Wednesday, January 5, 2011

SASTRA SEBAGAI PENDIDIKAN JIWA (bagian III)

Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Pendidikan jiwa sebagai hak asasi manusia yang mendasar merupakan alat pemberdaya kemampuan dan sebagai jalan utama menuju masyarakat belajar sepanjang hayat melalui jalur pendidikan nonformal dan informal. Hal itu sesungguhnya merupakan langkah penting bagi pembangunan kualitas sebuah bangsa yang bermartabat dan berkarakter sehingga tidak tercerabut dari akar tradisi dan budayanya. Dengan cara seperti itu lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansinya dengan kepentingan negara dan karakteristik peserta didik serta tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan visi dan misinya yang berbasis kompetensi sehingga menjamin pertumbuhan keimanan dan ketakwaan umat manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan keterampilan hidup, akademik, seni yang dominan nilai estetikanya, pengembangan kepribadian bangsa Indonesia yang kuat, sehat, cerdas, kompetitif, bermartabat, dan berakhlak mulia.

Salah satu konsep pendidikan jiwa melalui karya sastra dikemukakan oleh Sri Mangkunegara IV, sastrawan pujangga dan negarawanl bijak pada abad XIX, melalui beberapa karya yang ditulisnya, yaitu Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama. Sri Mangkunegara IV adalah seorang pujangga istana dan sekaligus juga seorang raja di Jawa yang boleh dikatakan sebagai “sabda pandita ratu”, sabda pendeta raja, artinya ucapan atau kata-kata raja itu sekaligus berisi ajaran tentang hal-hal duniawi dan sekaligus hal-hal yang bersifat surgawi. Raja berhak mengatur tata kehidupan rakyatnya yang bersifat duniawi, yakni masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan di dunia seperti pendidikan, kemasyarakatan, keprajuritan, pertanian, hukum, dan perkawinan. Sementara itu, pendeta hanya berhak mengatur tata cara kehidupan yang bersifat rohani, religiusitas, atau hal-hal yang berhubungan dengan masalah surgawi. Namun, apabila ada seorang pendeta dan sekaligus raja, maka dia berhak mengatur tata kehidupan masyarakat tentang masalah duniawi dan sekaligus surgawi. Hal inilah yang tercermin pada diri raja-raja Jawa, termasuk Sri Mangkunegara IV, sebagai seorang pandita ratu atau satria pinandita, ksatria sekaligus pendeta atau dengan idiom Islam yang digunakan sebagai kalifatullah sayidin panatagama.

Tiga buah karya Sri Mangkunegara IV, yaitu Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama, sudah sangat terkenal dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan tata ekosistem nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa. Dalam khazanah sastra masyarakat Jawa, karya sastra ini termasuk kategori edipeni dan adiluhung yang ditulis dalam bentuk tembang atau puisi, selain dikenal teks-teks sastra yang bersifat naratif dengan bertumpu pada penceritaan seorang tokoh atau suatu kisah tertentu dalam bentuk babad atau gancaran, dikenal pula teks-teks puitik yang berisi didaktik dan moralistik atau etika. Teks-teks seperti inilah yang disebut dengan sastra piwulang atau sastra wejangan, yakni sebuah karya sastra yang berisi ajaran tentang pendidikan jiwa, tentang ilmu lahir dan batin untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia hingga akhirat. Ciri khas jenis sastra seperti ini diwarnai oleh diskripsi tentang tata tingkah laku pergaulan hidup sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, beragama, dan berbudaya.

Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama sebagai teks sastra piwulang atau sastra wejangan pun merupakan teks yang memberikan tuntunan ilmu keutamaan lahir dan batin, yakni ilmu pengetahuan yang berisi pendidikan jiwa untuk membangun kehidupan moral, budi pekerti luhur, berakhlak mulia, dan kesempurnaan hidup di dunia hingga akhirat dengan teladan-teladan utama dari tokoh-tokoh yang berpengaruh, baik dari dunia sejarah kehidupan manusia maupun tokoh dalam dunia pewayangan.

Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama karya Mangkunegara IV sebagai sastra piwulang telah menyapa pembacanya dengan cakupan yang luas, baik dari dimensi ruang maupun dimensi waktunya. Ruangnya pun tidak terbatas meliputi seluruh tanah Jawa, dan juga Nusantara, bahkan sampai ke negeri Suriname di Amerika Latin dan negeri Belanda di daratan Eropa. Waktunya pun membentang cukup panjang dari abad XIX, diperkirakan diciptakan semasa pemerintahan Sri Mangkunegara IV antara tahun 1853–1881, hingga abad XXI sekarang ini. Dalam perjalanan ruang dan waktu yang panjang itu Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama telah mampu begitu dalam menyentuh alam estetika dan etika manusia Jawa. Keberadaannya pun telah lama diselamatkan oleh rasa cinta dan kehauasan masyarakat pemiliknya, yakni manusia Jawa, terhadap tuntunan ilmu keutamaan yang menjanjikan ajaran tentang hidup dan kehidupan untuk tingkah laku yang mulia, beradab, dan bermartabat.

Sesuai dengan namanya, judul buku menyiratkan keseluruhan isi, Wedhatama berisi ilmu pengetahuan atau ajaran keutamaan tentang perilaku kehidupan manusia di dunia. Atas dasar isinya inilah Wedhatama dikategorikan sebagai sastra piwulang atau sastra wejangan tentang etika atau moral hidup. Ir. Sri Muljono (1979:57) mengkategorikan Wedhatama sebagai sastra suluk atau sastra tasawuf, karena di dalam karya itu terdapat ajaran tentang kesempurnaan hidup, mirip dengan karya-karya para sufi, seperti adanya tataran sembah raga, sembah cipta, sembah rasa, dan sembah kalbu. Bahkan karya ini telah dibuat bahan disertasi oleh Mohammad Ardani dari Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah (1995) dengan judul: Al-Quran dan Sufisme Mangkunegara IV: Sutdi Serat-Serat Piwulang (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf).
Piwulang dalam Wedhatama memumpunkan ajaran tentang etika dan etiket hidup. Ajaran tentang etika, misalnya, seseorang harus berjiwa bersih, sepi ing pamrih, tidak sombong dan congkak, harus dapat tenggang rasa, suka memberi maaf kepada orang lain, rela, tawakal, sabar, jujur, dan menghormati pendapat orang lain. Sementara itu, ajaran tentang etiket, misalnya, seseorang harus dapat bersikap sopan, santun, pandai menyesuikan diri, mampu membaca pikiran orang lain agar tidak mengecewakan dalam setiap pertemuan.

Selain piwulang tentang etika dan etiket, Wedhatama juga berisi ajaran tentang kesempurnaan hidup melalui jalan melakukan kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cara melakukan kebaktian kepada Tuhan itu dapat melalui empat tataran sembah, yakni sembah raga, sembah cipta, sembah rasa, dan sembah kalbu. Ir. Sri Mulyono (1979:59) memadankan keempat sembah dalam Wedhatama itu sama atau mirif dengan ajaran yang terdapat dalam tasawuf tentang syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Wirawiyata adalah karya Mangkunegara IV yang penerbitan pertamanya bersamaan dengan Tripama, yaitu pada tahun 1927 oleh pihak Mangkunegaran sendiri. Setelah itu, Wirawiyata sering diterbitkan ulang oleh penerbit-penerbit swasta di Jawa, baik masih dalam bentuk aslinya menggunakan aksara Jawa maupun sudah ditranskripsi dalam bentuk tulisan Latin. Secara estetis Wirawiyata ditulis dalam bentuk tembang macapat yang terdiri atas 56 bait, terbagi dalam dua pupuh, yaitu (1) Sinom 42 bait, dan (2) Pangkur 14 bait. Karya tulis ini selesai pembuatannya pada hari Kamis, tanggal 1 Sakban, tahun Ehe, 1788 Jawa atau 1860 Masehi. Pembuatan Wirawiyata ini bertepatan dengan tiga tahun setelah beliau diresmikan sebagai Sri Mangkunegara IV.

Sesuai dengan judul naskah ini, Wirawiyata, kata wira artinya ‘seorang lelaki perwira’ atau ‘prajurit yang pemberani’, dan kata wiyata berarti ‘piwulang’ atau ‘ajaran’. Jadi, wirawiyata artinya ‘ajaran tentang keprajuritan’ atau ‘wejangan buat para prajurit’. Sri Mangkunegara IV ingin memiliki Korps Legioen Mangkoenegaran yang ada di bawah pimpinannya harus berbeda dari sebelumnya. Oleh karena itu, dibuatlah ajaran tentang keprajuritan ini dalam bentuk tembang macapat yang dapat digunakan sebagai doktrin keprajuritan Mangkunegaran.

Terekspresikan dalam dua pupuh, Sinom dan Pangkur, doktrin ajaran keprajuritan itu menyangkut: janji prajurit yang harus dipegang teguh dan kedisiplinan sebagai prajurit yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu, seorang prajurit harus memiliki rasa ketaatan kepada atasan, ketakwaan kepada Tuhan, ketidaksombongan, dan ketidaksewenangan dalam melaksanakan tugas sebagai prajurit Mangkunegaran.

Seorang prajurit yang baik harus dapat menepati janji seperti yang diucapkan waktu pelantikan. Janji itu harus dipegang teguh selama dia menjadi prajurit untuk membela negara dan bangsa. Ingkar akan janji prajurit akan membawa malapetaka, baik bagi diri sendiri yang menderita lahir batin maupun bagi bangsa dan negara yang dapat menimbulkan rasa malu orang tua, kesengsaraan dan penderitaan bangsa dan negara.

Kedisiplinan seorang prajurit perlu dilakukan dengan tepat dan tegas. Seorang prajurit harus dapat mentaati peraturan yang ada, harus disiplin waktu, disiplin kerja, dan disiplin dalam menjalankan tugas. Pelanggaran terhadap disiplin itu akan mengakibatkan jatuhnya sangsi terhadap prajurit, desersi, indisipliner, dan hukuman dari komandannya. Sebaliknya, apabila seorang prajurit dapat melaksanakan disiplin itu dengan baik, menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak mbalela, seorang prajurit akan cepat naik pangkat, dan memperoleh penghargaan sesuai dengan jasanya dan pengorbannya.

Ketaatan seorang prajurit kepada atasan, komandan atau panglima, merupakan bakti yang harus dilaksanakan. Atasan prajurit, dalam hal ini komandan atau panglima perang mereka, merupakan koordinator pengendali stabilitas kesatuan dan persatuan prajurit, serta pemegang komando tugas operasional lapangan. Komandan atau panglima dalam hal keprajuritan adalah wakil raja sebagai panutan dan penuntun dalam melaksanakan tugas keprajuritan. Oleh karena itu, prajurit harus taat kepada atasan dan tidak boleh bertindak sendiri-sendiri. Apabila mereka tidak taat kepada atasan, kesatuan prajurit mudah dipecah belah, mudah diadu domba, dan mudah hancur bercerai berai atau kocar-kacir.

Tidak sepantasnya dan tidak pada tempatnya apabila seorang prajurit memikirkan hal kematian dalam peperangan. Tugas prajurit untuk berperang harus diartikan sebagai tugas membela negara dan bangsa,semata menjalankan perintah raja. Raja dalam hal ini dianggap sebagai kalifatullah, wakil Tuhan di dunia, sehingga perintah atau titahnya harus diartikan sebagai perintah atau titah Tuhan. Hidup dan mati seseorang itu berdasarkan ketentuan Tuhan.

Sifat sombong atau takabur harus dihindari oleh seorang prajurit karena bertentangan dengan sumpah atau janji yang telah diucapkan. Sombong atau takabur merupakan sifat yang tercela, tidak terpuji, dan dapat mencemarkan nama korps dan negara. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah apabila seorang prajurit harus dapat menghindari sifat sombong, takabur, congkak, dan berbangga diri apa pun pangkat yang dimilikinya.

Persoalan bunuh-membunuh dalam peperangan itu suatu perbuatan yang wajar dalam keprajuritan. Namun, sebagai seorang prajurit yang baik harus tahu diri kapan dan di mana ia harus membunuh musuhnya. Apabila seorang musuh itu telah menyerahkan diri, mengakui kesalahan dan kekalahannya, maka seorang prajurit tidak diperkenankan membunuh musuhnya yang telah menyerahkan diri. Musuh itu harus diperlakukan secara baik, tidak boleh disiksa, dan tidak boleh ditindak sewenang-wenang tanpa perikemanusiaan.

Dalam pupuh Pangkur disebut tentang tata cara atau pedoman bagi seorang senapati atau panglima dalam memilih para prajurit yang baik. Seorang prajurit yang dipilih haruslah seorang pemuda, berasal dari keluarga yang bermental baik, pribumi atau penduduk asli, tidak cacat, badan sehat, tegap, dan kokoh, serta berbakat sebagai prajurit. Tentang perilakunya pun juga harus yang baik-baik dan tidak suka berfoya-foya, artinya hekmat dan bersahaja.

Demikian kurang lebih konsep pendidikan jiwa yang tertuang dalam beberapa karya Sri Mangkunegara IV yang dapat kita jadikan pedoman dalam mentunkan arah kebijaksanaan hidup.***

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern seperti sekarang, R.M. Soedira hanya mendapatkan pendidikan privat, yaitu mendatangkan guru agama dan guru pelajaran umum di istana Mangkunegaran. Di dalam pendidikannya itu dia mendapatkan pengetahuan agama, mendapatkan pengetahuan membaca dan menulis, serta belajar bahasa asing (terutama Belanda dan Inggris) dari guru-guru privat yang didatangkan ke istana Mangkunegaran tersebut. Meskipun demikian, semangat belajar R.M. Soedira sangat tinggi, tidak malu bertanya kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang Belanda yang didatangkan ke istana Mangkunegaran seperti JFC Dr. Gericke dan CF Winter. Dari guru-guru itulah R.M. Soedira mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, kesenian, kebudayaan, dan kesusastraan Jawa sehingga dapat menulis sendiri karya sastra. Dalam berinteraksi dengan guru-guru Belanda tersebut akan terlihat pada karya-karya sastra yang ditulisnya.

Pada usia 15 tahun dia pernah mengikuti pendidikan kadet Legioen Mangkunegaran selama satu tahun. Setelah itu dia menjadi pangeran prajurit Legioen Mangkunegaran untuk berperang membantu Kompeni Belanda melawan bala tentara Pangeran Dipanegara (1925—1830) di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Karena jasa dan keberaniannya membantu Kompeni Belanda pada waktu itu, pada tahun 1828, R.M. Soedira dinaikkan pangkatnya dari Letnan menjadi Kapten Infantri. Setelah kakaknya, R.M. Soebekti dipromosikan menjadi mayor, lalu R.M. Soedira pun ditugaskan sebagai komandan perang untuk mempertahankan benteng Gombong. Seusai perang Dipanegara, pada tahun 1831, R.M. Soedira kembali ke Surakarta dan mendapat berbagai penghargaan dari Kompeni Belanda atas jasa-jasanya membantu Kompeni dalam memerangi pemberontakan Pangeran Dipanegara.

R.M. Soedira kemudian mengabdi kepada pemerintahan Mangkunegaran. Pengabdian R.M. Soedira kepada Raja Mangkunegaran itu tidaklah sia-sia. R.M. Soedira kemudian dinikahkan dengan putri sulung Sri Mangkunegara III, yaitu Bendoro Raden Ajeng Doenoek. Pada tahun 1836 dia diangkat sebagai pangeran dengan gelar R.M. Gandakoesoema serta diangkat sebagai Patih Jero atau patih kedua kadipaten Mangkunegaran dengan pangkat militer sebagai Mayor Infantri, komandan prajurit Legioen Mangkunegaran. Setelah Sri Mangkunegara III mangkat (1853), oleh Residen Surakarta atas nama Guburnur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, Pangeran Arya Gandakoesoema diangkat sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Praboe Prawadana IV, kemudian diberi pangkat militer dari Mayor menjadi Letnan Kolonel Komandan Legioen Mangkunegaran. Ketetapan untuk menjabat sebagai Kanjeng Gusti Prabu Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegara IV diberikan pada waktu dia berusia 47 tahun berdasarkan Surat Keputusan pada tanggal 16 Agustus 1857. Meskipun demikian pemerintahan Sri Mangkunegara IV sudah efektif terhitung mulai 1853.

Semasa pemerintahan Sri Mangkunegara IV (1853—1881) negara Mangkunegaran mengalami kemajuan dalam segala bidang, meliputi bidang pemerintahan, bidang kemiliteran, bidang sosial ekonomi, dan sosial budaya. Di bidang pemerintahan Sri Mangkunegara IV meneliti dan mempertegas kembali batas-batas daerah wilayah antara kekuasaan Mangkunegaran dengan hak milik Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Di bidang kemiliteran Sri Mangkunegara IV mewajibkan setiap kerabat Mangkunegaran yang telah dewasa, apabila hendak menjadi pegawai praja, mereka harus terlebih dahulu menjalani pendidikan militer sekurang-kurangnya enam bulan. Di bidang ekonomi Sri Mangkunegara IV menciptakan berbagai usaha komersial untuk menjadi sumber penghasilan negara, selain itu juga dapat membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi rakyat Mangunegaran. Usaha-usaha itu antara lain pendirian pabrik gula Tasikmadu di Colomadu, pabrik sisal di Mentotulakan, pabrik bungkil di Polokarto, pabrik bata dan genting di Kemiri, perkebunan-perkebunan di lereng gunung Lawu sebelah barat, dan usaha kehutanan di Wonogiri. Di bidang sosial budaya Sri Mangkunegara IV merintis kerajinan ukiran kayu, perhiasan, funitur alat-alat rumah tangga, hingga menciptakan berbagai tari, gemelan, wayang kulit, topeng, lukisan, dan karya sastra. Atas kemajuan di berbagai bidang itulah Sri Mangkunegara IV memperoleh anugerah dan bintang penghargaan dari Kerajaan Austria, Jerman, dan Belanda. Kebesaran Mangkunegara IV terutama sebagai seorang sastrawan dan kebudayaan Jawa dapat dibaca melalui karya sastra yang dihasilkannya, seperti Wedhatama, Tripama, Wirawiyata, Manuhara, Nayakawara, Yogatama, Parimnita, Pralambang Lara Kenya, Langenswara, Sriyatna, Candrarini, Paliatma, Salokatama, dan Darmawasita.

Atas dasar pengalam sebagai pangeran prajurit Legioen Mangkunegaran itulah kemudian Sri Mangkunegara IV menurunkan ilmu keprajuritannya dengan menciptakan Serat Tripama dan Serat Wirawiyata sebagai pembinaan terhadap para prajurit Mangkunegaran. Penciptaan Tripama dan Wirawiyata tersebut dilatarbelakangi pada perbedaan penafsiran tentang kedekatan Mangkunegaran dengan Pemerintah Hindia Belanda oleh para pangeran prajurit. Padahal, di Kasunanan Surakarta pada waktu seusai perang Pangeran Dipanegara banyak pejabat yang ditangkapi dan di buang ke darah lain, termasuk RT Sastranegara ayahanda Ranggawarsita dan Sinuhun Paku Buwana IV. Agar para pangeran prajurit Legioen Mangkunegaran itu memiliki kerangka acuan pemikiran yang sama tentang hal keprajuritan, maka terciptalah Tripama dan Wirawiyata sebagai doktrin keprajuritan itu. Tripama ditulis dalam bentuk tembang macapat sebanyak 7 bait dalam satu pupuh dhandhanggula, dengan tiga tokoh wayang sebagai teladan: Sumantri, Kumbakrana, dan Basukarna. Sementara itu, Wirawiyata ditulis juga dalam bentuk tembang macapat sebanyak 56 bait dalam dua pupuh Sinom 42 bait dan Pangkur 14 bait. Karya-karya Sri Mangkunegara IV dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan Jawa dapat disebut sebagai karya sastra yang adiluhung dan edipeni.

Pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara IV (1853—1881), selama 28 tahun, negara Mangkunegaran tampil beda dengan penguasa sebelumnya. Perubahan mendasar terdapat pada bidang struktur organisasi birokrasi, kebijakan sebagai penguasa, penataan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan militer. Atas tampilan yang beda dengan penguasa pendahulunya inilah Sri Mangkunegara IV mampu mensejajarkan diri dan berdampingan dengan praja kejawaan besar yang ada pada waktu itu, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat, dan Pura Pakualaman. Pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara IV itu pulalah kehidupan sastra Mangkunegaran berjalan dengan baik, subur, dan semarak, serta penuh dengan gairah. Dari tangan raja kecil ini telah dihasilkan sebanyak 35 buah karya, yang dapat dikelompokkan menjadi: (1) Serat-serat Piwulang (Sastra ajaran), (2) Serat-serat Iber (Surat-surat Undangan), (3) Serat-serat Panembrama (Tembang-tembang penyambutan tamu), dan (4) Serat-serat Rerepen lan Manuhara (Pepatah, teka-teki, ungkapan cinta kasih, dan sebagainya). Sri Mangkunegara IV wafat pada tanggal 8 September 1881 dalam usia 72 tahun. Jasat beliau dimakamkan di Astana Giri Layu yang terletak di lereng gunung Lawu, kurang lebih 30 Km di sebelah timur kota Surakarta.

[Puji Santosa adalah peneliti bidang kebahasaan dan kesusastraan pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, pernah menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah (2006—2008), alumnus magister humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2002), dan kini menjabat sebagai Koordinator Jabatan Fungsional (Peneliti, Arsiparis, Pustakawan) di lingkungan Pusat Bahasa.]

Tuesday, January 4, 2011

Tinggal Kritik dan Penerbitan

Reporter: Ribut Wijoto
http://www.beritajatim.com/

Dalam satu tahun terakhir, 2010, ada beberapa fenomena baru dalam kesusastraan di Jawa Timur. Fenomena yang cukup menggembirakan. Kian tumbuh-matangnya kaum muda dalam peta kesusastraan. Tapi problem-problemnya tidak bergerak dari problem tahun-tahun sebelumnya. Problem yang semestinya mulai dicari jalan keluarnya pada tahun 2011 ini.

Infrastruktur kesusastraan di Jawa Timur sebenarnya amat menunjang. Setidaknya ada 4 indikator. Pertama keberadaan akademik, kedua keberadaan media massa, ketiga keberadaan even, dan keempat keberadaan komunitas kesenian.

Keberadaan kampus memberi kontribusi signifikan bagi tumbuh kembangnya kesusastraan di Jawa Timur. Fakta yang ada, mayoritas sastrawan merupakan jebolan kampus. Beberapa kampus mempunyai jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia . Semisal Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Jember. Ketiganya dilengkapi dengan beberapa kampus yang membuka jurusan Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, maupun jurusan Sosial Politik.

Di Unair ada teater Gapus dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar. Dua komunitas ini tak pernah kering menelorkan sastrawan-sastrawan muda. Hadirnya mahasiswa baru, tiap tahun, memberi peluang pemunculan nama-nama baru. Sementara itu, mahasiswa lama dan alumninya mematangkan diri di wilayah luar kampus. Sembari sesekali terlibat dalam diskusi di kampus.

Situasi serupa juga terjadi di Universitas Negeri Surabaya. Setidaknya ada dua institusi mahasiswa yang memiliki mobilitas tinggi dalam kesusastraan. Teater Institut dan Komunitas Rabu Sore. Penyair Muttaqin dan Umar Fauzi adalah dua produk Unesa yang tahun ini kian mendapat sorotan dari banyak kalangan.

Perkembangan di Universitas Petra pun menunjukkan gejala menggembirakan. Petra menghasilkan para penulis yang direspon baik oleh media-media Jakarta. Tercatat ada nama-nama prosais seperti Lan Fang, Ella Mart, Stevani Irawan, dan lain-lain.

Situasi di Universitas Negeri Jember tampaknya belum terlalu kondusif. Setelah sukses melahirkan penyair Mardi Luhung, belum ada sastrawan baru yang cukup berwibawa. Tapi kegiatan belajar menulis dan berdiskusi sastra tak pernah hilang dari Unej. Pada tahun-tahun mendatang, kita bisa mengharapkan munculnya sastrawan baru dari sana.

Sastrawan Jawa Timur juga dimanjakan oleh adanya banyak even kesusastraan. Semisal Festival Seni Surabaya, Festival Seni Cak Durasim, Lomba Naskah Drama Remaja, penerbitan buku oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Regional, Pertemuan Sastrawan Muda (HALTE SASTRA). Even-even tersebut dilengkapi dengan banyaknya even lain yang bersifat situasional. Semisal lomba baca puisi, lomba cipta puisi, sayembara cerpen, ataupun lomba naskah drama. Tidak dapat dipungkiri, kemampuan sastrawan kian terasah dengan adanya banyak lomba.

Kerja kreatif para sastrawan juga mendapat wadah yang secara reguler terbit, yakni di media massa . Ada lima media massa harian yang memuat tulisan sastra. Jawa Pos, Surabaya Post, Radar Surabaya, Duta Masyarakat, Kompas Jawa Timur. Belum lagi adanya beberapa majalah. Semisal majalah Mimbar Pembangunan Agama, Media Dinas Pendidikan, Kidung, Bende, dan lain-lain. Kecuali berperan sebagai media publikasi, media massa juga bermanfaat sebagai ajang silaturahmi. Para sastrawan bisa saling mengetahui sekaligus saling mengukur pencapaian estetik.

Pada kehidupan keseharian sastrawan sendiri, ada beberapa komunitas kesusastraan yang tidak berbasis kampus. Lokasi Balai Pemuda misalnya. Bagiamanapun juga, Balai Pemuda dengan Bengkel Muda Surabaya dan Dewan Kesenian Surabaya tetap representatif sebagai tempat berkumpulnya sastrawan. Di situ setidaknya ada Saiful Hadjar yang selalu siap diajak ngobrol perihal kesusastraan. Waktu telah membuktikan, banyak sastrawan muncul dari penggodokan di Balai Pemuda. Komunitas-komunitas lain muncul di beberapa daerah. Semisal Mojokerto, Sumenep, Bangkalan, Madiun, Ngawi, Tulungagung, Jombang, Malang, dan masih banyak lagi. Pada dataran ini, peran pesantren kerap kali tidak bisa diremehkan.

Sayangnya, situasi positif infrastruktur kesusastraan tersebut tidak ditunjang oleh dua problem utama. Yakni, wilayah penerbitan dan wilayah kritik sastra. Dibanding dengan Yogyakarta, Jakarta , Bandung , dunia penerbitan di Jawa Timur terbilang senyap. Penerbitan Jawa Timur terlalu disesaki dengan terbitan buku-buku agama, klenik, dan buku-buku memasak. Penerbitan buku sastra, boleh dikata, nyaris tidak ada.

Ada memang beberapa penerbitan tapi jumlahnya sedikit dan kerapkali tidak dipasarkan secara umum. Sebagai contoh, empat buku terbitan Festival Seni Surabaya (2010) dan buku terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur. Selebihnya hanyalah penerbitan dari komunitas tertentu. Biasanya dicetak secara terbatas. Kerap kali malahan dengan format stensilan.

Padahal semua tahu, bagi wilayah sastra, penerbitan buku adalah tolok ukur utama dari perhatian publik. Pemuatan di media massa harian dan majalah dibatasi beberapa kelemahan. Semisal puisi bertumpukan dengan aneka berita dan iklan. Pembaca puisi menjadi kurang konsentrasi. Harian juga bersifat temporal. Susah dalam pengarsipan.

Kita mengenal akrab karya Acep Zamzam Noor bukan dari pemuatannya di media massa harian tapi melalui buku-buku puisi yang diterbitkan. Begitu pula dengan puisi-puisi D Zawawi Imron, Abdul Hadi, Mardi Luhung, ataupun Budi Darma. Bandingkan pula membaca novel dalam cerita bersambung di koran dengan membaca dalam bentuk buku. Kenyamanan dan intensionalitasnya jauh lebih terjaga dalam bentuk buku.

Problem kedua adalah masalah kritik sastra. Sudah sering diungkapkan, kemunculan para sastrawan muda Jawa Timur tidak dibarengi dengan kemunculan kritik sastra yang memadai. Imbasnya, sastrawan seperti iseng sendiri. Jembatan antara tafsir karya dengan publik menjadi terputus. Pembaruan dan jelajah estetik pun tidak dapat teridentifikasi secara terperinci dan teoritis. Adanya beberapa kritikus semacam Shoim Anwar, Tjahjono kembar, dan beberapa akademisi tidak sanggup memenuhi kebutuhan kritik yang proporsional.

Tahun ini, 2011, dua problem utama kesustraan di Jawa Timur tersebut harus mulai dicari jalan keluarnya. Sebenarnya, potensi ke arah sana telah ada. Yang perlu dilakukan adalah memompa agar lebih komprehensif. Misalnya usaha penerbitan yang dilakukan oleh Nurel dan Alang di Lamongan. Sayangnya, usaha dua pemuda tersebut kerap terganjal oleh rendahnya modal. Juga beberapa penerbitan dari Mojokerto dan Malang. Sementara pada ranah kritik sastra, para akademisi dan sarjana sastra seharusnya mulai membikin penelitian dengan berpijak pada kondisi kekaryaan sastra yang lebih konkret.

Monday, January 3, 2011

KRITIK SASTRA PASCA-HB JASSIN

F Rahardi
Kompas Minggu, 23 April 2000

SEPENINGGAL HB Jassin, masyarakat sastra Indonesia merasakan adanya sebuah “kekosongan”. Sebenarnya kekosongan ini bahkan telah mulai disadari semenjak akhir tahun ‘70-an ketika sang “Paus” sastra kita mulai tidak aktif menulis kritik.

Memang tetap ada orang yang rajin mengulas karya sastra. Misalnya Korie Layun Rampan, Faruk, Umar Junus, Sapardi Djoko Damono, untuk menyebut beberapa nama. Tetapi, dibandingkan HB Jassin sosok mereka masih belum “dianggap” oleh khalayak sastra Indonesia. Konsumen sastra lalu merasa tidak ada lagi “guru” yang membimbing mereka. Para sastrawan pun kehilangan figur berwibawa yang bisa mensahkan kesastrawanan mereka. Demikianlah anggapan umum yang tercermin dari berbagai tulisan di media massa dalam rangka mengiringi kepergian kritikus dan dokumentator besar kita.

Saya justru berpendapat bahwa kondisi kritik sastra pasca HB Jassin sangat sehat. Kesusastraan Indonesia mampu hadir secara wajar lewat media massa, penerbitan buku maupun pembacaan puisi/cerpen. Tidak adanya figur tunggal yang berwibawa, telah membuat para sastrawan bisa tumbuh sendiri secara alamiah untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Sementara konsumen sastra bebas memilih bacaan sesuai selera dan kemampuan otak masing-masing.

Dari tahun 1966 sampai dengan tahun ’80-an pengesahan seorang sastrawan sebenarnya sudah dilakukan secara kolektif melalui majalah Horison. Meskipun HB Jassin masih duduk sebagai anggota dewan redaksi, namun perannya sebagai penentu pemuatan karya sastra di Horison sudah tidak dilakukannya sendiri sebab di sana juga ada Muchtar Lubis, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail dan kemudian Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri dan Hamsad Rangkuti. Pada kurun waktu itu, peran tunggal Horison sebenarnya juga tidak sehat bagi perkembangan sastra Indonesia.

* * *

Banyak kalangan yang tidak puas hingga cenderung mengirimkan tulisan-tulisan mereka ke lembar budaya koran atau menerbitkannya dalam bentuk buku. Memang pada waktu itu ada majalah Basis di Yogyakarta yang juga memuat puisi, tetapi kewibawaan Basis dianggap masih di bawah Horison. Terutama setelah jabatan redaktur puisinya ditinggalkan oleh Sapardi Djoko Damono. Dewasa ini, selain Horison juga ada jurnal Kalam yang kewibawaannya dianggap setara dengan Horison. Para sastrawan sendiri pun kini sadar bahwa kesastrawanan seseorang tidak perlu harus tergantung pada seorang redaktur media massa. Romo Mangun bisa menjadi sastrawan cukup dengan menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku. Sementara para sastrawan besar pun sekarang tidak lagi fanatik dengan Horison dan mau menyiarkan karyanya di koran-koran.

Dari sisi ini, ketiadaan figur tunggal sebagai pengesah seseorang untuk menjadi sastrawan jelas sangat positif. Mungkin kasus Linus Suryadi AG bisa menjadi contoh. Penyair prosa lirik Pengakuan Pariyem ini mula-mula diasah oleh Umbu Landu Paranggi “presiden” penyair Malioboro, sekitar akhir tahun ’60-an dan awal ’70-an Ketika itu HB Jassin sudah mulai kurang menulis kritik karena tengah sibuk menghadapi kasus cerpen Langit Makin Mendung dan juga mulai tertarik untuk menerjemahkan Al Qur’an. Kemudian pada akhir tahun ’70-an dan awal ’80-an. Linus menulis Pengakuan Pariyem. Ketika itu yang “mengorbitkannya” Umar Kayam serta Bakdi Soemanto. Dua-duanya dari UGM. Tetapi dalam waktu bersamaan Faruk juga dari UGM, membuat ulasan kritis terhadap karya Linus ini. Juga JB Kristanto yang waktu itu redaktur budaya Harian Kompas. Ada keberagaman pendapat dan itu sangat positif.

Agak berbeda dengan kondisi tahun ’50-an dan awal ’60-an ketika HB Jassin demikian berwibawanya hingga seseorang baru sah dianggap sebagai sastrawan apabila sudah dibicarakannya, atau karya-karyanya dimuat di majalah yang diasuhnya: Panji Pustaka (1942-1945), Panca Raya (1945-1947), Zenith (1951-1954), Kisah (1953-1956), Seni (1955), Bahasa dan Budaya (1952-1963) dan Sastra (1961-1964 dan 1967-1969). Ketika tahun 1973-1979 Ajip Rosidi menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Direktur penerbit Pustaka Jaya dan juga Ketua IKAPI Pusat, “kekuasaan” HB Jassin seakan-akan mendapat tandingan. Ketika itu Ajip dan kawan-kawan juga menerbitkan majalah Budaja Djaja (1968-1979) dan Bunga Rampai Laut Biru Langit Biru (1977). Sayang, kekuatan “tandingan” ini kemudian begitu saja ditinggalkan oleh Ajip.

* * *

PADA pertengahan tahun ’90-an silam, ramai dibicarakan ihwal “revitalisasi sastra pedalaman”. Pada kurun waktu itu memang bermunculan komunitas-komunitas sastra di luar Jakarta. Jurnal serta penerbitan sastra juga marak di berbagai kota. Komunitas-komunitas itu dengan sangat bersemangat berusaha menaklukkan dominasi pusat (Jakarta). Sesuatu yang sebenarnya sia-sia. Sebab pengertian pusat dan daerah atau pinggiran atau pedalaman sebenarnya sangat kabur. Cerpenis muda papan atas dewasa ini, misalnya Gus tf Sakai, Agus Noor, Indra Tranggono, Joni Ariadinata, untuk menyebut beberapa nama, mereka tidak tinggal di Jakarta. Memang mereka mempublikasikan karya-karya mereka terutama melalui media massa Jakarta, tetapi itu justru sebuah keunggulan.

Dengan demikian terciptalah kantung-kantung sastra yang mampu mengembangkan komunitas mereka sendiri secara sehat, tanpa campur tangan kritikus yang berwibawa. Mereka mendapatkan pengakuan sebagai sastrawan bukan karena karya mereka diulas oleh kritikus, tetapi lantaran rajin menulis, rajin mempublikasikan karyanya dan dibaca masyarakat. Di sini, ulasan atau komentar dari sang kritikus menjadi tak terlalu penting Mendambakan ulasan atau kritik, termasuk meminta pengantar dari sastrawan senior bagi buku yang mau terbit, adalah ciri sastrawan yang kurang pe-de.

Menaklukkan pusat (Jakarta), tidak perlu dengan cara marah atau merengek-rengek. Setelah era Balai Pustaka dan Pustaka Jaya berlalu, penerbitan buku sastra yang produktif juga datang dari daerah. Misalnya Bentang di Yogyakarta dan Tera di Magelang. Ini menandakan bahwa Jakarta memang bukan segala-galanya. Tetapi klaim bahwa sastra Riau adalah bagian (setara dengan) sastra dunia dan bukan bagian dari sastra Indonesia, terkesan hanyalah sebagai main-main, atau kesombongan yang luar biasa. Raja Ali Hadji memang sastrawan kelas dunia, tetapi dia menulis dalam bahasa Melayu Riau yang sekarang hanyalah bahasa daerah. Meskipun bahasa Indonesia (juga bahasa Malaysia) berasal dari bahasa Melayu, tetapi Melayu Riau bukan bahasa Indonesia atau Malaysia.

Samalah halnya dengan bahasa Latin bukan bahasa Italia. Bahasa Sansekerta lain dengan bahasa Hindi. Jasadipoera I dan II serta Ranggawarsita adalah sastrawan kelas dunia. Tetapi Pramudya, Rendra, Goenawan Mohamad menjadi sastrawan kelas dunia bukan karena mereka Jawa sebab mereka menulis dalam bahasa Indonesia.

Sutardji menjadi sastrawan kelas dunia bukan karena dia Riau, tetapi karena dia penyair Indonesia yang baik. Bahwa sastrawan Indonesia yang berkelas dunia itu mengadopsi kekuatan sastra daerah, itu sah-sah saja, tetapi klaim itu bukannya dibalik.

Sastra Jawa adalah sastra dunia, karenanya Pram, Rendra dan Goenawan lalu berkelas dunia pula. Kenyataannya, sastrawan Jawa yang kuat dewasa ini, semuanya menulis dalam bahasa Indonesia, dan hampir semuanya tinggal di Jakarta, “pusat” Republik Indonesia. Saya setuju bahwa “pusat” sastra bukan identik dengan Jakarta tetapi dengan figur sastrawan kuat. Mengapa di Padang dan sekitarnya (Jambi, Pekanbaru) banyak lahir cerpenis kuat? Karena di Padang bermukim AA Navis. Kehadiran seorang Navis, bagaimanapun mendatangkan “aura” di sekitarnya. Aura itu bisa saja berakibat ke pemujaan atau konflik yang lalu menjadi pemicu persaingan dalam bentuk kreatifitas. Minimal produktivitas. Kelahiran banyak cerpenis kuat di Yogya, antara lain juga disebabkan di sana ada Umar Kayam dan Kuntowijoyo. Jakarta, pada akhirnya akan lebih menjadi penyedia fasilitas, sarana dan prasarana. Dan apabila nantinya di daerah pun tersedia fasilitas yang sama, maka Jakarta menjadi bukan apa-apa lagi. Lebih-lebih kalau semakin banyak figur-figur sastrawan kuat yang bersedia untuk “mudik” danmeninggalkan Ibu Kota.

Peran tunggal Jakarta, yang merupakan “warisan” dari peran tunggal HB Jassin, mestinya memang menjadi tidak berlaku lagi. Figur-figur kuat dengan kantung-kantung sastralah yang akan menjadi penentu arah perjalanan sastra di Indonesia. Figur-figur sastrawan kuat yang saya sebutkan di atas, bisa tidak pernah menulis kritik untuk mengesahkan kehadiran seorang sastrawan baru. Tetapi mereka “menguasai” institusi. Goenawan Mohamad misalnya, adalah Pemred Tempo dalam kurun waktu yang cukup lama. Sekarang ini, setelah lengser dari Tempo dia “menguasai” Komunitas Utan Kayu, dengan jurnal Kalamnya. Sutardji dan Taufiq Ismail “memerintah” Horison. Sementara Sapardi Djoko Damono dan Faruk adalah figur yang disegani di UI serta UGM.

Pusat-pusat sastra itu juga berupa lembar budaya di koran-koran, yang biasanya juga diasuh oleh seorang sastrawan. Di sinilah sebenarnya pengesahan seseorang sebagai sastrawan terjadi. Figur-figur yang menguasai institusi itulah yang secara tidak langsung berperan membangun opini publik terhadap kesastrawanan seseorang. Dengan demikian “demokratisasi” sastra itu terjadi. Linus Suryadi yang pernah disahkan oleh Umar Kayam dan Bakdi Soemanto, telah ditanggapi dengan sikap kritis oleh Faruk dan JB Kristanto. Sutardji yang di awal tahun ’70-an mengejutkan publik sastra Indonesia pernah dicap sebagai bukan penyair oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Kantung-kantung sastra dengan figur kuat di dalamnya itulah yang akan ikut menentukan apakah seseorang itu merupakan sastrawan “sejati” atau hanya sastrawan kelas Dewan Kesenian Jakarta, kelas Teater Utan Kayu, kelas Horison kelas Kompas, kelas Fakultas Sastra UGM dan sekadar menjadi “medioker”. Sastrawan sejati pasti mendapatkan pengakuan dari semua institusi dengan figur-figur di dalamnya tadi Itulah yang saya sebutkan sastra kita justru lebih sehat sepeninggal HB Jassin.

* * *

KRITIK sastra, baik kritik apresiatif maupun analitik, sebenarnya lebih ditujukan untuk keperluan para pembaca sastra. Kritik analitik sekaligus juga bermanfaat bagi perkembangan ilmu sastra. Kalau sang sastrawan masih hidup dan dapat memanfaatkan kritik yang ditujukan pada karyanya, maka itu hanyalah merupakan sebuah efek samping saja. Sayang sekali bahwa kritik-kritik yang lahir sekarang ini, nadanya masih sama dengan kritik model HB Jassin. Pengertian kritik apresiatif lebih banyak diterjemahkan sebagai sekadar jembatan yang berusaha menuntun para pembaca sastra.

Kritik-kritik tajam yang pernah lahir dari tangan Subagio Sastrowardojo tidak pernah ada yang tertarik untuk serius melanjutkannya. Tampaknya budaya sungkan yang menjadi trend selama Orde Baru juga merasuki kalangan sastrawan. Kritik apresiasi lalu menjadi kritik basa-basi. Isinya sekadar puja-puji. Atau, apabila kritik itu ditujukan ke figur yang tidak disukainya, maka yang lahir adalah caci-maki. Puja-puji atau caci-maki jelas tidak akan bermanfaat bagi publik sastra. Ketika Subagio Sastrowardojo menulis tentang pengaruh penyair Spanyol Federico Garcia Lorca terhadap balada-balada Rendra, maka terciptalah sebuah kritik yang imbang. Tidak terkesan caci-maki maupun puja-puji.

Ketidakberanian kritikus untuk melontarkan kritik tajam, sebagian juga disebabkan oleh sikap para sastrawan besar yang cenderung “antik kritik”. Kecenderungan ini menurun ke sastrawan yang lebih muda dan seterusnya. Dugaan saya kecederungan demikian merupakan “warisan” dari kritik apresiatif HB Jassin yang selama kurun waktu 30 tahun mendominasi dunia sastra Indonesia. Kritik-kritik Jassin memang cenderung “lunak”. Padahal dalam dunia modern, kritik juga berfungsi mendidik agar pembaca juga mampu bersikap kritis terhadap bacaannya. Sama halnya dengan kritikus restoran dan kritikus film. Sehebat-hebatnya sebuah film, tidak pernah bisa memboyong seluruh katagori penghargaan yang disediakan. Hingga selain memuji, kritikus mestinya juga mengecam kelemahan-kelemahan yang ada.

Termasuk salah satu kelemahan para kritikus kita sekarang ini adalah kebiasaan mereka yang baru mau menulis apabila ada pesanan. Entah pesanan dari redaktur koran/majalah, dari penerbit buku, dari panitia seminar atau lokakarya dan lain-lain. HB Jassin melakukan pendokumentasian sastra Indonesia dan menulis kritik tanpa ada seorang pun yang memesannya dan memberinya honor. Inilah kelebihan Jassin.

Meskipun banyak kalangan yang melecehkan kritik Korie Layun Rampan dan menganggapnya hanya sebagai ulasan dangkal, tetapi Korie terus rajin menulis tanpa peduli ada atau tidak ada yang memesannya. Lagi pula, kritik-kritik Korie tetap punya manfaat bagi keperluan apresiasi sastra kepada khalayak yang lebih umum. Sementara kritik-kritik yang ditulis Umar Junus, Faruk dan Sapardi Djoko Damono lebih ditujukan kepada para peminat sastra yang lebih serius. Mungkin memang benar sinyalemen bahwa sastra Indonesia mengalami kekosongan kritik sepeninggal Jassin. Kalau pengertian kritik masih mengacu ke ulasan terhadap karya seseorang. Tetapi, fungsi kritikus tidak hanya itu. Dengan menjadi redaktur budaya koran, menjadi pengasuh rubrik cerpen dan puisi, menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian, seseorang sudah bisa berperan ikut menentukan arah perkembangan sastra Indonesia. Dan sastrawan yang baik akan terus menulis dan menyiarkan hasil karyanya, tanpa peduli ada atau tidak ada yang mengulas dan mengritiknya. * * *

F. Rahardi, Penyair, Wartawan
Sumber: http://frahardi.wordpress.com/2010/10/20/kritik-sastra-pasca-hb-jassin/

Sunday, January 2, 2011

Memoar: “juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]

“Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar.” H.B. Jassin
Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah.

Sebagian kisah hidupnya yang disampaikan lewat Leila S. Chudori ini adalah atas permintaan TEMPO. TANGGAL 2 September 1970. Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta Pusat penuh sesak. Ada wartawan, seniman, ulama, mahasiswa, pelajar. Semua memandang saya. Hakim Ketua Anton Abdurrachman Putra, S.H. mengangkat mukanya dan bertanya, “Saudara Jassin, kapan Anda siap membacakan pembelaan Anda?” “Sekarang.”

Suara saya meluncur, tegas dan pasti. Hari itu juga saya memang mantap membacakan pembelaan cerpen Langit Makin Mendung karangan Ki Panji Kusmin. Sudah saya siapkan sejak keributan meletus di Medan, sepanjang 100 halaman, setelah cerpen yang dimuat di majalah Sastra itu beredar. Saya berdiri sambil membaca. Saya lihat Hamka, saksi yang memberatkan, mendengarkan dengan saksama.

Ruang pengadilan begitu hening. Seluruh ruangan hanya terisi oleh suara saya yang bergelombang dan penuh keharuan. Saya amat yakin bahwa dunia imajinasi dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Dan hingga kini, saya tetap percaya bahwa imajinasi tak layak diadili dan disetarakan dengan dalil agama yang punya sejarahnya sendiri.

Hampir tiga jam saya membacakan pleodoi bagi imajinasi pengarang yang hingga kini belum pernah saya lihat batang hidungnya itu. “Apakah kita harus memaksa seniman mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan perasaannya, dan melumpuhkan pikirannya buat hal-hal yang terjadi di sekitarnya?” tanya saya dalam pembelaan itu. Akhirnya hakim menjatuhkan vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun bagi saya. Tapi hingga kini saya tak sempat mengalami pengapnya empat tembok mati itu.

Saijah dan Adinda Jika saya tengok ke belakang dan mengenangperistiwa demi peristiwa satu per satu, rasanya saya sedang membuka dokumen kehidupan. Lihatlah itu, si Jassin kecil yang sedang bermain-main di pekarangan di suatu sore pada 1924. Kala itu saya baru tujuh tahun. Kami berdua, Ibu dan saya, tinggal di Gorontalo. Kata Ibu, Ayah sedang bekerja di Balikpapan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa mereka sedang berpisah untuk sementara. Tiba-tiba seorang tuan berdiri tegak di pekarangan. Ia mengenakan helm dan melangkah menghampiri saya. Dipeluknya tubuh saya. Saya memberontak minta dilepaskan. Ternyata, tuan itu adalah ayah saya. Rupanya, Ayah dan Ibu memutuskan untuk rujuk.

Hari-hari bersama Ayah kembali adalah hari penuh disiplin. Sebagai anak tunggal saat itu kakak perempuan saya, Hapsah, meninggal di Sangihe — saya diharapkan Ayah berhasil dalam pendidikan. Ayah saya sendiri seorang otodidak. Bacaannya sangat luas, dari fiksi hingga ilmu bumi dan alam. Meski ia bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) antara 1902 dan 1905, ia tidak memiliki ijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School). Tapi karena bacaannya yang luar biasa, ia mampu ujian dan lulus Klein Ambtenaar Examen (ujian persamaan HIS). Mungkin karena itulah Ayah lebih menyukai saya belajar atau membaca buku daripada bermain.

Ayah benar-benar mengondisikan saya untuk terus-menerus akrab dengan bacaan. Tak jarang ia minta saya membacakan koran-koran berbahasa Belanda ketika ia beristirahat makan siang. Selain koran Belanda, Ayah juga berlangganan Suara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), majalah dari partai yang didirikan oleh dr. Soetomo. Itu sebetulnya terlarang bagi seorang kerani BPM yang baik. Lemari buku Ayah selalu saya buka. Saya lalap, termasuk yang terlarang. Bayangkan, Roos van Batavia dan Melati van Agam sudah saya baca, padahal itu bukan bacaan anak-anak.

Karya sastrawan Prancis, Eugene Sue, yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda jadi De Verborgenheiden van Parijs (Rahasia-Rahasia Kota Paris) saya lahap pula. Ada lagi empat serial buku Sexuele Zeden in Woord en Beeld (Tingkah laku seksual dalam Kata dan Gambar) yang diam-diam saya nikmati pula …. Karena di kota saya tidak ada HIS, Ayah menyuruh saya berguru pada seorang istri kerani, teman Ayah. Dan ketika HIS didirikan di Gorontalo pada 1926, saya langsung masuk kelas 2. Kegemaran saya membaca buku kemudian ditunjang oleh fasilitas 2 macam perpustakaan: perpustakaan untuk anak-anak dan untuk umum.

Dari perpustakaan umum sering pula saya meminjam buku untuk Ayah. Pelajaran bahasa di sekolah itulah yang kemudian memperluas perhatian saya pada sastra. Ketika itu anak-anak HIS diwajibkan menghafal sajak-sajak Belanda dan membacakannya di muka kelas. Terkadang kami diperintahkan bercerita dalam bahasa Belanda. Maksudnya agar bisa bersentuhan langsung dengan bahasa tersebut tanpa terlalu dipagari tata bahasa. Kami juga belajar bahasa Melayu.

Buku bacaan bahasa Melayu kami yang pertama adalah Rempah-Rempah. Melalui bacaan ini saya masuk ke dalam dunia binatang yang mampu berkomunikasi. Baru kemudian, ketika saya sudah kuliah di Fakultas Sastra, saya ketahui bahwa cerita-cerita itu diambil dari Hitopadesya, buku sastra anak-anak yang sangat terkenal dan tersebar di banyak negara di dunia.

Buku lain yang melekat dalam diri saya ketika anak-anak ialah karya klasik Melayu tulisan Arab, Hikayat si Miskin. Ketika saya duduk di kelas 4 HIS, saya berkenalan dengan sebuah cerita yang di kemudian hari terus-menerus meringkus perhatian saya: Saijah dan Adinda.

Kepala sekolah membacakannya di muka kelas dengan mimik dan intonasi yang sesuai dengan tuntutan cerita. Saijah dan Adinda merupakan bagian dari roman besar Max Havelaar, sebuah roman serius karya pengarang Belanda, Multatuli. Saat itu kami belum dapat menangkap seluruh keindahan karya dalam bahasa Belanda itu. Tapi saya sudah dapat merasakan kesedihan yang diungkapkannya.

Seingat saya, di situlah saya jatuh cinta pada buku-buku sastra. Ketika suatu kali saya jatuh sakit, Ayah bertanya apa yang saya inginkan sebagai oleh-oleh. “Buku,” jawab saya serta-merta. Ia tersenyum dan pulang membawakan buku-buku penuh gambar. Meski saya sedang sakit, betapa bahagianya saya membaca buku-buku itu.

Ketika di HIS itu pula saya belajar menulis. Kami sering dibawa piknik oleh guru-guru, dan pulangnya diwajibkan menulis tentang perjalanan itu. Tulisan yang dianggap baik dibacakan di muka kelas. Dan, ah, si Jassin kecil ketika itu dikenal sebagai voorlezen, si tukang baca cerita yang baik.

Bayangkan, waktu itu saya baru kelas 4 HIS. Saya digandeng untuk membacakan cerita di muka anak kelas 5. Saat itu saya juga mencoba-coba menulis puisi. Lahirnya puisi ini karena kekaguman saya pada seorang gadis manis bernama Mastinah. Ia bersuara merdu dan pandai mengaji. Saya tidak mengenalnya, hanya melihat fotonya di album. Ada perasaan untuk berkomunikasi dengannya. Tapi saya tak tahu alamatnya. Maka, lahirlah puisi itu.

Bayangkan, ketika itu saya baru berusia 12 tahun. Tapi celaka. Ayah mencurigai saya. Saya sangat takut dan malu. Ketika itu saya tengah berlayar. Maka, cepat-cepat saya buang sajak itu ke laut. Waduh, sayang sekali …. Sekitar tahun 1933, saya mulai menginjak HBS Medan. Pengetahuan dan kecintaan saya terhadap sastra mulai menukik. Saya berkenalan dengan kesusastraan Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Saya harus membaca sekitar 24 buku sastra Belanda, dan untuk bahasa lainnya masing-masing delapan buku.

Saya menelaah buku-buku itu dengan intens, dari persoalan plot hingga karakterisasinya. Inilah perjumpaan awal saya dengan pelajaran evaluasi karya sastra secara akademis. Helai pertama dokumen kehidupan saya di HBS melontarkan saya pada kenangan seorang guru sastra Belanda, Korpershoek. Seorang yang gagah, menarik, dan bersuara bagus. Dialah yang memperkenalkan saya pada pendekatan kritik sastra dan cara mendalami karya-karya klasik. Dia pula yang memperkenalkan saya pada De Tachtigers Beweging, Gerakan 80-an di Belanda. Begitu kagum saya pada pengetahuan sastranya, hingga saya ingin membagi kesenangan saya dengannya.

Saat itu, saya sudah menikmati majalah sastra Pujangga Baru. Nama-nama Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sanusi Pane menumbuhkan kekaguman saya karena karya-karya mereka yang tak kalah dengan sastra Belanda. Maka, dengan penuh semangat, saya tunjukkan majalah itu kepadanya. “Tuan, kami juga memiliki Tachtiger Beweging di Indonesia.” Tapi si tuan hanya melirik dengan ekor matanya. Aduh, sakit hati saya dengan sikap guru yang saya kagumi itu. Rasa nasionalisme saya terpukul. Saya sangat mencintai tanah air dan bahasa saya. Kenapa ia tak menghargai karya sastra Indonesia? Sejak itulah saya bertekad bekerja penuh bagi sastra Indonesia.

Rupanya, kekecewaan terhadap Korpershoek ada hikmahnya, menumbuhkan tekad pada diri saya. Lembaran dokumen kehidupan saya selanjutnya adalah surat-surat Leila. Ah, mengingat Medan artinya mengingat Leila. Seorang gadis Tapanuli yang besar di Solok. Seorang gadis yang bertutur lembut dan penuh perhatian. Seorang yang memiliki senyum yang tetap mengikuti saya hingga ke Gorontalo. Saya bertemu dengan Leila di perkumpulan pemuda Inheemse Jeugd Organisatie. Saya sekretaris perkumpulan itu, sedangkan Leila anggotanya. Mulanya biasa saja. Di pertemuan-pertemuan itu, kami sering berbincang. Meski perhatian Leila tumpah pada saya, saya belum menyadari arti Leila hingga saya ke Gorontalo.

Hubungan kami lebih banyak melalui surat-menyurat. Surat-surat itu saya kirim dari Jakarta, karena pada 19 itu saya sudah pindah ke Jakarta, sementara Leila mengirimkan balasannya dari Medan. Surat-menyurat itu mengungkapkan perasaan-perasaan kami. Suatu hari di akhir 1941, ada ketukan di pintu rumah. Ah, senyum Leila mengembang. Kami pun mengisi pertemuan itu dengan jalan-jalan, naik perahu di Tanjungpriok di bawah sinar bulan.

Saat itu, kami belum membicarakan soal pernikahan. Yang saya ingat betul adalah “rasa senang”. Kemudian Jepang datang, dan hubungan kami pun terputus. Dan, ah, orangtuanya tak dapat menunggu keadaan yang tak pasti itu. Akhirnya, ia dikawinkan dengan orang lain. Hati saya runtuh. Itulah sebabnya, barangkali, saya tak terlalu bahagia untuk mengenang hal yang sudah lalu.

Jadi Wartawan Medan, bagi saya, juga mengingatkan pada seorang tokoh pers nasional, Adinegoro. Pada akhir 1930-an, semangat pemuda sedang meluap-luap menginginkan kemerdekaan. Ketika itu Adinegoro memimpin dua penerbitan, yaitu harian Pewarta Deli dan majalah Lukisan Dunia. Saat itu saya sudah 17 tahun dan mulai menulis di beberapa media, termasuk di dua penerbitan yang dipimpin Adinegoro itu. Namun, saat itu saya belum membahas sastra secara intens.

Satu-satunya esei yang saya tulis saat itu, tentang aliran romantik. Ketika saya duduk di kelas III HBS, timbul keinginan belajar jurnalistik. Saya ingin membuktikan kemampuan saya menulis. Kebetulan, saya libur dua bulan. Malam-malam, mata saya terbuka lebar memikirkan ide baru ini. Maka, esok paginya, dengan celana pendek, saya bergegas ke rumah Pak Adinegoro. Saya ketuk pintu rumahnya. Ia sendiri yang keluar mengenakan kimono. Rupanya, ia baru siap hendak mandi. “Saya ingin belajar jurnalistik dari Tuan.” “Wah, saya tak punya waktu. Tapi, kalau mau langsung praktek, datang saja ke kantor. Kau bisa belajar menerjemahkan berita-berita yang dikirim kantor berita asing, dan menyusunnya menjadi tulisan. Bagaimana? Kapan mau mulai?” “Sekarang, Tuan,” jawab saya mantap.

Hari itu juga saya berkenalan dengan dunia jurnalistik. Dimulai dari menerjemahkan macam-macam berita dari kantor berita Aneta (yang kemudian menjadi Antara), kemudian belajar memperbaiki dan mengedit hasil laporan wartawan. Saya juga belajar membuat reportase, stenografi, dan sekaligus memotret. Lama-kelamaan saya dipercaya ikut menonton review film-film baru. Karena saya lagi magang, saya tak mendapat gaji. Tapi saya merasakan manfaat jurnalistik yang luar biasa. Terlebih lagi setiap kali tulisan saya dimuat, saya mendapatkan honorarium satu ringit — jumlah yang besar pada masanya.

1939 Masa HBS usai. Sebuah telegram dari Gorontalo dan kiriman uang 75 gulden menginginkan kedatangan saya. Dalam perjalanan pulang ke Gorontalo, saya mampir di Batavia, menginap di rumah keluarga Daud di kawasan Petojo. Saya ajukan keinginan saya yang sangat, untuk bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana, seorang sastrawan yang namanya sudah menjulang saat itu.

Pertemuan pertama mengesankan. Kami berbicara, berbicara, dan berbicara. Kami sama-sama saling melontarkan pendapat tentang majalah Pujangga Baru, tentang kesusastraan, dan tentang bahasa. Bahkan, kami sudah sempat terbelit dalam sebuah perdebatan. “Bahasa Belanda lebih enak digunakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia? Tidak,” kata Takdir dengan tegas dan mata berkilat.

Kilat mata yang masih terus terlihat hingga kini di usianya yang sudah mencapai 82 tahun. Saya bersikeras bahwa bahasa Belanda lebih enak di lidah. Ketika saya berlayar menuju Gorontalo, sesuatu yang lucu terjadi. Rupanya, surat Takdir juga ikut berlayar di kapal yang sama — begitu saya mendarat, saya menerima suratnya. “Di Balai Pustaka ada lowongan untuk pendidikan Hoofdredacteur (pimpinan redaksi). Jika Tuan berminat, datanglah,” bunyi surat itu.

Namun, kegembiraan saya akan tawaran itu harus saya tunda karena keinginan Ayah yang berlainan. Saya harus tinggal beberapa lama di Gorontalo, untuk magang di kantor asisten residen. Sebuah pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan. Mengayuh sepeda, bermandi peluh pulang-pergi kantor. Dan setiap akhir bulan, saya hanya menonton rekan-rekan pegawai menghitung lembaran gaji mereka. Tapi, tentu banyak juga yang saya pelajari di kantor ini. Antara lain, bagaimana caranya berkorespondensi yang baik dan melakukan pengarsipan.

Rupanya, kerja administratif inilah yang kemudian membekali saya belajar mendokumentasikan karya-karya sastra di kemudian hari. Tapi, saya merasa itu bukanlah tempat saya. Saya lelah. Dan saya harus ke Batavia untuk bekerja di Balai Pustaka. Ketika akhirnya saya sampaikan keinginan yang tak tertahankan ini, Ayah tak membantah. Maka, saya pun berlayar kembali ke Batavia. Batavia Pagi hari, 1 Februari 1940.

Di kantor redaksi Balai Pustaka, Takdir mengerutkan keningnya, “Tuan siapa?” tanyanya memandangi pemuda berjas dan berdasi yang berdiri di hadapannya. Saya tunjukkan suratnya setelah berlayar bersama saya ke Gorontalo, barulah wajah Takdir mengembangkan senyum, “Ah, ya, ya, ya….” Hari itu juga, saya duduk bersama-sama. Tulis Sutan Sati, Armijn Pane, Aman Dt. Modjoindo, Nur Sutan Iskandar, dan, tentu saja, Takdir Alisjahbana. Saya segera ikut dalam tim untuk meresensi buku-buku yang kemudian dikirimkan ke berbagai media.

Resensi ini saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan semangat saya mendokumentasikan tulisan-tulisan itu baru terlihat gunanya kemudian ketika semuanya dikompilasikan menjadi Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang kemudian mencapai empat jilid. Armijn juga sangat bersemangat memperkenalkan saya kepada banyak pemikiran Barat. Terutama dengan Freud, nama yang begitu banyak mempengaruhi penulisan Armijn dalam romannya, Belenggu, karya sastra Indonesia pertama yang menggunakan segi psikologi dalam.

Armijn juga menganjurkan saya membaca buku-buku filsafat. Begitu lengkapnya perpustakaan Balai Pustaka, hingga saya berkesempatan menjelajahi pemikiran-pemikiran Schopenhauer, Nietzsche, dan beberapa pemikir eksistensialis. Saya mempelajari intensitas hidup Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra. Inilah pemberontakan terhadap moral dan pendidikan di Eropa yang saat itu dibelit oleh doktrin agama Kristen.

Lalu, saya baca pula Schopenhauer. Dia bertentangan dengan Nietzsche. Dunia ini maya, demikian Schopenhauer. Tidak, tolak Nietzsche, dunia ini bukan impian. Dunia ini kita. Manusia. Kitalah yang memutar dunia ini. Sementara itu, eksistensialisme mendarat di Indonesia sekitar tahun 1945. Saya pun berkenalan dengan Sartre, Camus, juga pemula-pemulanya.

Tentu saja, tak hanya pemikiran Barat yang saya geluti masa itu. Saya juga membaca filosof India, seperti Krishnamurti. Kebetulan, waktu itu saya bergabung dalam perkumpulan teosofi Blavatsky Park. Apa yang saya dapatkan dari teosofi? Perasaan bebas. Kebebasan. Suatu perasaan yang amat langka didapatkan dan diberikan. Satu hal yang saya ingat ialah: janganlah kita memaksakan anak-anak kita untuk menjadi apa yang kita kehendaki. Kenapa? Lihatlah alam sekitar kita. Begitu ragam pohon-pohon yang bertumbuhan di sekeliling kita. Ada pohon kelapa, ada pohon mangga, dan yang lain-lain. Mereka semua tumbuh secara alami menurut kodratnya. Tak bisa kita paksakan pohon-pohon ini menjadi pohon yang kita kehendaki. Jalan pikiran ini sangat meresap ke dalam diri saya.

Selain kebebasan, saya juga belajar menemukan diri sendiri. Saya belajar membebaskan dan menempatkan diri dalam hidup ini. Saya belajar banyak dari perkumpulan ini. Jadi, inilah dokumen kehidupan saya di tempat saya mengembara dalam berbagai alam pemikiran. Dari kiri, kanan, utara dan selatan. Saya larut di dalamnya, tapi terlepas dari pertentangan-pertentangan di antara mereka. Karena itu, semua pertentangan di antara berbagai pemikiran filsafat itu tetap harmonis dalam diri saya. Karena sikap saya pada pemikiran-pemikiran ini tak lepas dari keinginan untuk mempelajari perkembangan zaman.

Saya tak ingin seperti Sutan Takdir yang, menurut saya, tak mau menghargai perkembangan-perkembangan generasi muda. Misalnya sikap Takdir yang sulit sekali menghargai penemuan-penemuan dalam sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Selain sikap ingin mengikuti perkembangan zaman, keharmonisan dalam diri ini juga didukung oleh penghayatan saya terhadap isi Al Quran.

Rasanya, pemikiran Barat mana pun tak akan mengganggu religiusitas saya. Ini adalah sebuah proses penghayatan yang sangat berbeda. Saya sangat yakin bahwa apa yang tersebut dalam Al Quran itu adalah ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Lihatlah, isinya begitu luas. Begitu tinggi. Begitu dalam. Dan bahasanya sangat indah. Tak ada satu bagian pun yang kurang dari bagian yang lain dalam kebenaran dan keindahannya.

Jadi, biarlah Nietzsche mengatakan “Tuhan telah mati”, atau Lekra memaki-maki saya. Tapi, isi tubuh dan batin saya sangat penuh dengan keyakinan saya pada ayat-ayat Allah. Chairil Anwar Seperti halnya dengan Leila, pertemuan saya dengan Chairil terjadi di perkumpulan kami di Medan. Bedanya, saya sudah melihat nama Chairil tercantum sebagai anggota redaksi Ons MULO Blad. Tulisan-tulisan Chairil, masa itu, berbentuk prosa. Saat itu Chairil baru 14 tahun, sedang saya lima tahun lebih tua.

Di perkumpulan kami yang mengorganisir kegiatan perpustakaan dan olahraga, saya bertemu dengan tubuh kurus itu. Ia senang sekali bermain pingpong. Ia selalu yakin pasti menang. Setiap kali mengalahkan lawan, Chairil berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan. Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar, pikir saya.

Perkenalan saya dengan Chairil selanjutnya terjadi di Batavia. Buat banyak orang, terutama para peminat sastra, mungkin ini satu dokumen yang terpenting dalam hidup saya. Ketika itu Jepang sudah masuk. Saya dipindahkan ke majalah Panji Pustaka yang dipimpin Armijn Pane. Sedangkan saya menjabat wakil pemimpin redaksi. Saat itu saya juga sedang getol menjelajahi toko buku Van Dorp dan kawasan Senen mencari buku-buku bekas.

Buku-buku itu saya kumpulkan karena saya mulai punya keinginan untuk membangun perpustakaan sendiri dan tidak bergantung pada perpustakaan Balai Pustaka belaka. Saya ingat, di antara banyak buku yang saya beli setiap saya terima gaji itu ada tiga buku bahasa Jerman yang saya sukai. Yang pertama berjudul Naturalismus, yang mengulas aliran naturalisme yang kedua Um Banne des Expressionismus yang berbicara tentang ekspresionisme. Sedangkan yang ketiga, Neue Sachlichtheit, yang mendiskusikan kesederhanaan baru.

Saya sangat tertarik pada ekspresionisme yang lebih langsung menyuarakan batin. Berbeda dengan naturalisme yang memberikan segala detail tentang pikiran dan kenyataan dari kelahiran hingga kematian.

Suatu siang, di sekitar 1943. Saya sedang duduk mengamati naskah, ketika seorang kurus, bermata merah, dan berambut kusut memasuki Balai Pustaka. Disodorkannya kertas-kertas itu. “Nih, sajak saya,” kata pemuda kurus itu yang tiada lain dari Chairil Anwar, dengan suara lantang. Nisan untuk Nenekanda Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta.

Saya tatap wajah kurus dan mata merah itu. Sepasang mata galak yang nyala dan sarat dengan keinginan. “Bagus sekali,” kata saya. Lalu kami mulai membicarakan sajak yang ditulis pada Oktober 1942 itu. Itulah perkenalan saya yang lebih erat dengan Chairil Anwar. Saya usulkan sajak itu dimuat di Panji Pustaka. Namun, Armijn menolaknya karena individualisme Chairil yang terlalu dikedepankan. Padahal, saat itu Jepang sedang sibuk menjejalkan slogan kebersamaan Asia Raya. Dan, menurut Armijn, elemen kebaratan Chairil yang tampil jelas dalam sajaknya tidak tepat dimasyarakatkan. Ini sangat saya sayangkan. Saya merasa sajak Chairil perlu diketahui publik.

Belakangan saya ketik sajak-sajaknya yang berjumlah 20 buah itu rangkap enam. Saya sebarkan pada Takdir, Mohammad Said, Sutan Sjahrir (yang tiada lain paman Chairil) dan teman-teman lain, sedang aslinya saya simpan. Suatu hari Chairil menelepon. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku. ” Saya tanyakan buat apa ia meminta kembali sajak tulisan tangannya itu, karena saya ingin menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan-nyimpan? Itu sajak kan aku punya.” Saya jawab, “Kalau demikian maumu, baiklah.” Sajak tulisan tangan itu saya kembalikan.

Tapi sampai sekarang saya masih menyimpan sajak-sajak tulisan tangan Chairil yang lain. Kenapa saya begitu mempertahankan kelebihan sajak-sajak Chairil? Saya melihat pengaruh ekspresionisme dalam karyanya. Lihatlah baris-baris yang terdiri dari satu atau dua kata dalam sajak yang berjudul 1943: Mengaum! Mengguruh! Dalam buku Drift en Bezinning (Nafsu dan Pengendapan) yang berbicara mengenai persajakan dalam kesusastraan Belanda, diulas sajak-sajak yang harus melalui proses pengendapan dan sublimasi.

Saya kira sajak-sajak demikianlah yang mewarnai karya Chairil. Bait-baitnya tak hanya sekadar letusan-letusan saja. Ia tak akan pernah puas dengan sajak yang sekali jadi. Berhari-hari ia bisa berjalan dengan satu kata, lalu dikombinasikannya dengan kata lain. Ia pikirkan. Ia rasakan. Ia matangkan. Semua harus melalui proses pengendapan yang lama sekali. Kesan saya ini juga semakin kuat ketika terjadi insiden yang tak pernah saya lupakan.

Di tahun yang sama, Jepang mendirikan sebuah pusat kebudayaan. Sementara itu, dengan terbentuknya Himpunan Sastrawan Angkatan Baru, Armijn Pane dan kawan-kawan lain sering mengadakan diskusi sastra. Dalam diskusi itu saya mendapat giliran pertama berceramah. Pada waktu itu, saya masih agak terpengaruh oleh slogan Jepang yang menekankan segalanya untuk Asia Timur Raya. Saya katakan bahwa kita harus memberikan semangat perjuangan melalui karya sastra. Yang saya sebutkan sebagai contoh adalah sajak-sajak Ipih Hadi atau Asmara Hadi. Apa yang terjadi? Malam itu juga Chairil mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.” Dia lantas melompat ke papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” katanya lantang.

Aku. Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang…. Terjadi perdebatan panas. Chairil menganggap sajak yang saya jadikan contoh tidak jujur keluar dari hati penciptanya. Lama-kelamaan saya terdiam juga dan mulai melihat kebenaran Chairil. Saya sangat menyesal telah membuat ceramah seperti itu. Rosihan Anwar yang saat itu hadir memberi komentar melihat sepak terjang debat Chairil, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang . . . ” Chairil dengan “keakuan”-nya memang menunjukkan ketakpeduliannya.

Buyung Saleh bahkan mengatakan sikap Chairil dalam sajaknya tak baik dan itu hasil dari orang yang tak mau berpikir panjang. Sajak Chairil yang dianggap individualistis ini ditolak oleh harian Asia Raya karena dianggap tidak sesuai dengan cita-cita Asia Timur Raya ketika itu. Akhirnya sajak Aku dimuat di Panji Pustaka. Namun, judulnya terpaksa diganti jadi Semangat. Buat saya, hal itu justru merusak identitas sajak itu sendiri, yakni keindividuannya.

Persahabatan saya dengan Chairil berlangsung terus. Dia memang tidak punya pekerjaan tetap. Dia memilih mengabdi pada seni. “Jassin, dalam kalangan kita sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati . . . ,” demikian tulis Chairil pada saya dalam perjalanannya ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.

Chairil sering gelisah dengan sajak-sajaknya. Setiap kata dipikir dan ditimbangnya benar. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld . . . ,” katanya dalam kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Chairil datang mengunjungi rumah saya atau kantor, keluar-masuk semaunya saja. Tingkah lakunya sangat seenaknya. Dia akan mengangkat kaki dan berbicara begitu lantang ketika mengkritik orang.

Pengarang-pengarang tua seperti Dt. Modjoindo dan Tulis Sutan Sati banyak yang tak menyukai sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah seperti itu?” Memang tak mudah untuk menyenangi tingkah laku Chairil. “Gantung saja dia,” kata Dt. Modjoindo dengan muka sebal. Bila dia masuk ke rumah, dan saya tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin ketik saya. Ada yang dikembalikan dan ada pula yang tidak, misalnya Belenggu. Saya kesal buku-buku ini tak kembali, karena saya sudah memberi catatan-catatan di pinggirnya.

Terkadang dia datang naik becak, dan dia minta saya membayarnya. Atau dia akan menunjukkan sajak-sajaknya lalu bercerita bahwa pamannya, Sjahrir, tak menyukai sajaknya Diponegoro. Padahal, menurut saya, itu adalah salah satu sajaknya yang menunjukkan bahwa ia juga seorang yang patriotik. Tapi ia gelisah juga jika dikritik pamannya.

Tahun 1945, ketika kami menerbitkan majalah Pantja Raja sebagai pengganti Panji Pustaka, sajak-sajak Chairil mulai bertaburan. Namanya menjulang tinggi. Dan Chairil tetap tak pernah berubah. Aksi militer pertama meletus. Kami semua keluar dari Balai Pustaka, dan jadilah saya penganggur. Tapi itu hanya berlangsung sebentar, karena Anjar Asmara mengajak saya bekerja di Mimbar Indonesia.

Suatu hari, di ruang redaksi, pelukis Baharuddi mengatakan ada sesuatu yang mengejutkan saya. “Menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara sajak Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers tulisan Archibald MacLeash.” Saya sempat kecewa juga mendengar pernyataan ini, meskipun saat itu saya belum pernah membaca sajak MacLeash. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kalau pun itu sajak plagiat, kenapa bisa begitu bagus. Apakah memang sajaknya yang bagus atau terjemahannya yang bagus? Terjadilah debat di antara kawan-kawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini hasil plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” kata pengarang Balfas yang menyenangi karya-karya Chairil. Saya masih bertahan pada keraguan.

Saya pikir, kalau pun ada persamaan, saya rasa tak mungkin sajak itu jiplakan. Ketika suatu kali sajak The Dead Young Soldiers tiba di meja saya, saya perhatikan dengan saksama. Ternyata, ada beberapa perbedaan yang mendasar antara kedua sajak itu. Lihatlah, kata-kata dalam sajak Chairil begitu bagus dan gambarannya lain sama sekali dengan sajak MacLeash. Memang mereka membicarakan hal yang sama. Tapi kalaupun orang mengklaim Krawang-Bekasi adalah sajak terjemahan, ya sebenarnya tidak juga. Saya merasa bahwa sajak ini sungguh-sungguh sesuatu yang dirasakan Chairil Anwar. Katakanlah, sajak MacLeash itu adalah katalisator untuk penggerak dan penciptaan Krawang-Bekasi.

Akhirnya saya menyetujui pendapat Balfas. Oleh karena pengungkapan sajak Chairil ini lain, sajak ini tetap Chairil. Saya tak mengatakan sajak itu asli Chairil. Saya tetap menunjukkan ia dipengaruhi sajak MacLeash, tapi Krawang-Bekasi tetap punya pribadi sendiri. Chairil bukannya manusia yang tidak butuh uang. Suatu kali ia memang membutuhkannya. Lalu ia menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok Hsu Chih-Mo, dengan judul Datang Dara Hilang Dara. Dan dicantumkannya namanya sendiri. Dan inilah yang membawa kami pada suatu perkelahian.

Saat itu tahun 1949, saya sedang bermain sandiwara di Gedung Kesenian Jakarta. Di belakang layar, saya duduk dan mencoba memasuki sebuah peran. Malam itu saya bukan Jassin. Saya adalah seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker. Rosihan Anwar yang berperan sebagai apoteker itu menyimpan keinginan untuk menghancurkan musuh dengan alat peledak penemuannya. Dan saya, dalam peran itu, mengetahui rahasia ini. Tapi saya tak boleh membuka mulut. Ini semua sudah diatur dalam lakon Api karya Usmar Ismail yang juga menyutradarai sandiwara ini.

Sementara saya duduk meresapi peran itu, tapi hei, kenapa si kurus itu lalu-lalang di muka saya? “Hmh . . . ,” dia mencibir. Dan segera berkelebat ingatan saya pada tulisan terakhir saya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran dan Plagiat. Dan saya segera tahu arti cibiran itu. Meski saya membela Krawang-Bekasi, tak pelak Chairil merasa tersindir dengan tulisan saya itu. “Kamu cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” teriaknya. Saat itu saya sudah telanjur menghayati tokoh mantri yang tertekan. Dan hati saya jadi panas. “Saya juga bisa lebih dari itu!” kata saya.

Dan buktinya . . . buk! Saya tumbuk dia. Tubuh kurus itu terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” teriak Usmar Ismail. Dan layar siap terangkat. “Jassin memukul Chairil,” teriak yang lain. Kami dilerai. Chairil didorong keluar. Nyata sekali ia kaget, karena selama ini saya sangat jarang berbicara dan hampir tak pernah marah. Kawan-kawan pun tercengang, bagaimana seorang Jassin yang begitu penyabar bisa memukul Chairil?

Layar terbuka. Babak demi babak dimulai. Dan ternyata Chairil menonton dan duduk tepat di muka sekali. Semula saya tak memperhatikannya. Tapi saya lihat ia menunjuk-nunjuk saya…. Beberapa waktu kemudian, saya dengar ia suka ke Taman Siswa tempat Affandi biasa melukis. Eh dia latihan angkat besi. Tubuh kurus itu belajar angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin,” katanya. Dan suatu sore dia muncul di ruang tamu. Saya bersiap menghadapinya.

Tapi tiba-tiba, “Jassin, saya lapar,” dengan gayanya yang biasa. Gaya Chairil …. Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman dengan Takdir, kami ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. Di Karet, di Karet (daerahku yad.) sampai juga deru angin. Beraninya ia mengatakan itu dalam sajaknya, jauh sebelum ia meninggal. Saya kagum pada keberanian itu. Tak pernah saya berani membayangkan daerah di mana saya terbujur nanti.

Pada usia 27 tahun ia sudah berbaring tanpa nyawa. Dan kematiannya ini digunakan oleh kaum republiken untuk memperlihatkan persatuan dan solidaritas. Berbondong-bondong kami mengiringi penyair itu ke Karet.

“Paus” Sastra Indonesia Apa beda Angkatan 45 dengan Angkatan 66?

Memang benar, secara estetika, karya Angkatan 45 dengan 66 tak banyak berbeda. Namun, saya melihat segi sejarah dan politik yang begitu kuat. Bagi saya, timbulnya suatu angkatan selalu harus disertai unsur estetika, politik, dan sejarah. Apakah orang tidak menyetujui atau mengkritik pandangan saya, hal itu saya anggap sebagai pendapat yang lain. Yang jelas, saya mendapat beragam Julukan pada awal 1950-an — karena ada yang menganggap pengaruh saya terlalu besar dalam kesusastraan Indonesia. “Lihatlah pilihan Jassin dalam Gema Tanah Air. Berapa sastrawan yang dipilih itu masih hidup?” tanya Gayus Siagian menanggapi prasaran saya dalam Simposium Sastra Indonesia pertama.

Gayus menganggap pilihan saya tak bernilai, tapi toh “sastrawan selalu senang jika sudah disebut-sebut Jassin,” katanya. Karena ia menganggap saya begitu berkuasa, ia menjuluki saya “Paus Sastra Indonesia”. Nama ini bukanlah sebuah pujian, tetapi kritik untuk saya. Di dalam majalah Siasat Balfas mengatakan bahwa saya bukanlah seorang kritikus sastra yang baik karena ulasan saya kekurangan gagasan. Kritik sastra saya, menurut Balfas, lebih banyak memperhatikan banyaknya penerbitan daripada nilai-nilai buku itu sendiri.

Dan bagi Balfas, saya tak lain seorang administrator karena saya tukang mengumpulkan dokumen dan buku-buku. Tak lama kemudian, eseis Rustandi Kartakusumah menjuluki saya sebagai seorang diktator. Katanya, apa yang saya katakan selalu langsung saja diterima orang dan saya mempergunakan kepercayaan orang-orang itu dalam menilai sastra. Saya tak tahu kenapa Rustandi yang juga berusaha menulis sajak itu harus berpendapat seperti itu. Yang saya tahu, saya memang tak selalu menyukai sajak-sajaknya.

Pekerjaan seorang kritikus adalah menilai. Kita harus bisa menilai sebuah karya sastra dengan perasaan dan sejumlah kriteria. Jika tidak, maka nilai kritik itu tak akan bisa bertahan. Apa pun yang dikatakan Balfas tentang ulasan sastra saya, toh buku-buku saya masih dipakai oleh anak-anak SMA dan mahasiswa fakultas sastra. Orang-orang masih mengutip pendapat yang saya ucapkan 20 atau 30 tahun yang lalu. Saya sendiri heran. Mungkin ulasan saya lontarannya cukup jauh ke depan. Saya tidak sekadar asal ngomong ketika membicarakan karya-karya sastra. Selain saya ingin kritik saya bernilai, saya cukup berhati-hati untuk tidak menyakiti orang.

Pernah juga saya bertanya-tanya pada diri saya tentang kritik saya. Tapi ternyata saya lihat sastrawan pilihan-pilihan saya itu bisa survive. Seperti Amir Hamzah yang saya namakan Raja Penyair Pujangga Baru dan Chairil Anwar yang saya namakan Pelopor Angkatan 45. Dulu saya mengkritik beberapa tulisan, hingga orang yang dikritik itu “mati”. Akibatnya, saya malu bertemu dengan penulisnya. Saya kira sekarang, saya lebih diplomatis dan menonjolkan segi positif karya seseorang.

Jika saya tak membicarakan karya penulis, itu karena tulisannya memang tak baik atau saya sendiri tak mungkin membicarakan semua karya. Metode saya mengkritik juga sering dianggap tidak ilmiah. Saya memang khawatir jika menganalisa sebuah karya sastra dengan pendekatan yang terlalu ilmiah. Saya sangat mementingkan perasaan ketika membaca. Tapi toh saya bisa menghargai kritikus lain yang menggunakan pendekatan ilmiah, misalnya Subagio Sastrowardoyo dan Sri Rahayu Prihatmi. Mereka memang ilmiah, tapi tetap mementingkan kemanusiaan sebuah karya. Mereka menggunakan ilmu sastra, tetapi toh tetap menghargai keharuan.

Ditinggal Arsiti Bukan Leila dari Medan saja yang pernah menghampiri hati saya. Dalam lembaran-lembaran dokumentasi kehidupan saya, ada nama-nama Tine de Bruin, Rumi, Arsiti. Tine de Bruin, seorang perempuan Indo Belanda berkulit putih bersih dan berambut pirang. Jika saya memang mengawininya, bukan karena saya mencintainya. Saya sangat membedakan arti cinta, sayang, nafsu, dan kasihan. Saya iba pada Tine karena nasib yang menimpanya.

Ketika saya mulai berkenalan dengannya Tine di pertengahan 1944, suami Tine ditangkap Jepang. Sejak itu ia harus mengurus kedua anaknya sendiri dari nafkah yang ia dapat dari bekerja sebagai pelayan restoran. Kami memang dekat, tak lepas karena perasaan iba saya kepadanya dan anak-anaknya. Tahun 1946, suatu malam. seorang wanita berparas sederhana mengetuk pintu rumah. Ia datang untuk melamar pekerjaan. Kebetulan pula, saya sedang mencari seseorang yang dapat membantu pekerjaan saya. Maka, ia, Arsiti, saya terima bekerja di rumah.

Arsiti memang tidak berpendidikan tinggi, tapi ia mau belajar. Selama membantu di rumah, ia mengerti kecintaan saya pada buku-buku. Dia juga mengerti tingkah laku kawan-kawan saya, seperti Chairil, yang nyelonong masuk ke rumah dan meminjam buku atau menyantap makanan saya. Secara alami, Arsiti dan saya menjadi sepasang kekasih. Dan kami memutuskan untuk menikah.

Tak terkatakan betapa bahagianya ketika anak kami yang pertama, Hannibal, lahir pada 27 Mei 1947. Suatu malam, 1962, Arsiti mengeluh sakit perut. Mukanya pucat dan badannya panas. Ia berjalan ke serambi seperti setengah tak sadar. Disentuhnya pinggiran kursi. Ia masuk ke kamar lagi dan menatap wajahnya sendiri di muka cermin. Disentuhnya pipinya dan berkata, “Aku sehat, kan? Aku sehat, ya. . . ?” Kemudian ia berjalan ke sana kemari dengan gelisah. “Sebetulnya saya tak rela meninggalkan semua ini,” katanya. Jadi, ia sudah punya firasat.

Suasana di rumah terbangun seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Saya merasa ada suara dari dunia lain yang merasuki telinga saya. Esoknya, saya bawa ia ke rumah sakit. Dan sore itu dia meninggal. Kami mengadakan pengajian sampai malam ketujuh. Kami kirimkan doa-doa untuk Arsiti. Malam kedelapan pengajian usai. Dan saya kesepian. Padahal, saya tetap ingin mengirimkan doa itu pada Arsiti. Lalu, timbullah keinginan untuk bisa mengerti apa yang saya baca. Maka, selama itu, setiap kali saya membaca dan meresapi ayat-ayat Al Quran, saya merasa Arsiti tetap hadir dalam kehidupan saya.

Sepertinya ia masih ada dan tetap berkomunikasi. Ketika ia sakit, ia pernah ngompol. Dan sampai ia meninggal, saya tak ingin mengganti sepreinya. Bau pesing itu menjadi nikmat buat saya…. Desember, sembilan bulan setelah Arsiti meninggal Lily — istri saya yang sekarang — sudah sering datang. Ia masih keluarga saya juga dan kami sudah lama saling kenal. Kami pun menikah pada 16 Desember 1962.

Pramudya dan Lekra

Saya sudah mengenal Pramudya Ananta Toer sejak 1946 ketika ia mengirimkan cerpennya ke Pantja Raja. Judulnya Ke Mana. Setahun kemudian ketika ia ditahan karena agresi militer Belanda, kami masih tetap berhubungan karena ia selalu meminjam buku-buku melalui Prof. Resink. Ketika ia bebas dari penjara pada 1949, hubungan kami tetap baik. Sebagai pengarang, Pram sangat produktif dan karya-karyanya yang baik bermunculan di berbagai majalah. Biasanya sebelum diterbitkan, karya-karyanya ditunjukkannya pada saya. Misalnya Mereka yang Dilumpuhkan dan Perburuan.

Pada 1953-54 Pram diundang oleh Sticusa (Stichting Culturele Samenwerking), atau Yayasan Kerja Sama Indonesia-Belanda, ke Belanda. Ternyata, di sana ia mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, sehingga waktu setahun itu tak dihabiskannya. Dalam keadaan frustrasi, ia kembali ke Tanah Air. Dan rupanya rasa frustrasi ini ditampung oleh Lekra. Ia diberi kesempatan berbicara di depan umum dan mengajar kesusastraan dan sejarah di Universitas Res Publika — yang sekarang menjadi Universitas Trisakti.

Jika ada undangan-undangan ke luar negeri, Lekra mengirim Pram sebagai pemimpin rombongan. Dan tentu saja ia harus menyuarakan kecenderungan politik Lekra. Saat itu terlihatlah sikapnya yang sudah kekiri-kirian. Sementara itu, redaksi Sastra selalu dikritik bahwa karangan yang dimuat tak memperlihatkan kerakyatan dan terlalu memihak pada kaum majikan. Kecaman semakin gencar dilancarkan melalui ruangan sastra Lentera di surat kabar Bintang Timur. Pengasuh ruang ini Pram sendiri.

Cerpen-cerpen, esei, dan sajak yang dimuat di situ sifatnya sangat agresif dan menghantam kiri-kanan. Seingat saya tidak banyak karya yang dimuat itu memiliki nilai sastra yang tinggi. Bagi saya ini bukan hal yang baik bagi sastra dan kemanusiaan itu sendiri, karena penekanannya menjadi politis.

Bayangkan, semua tulisan yang bagi mereka tak searah dengan aliran realisme sosial dihantam terus-menerus, baik yang dirnuat di majalah Sastra maupun media lainnya. Melihat sikap keras saya, Lekra berusaha dengan berbagai cara mempengaruhi saya. Pram pernah datang ke rumah. “Bung Jassin, sebenarnya rekan-rekan saya ingin menyerang Bung Jassin habis-habisan. Tapi saya yakinkan bahwa saya bisa bicara empat mata dengan Bung Jassin tentang bagaimana kita melihat sastra. Bung Jassin tak sadar sekarang ini adalah abad milik rakyat. Jadi, ukuran-ukuran sastra yang dipakai harus kerakyatan. Sebaiknya kita menjejakkan kaki ke bumi agar karya bisa mencapai orang-orang kebanyakan,” kata Pram.

Saya kira sastra memiliki ukuran dan nilai-nilainya. Isinya boleh apa saja. Tak harus bicara tentang senjata atau perjuangan secara harfiah, toh sastra itu bisa ditujukan untuk siapa saja. Kita bisa bicara tentang sebuah keluarga dan itu bisa sampai ke rakyat. Namun, selama perdebatan itu, saya memang lebih banyak berdiam diri dan menjawab seperlunya saja. Tapi sudah jelas, kami tak berjumpa dalam suatu titik temu. Apalagi saya tetap menekankan bahwa karya apa pun — apakah dia memakai nama rakyat atau tidak — jika memang tak baik, saya tak bisa menerimanya sebagai karya sastra.

Awal 1960-an, sesudah Bung Karno mengumumkan Dekrit Presiden dan Manipol-Usdek serta Nasakom, jurang pemisah antara Pram dkk. dan saya semakin lebar. Dengan gencar mereka menyerang siapa saja yang dianggap tidak merakyat. Lama-kelamaan serangan mereka bukan hanya terhadap ide sastra kami, tapi juga kepada pribadi-pribadi kami.

Agustus 1963. Kami merasa sudah saatnya menyatakan pemikiran tentang kesenian dan kebudayaan. Banyak seniman dan budayawan yang berdatangan ke redaksi Sastra di Jalan Raden Saleh 24. Ada Bokor Hutasuhut, Wiratmo Soekito, Zaini, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan banyak lagi. Mereka mengutarakan pemikiran bersama dalam membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai Manifes Kebudayaan.

Kelompok ini sebenarnya tidak sengaja dibentuk dan tak pula memiliki kartu anggota atau persyaratan administratif. Kami hanya kumpul-kumpul berdasarkan pemikiran dan perasaan yang sama. Kami tulis pernyataan itu sebagai sebuah antitesis dari slogan Lekra, “politik adalah panglima”. Sebab, amatlah berbahaya jika semua cara dihalalkan demi politik.

Teks Manifes kami lontarkan pertama kali di harian Berita Republik dan mendapat dukungan dari banyak seniman di Jakarta, luar Jakarta, dan bahkan yang sedang tinggal di luar negeri. Teks yang ditandatangani 20 orang pada 17 Agustus 1963 itu juga dimuat di majalah Sastra. Tanggal 8 Mei 1964, pagi hari. RRI mengudarakan larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manifes Kebudayaan.

Kami, para penanda tangan, dianggap kontra revolusi dan menentang ManipolUsdek. Meski saya tak terlalu heran dengan larangan ini, saya kecewa juga. Toh saya mengerti posisi Soekarno yang memang tak bisa berbuat lain. Mungkin, sebagai seorang ayah ia tak ingin anak-anaknya bertengkar terus-menerus. Tentu saja pelarangan inilah yang diinginkan Lekra sejak semula. Sejak hari itu dan seterusnya kami “dibersihkan” habis-habisan: di instansi pemerintah dan nonpemerintah, di kampus-kampus digeser atau langsung dinonaktifkan.

Untuk menghindari pengganyangan yang lebih ganas, kami mengirim telegram permintaan maaf kepada Soekarno. Tapi ini pun hampir tak ada gunanya. Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar. Mendadak buku-buku saya menghilang dari toko buku Gunung Agung. Penerbitnya menceritakan bagaimana Pemuda Rakyat ramai-ramai mendatangi toko itu dan mempertanyakan kenapa buku Jassin masih bercokol di situ. Dan tentu saja penerbitnya ketakutan.

Di Lembaga Bahasa tempat saya bekerja, saya menyadari bahwa sebagian anak buah saya adalah mahasiswa yang sering datang ke Bintang Timur. Saya menyadari bahwa mereka memata-matai saya setiap hari. Tapi saya tak ambil pusing. Bahkan pernah secara terang-terangan salah satu dari mereka menyampaikan pesan Pram agar surat-surat pribadi Pram yang saya simpan dikembalikan. Barangkali ia takut persahabatan saya dengannya dulu itu bisa membahayakannya. Udara busuk dan penuh kedengkian ini mencapai puncaknya ketika saya dibebastugaskan dari tugas mengajar di Fakultas Sastra UI.

Sebelumnya saya sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk menghindari korban yang berjatuhan. Saya jadi semakin rajin memperdalam Islam dan ayat-ayat Quran. Di tengah galau tak menentu itu, saya mencoba menerjemahkan The Spirit of Islam karya Syed Ameer Ali menjadi Api Islam. Sementara itu, Masagung, pemilik penerbit dan toko buku Gunung Agung itu, dengan baik hati tetap membayar honor buku-buku saya, meski untuk sementara buku itu dihentikan peredarannya.

Menerjemahkan Al Quran Musim gugur di Leiden, September 1972. Di apartemen Kampung Melayu di mana mahasiswa Indonesia dan Malaysia wira-wiri, saya memandangi daun-daun memerah lantas gugur berderai-derai. Udara yang sejuk itu merangsang saya menerjemahkan ayat demi ayat Al Quran indah yang saya cintai itu. Buku Mulia itu saya tenteng ke mana-mana: London, Paris, dan kota-kota lainnya di Eropa.

Sejak 1950 saya mulai berkenalan akrab dengan Al Quran. Sejak saya masih menjadi mahasiswa Prof. A.S. Alatas, Prof. Prijono, dan Prof. Hussein Djajadiningrat. Di Fakultas Sastra UI, kami diwajibkan belajar sastra Melayu yang banyak menggunakan idiom bahasa Arab serta ayat Quran. Maka, kami harus belajar bahasa Arab, serta ayat Quran. Ketika itulah saya melihat betapa indah dan puitisnya terjemahan Al Quran karya Marmaduke Pickthallt, The lorious Koran. Bandingkanlah dengan terjemahan Mahmud Junus dalam bahasa Indonesia, yang terlalu mengikuti lekuk bahasa Arab, hingga keindahannya berkurang.

Pada saat Arsiti pergi, saya semakin ingin memasukkan ayat-ayat itu ke dalam diri saya dan mengirimkannya kepada orang yang pernah berarti dalam hidup saya. Saya pelajari Al Quran dengan saksama selama 10 tahun 5 bulan. Tidak hanya mempelajari Al Quran secara akademis saja, tapi bahkan ayat-ayat itu menjadi bagian dari diri saya. Di mobil saya selalu menghafal dan membaca ayat Kursi, atau ayat-ayat lain yang saya sukai. Maka, begitu orang mendengar si Jassin yang “tak tahu apa-apa tentang Islam” itu akan menerjemahkan Al Quran, ributlah semua.

Lalu, atas inisiatif Gubernur Ali Sadikin, saya dipertemukan dengan Majelis Ulama cabang Jakarta di rumah Gubernur di Jalan Taman Suropati. Saya bawa dua kopor berisi beberapa Al Quran asli yang saya hayati dari hari ke hari, buku-buku terjemahan dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis, bermacam kamus Arab dan banyak catatan saya selama mempelajari Quran. Melihat buku-buku bahasa Arab itu dan mendengar penjelasan saya, hilanglah desas-desus bahwa saya menerjemahkan langsung dari bahasa Belanda.

Sekitar 20 orang ahli agama menanyai saya dengan ramah. “Pak Jassin, apakah Pak Jassin mengetahui bahwa menerjemahkan Al Quran itu memerlukan bermacam-macam ilmu. Dan kenapa Pak Jassin ingin menerjemahkan Al Quran?” tanya ulama pertama. “Sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak, izinkanlah saya menjelaskan kenapa saya tertarik menerjemahkan Al Quran,” jawab saya.

Maka, saya jelaskan ketertarikan saya, dulu hingga kepergian Arsiti. Saya jelaskan semua proses pemahaman dan penghayatan saya, dari hari ke hari hingga bertahun-tahun. Kemudian saya jelaskan pula bahwa saya ingin Al Quran dimengerti dan dihayati dengan bahasa yang baik dan puitis. Mendengar penjelasan saya panjang-lebar, akhirnya para ulama itu mempercayai usaha saya. Dan akhirnya mereka bersedia membantu menilai hasil terjemahan saya kelak.

Selanjutnya saya dipersilakan memilih sendiri anggota tim penilai itu, di antaranya Bapak Muchtar Luthfi al-Anshory, ulama yang berjiwa seni. Tentu saja, ada berbagai reaksi pada penerbitan terjemahan Al Quran yang saya beri judul Bacaan Mulia itu. Ada hantaman, ada caci-maki, bahkan ada tantangan untuk berdebat di muka umum. Dan ini semua saya hadapi dengan tenang. Tapi, hingga cetakan ketiga yang segera akan terbit, saya kira Allah swt. tetap melindungi saya dan mengetahui maksud baik saya.

Saya ingat keterharuan ulama dan pengarang besar Hamka ketika saya sampaikan keinginan saya menerjemahkan Al Quran — begitu pengadilan kasus Langit Makin Mendung usai. Dia mengerti benar bahwa saya tahu bagaimana menerjemahkan Max Havelaar yang saya lakukan dalam 12 bulan itu, dan bagaimana pula menerjemahkan Al Quran. Bagi saya, yang terakhir ini adalah sebuah tugas yang harus saya lakukan dengan penuh penghayatan. Itulah sebagian kecil dari dokumentasi kehidupan pribadi saya.

Adapun Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Kompleks Taman Ismail Mrzuki, Jakarta, sampai kini menyimpan sekitar 30 ribu buku dan majalah sastra. Jika kau tengok lemari-lemari itu, yang penuh dengan kumpulan map-map tebal yang sudah mulai dikumpulkan sejak 45 tahun lalu, kau bisa lihat dokumentasi kehidupan sastra Indonesia. Impian saya — meski tak seliar mimpi para seniman — ialah mendirikan dokumentasi sastra dunia. Bertingkat-tingkat. Sastra Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Amerika Latin. Ya, semuanya. Jadi jika kita memasuki gedung itu, kita seperti memasuki dunianya sastra dunia. Dan itu saya usahakan di hari-hari saya yang tua ini.

Meski sekarang pendengaran saya sudah semakin berkurang, hingga pernah menyerang rasa percaya diri, saya masih tetap memiliki keinginan yang kuat untuk membina sastra Indonesia. Saya masih berjalan kaki pulang-pergi dari rumah ke TIM, untuk bekerja bagi sastra dan seni.

Saya berjalan dan berjalan sambil menghafal ayat Al Quran. Mungkin kematian sama dengan gugurnya daun dari pohonnya. Kematian adalah sesuatu yang alami dan tak perlu disedihkan. Tapi, saya tak mau memikirkannya. Karena itu, setelah lelah berjalan saya hanya beristirahat sebentar. Lalu berjalan lagi, membuka buku-buku itu lagi. Dan, bait-bait sajak Chairil itu terus nyala dalam diri….

30 September 1989

Friday, December 31, 2010

Catatan Akhir Tahun 2010 (Ekonomi)

Pada saat memasuki tahun 2010, ekonomi dunia sedang mengalami dua kejadian penting, yaitu: pertama, krisis ekonomi kapitalisme global yang sangat mendalam dan struktural, dan kedua, pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari utara (AS dan eropa) ke Asia timur (Tiongkok) dan amerika latin.
Amartya Sen, seorang ekonom India, dalam tulisannya di Newyork review menyebut tahun itu sebagai “tahun krisis”, dan tahun berikutnya akan disertai dengan penurunan tajam ekonomi dunia melebihi depresi besar tahun 1930-an.
Perkiraan Amartya Sen ada benarnya, sebab di tahun 2010 krisis ekonomi dunia bukannya menjinak, malah semakin mengganas dan melahap ekonomi negara-negara kuat di eropa, seperti Yunani, Spanyol, Portugal, Inggris, dan lain sebagainya.
Sementara ekonomi Indonesia, yang sebagian besar tumpuannya bergantung kepada ekonomi kapitalis global, turut merasakan pukulan telak dari keberlanjutan krisis ini. Jika pada tahun 2009 tenggelamnya ekonomi Indonesia baru mencapai leher, maka pada tahun ini tenggelamnya ekonomi Indonesia sudah mencapai dagu.
The Economist, majalah mainstream paling bergengsi, pernah menulis, “ekonomi Indonesia memang tumbuh, tapi sayang sekali, kemiskinan juga tumbuh.” Meskipun pertumbuhan ekonomi diprediksi akan menembus 6,3%, tetapi hal tersebut tidak menciptakan “Trickle down effect”.
Penghancuran Industri Nasional
Tahun 2010 dapat dikatakan sebagai tahun kematian industri nasional. Beberapa jenis industri yang selama ini menjadi benteng terakhir, seperti baja, kretek, produk pertanian, dan lain sebagainya, telah dihancurkan dengan jalan dijual atau dibangkrutkan.
Pada tahun 2006, Indonesia diperkirakan mempunyai 29 ribu perusahaan manufaktur skala menengah, tetapi sekarang jumlahnya tidak melebihi 27 ribu. Industri skala mikro dan kecil pun anjlok 2,1 persen dan 5 persen dihantam oleh kebijakan neoliberalisme.
Jika di masa sebelumnya, proses de-industrialisasi baru menghantam perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, maka sekarang ini (tahun 2010) korbannya sudah mencakup perusahaan-perusahaan tulang punggung
Sementara itu, sebagian sektor industri telah menurunkan kapasitas produksinya hingga 25% dari potensi produktifnya, antara lain, industri baja, sepatu dan tekstil. Salah satu penyebab penurunan kapasitas produksi itu adalah turunnya permintaan, terutama di pasar dunia, yang sekarang ini memang sedang dilanda krisis over-produksi.
Ada keterkaitan langsung antara krisis kelebihan produksi di negara maju dengan praktik penghancuran industri di negeri dunia ketiga. Sebab, dengan menghancurkan industri negeri dunia ketiga, maka industri negara maju kehilangan pesaing potensialnya dan dapat menguasai pasar negara dunia ketiga tersebut.
Fonemena inilah yang menjelaskan mengapa pemerintahan SBY-Budiono sangat agressif untuk menjalankan program privatisasi terhadap sejumlah BUMN paling strategis, yaitu PT. Krakatau Steel (penguasa baja nasional), PTPN III, IV, VII (penguasa sektor perkebunan/agrobisnis), dan dua raksasa perbankan nasional, Bank Mandiri dan Bank BNI.
Pada tahun 2010 ini, rejim SBY-Budiono berusaha memastikan privatisasi terhadap delapan BUMN, yaitu PTPN III, PTPN IV, PTPN VII, PT C Phrimissima, PT Kertas Padalarang, PT sarana Karya, Bank Mandiri, dan Bank BNI.
Industri kretek, salah satu industri yang tumbuh dengan corak nusantara dan mempergunakan modal/sumber daya di dalam negeri, juga sedang berada di mulut kehancuran. Sejumlah lembaga asing, seperti Bloomberg Initiative, telah menggelontorkan dana kepada sejumlah lembaga pemerintah dan ormas untuk mengkampanyekan “anti-rokok” dan pembatasan tembakau.
Perusahaan asing juga sangat berjaya dalam mengusai sumber energi nasional, terutama migas dan batubara, yang menyebabkan industri nasional kesulitan mendapatkan pasokan energi. Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan energi pemerintahan SBY-Budiono, yang justru mengutamakan ekspor gas dan batubara ke luar negeri sebelum kebutuhan domestik terpenuhi.
Ada pula program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD), yang oleh penganjurnya dimaksudkan untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut di seluruh dunia, justru menjadi kesempatan baru bagi imperialis untuk menguasai hutan kita dan menghidupi bisnis karbonnya.
Penghancuran ekonomi Rakyat
Sampai tahun 2010 jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan mencapai 51 juta unit atau 99% dari total unit usaha yang ada. Namun, sejak ekonomi nasional berayun ke arah liberalisasi, UMKM telah menjadi korban paling pertama yang bertumbangan.
UMKM ini sangat bergantung pada dua hal, yaitu jaminan kredit dan pasar. Jauh sebelumnya, UMKM sudah menderita akibat kenaikan harga BBM dan TDL. Pada tahun 2010, bersamaan dengan diberlakukannya China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), sektor UMKM Indonesia seperti digiring ke liang pembantaian.
Misalnya Industri batik, yang sekarang ini juga banyak dibuat oleh China, telah mengancam masa depan industri batik di dalam negeri.
Namun, cerita sedih mengenai penghancuran ekonomi rakyat belum berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dengan keputusan pemerintah membiarkan peritel modern memasuki kampung-kampung dan pelosok-pelosok.
Sebagai perbandingan mengenai hal ini, dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, ekonomi nasional atau rakyat (UMKM) yang berjumlah 51 juta atau 99% dari total pelaku ekonomi hanya menikmati 39,8% dari PDB, sementara korporasi besar asing menikmati hingga 60,2%. Dalam hal pasar, ekonomi nasional atau ekonomi rakyat hanya menempati 20% pangsa pasar nasional, sementara korporasi besar asing dan domestik menguasai 80%.
Pasar rakyat, yang selama ini menjadi tempat bagi ekonomi mikro dan menengah memasarkan produknya, semakin terancam oleh ekspansi peritel raksasa modern, seperti Carrefour, Giant, Hypermart, 7-eleven, Circle K, Lotte Mart, dan lain-lain. Peritel modern didukung oleh modal yang lebih besar, fasilitas, tekonologi, dan ruang yang strategis, sementara pasar rakyat identik dengan kumuh, semrawut, dan bau kurang sedap.
Jika pasar rakyat hancur, maka hal itu akan membawa konsekuensi luas, yaitu, pertama, menghancurkan produsen kecil, khususnya produk petani dan usaha kecil (mikro dan menengah), dan kedua, menyulitkan konsumen klas menengah ke bawah.
Penguasaan asing terhadap perbankan
Sejak UU Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan di berlakukan, sebagian besar perbankan nasional sudah jatuh ke tangan asing, yaitu antara 65%-70%. UU perbankan ini, yang memperbolehkan kepemilikan asing terhadap bank lokal hingga 99%, adalah salah satu UU perbankan paling liberal di dunia.
Sebut saja, misalnya, Bank haga, Rabobank dan Hagakita (seluruh sahamnya dikuasai Rabobank Belanda, BTPN (71% sahamnya dikuasai Texas Paicific AS), Bank Permata (44,5% dikuasai Standard Chartered Inggris), SCB (seluruh sahamnya dikuasai Standard Chartered Inggris), Bank Panin (35% sahamnya dikuasai ANZ Bank Australia), BII (55,85% sahamnya dikuasai Maybank Malaysia), CIMB Niaga (60,38% sahamnya dikuasia CIMB group Malaysia), dan lain-lain.
Penguasaan asing terhadap perbankan nasional akan berdampak serius terhadap perekonomian nasional, yakni mempengaruhi aliran modal dan penyaluran kredit terhadap industri nasional.
Pada tahun 2010 ini, sebagaimana dibangga-banggakan pemerintah dan ekonom neoliberal, bahwa perbankan indonesia telah kebanjiran arus dana asing yang masuk (capital inflow), yang keberadaannya sangat bebas untuk masuk dan keluar kapan saja. Hal ini membuat cadangan devisa melonjak menjadi USD 92,75 miliar per akhir November 2010 yang bisa mencapai USD100 miliar pada akhir 2010.
Namun, tidak dapat dibantah bahwa pihak asing sudah mengusai lebih dari 60% kepemilikan di pasar modal, dan hal itu sangat berbahaya bagi kesehatan ekonomi Indonesia di masa depan.
Alih-alih bahwa dana itu bisa memperkuat sektor real kita, arus dana asing itu malah berpotensi menjerumuskan perekonomian kita. Karena BI menganut sistem capital free flow, maka investor asing dapat dengan bebas mengambil keuntungan di Indonesia kapan saja.
Penumpukan utang luar negeri
Hanya lima tahun memerintah, berdasarkan catatan Buku Statistik Utang Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), SBY berhasil menambah utang luar negeri Indonesia Rp300 triliun. Hingga bulan April 2010, total utang luar negeri Indonesia sudah menghampiri Rp2000 trilyun, atau setara dengan dua kali APBN kita.
Terakhir, bulan desember ini, SBY kembali menambah utang melalui ADB sebesar 200 juta US Dollar, dan katanya, ini akan dipergunakan untuk mendanai reformasi ekonomi di Indonesia.
Meski terjadi peningkatan utang yang sangat signifikan, tetapi pemerintah berusaha mengelak dengan menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun, yaitu dari 89 persen menjadi 32 persen.
Ada dua hal yang perlu dibantah terkait pernyataan pemerintah di atas: Pertama, Utang luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan PDB. Sebab, PDB tidak mencerminkan produksi Indonesia, tetapi juga ada porsi asing yang besar di dalamnya. Peningkatan PDB bukan karena naiknya produktifitas nasional, melainkan karena aktivitas perusahaan atau bisnis pihak asing. Kedua, meskipun rasio utang terhadap PDB menurun, namun stock utang justru terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan stock utang sekitar 30% dalam lima tahun ini.
Persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
Bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, tahun 2010 juga merupakan ‘tahun penderitaan”. Meskipun tahun-tahun sebelumnya TKI Indonesia memang sudah sangat menderita, tetapi pada tahun ini kasus kekerasan terhadap TKI telah mengundang kemarahan rakyat terhadap pemerintah.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya kita mendengar kasus Nirmala Bonat dan Siti Hajar, maka tahun ini kita mendengar nasib yang lebih tragis dari dua TKW Indonesia, yaitu Sumiati dan Kikim Komalasari.
Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), pihaknya mempunyai catatan mengenai 4.532 laporan kasus terkait tenaga kerja Indonesia (TKI) selama 2010, yang sebagian besar adalah pelanggaran kontrak, beban kerja, jam kerja, pembayaran gaji, serta pelecehan seksual.
sementara Kepala Litbang Kemenkum HAM, Prof Dr Ramly Hutabarat SH, menyampaikan kepada peserta diskusi “Hubungan Bilateral Indonesia – Malaysia”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP UNS, bahwa sepanjang tahun 2010 saja, terjadi 3.835 kasus penganiayaan dan 2.500 kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan TKW.
Persoalan buruh migran, sebagaimana diterangkan dengan jelas sekali oleh Lenin, adalah juga persoalan imperialisme. Negara-negara imperialis telah memobilisasi pekerja-pekerja dari dunia ketiga untuk dipekerjakan pada sektor pekerjaan ber-upah rendah di negeri kapitalis maju, sekaligus untuk mengistimewakan pekerja tertentu di negeri imperialis.
Sementara itu, akibat dari praktek neoliberalisme dalam sepuluh tahun terakhir, sebagian besar rakyat kita, di desa dan di kota, telah kehilangan pekerjaan. Akhirnya, sebagian besar diantara mereka telah direkrut dan dikirim sebagai pekerja migran. Pendek kata, neoliberalisme punya andil besar dalam mengeksploitasi pekerja migran.
Kesimpulan: Sifat kolonialisme semakin mendominasi dalam perekonomian Indonesia
Kenyataan ekonomi pada tahun 2010 ini semakin mempertegas, bahwa sebagian besar ekonomi Indonesia telah dikuasai oleh kaum kapitalis besar asing, terutama kapitalis besar dari Amerika, Eropa, dan Jepang. Penguasaan itu meliputi bagian terbesar dari perusahaan industri, perdagangan, dan keuangan: bank-bank, pabrik-pabrik, tambang2, pengangkutan, perkebunan, dsb.
Dengan dikuasainya perbankan dan pasar modal (lebih dari 60%), maka pihak asing sudah mengontrol sebagian besar kapital di dalam negeri. Dan, dengan begitu pula, maka sebagian besar keuntungan dari aktivitas ekonomi di dalam negeri telah diangkut ke negeri-negeri imperialis.
Kecuali perusahaan-perusahaan kecil, seperti industri rokok, batik, tekstil, dan kerajinan tangan, hampir semua perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap perekonomian nasional telah dipegang oleh pihak asing; a) perusahaan berteknik modern (elektronik, otomotif, dll), pabrik-pabrik besar (tekstil, garmen, makanan dan minuman, bijih besi, baja, logam, dll), perusahaan-perusahaan pertambangan (migas, batubara, emas, timah, dll). b) perusahaan alat-alat perhubungan dan telekomunikasi, seperti penerbangan, perusahaan telekomunikasi, stasiun penyiaran, dll. c) perusahaan bank dan asuransi.
Corak kolonial juga terlihat dalam penerimaan kas negara, yang sebagian besarnya didapatkan dari pajak, baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan, hampir seluruh aktivitas ekonomis rakyat telah dikenakan pajak.
Orang-orang melarat dan para penganggur, meskipun berusaha disembunyikan dengan memanipulasi angka statistik, tetapi terlihat jelas berkeliaran di kota-kota besar untuk mencari makan dan pekerjaan. Mereka tidur di trotoar, di kolong-kolong jembatan, emperan toko, dan gerobak-gerobak. Di Jakarta, ada yang disebut dengan “manusia gerobak”, yaitu orang miskin yang sudah tak punya rumah dan keluarganya tinggal di gerobak yang dibawanya kemana-mana.
Tidak salah kemudian jika ada yang menyebut bahwa tahun 2010 sebagai tahun “menuju kebangkrutan”. Meskipun akhirnya banyak perusahaan nasional yang tumbang, tetapi situasi itu telah melahirkan sentimen nasionalisme dan anti-penjajahan yang semakin kuat.

Sumber:berdikarionline.com
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia Template by Bamz | Publish on Bamz Templates