibenak saya. Adabeberapa puisi yang sering kali membayangi proses penciptaan pusisi saya,seperti karya Acep yang berjudil ‘Buat Malika Hamudi’ dan menjadi pusisi sayaberjudul ‘Buat Wan Aiping.’ Dari puisi We, ‘bagaimana Aku Lihat Tubuhku Membeku, ‘saya menulis puisi,’ Barangkali dari Usia Kita yang TertinggalHanyalah Kesendirian.’

Kapan Indra menuliskan puisinya?

Setiap waktu saya menulis puisi. Kalau sudah mendapatispirasi, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Kepala saya bisa pusing, kalau tidak segera ditulis. Pernah suatu kali di tahun 1995, We, bercertia tentangperistiwa bunuh diri yang terjadi di dekat rumahnya. Mendengar cerita itu sayalangsung meninggalkan We, pulang ke rumah dan mengetik secara manual. Sesaat kemudian puisi itu jadi. Kemudian saya kembali ke Kampus dan memberikan puisiitu kepada We.

Menurut Indra, menulispuisi merupakan proses kesadaran ekspresi, karena menurutnya sebelum jauh berkenalan dengan We, S.Jai, Imam Muhtarom, Mashuri, dia sudah lama menulis puisi.Tetapi sebelumnya Indra lebih suka melukis. Karena dirasa materialnya begitu mahal, Indra akhirnya memilih untuk menjadi penulis puisi saja. Begitu jugapada tahun 1997 dia menulis cerpen, tetapi karena tidak tertarik cerpen pun akhirnya ditinggalkan. “Cerpen hanya menampilkan cerita-cerita saja. Tetapipuisi lebih ekspresi dan bisa mewadahi ekspresi yang sangat individualsekalipun,” kata Indra.

Setelah memilih menjadi penulis puisi, tingkat produktifitasnya tak terbendung. Hampir setiapminggu Indra mengirimkan puisinya ke media massa. Maka tak heran kalau hampir seluruh media massa yang ada di Indonesia itu pernah memuat karya-karyanya. “Setiap kali saya mengirim ke media, ada 10puisi yang saya lampirkan. Dan itu hanya berselang seminggu atau dua minggukemudian, saya kirmkan 10 puisi berikutnya,” kata Indra mengakhiri pembicaraan siang itu. n gir

*) dijumput dari http://www.facebook.com/notes/rakhmat-giryadi/indra-tjahjadi-puisi-saya-antitesis-puisi-w-haryantosuara-indonesia-20-september/419385546610

REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA

S Yoga
Jawa Pos 31 Okt2010

Dalam perkembangan sastra kita, dinamika sejarah sastra dunia, sangat berpengaruh. Tengok Pujangga Baru, yang merupakan gema dari angkatan 80 di negeri Belanda. Angkatan Gelanggang atau angkatan 45, yang digemai oleh sastra dunia yang memiliki konsepsi modernisme. Demikian juga dengan dekade 70an, lewat eksistensialisme dan absurditas. Termasuk juga polemik sastra, karya sastra yang bersifat postmodernisme, yang merupakan gema yang sudah berkecamuk pada tahun 70an di Eropa. Tak ketinggalan polemik sastra kontekstual, yang merupakan gema dari gerakan sastra multikultur yang mengejala di sastra dunia hingga kini.
Realita Sosial

Dalam perkembangan sastra kita selama satu abad ini, selalu dijiwai oleh sastra realisme, kita perhatikan semenjak Siti Nurbaya tahun 1920an hingga para pemenang Lomba novel DKJ, 1998-2008, banyak didominasi oleh sastra realita sosial. Yang berangkat dari pengalaman pribadi dan hasil penelitian. Fenomena ini bisa kita jelaskan, dari perkembangan sastra koran dan majalah, yang berkembang sejak lahirnya kesusastraan modern tahun 20 hingga sekarang ini.

Karenanya kehidupan sastra kita lebih banyak didominasi oleh sastra yang bersifat realis, relevan dengan berita atau isi koran dan majalah yang juga menyuarakan realita yang terkini. Sastra dimasa depan, kiranya juga masih akan didominasi oleh sastra realita sosial. Meski bisa jadi media akan berubah menjadi dan berada dalam dunia maya, tapi watak-watak jurnalismenya akan tetap sama, apalagi dalam dunia maya, kepedulian sosial akan semakin tinggi, dimana facebook dan sejenisnya akan memainkan peran penting dan cepat.

Belum lagi problem sosial-politik-ekonomi-hukum di Indonesia yang juga belum beres-beres, sehingga akan memunculkan realita-realita yang dengan mudah bisa menjadi bahan para sastrawan kita. Karena perkembangan sastra pada umumnya, bergandeng tangan dengan perkembangan kebangsaan, pemikiran, dan filsafat pada zamannya. Dalam dinamika realita sosial seringkali sastra realis ini jatuh sebagai dokumen sosial bila benar-benar tidak cermat, sehingga kritik sastra pun bicara tentang intertekstual secara sosial, berkecenderungan untuk bicara hal-hal yang berada diluar karya sastra. Dalam kondisi bangsa yang mengalami ketimpangan sosial, kemarginalan, ketidakberdayaan kaum bawah, kapitalisme menyeruak, politik gelang karet, mafia kasus hukum, demokrasi semu, kehidupan ekonomi yang tidak stabil, kerusakan lingkungan hidup dan goncangan-goncangan keterpecahan bangsa, masih bergetayangannya para teroris. Maka problem-problem sosial ini masih banyak akan mewarnai kehidupan sastra kita dimasa depan, meski bagaimanapun bentuk bahasa dan media sastra nantinya.

Sementara itu dalam kehidupan yang semakin pragmatis ini dan nantinya, maka kehidupan sastra pun akan mengalami pergeseran-pergeseran, dimana sastra yang bersifat serius akan terus digempur oleh kehidupan sastra pop, karena orang secara fisik sudah lelah dan capai oleh kesibukkan dan rutinitas. Ingin mencari sesuatu yang pragmatis dan mendapatkan kenimataan sesaat dan budaya poplah jawabannya, termasuk juga sastra pop yang akan memberikan jawaban.

Sastra Multikultur

Dan dimasa depan mungkinkah migrasi bahasa akan benar-benar terjadi, beralih mengunakan bahas Inggris. Jika hal itu terjadi resikonya, para pengarang akan dianggap, hanya meneruskan, hypogram dari karya-karya pengarang Inggris. Ketika bahasa Inggris yang digunakan tidak mampu melakukan resistensi terhadap bahasa Inggris yang sudah ada. Seperti yang dikatakan Ngugi Wa Thiongo, seorang novelis Kenya yang tinggal di New York, yang juga menulis dalam bahasa Inggris, bahwa para penulis Afrika yang menulis dalam bahasa Inggris tidak akan pernah memproduksi sastra Afrika tapi hanya memproduksi sastra Inggris. Baginya bahasa bukanlah sekedar alat, tapi merupakan pandangan dunia si pengarang. Dan pada akhirnya Ngugi Wa Thiongo, kini menulis dalam bahasa ibu-sukunya, Kikuyu, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ini artinya bahwa pengarang itu lebih nyaman, sreg, mengunakan bahasa ibu dalam menghasilkan karya sastranya, dalam mengungkapkan-cara pandang dunia-jagad batinnya. Yang bisa jadi akan kehilangan unity-nya, kesatuannya, bila diungkapkan dalam bahasa lain. Sehingga bila kita cermati para penulis sendiri selalu mengalami ketegangan dalam memilih bahasa.

Namun bila mampu melakukan pewarnaan dalam karya sastra yang berbahasa Inggris, dengan melakukan percampuran atau penyerapan-penyerapan. Hingga corak karya sastra yang dihasilkan memiliki citra rasa yang berbeda dengan karya sastra berbahasa Inggris yang sudah ada. Dan karya sastra yang demikian sebenarnya sudah terjadi, dan sudah banyak dilakukan oleh para pengarang keturunan India, Cina dan yang lainnya, misalnya, seperti apa yang dilakukan Bharati Mukherjee, Vikram Seth, John Updike, Joyce Carol Oates, Maxine Hong Kingston, Salman Rushdie, Kazuo Ishiguro, yang pengucapan karya sastranya, mencerminkan situasi kontemporer. Termasuk juga V.S. Naipaul-Trinidad-Tobago, Ben Okri-Nigeria, Michael Ondaatje-Kanada, Derek Walcott, Caryl Philips-Karibia, Keri Hulme-Selandia Baru, Timothy Mo, Rohinton Mistery, Chinua Achebe. Bukan hanya kualitas karyanya, namun adanya kontribusi terhadap perbendaharaan kosa kata dan tata bahasa Inggris. Dengan tema tarik ulur antar identitas, tradisi-modern, dan silang sengkarut kultur yang mereka jelajahi. Sehingga terjadi kerumitan identitas dalam merumuskan jati diri, polibudaya, muncul impresi India, Cina, Jepang dalam khazanah sastra Inggris. Lewat bahasa maupun tema-temanya, sehingga bentuk sastranya menjadi berbeda dari kanon sastra Inggris yang selama ini ada.

Dalam dunia global modial, sudah saatnya meleburkan, menceburkan diri kedalam wilayah diaspora kultural maupun bahasa, yang dapat diambil spirit, ilham maupun keunikan, dan menjadikanya sebuah karya yang bersifat hibrida baru. Dan hal ini sebenarnya sejalan dengan isi, Surat Kepercayaan Gelanggang, “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Sehingga seorang pengarang dapat menyerap, mencuri, khasanah sastra Amerika Latin, Inggris, Rusia, Amerika, Perancis, Afrika, India dan Jepang misalnya, kedalam karya sastra yang diciptakan. Karena pengaruh mempengaruhi begitu pesat terjadi ketika kita mengenal sastra modern. Sehingga kedepan pengarang haruslah bersiap-siap menjadi warga dunia baru. Yang identitas-kulturnya bisa selalu berubah, sehingga setiap saat harus selalu mengidentifikasi dirinya sendiri, karena identitas-kultur yang ada, selalu akan dicampuri oleh identitas-kultur yang baru, yang menyerbu dan mengubah kita meski tanpa kita sadari, budaya baru, ungkapan baru dan karya sastra baru. Yang merupakan pengejawantahan dari keterpecahan dan keterguncangan budaya. Dari identitas yang selalu terbelah ini, kita akan menemukkan jatidiri yang sesungguhnya. Yang merupakan resistensi dari kanon atau budaya yang dominan.

Dari perkembangan sastra kita dari zaman ke zaman menunjukkan gejala yang hampir sama. Diantaranya terjadi tarik menarik antara yang tradisi, modern, sinkretisme keduanya atau postmodernisme. Hal ini bisa kita lihat dari perdebatan-perdebatan yang ada dan karya sastra yang dihasilkan. Dimana watak karya yang mewarisi, mempertimbangkan tradisi selalu hadir semenjak para pengarang melayu lama, Amir Hamzah, Ajip Rosidi, WS Rendra, Sutardji Cazlom Bacri, Linus Suyadi, Korrie Layun Rampan dll, hingga kini. Yang pada hakikatnya mereka mencercap spirit lokal dan hendak disintesakan dengan sastra nasional, bahkan dunia. Karena itu sastrawan Subagiyo Sastrowadoyo, menyatakan, Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan dan Goenawan Mohamad, memandang, Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang. Ini artinya kita selalu berada dalam perbatasan dan perjumpaan, saling hilir mudik mempengaruhi, bahkan mungkin tanpa kita sadari.

Kedepan dapat kita lihat sastra multikultur akan makin marak. Sedang yang selama ini kita lihat, masih digandoli subkebudayaan-etnis yang terlalu berat. Contoh beberapa karya dari, Linus Suryadi, Umar Kayam, Korrie Layun Rampan, Wisran Hadi dan Chairul Harun. Pada sastra masa depan tentunya akan kita jumpai sastra multikultur yang mampu melakukan sintesa kultur-etnis yang lebih baik. Sehingga menghasilkan sastra hibrida yang memiliki jati diri sendiri, baik itu sastra multikultur yang berbahasa Indonesia atau yang mengunakan bahasa Inggris, bahkan bahasa Inggris bercitra rasa Indonesia.

Namun pada pertengahan Oktober 2010, Kanselir Jerman, Angela Merkel, membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia menegaskan, usaha membangun multikulturalisme di Jerman telah mengalami kegagalan total. Bahkan dua partai Uni Demokrat Kristen dan Uni Sosial Kristen, berkomitmen mewujudkan kultur Jerman yang dominan dan menentang bentuk multikulturalisme. Dan pernyataan ini diucapkan dimana neoliberalisme dan global modial sedemikian dahsyatnya. Komitmen itu memiliki arti penting, bahwa identitas nasional menjadi sebuah wilayah yang paling vital dan menentukan. Di Perancis juga sedang membentengi indentitas nasionalnya, dimana bahasa Perancis menjadi hal yang utama, sebagai jati diri bangsa. Ini artinya multikulturalisme yang terjadi hanya semu belaka, basa-basai, sebuah bayang-bayang dari keragaman. Apakah kesemu-semuan itu juga terjadi dalam kehidupan karya sastra. Sastra multikulturalisme yang ada dan akan berkembang hanyalah bayang-bayang kesusastraan yang sesungguhnya. Untuk menjawabnya tentu kita memerlukan telaah yang mendalam. Dan biarlah masa depan sastra sendiri yang membuktikannya.
***

*) Penyair dan Anggota Biro Sastra DK-Jatim
Sumber: http://syoga.blogspot.com/2010/11/realisme-dan-sastra-multikultur-masa.html

Sastra Instan, Pluralisme, Religiusitas

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 23 Desember 2006

SASTRA sebagai pergulatan kreatif adalah sebuah jalan sunyi. Jalan yang tak mudah beriringan dengan kepentingan industri, apalagi popularitas. Meski hal itu akan sangat menggembirakan bila bisa diseiringkan, namun fenomena yang terjadi di tengah gegap gempitanya aktivitas industri penerbitan dan sosialisasi karya sastra yang terjadi akhir-akhir ini ternyata menimbulkan semacam kecemasan juga. Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran.
Tak ayal lagi tuntutan industri dan kepentingan-kepentingan yang pragmatis telah melahirkan budaya instan dalam berkesusastraan. Intensitas dalam pergulatan kreatif tersisihkan oleh tujuan dan kepentingan-kepentingan pragmatis, termasuk eksistensi dan popularitas. Banyak karya yang bermunculan tapi sebanyak dan secepat itu juga yang hilang, hanya sedikit yang kemudian mampu mengendap.

Lalu siapakah yang masih memelihara dan membuka lahan persemaian bagi tetap berlangsungnya pergulatan kreatif di tengah tarik-menariknya tuntutan industri dan kreativitas ini? Jawaban atas pertanyaan itu harus ditujukan pada komunitas-komunitas sastra yang kerap bekerja secara heroik dan militan dengan modal minim. Mereka berkarya dalam sepi ing pamrih, rame ing gawe. Dari ruang-ruang sunyi inilah sesungguhnya pencapaian kreatif bermula, yang pada saatnya nanti dunia industri akan menikmati hasil jerih payah mereka.

Inilah yang diapungkan oleh penyair Joko Pinurbo yang berbicara di hadapan para sastrawan dari sepuluh provinsi (Lampung, Banten, DKI, Jabar, Jateng, D.I. Yogyakarta, Jatim, Bali, NTB, NTT) dalam Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) II 2006 di Denpasar-Bali, 12-15 Desember 2006 yang lalu. Apa yang diapungkan Joko sebagai evaluasinya terhadap strategi pemasyarakatan sastra, bisa disebut menarik karena paling tidak ia mencoba menengok sisi lain dari kegairahan aktivitas industri penerbitan dan sosialisasi sastra akhir-akhir ini. Sebuah sisi yang juga sesungguhnya telah banyak dicemaskan oleh berbagai kalangan.

Selain Joko Pinirbo, dalam Temu Sastra MPU II 2006 ini juga hadir sebagai pembicara Yasraf Amir Piliang, Tryanto Triwikromo, Ahmad Tohari, Zawawi Imron, Isbedy Stiawan, Ahmadun Yosi Herfanda, Jean Couteau, Nyoman Dharma Putra, Raudal Tanjung Banua, dan Slamet Sukirnanto. Meski tema yang diusungnya terkesan bombastis, “Peranan Sastra Dalam Membangkitkan Harkat dan Martabat Bangsa” dan tidak menawarkan isu sastra yang relatif segar, namun sejumlah pemikiran dan perbincangan selama tiga hari di Denpasar-Bali tersebut terasa menekan pada semangat untuk memperbincangkan kembali sejumlah persoalan dalam hubungan antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakatnya dengan menyelasar ke dalam sejumlah fenomena yang menyertainya. Sebutlah, fenomena pluralisme dan multikulturalisme; representasi religiusitas dalam sastra dan bagaimana sesungguhnya spritualisme itu sendiri hendaknya dimaknai; fenomena perkembangan komunitas sastra; serta fenomena pemasyarakatan sastra itu sendiri yang berkorelasi erat dengan aktivitas industri sastra dengan implikasinya pada etos kreatif.

Pada yang terakhir inilah, Joko Pinurbo menengarai di balik kegembiraan munculnya tren menulis karya sastra di kalangan anak muda perkotaan, terutama untuk genre novel, kecemasan juga menyertainya, yakni ketika sastra tidak lagi ditempuh sebagai jalan sunyi seorang pengarang. Tapi lebih karena kepentingan-kepentingan yang pragmatis, termasuk demi kebutuhan eksistensi dan popularitas. Launching buku kerap jadi tradisi seremonial sawer pujian dan “ritual” eksistensi ketimbang menghadirkan pembacaan kritis pada buku tersebut. Dalam konteks inilah Joko Pinurbo pun setuju pada anggapan bagaimana di tengah situasi semacam itu kritik pun cenderung bisa dipesan, baik sebagai kata pengantar, komentar di sampul belakang buku, atau ketika kritikus, pengamat, atau sastrawan “senior” diminta jadi pembicara. Sayang, perbincangan dalam topik ini tidak dieksplorasi lebih jauh. Sejumlah tanggapan lebih menekan strategi pemasyarakat sastra yang ditujukan pada Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono, atau juga pemikiran yang masih berputar-putar di wilayah pertanyaan tentang infrastruktur pendidikan di sekolah-sekolah dalam kehendak membangkitkan minat baca siswa.

**

SEDANGKAN perbincangan di seputar pluralisme dan multikulturalisme ditating oleh Yasraf Amir Piliang dan Tryanto Triwikromo. Perbincangan ini cukup menarik karena mengapungkan sejumlah pemikiran yang ketat, terutama ketika sampai pada soal bagaimana sesungguhnya perbedaan itu dimaknai, dan bagaimana seluruhnya itu direpresentasikan dalam karya sastra. Dalam hal inilah Yasraf Amir Piliang memandang bagaimana semangat serta prinsip-prinsip pluralisme dan multikulturalisme telah mendorong berbagai kemungkinan estetis dalam karya seni, termasuk karya sastra.

Hal ini bisa dipahami sebagai konsekuensi logis dari perlawanan terhadap dominasi universalisme, sentralisme, dan homogenisasi kultural. Adalah keduanya, pluralisme dan multikulturalisme, yang merepresentasikan berbagai kasadaran tentang bagaimana hendaknya perbedaan dan keanekaragaman itu dimaknai, yang pula dihadirkan dengan berbagai kecenderungan estetis, idiom, pilihan metafor, dan gaya.

Menurut Yasraf, terdapat sejumlah penjelasan untuk memberi penanda pada semangat perlawanan terhadap domininasi universalisme, sentralisme, dan homogenisasi kultural ini. Dari mulai karya sastra yang merepresentasikan kesadaran pada multikulturalisme kritis, sebagai upaya perjuangan kultural dan estetik ke arah eksistensi, persamaan hak, emansipasi, politik representasi, dan politik posisi; multikulturalisme intertekstual yang membuka ruang bagi berbagai perlintasan estetik dalam konteks waktu dan ruang yang berbeda; multikulturalisme eklektik yang mencomot dan menggabungkan berbagai bentuk kebudayaan, yang bertentangan sekalipun, sehingga ia mencairkan kepastian identitas menjadi ketidakpastian; hingga multikulturalisme hibrida yang memaktubkan berbagai persilangan bentuk kebudayaan sehingga menghasilkan estetika hibrida. Pada yang terakhir ini hibridisasi hadir dalam bentuk, gaya ungkap, konsep, ideologi, tanda, dan makna.

Sementara itu tak kalah menariknya adalah perbincangan dalam topik “Membangun Religiusitas Masyarakat Melalui Sastra” dengan pembicara Ahmad Tohari, Isbedy Stiawan, dan Zawawi Imron. Sebagai sastrawan yang lekat dengan kultur keagamaan, Ahmad Tohari dan Zawawi Imron demikian fasih menawarkan cara pandang terhadap pemaknaan spritualitas yang terlepas dari atribut-atribut keagamaan. Menurut keduanya, selama ini cenderung terjadi kesalahpahaman orang dalam mengartikan religiusitas dan spiritualitas, yang selalu dihubung-hubungkan dengan agama. Dalam pandangan Zawawi Imron, religiusitas bukanlah agama sebagaimana pengertiannya dalam kamus, namun sesuatu yang telah mengatasi agama itu sendiri. Religiusitas adalah substansi dari agama.

“Karena itu jadi aneh, banyak orang di negeri yang mengaku beragama tapi minus religiusitas. Di sini agama jadi dipakai untuk berkelahi. Kerja membajak sawah atau perawat yang menyeka nanah pasiennya, bagi saya itu adalah kerja religius. Orang-orang yang terus menyebut Tuhan, belumlah tentu religius,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ahmad Tohari berangkat dari pandangannya bahwa religiusitas adalah sesuatu yang universal. Dalam karya sastra, kesadaran atas hal ini bisa muncul dalam bentuknya yang gamblang, misalnya, dalam sastra sufi. Namun itu juga tidak bisa mengabaikan bagaimana kesadaran religiusitas juga bisa muncul dalam karya sastra yang bersifat profan. “Banyak karya sastra yang tampaknya melawan nilai-nilai religius, namun sebenarnya merupakan gambaran tentang kegelisahan manusia dalam mencari dan menemukan sangkan lan paraning dumadi,” katanya.

**

AKHIRNYA Temu Sastra MPU II 2006 berakhir dengan sejumlah jejak yang ditinggalkannya. Jejak yang mungkin terlalu berlebihan untuk diharap akan mengapungkan isu-isu sastra terbaru. Yang ada di dalamnya adalah keinginan untuk memeriksa dan mengevaluasi kembali hubungan antara sastrawan, karya sastra, pembaca, dan masyarakatnya, tanpa embel-embel dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa, seperti yang dibebankan oleh tema penyelenggaraannya.

Lepas dari soal itu, temu sastra dua tahunan yang diselenggarakan berkat kerja sama sepuluh pemerintah daerah yang tergabung dalam MPU ini, dalam salah satu butir ketetapan dan rekomendasinya menunjuk Jawa Barat sebagai tuan rumah Temu Sastra MPU III tahun 2008 mendatang.

“Jabar siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan Temu Sastra MPU III tahun 2008 nanti, dan dengan senang hati menerima penunjukan ini. Saya sudah konsultasikan dengan gubernur dan Beliau sudah memberi lampu hijau. Namun begitu, kami tetap akan meminta masukan dari teman-teman tentang tema yang akan kita angkat nanti. Saya berharap tema yang akan diangkat nanti adalah hal-hal yang langsung berhubungan konteks yang kini tengah terjadi, yakni ekologi atau lingkungan hidup, dan bagaimana karya sastra memunculkan kesadaran terhadap hal itu,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar H.I. Budhyana yang juga hadir di Denpasar.

Hal yang sama juga dilontarkan oleh penyair Godi Suwarna, satu-satunya sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah (Sunda) yang dua kali diundang mengikuti Temu Sastrawan MPU. “Tapi saya berharap dalam Temu Sastrawan MPU mendatang setiap provinsi juga mengikutsertakan penyair yang menulis dalam bahasa daerahnya, sehingga potensi sastra berbahasa daerah juga bisa terbaca, di samping bisa saling mengenal keberbagaian. Jabar pun harus lebih siap dan lebih baik penyelenggaraannya dari Banten dan Bali,” ujarnya.

Sejak penyelenggaraan Temu Sastrawan MPU I tahun 2003 di Serang-Banten, memang hanya Jabar yang membawa sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah. Hal ini memang diniatkan untuk merangsang provinsi-provinsi lain agar juga melakukan hal yang sama sehingga temu sastrawan ini tak hanya menjadi milik mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia. Namun juga mengusung potensi dan dinamika karya sastra dalam bahasa daerahnya masing-masing. Dalam Temu Sastrawan MPU II 2006 di Denpasar-Bali yang baru lalu, selain Godi Suwarna juga tampil sastrawan Bali Semargantang yang dengan memukau membacakan karyanya dalam bahasa Bali.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/12/sastra-instan-pluralisme-religiusitas.html
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia Template by Bamz | Publish on Bamz Templates