Showing posts with label Rodli TL. Show all posts
Showing posts with label Rodli TL. Show all posts

Monday, March 26, 2012

Naskah Teater Anak: Bunglon Dan Kupu-Kupu

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Sinopsis
Pada sebuah taman bunga, Kupu-Kupu berterbangan. Bunga-Bunga menyambut mesrah tarian Kupu-Kupu yang datang di pagi itu. Bunga dan Kupu-Kupu hidup saling menghargai dan menolong. Mereka hidup saling bergantung antar sesama.

Di tengah kecerian isi taman. Ada dua ekor Bunglon yang sedang mengintai Kupu-Kupu yang sedang menari. Namun mereka tidak bisa menangkapnya. Dua Bunglon itu pun lalu bertengkar, saling menyalahkan. Mereka memutuskan untuk berpisah.

Bunglon besar bergerak lagi mengejar Kupu-Kupu yang sedang berterbangan. Bunglon Besar kehabisan tenaga, dan tidak bisa menangkapnya. Sedang Bunglon Kecil mengamati Kupu-Kupu yang sedang berterbangan. Ia mencari Kupu-Kupu yang lelah dan hinggap di atas ranting bunga. Bunglon Kecil berhasil menangkap Kupu-Kupu Kuning.

Kupu-Kupu Kuning berdo’a pada Tuhan agar diberi pertolongan. Pertolongan Tuhan pun datang. Bunglon Besar berusaha merebut Kupu Kuning dari tangkapan Bunglon Kecil. Bunglon Kecil pun langsung melepaskannya. Dan Kupu-Kupu Kuning terbang tinggi.
Bunglon-Bunglon itu bertengkar lagi

Setting
Pada taman bunga di pagi hari

Tokoh
1. Kupu-Kupu yang sedang hidup bersama saling menolong.
2. Bunga-Bunga yang senantiasa menyambut mesrah kehadiran Kupu-Kupu pada taman
3. Bunglon-Bunglon, binatang yang rakus, senantisa berusaha memangsa Kupu-Kupu. Dan sukanya bertengkar antar sesama Bunglon.

Adegan Satu

Kupu-Kupu berterbangan di taman. Mereka menari dan menyanyi

1. Kupu-Kupu : Kini kami yang terbang
Riangkan bunga-bunga
Yang mulai berkuncup mekar

2. Bunga-Bunga : Kupu-Kupu, selamat datang!
Ayo hinggaplah padaku
Ku kan berikan sari madu

Kupu-Kupu berterbangan sedang bunga-bunga menggapai-gapai
merayu Kupu-Kupu
lambaikan senyum yang merdu

3. Bunglon Besar : Ohoi, kamilah para Bunglon
Hidup kami yang melata
tak halangi tuk memangsa

4. Para Bunglon : Klesat-klesot gerak kami pada tanah
Tapi kadang sampai pada pucuk cemara

Klesat-klesot gerak kami mengendap-endap
Memangsa belalang, Kupu-Kupu hap hap

Mangsa kami tak mengira
bahwa kami berada dibalik rerumputan, menempel pada batang pohon

Berubah-berubah,itulah warna kami
menyerupai benda-benda yang kami singgahi

bunglon itu lalu pergi bersembunyi
bunga-bunga mekar bermunculan menyambut Kupu-Kupu yang terus berterbangan dan kadang-kadang hinggap pada pohon dan bunga-bunga

5. Bunga-Bunga : Wahai Kupu-Kupu, pagi ini sungguh kami merasa
riang karena kalian tak pernah bosan bertandang
kemari

6. Kupu-Kupu : Kami akan merasa merindukanmu para bunga,
bukankan kami sedikit memilki hidup yang
bergantung pada kalian?

7. Bunga Mawar : Bungaku terasa layu bila sepagi tak ada hadirmu
wahai temanku Kupu-Kupu

8. Kupu Putih : Juga sayapku seakan terkulai kalau tah sentuh sari-
sarimu

9. Bunga Mawar : Benarkah ucapanmu wahai temanku

10. Kupu Kuning : Pernahkah kami bohongi kalian wahai bunga-
bunga yang indah

11. Bunga Melati : Kalian memang teman yang baik tak pernah
menyakiti sesama apalagi berkata bohong.

12. Kupu Merah : Kita berharap terus untuk berbuat baik dan selalu
berkata yang jujur. Karena kebaikan dan kejujuran
membuat hidup menjadi indah dan damai. Kita
akan selalu menjaga cinta kasih dan saling
menolong.

13. Bunga Bougenvil : Begitu sebaliknaya, menyakiti sesama adalah
perbuatan yang amat merugi bagi diri sendiri.
akan tak memiliki teman yang mau diajak bermain
apalagi menolong dikala membutuhkannya.
Bohong di hari depannya penuh dengan sesal
karena semua menjauhinya.

14. Kupu Hitam : Mungkin perjamuan ini bisa kita lanjutkan esok
pagi. Selamat tinggal sampai bertemu dikala surya
menghangatkan isi taman ini

15. Bunga Matahari : Bersama embun yang usai mandikan dedaunan dan
bunga-bunga kami ucapkan selamat jalan

16. Bunga-Bunga : Sampaikan salam kami pada setiap apapun yang
kalian jumpai dan kalian singgai. Salam canda-
tawa hidup riang nan damai.

Kupu-Kupu berterbangan meninngalkan bunga-bunga yang melambaikan daunya tertiup angina

Adegan Dua

Bunglon-bunglon bermunculan dari persembunyiannya

17. Bunglon Besar : Bodoh, bodoh hari ini kita amat bodoh. Kita terlalu
banyak perhitungan untuk menangkapnya

18. Bunglon Kecil : Aku pikir itu harus kita lakukan. Kita akan
menjadi lebih ceroboh kalau tak hati-hati

19. Bunglon Besar : Bukankan kita sudah perpengalaman berpuluh-
puluh tahun untuk menangkap Kupu-Kupu

20. Bunglon Kecil : maksud kamu kemudian kita sudah lihai dalam
memangsanya

21. Bunglon Besar : Tentunya begitu dong

22. Bunglon Kecil : Perlu kita ingat mereka Kupu-Kupu hidupnya
` tidak hanya di taman ini saja, mereka banyak
bergaul dengan makluk hidup lain. Tentunya ]
semakin lama mereka semakin pandai, apalagi
hanya menghindari dari jebakan-jebakan kita. Aku
yakin mereka telah banyak belajar dari
pengalaman nenek-moyangnya dan tentunya di
tambah dengan pengalaman-pengalaman baru yang
mereka dapatkan dari lingkungan sekitar.

23. Bunglon Besar : Halaaaa, omomng kosong! Nyatanya kita tidak
berhasil menangkapnya

24. Bunglon Kecil : Hari ini kita tidak berhasil, lalu kita belajar dari
kegagalan. Besok kegagalan itu tidak akan
terulang. Akan tetapi kalau kita tak terpelajar,
hanya landasan pokoknya menangkap, kita akan
selamanya tidak akan behasil.Ingat keberhasilan
itu didapatkan kalau ada usaha belajar yang
sungguh-sungguh

25. Bunglon Besar : Sudah diam, aku tak mau mendengarkan kata-kata
mutiaramu lagi. Aku pergi

(pergi diiringi musik)

(satu persatu bunglon itu pergi)

Adegan Tiga

Bunglon Besar termangu sendiri di tinngalkan bunglon-bunglon yang lain

26. Bunglon Kecil : Beginilah kehidupan kami para Bunglon, selalu tak
mau berfikir panjang, dan selalu suka bertengkar.
Makanya kalian akan sulit menemukan kami hidup
bergerombol seperti Kupu-Kupu, Burung, Ikan,
Semut dan binatang- binatang yang lain. Hidup
kami suka menyendiri atau paling banyak adalah
sepasang. Karena hidup bersama dengan sesama
selalu menghadirkan pertengkaran- pertrengkaran.

27. Bunga-Bunga : ( bernyanyi)
Inilah bunga warna-warni berkuncup
membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
pada rerumputan

28. Bunglon Kecil : (bernyanyi)
Klesat klesot hap hap
Klesat klesot hap hap
Klesat klesot hap hap

29. Kupu Kuning : (bernyanyi)
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Lepaskan aku, aku ingin terbang menghias taman!

30. Bunglon Kecil : Kulitku lebih indah dari tarian sayap-sayapmu
Aku tidak membutuhkan indah warnamu

31. Kupu Kuning : Alangkah indah kalau taman ini kita hias bersama.
Kau hiasi batang, cabang dan ranting pepohonan
dengan keindahan kulit dan tajam matamu. Kau
mainkan musik dedaunan yang mulai mengering
dengan suara-suara lompatanmu

32. Bunglon Kecil : Aku tak butuh bujukanmu, semanis apapun kata-
katamu tidak akan menggerakkan hatiku untuk
mengurungkan menikmati lezatnya dagingmu
ketika berada dimulutku

33. Kupu Kuning ` : (bernyanyi)
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Jangan-jangan kau gigit aku
Biarkanlah aku terbang, aku ingin menghias taman

34. Bunglon Kecil : Jangan kau berteriak-teriak. Kau tak kan bisa lepas
dari tangkapanku, sebelum kau ku masukkan ke
dalam perutku. Aku beri kesempatan kau untuk
berdo’a pada Tuhan

35. Kupu Kuning : (berdo’a) Tuhan kalau aku harus menghadapMu
hari ini. Berikanlah cara yang terbaik untuk
kembali kepadaMu. Tapi Tuhan, kalau kehidupan
itu masih baik untukku maka berilah kekuatan
kami untuk mampu bertahan dalam menghadapi
ujian ini

Adegan Empat

Tiba-tiba segerombolan Kupu-Kupu datang berterbangan beriring-iringan dengan bunglon-bunglon yang mengendap-endap

36. Kupu-Kupu : (bernyanyi)
Kupu-Kupu berterbangan.
Sayapnya indah
bentuk tubuh yang sintal.
Wahai bunglon, tak tertarikkah kalian memangsa
Kami

37. Beberapa Kecil : Wahai Kupu-Kupu teruslah bernyanyi. Sebentar
lagi kalian akan Tertangkap, dan kami akan
memakan kalian tak tersisakan

38. Para Bunglon : (bernyanyi)
Ohoi kamilah para Bunglon
Hidup kami yang melatah
tak halangi tuk memangsa
jenis serangga yang berterbangan

klesat-klesot gerak kami pada tanah
tapi kadang sampai pada pucuk cemara

39. Kupu-Kupu : Ayo kejarlah kami. Kami yakin kalian tak bisa
menagkap kami. Hidup kami tebang, sedang kau
melata

40. Bunglon-bunglon : Jangan sombong pasti kami menangkap kalian

41. Kupu-Kupu : Terbanglah terbanglah kalau kalian bisa sepertiku

Bunglon Kecil teperangah melihat banyak Kupu-Kupu berterbangan menari-nari di udara
Beberapa saat kemudian Kupu-Kupu itu sudah lenyap dari pandangannya

Satu-persatu bunglon bertemu dan menghampiri bunglon yang sedang membawa mangsanya

42. Bunglon Besar : Ternyata pandai kau menipu. Kau tak mau ikut
bersama kami Lantaran kau mau mengambil
kesempatan pada kesempitan kami. Kami yang
mengejar mangsa dari satu pohon ke pohon yang
lain, lalu kau yang menagkapnya untuk kau
nikmati sendiri

43. Bunglon Kecil : Jangan kalian berprasangka buruk padaku. Kupu
Kuning ini aku tangkap bukanlah dari
segerombolan Kupu-Kupu yang kalian kejar. Aku
telah menangkapnya sebelum segerombolan Kupu-
Kupu itu melintas pada taman ini.

44. Bunglon Besar : Kau jangan mungkir. Sekarang serahkan kupu
kuning ini pada kami

45. Teman Bunglon : Ayo serahkan cepat! daripada kami akan
melukaimu

46. Bunglon Kecil : Kalau kalian menginginkannya. Inilah kupu
kuning ini aku lepas dan tangkaplah kalau kalian
menginginkannya
Bunglon Kecil melepaskan kupu kuning lalu terbanglah kupu kuning itu ke udara.
Mereka para Bunglon mengamati kupu kuning menari diangkasa lalu di ikuti Kupu-Kupu lain.

47. Bunglon Besar : Kau belum pandai! Mengapa kau lepaskan kupu
kuning itu?

48. Bunglon Kecil : Kalian sendiri yang belum pandai, tak bisa
menagkap Kupu-Kupu yang sudah tak bertenaga
untuk terbang dari kejaran kalian.

49. Bunglon Besar : Tenaga Kupu-Kupu itu kembali pulih karena ia
beristirahat dalam cengkeramanmu. Sebagai
gantinya maka kau yang akan menjadi mangsaku

50. Bunglon Kecil : Tangkaplah aku kalau kamu merasa yang paling
berkuasa

Bunglon-bunglon itu terus berkejaran akan tetapi si bunglon kecil selalu bisa mengecoh dan mentertawakannya.

Bunglon besar beserta temannya semakin marah dan semakin lama ia kehabisan tenaga.

51. Bunglon Kecil : Ayo tangkaplah kalau kamu merasa kuat dan
berkuasa. Ternyata amarahmu manangkapku tak
didukung dengan tenaga yang kuat. Kau tenyata
juga lemah, lalu kenapa selalu sombong. Ayo
tangkaplah wahai bunglon berbadan besar tapi
bertenaga cindil. Ayo tangkaplah aku dan
santaplah dagingku sebagai ganti daging Kupu-
Kupu itu!

Bunglon Kecil terus mentertawakan Bunglon Besar dan teman-temannya.
Bunga-bunga pun tersenyum melihat kelakuan para bunglon.

52. Bunga-Bunga : (bernyanyi)
Wahai para bunglon
Janganlah berterngkar

Wahai para bunglon
Janganlah berbohong

Hiduplah saling berteman
Hiasi hidup bergandeng tangan

Kupu-Kupu berdatangan bersorak-sorai menari

Tamat

MANUSIA KARDUS

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

KARDUS-KARDUS MEMASUKI PANGGUNG, MENARI DAN MENYANYI

Kardus, kardus, kardus
Tak berakal, tak berbekal
Kardus pembungkus kebaikan
Dari debu dan kotoran kehidupan

Nasib kardus bukan malang
Kardus juga makhluk Tuhan
Berguna untuk barang kemasan

1. Kardus 1 : Saya adalah kardus
2. Kardus 2 : Bungkus, bungkus, bungkus
3. Kardus 1 : Ya, kardus untuk membungkus
4. Kardus 1 : Bungkus, bungkus, bungkus
5. Kardus 2 : Dunia tidak sempurna tanpa kardus
6. Kardus 1 : Kardus TV
7. Kardus 2 : Kardus Kulkas
8. Kardus 1 : Kardus roti
9. Kardus 2 : Kardus, kardus, kardus
10. Kardus1 : Bahkan air pun dibungkus dengan kardus
11. Kardus 2 : Mampus, mampus, mampus!
12. Kardus 1 : Kenapa?
13. Kardus 2 : Aku bosan jadi kardus. Mampus, mampus, mampus
14. Kardus 1 : Kenapa?
15. Kardus 2 : Bila kita aus, kita menjadi sarang tikus
16. Kardus 1 : Lalu kenapa?
17. Kardus 2 :Kita harus berubah
18. Kardus 1 : Berubah? Berubah bagaimana?
19. Kardus : Lihat tikus-tikus itu.

TIKUS TIKUS BERDATANGAN MENARI DAN MENYANYI

Cit cit cit
Cit cit ci
Cit cit cit
Kamilah tikus-tikus berjalan beriringan
Cit cit cit Cit cit cit
Kulitku hitam, mataku tajam.
Cit cit cit Cit cit cit
Kumisku panjang, aduh sangatlah manis.
Cit cit cit Cit cit cit
Tikus-tikus mencari sampah
Tikus-tikus ada di rumah
Tikus-tikus makan apa saja.
Cit cit cit Cit cit cit

20. Tikus 1 : Long life, tikus
21. Tikus 2 : yo mesti long life
22. Tikus 1 : Saksikanlah kami. Para tikus! Hidup bebas dimana saja. Di hutan, di tempat sampah, bahkan di rumah-rumah mewah.
23. Tikus 2 : Hidup tikus!
24. Tikus-Tikus : Hidup tikus!
25. Tikus 1 : Long life, tikus
26. Tikus-Tikus : Hidup tikus!
27. Tikus 1 : Kami juga tidak pernah manja.. kami bisa makan apa saja, mulai dari soto, tahu campur, sampai permen sugus.

TIKUS-TIKUS KEMBALI BERGERAK DAN BERNYANYI.

28. Kardus 1 : Mampus! Tikus-tikus menuju kemari
29. Kardus 2 : Mampus! Pasti mereka mau beranak-pinak
30. Kardus 1 : Nasib terburuk kardus adalah menjadi sarang persalinan tikus
31. Karsus 2 : Hi hi hi hi……Ayo kita lari!

KARDUS BERUSAHA BERLARI, NAMUN TIDAK SECEPAT TIKUS-TIKUS. TIKUS-TIKUS TELAH MENGUASAI KARDUS-KARDUS. TIKUS-TIKUS MENGGIGIT KARDUS-KARDUS SAMBIL BERNYANYI

Tikus-tikus makan kardus
Kardus-kardus sarang tikus

32. Kardus 1 : Sebelum hancur, mari kita berdo’a pada Tuhan. Tuhan berjanji akan mengabulkan do’a orang teraniaya
33. Kardus 2 : Kita bukan orang.
34. Kardus 1 : Siapa tahu sama. Ya Tuhan! Sebelum kami hancur, kabulkan satu permohonan.
35. Kardus 2 : To the point saja! Jangan berbelit-belit
36. Kardus 1 : Ya Tuhan, Jadikanlah kami makhluk bebas hidup dan makan apa saja seperti tikus-tikus
37. Kardus 2 :Sial, kenapa kamu meminta menjadi makhluk seperti tikus… padahal tikus-tikus itu adalah makhluk yang paling kita benci
38. Kardus 1 : Terlanjur
39. Kardus 2 : Mampus, kita menjadi tikus

KARDUS-KARDUS BERGERAK BERUBAH MENJADI TIKUS-TIKUS. MEREKA BERNYANYI MENYESALI NASIBNYA

Eh mampus, kardus-kardus menjadi tikus-tikus

KARDUS TELAH BERUBAH MENJADI TIKUS. MEREKA BERGERAK DARI LAMBAN KE CEPAT DENGAN NYANYIAN

40. Tikus1 : Hi, di sini ada tikus
41. Tikus 2 : Di sini juga ada
42. Tikus 1 :Wah, disini tikusnya masih muda-muda. Masih cantik dan tampan-tampan
43. Tikus 2 : Kalau disini tikusnya sudah tua.
44. Tikus 1 : Kalau begitu kesini saja, siapa tahu ada yang naksir kita
45. Tikus 2 : It’s good idea. Ayo kita kesana, ke tempat tikus-tikus yang cantik dan tampan-tampan

TIKUS-TIKUS BERGERAK MENUJU KE TEMPAT YANG DITUJU

Cit cit cit cit cit cit
go go there, go there, go there mencari mangsa
tikus-tikus mencari mangsa memakan apa saja
tikus cantik
tikus tampan
I love you

KARDUS TIBA-TIBA KETAKUTAN
46. Tikus 1 : Sialan,
47. Tikus 2 : Ada kucing
48. Kucing-kucing : Ha ada kucing?!
49. Tikus 1 : Mana dia?!
50. Tikus 2 : Itu dia!
51. Tikus 2 : Itu juga
52. Tikus 1 : Di sana juga banyak kucing
53. Tikus 1 : Wah, kucingnya banyak sekali, sangat menakutkan. Ayo kita lari!

TIKUS-TIKUS SEMBURAT BERLARIAN. MEREKA BERKUMBPUL MERAPAT LAGI LALU BERNYANYI

Mata kucing
Mata kucing
Mata kucing maunya mencengkramku

MUNCUL KUCING MENGENDAP-ENDAP BERUSAHA MENANGKAP TIKUS-TIKUS. NYANYIAN TIKUS TIKUS MENJADI MILIK KUCING

Mata kucing
Mata kucing
Mata kucing maunya menerkam tikus

54. Tikus 1 : Wah, dia terus mengejar kita, bagaimana ini
55. Tikus 2 : Selama kita menjadi tikus kan belum pernah berdo’a pada Tuhan..
56. Tikus 1 : Maksud kamu kita meminta pertolongaNYA
57. Tikus 2 : Itu jalan satu-satunya yang harus kita lakukan
58. Tikus 1 : Mana mungkin. Dosa kita terlalu banyak. Makanan yang selalu kita makan adalah hasil curian.. pasti Tuhan sedang marah pada kita. Tuhan tidak akan mengabulkan do’a kita
59. Tikus 2 : Jangan pesimis. Tikus-tikus diciptakan tidak untuk menjadi makhluk yang mudah putus asa. Kita harus sunggu-sunggu dan berbaik sangka pada Tuhan. Tuhan pasti mengabulkan do’a kita
60. Tikus-Tius : (bersama-sama) amin, amin, amin….

TIKUS-TIKUS MELAKUKAN GERAKAN DO’A YANG KHUSUK

61. Tikus : Ya Tuhan, sungguh kami termasuk makluk yang aniaya, yang dholim, yang sesat, yang rendah. Kami telah melakukan banyak maksiat kepadaMu. Kami selalu mencuri, mengambil hak makhluk lain. Dan yang lebih dosa lagi hasil curian itu kami bagi-bagikan kepada teman-teman kami, saudara kami, bahkan ibu bapak kami.. ampunilah kami Tuhan yang telah memasukkan keluarga kami ke lembah nista, ke jalan menuju neraka. Sungguh Tuhan. Bila engkau tidak mengampuni kami, kami akan menjadi makhluk yang rugi selamannya. Ampunilah kami Tuhan, ampunilah…. (MENANGIS MENYESALI DOSA-DOSANYA) Ya tuhan yang maha pengasih, kasihanilah kami, jadikanlah kami makhluk yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi kucingpun tidak apa-apa.

SEKETIKA ITU TIKUS-TIKUS BERUBAH MENJADI KUCING.

Mata kucing
Mata kucing
Mata kucing maunya menerkam tikus
62. Kucing 1 : Kawan-kawan, ayo berangkat bersama-sama mencari mangsa. Mencari tikus-tikus. Di sana!
63. Kucing 2 : Ya, mungkin di sana, di tempat itu.
64. Kucing 1 : Ayo kita cepat kesana. Kita tangkap tikus-tikus itu lalu kita makan dagingnya

KUCING-KUCING BERGERAK KE SEGALA PENJURU BERBURU TIKUS SAMBIL BERNYANYI

Mata kucing
Mata kucing
Mata kucing maunya menerkam tikus
65. Kucing Kardus: Kawan-kawan! Di sana tadi saya melihat ada orang makan daging yang lezat. Tidak hanya makanan yang lezat yang dia miliki, tadi saya melihat dia juga memasukkan uang banyak ke dalam saku pakain dalamnya. Tapi aneh, kenapa ya, waktu memasukkan uang dia kok lihat kanan-kiri dengan wajah ketakutan. Jangan-jangan. Ah tidak. Tidak boleh berburuk sangka pada makhluk lain.
66. Kucing 1 : Ayo kita mendekat saja… lalu kita amati.

KUCING-KUCING BERGERAK MENGENDAP-ENDAP

67. Kucing 1 : Oh, betul dia pencuri
68. Kucing 2 : Hus, jangan cepat menuduh
69. Kucing 1 : Lihat saja gerakannya, seperti gerakan kita saat mencuri ikan pindang
70. Kucing 2 : Tidak sama, kucing dan manusia…
71. Kucing 1 : Apa bedanya
72. Kucing 2 : Kita hewan sedang manusia punya hati dan fikiran
73. Kucing 1 : Ah sama saja
74. Kucing 2 : Tidak sama
75. Kucing 1 : Sama saja

KUCING-KUCING BERDEBAT DENGAN DUA KATA “SAMA DAN TIDAK SAMA”. PERDEBATANYA BERUBAH MENJADI PERTARUNGAN. MEREKA SALING MENCAKAR.

76. Kucing Kardus : Ya Tuhan, kenapa semua hewan punya punya sisi jahat..saya fikir menjadi tikus, kucing lebih baaik dan aman daripada menjadi kardus… menjadi tikus suka mencuri, menjadi kucing suka bertengkar…lalu menjadi apalagi kita ini?!
77. Kucing 1 : Kita menjadi manusia saja
78. Kucing 2 : betul, agar kita tahu sebenarnya manusia itu pencuri atau bukan
79. Kucing Kardus : Ya Tuhan, ini adalah permohonan kami yang terakhir, kabulkanlah do’a kami. Jadikanlah kami makhluk termulya, makhluk yang punya hati dan akal, sebagai makhluk yang engkau percaya memjadi kholifah,.. ya Tuhan, kabulkanlah do’a kami menjadi …..
80. Kucing Kardus : Jangan-jangan… jangan memohon pada Tuhan menjadi manusia.. saya tahu persis..manusia ternyata lebih rendah dari kucing-kucing dan tikus-tikus…saya tadi masuk ke dalam TV.. lalu TV itu berbicara.. manusia juga suka mencuri dan bertengkar. Pak nazar, pak udin, bu melly, bu indah, pak rodli, pak padli, pak haji, pak heru, pak ali, pak amar, pak her, pak ilham, dan lain sebagainya. mereka semua penipu dan pencuri. sungguh jangan meminta untuk menjadi manusia..di sana-sini terjadi, pencurian, pertengkaran, kemaksiatan, pornoaksi, narkotika, tawuran antar kampung dan pelajar…hamper semua kerusakan di bumi ini disebabkan tangan-tangan manusia….sunggu jangan kita berdo’a menjadi manusia… jangan sampai kita menghianati Tuhan sang pencipta….

SEMUA KUCING-KUCING MENANGIS

81. Kucing 1 : Lalu apa yang harus kita lakukan?
82. Kucing Kardus : Kita meminta pada Tuhan untuk kembali menjadi kardus..kita bersyukur pada Tuhan.. Tuhan Maha Tahu dengan Segala kebaikan makhluknya..

KUCING-KUCING MEMBUAT FORMASI DO’A PADA TUHAN DENGAN UNGKAPAN BAHASA KUCING. KUCING-KUCING BERUBAH MENJADI KARDUS LALU MENYANYI BERSAMA-SAMA.

Kardus, kardus, kardus
Tak berakal, tak berbekal
Kardus pembungkus kebaikan
Dari debu dan kotoran kehidupan
Nasib kardus bukan malang
Kardus juga makhluk Tuhan
Berguna untuk barang kemasan

THE END

Lamongan, 17 Oktober 2011

Friday, March 23, 2012

KIBAR BENDERA SI SARTO DI HALAMAN RUMAH

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Para Tokoh;

Sartib, lelaki kampung yang berusia 40-an. Hari-harinya dirundung sedih karena belum genap seratus harinya ditinngal istri tercintanya.

Sarto, Bocah laki-laki berusia belasan tahun. Ia bisu dan kurang normal pikiranya, tapi ia punya semangat hidup yang tinggi.

Mbok Sumi, Perempuan Tua yang masih lantang bicaranya. Ia adalah tetangga yang sangat perhatian. Namun sangat cerewet.

Marjo, Pemuda penjual bendera

Kepala Desa, sesusia dengan Sartib. Ia suka main perempuan dan sok berwibawa. Sangat otoriter.

ADEGAN I

Seorang bocah laki-laki bisu berdiri di bawah tiang bendera. Ia memegangi talinya sambil menaikkan bendera merah putih yang sudah sobek-sobek. Ia tarik pelan sambil menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.
Dalam nyanyian yang hikmat, seorang lelaki dewasa berteriak memanggil bocah yang sedang khusuk bernyanyi. Lelaki yang memanggil itu adalah Sartib, ayah dari si bocah bisu itu.

Sartib : Sarto!
Sarto : (sedang khusuk bernyanyi)
Sartib : Sarto! Bapak minta mantuan!
Sarto : (terus menarik tali, menaikkan benderah merah putih)
Sartib : Sarto, sedang apa kamu?
Sarto : (terus saja ia pandangi benderanya yang sudah naik di atas setengah tiang)
Sartib : (lebih keras suaranya) Kenapa kamu tidak mengindahkan panggilan bapakmu sama sekali, apa kamu sudah budek?
Sarto : (tetap hikmat menyanyikan lagu Indonesia Raya)

Sartib keluar dari rumah, melihat apa yang sedang dilakukan anaknya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu berusaha bersabar menunggu anaknya menyelesaikan bait terakhir lagu “Indonesia Raya”.
Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sarto kemudian berlagak seperti komandan upacara untuk menghadap dan hormat pada ayahnya yang ia perlakukan sebagai Instruktur Upacara.

Sartib : Sarto, sarto ………… ya sudah bubarkan!
Sarto : (menggelengkan kepala)
Sartib : Sarto, komandan upacara, bubarkan, upacara telah selesai!
Sarto : (menggelengkan kepala)
Sartib : Upacara hari ini sudah bisa dibubarkan, tidak ada amanat dari instruktur
upacara. Ayo bubarkan!
Sarto : (menggelengkan kepala)

Sarto berlarian masuk rumah dan keluar dengan membawa sobekan kardus, ia berjalan tegap seakan membawa map yang berisi teks Proklamasi.

Sartib : Apa yang harus bapakmu lakukan, Sarto?
Sarto : (menggerakkan tangannya untuk meminta membaca teks Proklamasi dengan mengangkat tangannya seakan meneriakkan “merdeka”)
Sartib : Sarto, semuanya kita anggap ‘pre-memori’ ya
Sarto : (terus memaksa untuk membacakan teks Proklamasi dengan mengangkat tangannya”Merdeka”)
Sartib : Ya, pembacaan Proklamasi pre-memori. Ini kan masih latihan. 17 Agustus kan masih beberapa hari lagi.
Sarto : (mengangkat tangannya berulangkali)
Sartib : Ya, nanti anakku, kalau tanggal 17 Agustus kita akan mengadakan upacara di halaman rumah ini. Kita akan mengundang semua teman-temanmu, paman, bibi, semua sanak kita, dan tidak lupa para tetangga.
Sarto : ( terus memaksa bapaknya untuk membacakan teks Proklamasi)
Sartib : (Dengan suara membujuk) Anakku Sarto, upacara kemerdekaan itu harus dilaksanakan dengan banyak orang, tidak cukup hanya berdua. Ada komandan upacara, ada pengibar bendera, ada pembina upacara, ada pembaca teks Proklamasi. Ada pembaca do’a dan puluhan peserta upacara. Kalau upacara itu hanya kita lakukan berdua, akan ditertawakan oleh orang-orang yang lalu lalang di depan rumah kita. Mereka menganggap kita gila anakku, kamu Sarto dan bapakmu ini akan jadi omongan orang, bahwa anak dan bapaknya sama-sama gilanya.

Lagu Indonesia Raya mengalun.
Sarto mulai murung. Ia berjalan meninggalkan bapaknya. Ia sangat kecewa dengan perlakuan bapaknya yang tidak mau di ajak upacara.

Sartib : Sarto, kamu mau kemana? Jangan pergi, bapak masih butuh bantuanmu. Sarto, belikan bapak rokok, ada kembaliannya buat kamu.

Sarto langsung bergegas memenuhi panggilan bapaknya. Ia sangat girang.

Sartib : Ini uangnya, buat belikan rokok dua batang, sisanya buat kamu. (tersenyum merasa senang) Ya gitu, kamu harus riang. Besok kalau 17 Agustus kita akan adakan upacara di depan rumah . Bendera putihnya tidak sobek seperti milik kamu itu, kalau bapak punya uang kita ganti dengan yang baru. (bersemangat) Bendera si Sarto akan berkibar di halaman rumah.

Sarto bergegas pergi, ia berlari sambil menyanyikan bait terakhir lagu Indonesia Raya berulang-ulang.

ADEGAN II

Syair-syair lagu Indonesia Raya, berkumandang keras dalam degup jantung Sartib yang menunggu anaknya si Sarto yang belum juga datang. Pikiran Sartib berkecamuk antara keinginan merokok dan keinginan anaknya untuk melakukan upacara. Sartib meminum kopi untuk membuang pikiranya yang ruwet..
Tiba-tiba seorang peremupuan tua berlarian memanggil-manggil Sartib. Ia adalah mbok Sumi.

Mbok Sumi : Sartib, Sartib gak waras kamu ya, kamu tega dengan anak kamu sendiri. Ternyata kamu lebih sakit daripada anakmu. Sarto walaupun begitu, ia masih anakmu, Sartib!
Sartib : Ada apa mbok Sumi? Apa salah anak saya?
Mbok Sumi : Bukan salah anak kamu, tapi kamu yang salah.
Sartib : Apa yang di lakukan Sarto mbok, apa?
Mbok Sumi : Sartib, Sartib……. kamu bener-bener keterlaluan, kamu tidak bisa menjaga amanat bojomu, gak bisa jaga amanate Karti, Ibunya si Sarto.
Sartib : Mbok Sumi, jangan membawa-bawa nama almarhumah Karti, istriku. Biarkan ia tenang di sisi Tuhan.
Mbok Sumi : Belum genap seratus harinya. Istrimu meninggal. Kamu sudah lupa dengan amanatnya. Istrimu semakin tidak tenang karena kamu tidak bisa menjaga Sarto anaknya.
Sartib : Mbok Sumi……

Seorang laki-laki menggendong bocah yang diselimuti dengan bendera merah putih. Ia adalah si Sarto. Bocah itu ditidurkan di atas amben bambu. Sartib berusaha membantunya. Sartib membuka pelan bendera yang menutupi wajah anaknya.

Karjo : Sudah sabar ya, Gus. Sudah waktunya.
Sartib : Apa yang terjadi dengan anak saya, Mas?
Karjo : Usai membayarkan uangnya pada saya untuk membeli bendera baru itu. Ia bergegas membuka lipatan bendera. Saking gembiranya, ia kibarkan bendera merah putih itu sambil berlarian. Ia tidak melihat kanan kiri langsung berlari menyebrang jalan. Ia kecelakaan, ia ketabrak sepeda motor.
Sartib : Tidak terjadi apa-apa kan dengan dia. Dia hanya ingin tidur kan?
Karjo : Dia sudah meninggal, Gus.
Mbok Sumi : (tangisan mbok Sumi langsung pecah dan menghamburkan tubuhnya merangkul Sarto) Innalillahi, Sarto. Kenapa secepat ini. Kenapa kamu cepat ingin bertemu makmu, le?
Sartib : maksudnya?
Karjo : Ia sudah meninggal dunia, Gus Sarto
Sartib : (menangis histeris) Tidaaaak… tidak anakku Sarto, jangan tinggalkan bapakmu. Sarto ayo bangun, ya bapak mau sekarang, kita akan mengadakan upacara kemerdekaan. Bangun sarto, bapak akan membacakan Proklamasi. Ayo sarto, percayalah pada Bapak akan membacakan Proklamasi. Sarto bangun anakku. Ayo kita melaksanakan upacara bendera. Bangun Sarto…….! (menempelkan pipinya pada telinga anaknya, sambil menangis ia mengucapkan Proklamasi) Sarto anakku…. Karti, maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita. Maafkan aku Karti….
!
Back soud lagu Indonesia Raya mengiringi kepergian Sarto. Lampu fade out dan panggung menjadi gelap.

ADEGAN III

Lagu Indonesia Raya mengibarkan semangat Sartib untuk bersiap mendatangi Pak Kades di Balai Desa. Ia memakai sarung dan pecinya, dan langsung bergegas berangkat.
Sartib : Assalamualaikum, selamat pagi Pak Kades!
Kades : Pagi, Sartib. Ada apa kok pagi-pagi betul datang ke Balai Desa?
Sartib : Ya ada perlu, Pak Kades
Kades : Ya perlu apa? Mau menikah kamu Tib? Ya sukur. Tapi ya nggak pantes kalau secepat ini kamu mau menikah lagi. Belum genap saratus harinya Surti istrimu meninggal, anakmu yo baru kemarin meninggal. Kalau kamu mau cepat-cepat menikah yo nggak baik. Sabar duluh, tunggu sekitar satu tahun lagi. Kalau benar-benar nggak kuat ya paling tidak setenga tahun lagi la. Ngomong-ngomong mau menikah sama siapa sih?
Sartib : tidak, pak Kades
Kades : Sartib-Sartib, kamu ini seperti anak remaja yang lagi pertama jatuh cinta, pakai malu-malu segala. Perempuan mana, masih perawan atau sudah janda?
Sartib : Tidak pak Kades
Kades : Kita ini sudah berumur, Sartib, sudah makan asam garam persoalan perempuan, persoalan rumah tangga. Kamu kok pakai rahasia segala. Sungguh tidak akan saya sampaikan sama siapa-siapa.
Sartib : Tidak pak
Kades : Sartib, kalau aku tahu dan kenal perempuan itu. Aku kan akan bisa melindungi. Selaku Kepala Desa aku akan mengayomi. Maksud aku, kalau ada laki-laki yang menggoda perempuan calonmu itu, aku kan bisa ngomong kalau perempuan itu tidak boleh digoda karena bakal calonmu.
Sartib : Maaf, pak kades…
Kades : Oh, kamu takut sama saya. Takut kalau calon perempuanmu itu akan aku goda. Maaf Sartib. Selera aku dengan selera kamu jauh berbeda. Selera aku itu perempuan yang suka pakai lipstik, merah warnanya. Sartib sartib…..
Sartib : Maaf, pak kades. Maksud kedatangan saya ke sini bukan mau melapor kalau saya mau menikah.
Kades : Terus untuk apa?
Sartib : hari ini kan tujuh harinya anak saya, Si Sarto
Kades : Lha urusan tahlilan saja kok kamu laporkan ke kantor desa
Sartib : Bukan tahlilannya pak kades
Kades : Terus apa?
Sartib : Hutang saya pada sarto anak saya
Kades : Hutang apa itu?
Sartib : Saya berhutang mau ngadakan upacara bendera di halaman rumah saya, Pak Kades.
Kades : Apa, upacara bendera di halaman rumah kamu?
Sartib : Ya pak.
Kades : Terus sama siapa kamu akan mengadakan?
Sartib : Sama para tetangga. Dan saya berharap pak kades datang sebagai instruktur upacara untuk menyampaikan amanat.
Kades : Kamu tahu sejarah nggak, kenapa upacara bendera itu diadakan?
Sartib : Tidak banyak pak. Setahu saya ya untuk memperingati kejadian pada tanggal 17 agustus sebagai hari kemerdekaan kita. Bendera merah putih dikibarkan dan teks proklamasi dibacakan oleh Bung Karno. 17 agustus adalah pintu gerbang kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk merdeka, berkarya dan membangun.
Kades : Hanya itu?
Sartib : ya hanya itu pak, maklum tidak pernah makan bangku sekolah, Pak.
Kades : Kamu pernah lihat tidak upacara itu dihadiri tukang ngarit, tukang angon, tukang matun. Ya pokoknya orang-orang seperti yu ton, mbok sumi, Kang gus marjo tetangga kamu itu. Dengan memakai sewek dan kudung umbrut-umbrut gitu?
Sartib : Belum pak
Kades : Kamu pernah tahu tidak upacara bendera merah putih itu diadakan di depan Rumah?
Sartib : Belum pak
Kades : Begini Kang Gus sartib. Para pahlawan kita itu tidak main-main memperjuangkan kemerdekaan. Ia mengorbankan segala yang dimilikinya termasuk nyawanya. Kita sebagai warga negara yang baik, sebagai generasi perjuangan haruslah bisa merayakan dengan penuh hikmat.
Sartib : Saya serius pak Kades. Sungguh saya tidak main-main
Kades : kalau upacaranya di halaman depan rumah sampean dan yang hadir itu tetangga-tetangga sampean ya itu namanya main-main, Gus
Sartib : Tidak Pak, sungguh saya tidak main-main, saya serius ingin mengadakan upacara bendera, saya ingin menghormati anak saya yang sangat menghormati pahlawan yang memperjuangkannya.
Kades : Kalau ada upacara di laksanakan di halaman rumah dan diikuti oleh para tetangga itu namanya main-main, Gus. Upacara itu di laksanakan di halaman sekolah, di halaman kantor pemerintah, di alun-alun. Dan yang hadir adalah para pegawai pemerintah dan anak-anak sekolah.
Sartib : tapi kami akan melaksanakan dengan serius, pak Kades
Kades : Kalau kamu dan para tetangga yang melaksanakan. Itu namanya mempermainkan
Sartib : Sungguh Pak Kades, saya tidak main-main. Dengan tulus saya ingin mengadakan upacara untuk menghormati anak saya yang menghormati para pahlawannya.
Kades : (membentak) Tidak, tidak ada upacara di depan halaman rumah kamu!
Sartib : kenapa tidak boleh, pak Kades?
Kades : Karena kamu yang melaksanakan.
Sartib : Kenapa kalau saya yang melaksanakan tidak diperbolehkan, padahal saya sunguh-sungguh ingin melaksanakan. Saya ingin menghormati anak saya yang sungguh-sungguh menghormati para pahlawan.
Kades : Tidak! Pak sartib, saya tidak bisa membayangkan buah bibir warga, orang-orang kampung sebelah kalau upacara itu dilaksanakan.
Sartib : Kenapa, Pak Kades?
Kades : Mereka akan mentertawakan kita. Mereka akan menganggap kita gila.
Sartib : Kenapa mereka menganggap kita gila, Pak Kades?
Kades : Karena mengadakan Upacara memperingati kematiannya orang yang tidak normal alias gila.
Sartib : Siapa yang tidak waras pak Kades, anak saya atau para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan kita itu?
Kades : Hai goblok, yang tidak waras itu anak kamu yang bisu itu. (diam) Kang Gus Sartib, Si Sarto anak kamu itu tidak pernah sekolah, tidak pernah belajar, ngomong saja tidak bisa apalagi membaca. Masak kita akan memperingati kematiannya seperti kita memperingatai para pahlawan.
Sartib : Tapi, dia juga pahlawan, pak
Kades : (tertawa) apa, pahlawan? Pahlawan bagi siapa? Enaknya kamu ngomong bahwa ia pahlawan. Enaknya kamu menyamakan orang yang bisu dengan para pahlawan.
Sartip : Dia mati karena sangat mencintai bendera merah putih, dia mati karena dia ingin mengadakan upacara bendera untuk menghormati para pahlawan.
Kades : Pak Sartib. Ya itu, keinginan seperti itu hanya pada orang-orang yang tidak waras. Dia mati karena memperjuangkan ketololannya. Dan dia mati bukan sebagai pahlawan, tapi itu namanya mati gila!

Lagu Indonesia raya melantun mengiris hati. Mengiringi kepergian Sartib dengan rasa kecewa. Kecewa karena tidak dizinkan mengadakan upacara, dan kecewa karena anaknya dikatakan tidak waras dan mati gila!

ADEGAN IV

Sartib memegangi bendera yang seminggu lalu menjadi selimut kematian anaknya. Ia berjalan dengan hati sedih mengingat keinginan anaknya yang ingin sekali mengadakan upacara bendera merah putih. Di bawah tiang bendera ia ikatkan bendera dan ia tariknya pelan. Sampai pada setenga tiang bendera itu melambai sedih. Tiba-tiba Sartib kaget karena ada suara yang menghardik.

Kades : Tangkap Sartib. Dia sedang gila, dia sedang tidak waras, dia menghina bendera merah putih kita! Ayo, amankan si Sartib yang gila itu!

Sartib ditangkap dan diamankan dengan iring-iringan lagu Indonesia Raya.

Lamongan, 30 April 2008

TAMAT

Friday, January 13, 2012

Naskah Drama: Do’a Si Miskin

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Musik Pagi.
Pagi hari tatkala ayam jantan masih berkokok dan embun-embun mulai berterbangan. Anak-anak mulai bangun dari tidurnya, dan menyanyikan sebuah lagi dari tempat tidurnya masing-masing.

Inilah pagi ayam jantan berkokok
Membangunkan matahari
Embun-embun bercengkrama
Pada rerumputan

berkemas menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah
Mereka siap dan pergi ke sekolah.
1. Anak-Anak : (berteriak bersama) berangkat ke sekolah!
(bernyanyi) Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi sekolah sampai kan nanti

Sesampainya di ruang kelas mereka berucap salam dengan sesama teman mereka

2. Renti : hai teman-teman, selamat pagi dan selamat belajar! Sebelum
bapak ibu guru datang, mari kita berlatih menyanyikan hymne
guru, bagaimana?
3. Teman-teman : setuju….

Teman-teman sekolah menyambut dengan suka ria ajakan untuk berlatih bernyanyi.

Mereka kemudian membuat formasi barisan koor hymne

4. Renti : dua, tiga, empat
5. Anak-Anak : (koor)
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Di tengah nyanyian hymne, satu persatu mereka meninggalkan Lita. Hanya Mega yang masih setia menemani

Musik mengalun sedih

6. Lita : Mega, kenapa teman-teman meninggalkan kita?
7. Mega : saya tidak tahu
8. Lita : saya heran, padahal kan tadi teman-teman bersemangat untuk
belajar bernyanyi
9. Mega : ya, mungkin mereka belum sarapan
10. Lita : maksudnya?
11. Mega : ya mereka tidak kuat menahan lapar, kemudian mereka pergi
untuk beli jajan sebagai pengganti sarapan
12. Lita : aneh!?
13. Mega : kamu tadi sudah sarapan?
14. Lita : tidak biasa
15. Mega : maksud kamu?
16. Lita : ya, saya tidak biasa sarapan sebelum berangkat ke sekolah
17. Mega : jadi kamu belum sarapan kan?
18. Lita : belum
19. Mega : kalau begitu ayo kita beli jajan seperti mereka
20. Lita : saya tidak punya uang
21. Mega : sudahlah, ayo! (menarik tangan Lita)

Menghilang pergi ke kantin diiringi musik sedih
Diam

Musik ceria mulai terdengar. Hanung dan teman temannya berkumpul menyanyi dan menari

22. Hanung : hai teman-teman, aku punya uang banyak sekali
23. Rozi : halaaah, paling-paling kamu bohong
24. Hanung : hai Rozi, sejak kapan kamu tidak percaya sama saya?
25. Rozi : sejak kamu belum mentraktir kita
26. Eko : iya Hanung, kalau kamu betul-betul banyak uang. Traktir kita lagi dong!
27. Hanung : ah kalian, selalu saja minta ditraktir
28. Supri : lha kalau kita yang mentraktir ya tidak pantas, yang banyak
uangnya kan Hanung
29. Hanung : okelah, let’s go (sambil merogo sakunya mencari uang, namun
tak menemukannya) sebentar, uang saya dimana ya? Oh ya saya
ingat, uang itu tadi saya simpan di saku tas (mengambil tas dan
mencari uangnya, namun ia tidak menemukan uangnya)
30. Hanung : uang saya dimana ya, kok tidak ada. Hai teman-teman, apa kalian
menemukan uang saya?
31. Eko : paling kamu lupa tidak membawanya
32. Hanung : tidak, saya ingat betul, tadi saya simpan di saku tas ini
33. Supri : paling-paling sudah kamu buat beli jajan.

Di sasat mereka kebingungan, tiba-tiba Renti masuk kelas

34. Renti : ada apa ini?
35. Hanung : hai Renti, kamu yang mengambil uang saya?
36. Renti : apa kamu bilang Hanung?
37. Hanung : kamu mengambil uang saya!
38. Renti : jangan sembarangan kamu menuduh orang
39. Hanung : saya tidak menuduh. Saya hanya tanya
40. Renti : Hanung, Itu artinya menuduh
41. Hanung : terserah kamu. Sekarang kembalikan uang saya
42. Renti : dengar Hanung. ibu bapak saya tidak pernah mengajari saya
menjadi pencuri. Ibu bapak saya mengutuk anak-anaknya berbuat
yang merugikan orang lain.
43. Eko : sudah diam! Jangan bertengkar
44. Supri : Hanung, bagaimana kalau kamu tanya pada Lita dan Mega. Pada
waktu kita keluar beli jajan, mereka kan masih di dalam kelas
45. Rozi : ya hanung, tanya saja mereka berdua
46. Hanung : kalau begitu mari kita cari mereka

Mereka pun beramai-ramai memanggil Lita dan Mega. Mereka memaksa Lita dan Mega ke ruang kelas dan mengadilinya.

47. Lita : ada apa ini, kenapa kalian berbuat kasar kepada kami?
48. Rozi : ya, ini pantas diperlakukan pada pencuri
49. Mega : apa kamu bilang?
50. Eko : Mega, jangan berlagak. Terus terang aja!
51. Mega : hai teman-teman, maksud kalian apa?
52. Hanung : Lita si anak miskin dan kamu Mega. Tidak biasanya kalian
berdua ke kantin membeli jajan.
53. Lita : terus kenapa kalian berbuat kasar pada kami? Apa tidak boleh
kami sesekali membeli jajan.
54. Hanung : hai si miskin, diam! Darimana kamu dapat uang?
55. Lita : dibelikan sama Mega

Teman-teman lain mulai merasa menemukan siapa pencurinya

56. Rozi : hai teman-teman, sudah jelas kan siapa yang mencuri uang
Hanung.
57. Eko : pencurinya adalah……
58. Hanung : stop tidak perlu kalian jawab
59. Eko : Pencurunya adalah…..
60. Supri : Stop, tidak perlu dijawab. Tidak perlu dikatakan. Semua disini
sudah mengetahui siapa pencurinya. Hanung tanya sekali lagi
pada Lita!
61. Hanung : Lita si anak miskin, dari mana kamu uang untuk beli jajan?
62. Mega : hai, apa maksud kalian, kalian menuduh kami mencuri uang
kalian?
63. Hanung : Diam Mega, aku tidak tanya kalian.
64. Hanung : Lita, jawab! Dengan uang siapa kamu beli jajan?
65. Lita : saya dibelikan Mega
66. Eko : kesimpulanya, pencurinya adalah…………
67. Supri : stop, sekali lagi tidak perlu dijawab. Kita semua sudah tahu
pencurinya.
68. Renti : Mega, kalian mengerti kan maksud teman-teman?
69. Mega : ya aku mengerti. Kalian menuduhku mencuri uang Hanung.
70. Hanung : (marah) mega aku tidak menuduhmu. Tapi ini kenyataan. Kamu
adalah pencurinya
71. Mega : (marah) Hanung, jangan sembarangan kamu bicara..
72. Eko : Mega, jangan berkelit.
73. Mega : oh jadi kalian bersepakat menuduh kami pencuri

Teman-teman lain ramai berteriak mengatakan Mega dan Lita yang mengambil uang Hanung.

74. Hanung : dengarkan mereka Mega… bukan saya saja yang mengatakan
kamu dan temanmu si miskin itu pencuri. Tapi semua teman yang
ada di sini bersepakat bahwa kalian yang mengambil uang saya
75. Mega : atas dasar apa kalian menuduh kami?
76. Supri : ketika teman-teman pergi jajan, kalian masih saja tinggal di kelas
77. Eko : dan hari ini kamu banyak uang, buktinya kamu beli jajan
78. Hanung : Mega akui saja perbuatan tercela itu.
79. Mega : Berapa uang kamu yang hilang?
80. Hanung : lima puluh ribu
81. Mega : silakan cari di tas saya atau tas Lita
82. Hanung : Teman-teman tolong geledah tas mereka berdua

Teman-teman Hanung mengeluarkan semua isi tas mereka berdua tapi mereka tak menemukannya.

83. Eko : tidak ada Nung!
84. Rozi : ya jelas tidak ada, uangnya sudah dibelikan jajan
85. Mega : saya membeli jajan tidak dengan uang sebesar itu. Saya hanya
mebeli satu bungkus kerupuk yang harganya lima ratus rupiah
dan dengan uang lima ratus rupiah. Kerupuk itu kami makan
berdua. Demi Tuhan tidak lebih dari itu. Tanyakan pada Bulek
penjual jajan itu kalau tidak percaya!
86. Lita : ya aku akui itu, memang aku tidak sering keluar kelas untuk beli
jajan seperti kalian. Aku akui, kalian memang benar memanggilku dengan sebutan si miskin karena kami benar-benar anak miskin. Lebih dari itu yang aku alami. Kami bukan saja miskin, tapi kami juga tidak punya ibu. Sungguh teman kami tak pernah melakukan perbuatan tercela itu (menangis mengingat ibunya)

Musik mengalun sedih, mengiringi nyanyian

87. Mega : (menyanyi) Oh ibu air matamu
Ku ingin bersimpuh padamu
Nyanyikan dongeng belaianmu
Surga di telapak kakimu
88. Lita : maafkan saya ibu, sungguh aku tidak melakukan perbuatan yang
tidak terpuji itu. Sungguh ibu saya bukan pencurinya.

Tuhan kabulkanlah do’a si miskin yang sedang teraniayah ini.
Tuhan berikanlah peringatan kepada orang-orang yang memakan barang yang tidak menjadi haknya.
Tuhan berikanlah peringatan kepada orang-orang yang memakan barang yang tidak menjadi haknya.
Tuhan berikanlah peringatan kepada orang-orang yang memakan barang yang bukan haknya
Tuhan berikan kami petunjuk menuju jalan yang benar, jalan yang Engkau ridloi.
Tuhan, sungguh kabulkan do’a si miskin yang piatu yang kini
sedang teraniaya.

Nyanyian Mega terus mengalir mengiringi doa si yatim. Sedang Lita khusuk menagisi do’anya pada Tuhan.

Tiba-tiba Rozi dan Eko mengerang kesakitan. Mereka sakit perut. Mempertanyakan jajan yang mereka beli

89. Eko : aduuh sakit
90. Rozi : perutku juga sakit, aduuuh
91. Eko : mungkin roti yang kita beli tadi. Roti itu mungkin sudah jamuran.
92. Rozi : bukan hanya roti itu, tapi uang yang kita gunakan untuk membeli
93. Eko : maksudnya uang yang kita curi itu
94. Rozi : juga do’a Lita si miskin yang piatu itu.
95. Eko : aduuuh sakit
96. Rozi : perutku juga sakit, aduuuh

Tamat

Lamongan, 20 September 2004
Dijumput dari: http://ahmadzaini7576.blogspot.com/2010/11/doa-si-miskin.html

Friday, November 11, 2011

Naskah Monolog Perempuan Harum Kamboja*

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Adegan 1

Set panggung adalah taman pekuburan. Penuh dengan batu-batu nisan, dan reranting yang daunnya berguguran

Musik dan nyanyian pembuka adegan

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu berjalan mengendap-endap, menerobos semak belukar, menyusup di kegelapan. Cangkul di pundaknya terasa membebani langkahnya. Ia menyisiri batu-batu nisan dengan membelakangi penonton.

Perempuan :
Seperti hari-hari sebelumnya. Ya, seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini sudah yang kesekian kali aku mengunjungi suamiku yang terbujur dalam liang lahat. Seperti hari-hari biasanya.

Musik dan nyanyian terdengar

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Perempuan itu hanyut dalam nyanyian. Ia bergerak mengambil payung yang berada di atas kuburan suaminya. Ia menagis dan mendekapnya.
Nyanyian lirih. Tangisan perempuan makin menjadi. Ia memukul-mukul makam suaminya.

Perempuan :
Suamiku, kalau kau masih mencintaiku dan anakmu, bangunlah, kali ini akau dating dan mengharap kau mau jujur kepadaku. Tak ada orang di sini. Kau harus berani mengatakan kepadaku. Kau harus katakana apa yang telah terjadi saat itu.
Kalau kau masih tidak bergeming dari kebekuanmu, berarti kau menghianati dirimu sendiri. Nak kita tidak pernah sekolah lagi. Hidup kita hancur. Air mataku tidak akan pernah berhenti karena kekejaman yang menusuk mata ini..

Musik dan nyanyian terdengar lagi.
Perempuan itu mulai bangkit dari duduknya. Ia bergerak ikuti nyanyian sambil memainkan payungnya.

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik berhenti.
Berjalan dengan cepat mengembalikan payung papa posisi semula. Lalu ia berdiri tegap di samping makam suaminya.

Perempuan :
Aku sekarang tidak takut. Tetapi kau masih tetap diam. Kalau kau dulu bisa berkata jujur, mengapa sekarang kepada istrimu kau bungkam seribu kata? Sungguh hatiku sedih sekali, kalau iangat berita yang ditulis di Koran tentang kematianmu. Sungguh aku tidak percaya kalau kau berselingkuh dengan istri teman dekatmu.

Musik terdengar sedih.
Perempuan berpindah posisi ke samping depan dengan pelan.
Ia berdiri dengan menarik nafas panjang. Pada raut wajahnya mulai muncul amarah. Ia berkata dengan lantang.

Perempuan :
kalau itu tidak benar mengapa kau diam? Mati harus beralasan. Kau harus menghadap bapak hakim tau polisi dan mengatakan kepada mereka bahwa berita itu hanya rekayasa belaka. Atau kalau kau mau, kau harus menyeret mereka yang telah menyelakakanmu. Mengapa kau tidak berani menantang, seperti kau berani berbicara jujur kepada orang lain, mengapa?

Perempuan bergerak ambil sisi kiri panggung.

Perempuan :
Suamiku, kematianmu membuat orang lain tidak mengerti ikut terseret dalam kubangan setan. Dan ini membuatku dan anakmu menderita. Aku tahu, kau pun tahu, mereka punya uang dan senjata. Mereka bisa saja mengganti otak kita dengan otak kerbau, mencungkil mata kita, mengganti hati kita dengan hati anjing. Kau harus berbuat seperti dulu. Besok pengadilan mengetukan palunya. Kau harus menolongnya, agar mereka tidak teerus-menerus bersorak-sorai dalam kubangan air mata orang lain. (ia mengamil cangkul lalu memainkannya seperti menggali makam suaminya) ayo bangunlah suamiku……… bangunlah! (Perempuan itu mengayunkan cangkulnya dengan membabi buta) aku harus membuktikan bahwa berita itu adalah rekayasa atau bukan. Kau harus berani menghadapiku kalau kau lelaki jujur.

Amarah perempuan meledak dengan diiringi musik perkusi menghentak-hentak. Suara burung gagak-gagak ikut menjerit.

Ia berbicara keras, seakan berdialog dengan orang lain

Perempuan :
Ini kuburan suamiku! Ia harus menghadap ke pengadilan! Ia saksi utama atas kematianya. Ia harus menjelaskan kematiannya di muka pengadilan. Hanya ia yang bisa membela dirinya. Tidak ada alasan untuk mencegahku

Dengan cepat perempuan itu mengangkat cangkul dan mengayunkannya. Saking kalapnya, perempuan itu terrjungkal dan cangkul terlempar jauh.

Perempuan :
Kau menyakitiku. Kau berusaha seperti mereka agar kasus kematian suamiki tidak terbongkar. (menangis)

Isak tangis perempuan itu mulai mereda. Dengan tersendat-sendat ia berkata.

Perempuan :
Suamiku telah mempertaruhkan nyawanya demi menjalankan kewajibannya. Tetapi kematian itu justru membuatnya tidak tenang di pekuburan. Ia difitnah. Ia disudutkan, ia dibunuh dengan keji sekali. Semua pintu tertutup rapat.

Perempuan :
Ini bukan soal pekerjaan yang menyebabkan kematiannya. Tetapi kejujuran yang menyebabkan ia mati.

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Musik dan nyanyian berhenti

Perempuan itu segera meninggalkan makam suaminya dengan berjalan terseok-seok.

Perempuan :
Nyonya, kalau kekuasaan ada pada puncuk senjata, maka kebenaran ada pada peluruhnya yang setiap saat akan meledak dan menghancurkannya. (menoleh kebelakang dengan dengan barah hati yang terus berkobar) Aku pasti kembali

Musik dan nyanyian terdengar lagi

Malam berhembus lirih
Membawa harum kamboja

Perempuan dan setia
Kunang-kunang dan cahaya

Berkabar tentang lelaki
Di alam baka yang sunyi

Menghadap Sang Maha Yang Suci

Adegan 2

Setting Panggung berubah pada pelataran pengadilan. Perempuan itu berdiri dengan menenteng dua kepala. Yang satu telah menjadi tengkorak sedang yang satunya masih utuh. Darah segar menetes-netes dari lehernya. Perempuan itu tertawa menang dan terus berjalan menujuh pintu ruangan pengadilan. Ia kemudian berdhenti dan berdiri tegap di depan meja persidangan.

Perempuan :
Ini adalah dua mayat yang telah terbunuh. Mereka terbunuh karena menjalankan tugasnya. Tetapi apakah kalian tahu siapa pembunuhnya? (Suara sepih tertujuh pada mata perempuan). Kalau kalian tahu, kenpa tidak ditulis besar-besaran di Koran. Tulis saja!

Perempuan itu terus berteriak-teriak tidak karuan.
Musik beriringan menghentak-hentak
Muncul penjual Koran menawarkan dagangannya

“Koran, Koran-koran. Dua pria dibantai perempuan gila!”

Terdengar suara Ketua Hakim mengetukkan palu tiga kali. Tanda setuju.
Suasana menjadi gaduh dengan iringan musik dan nyanyian penutup adegan.

Salah orang bilang salah
Orang salah bilang salah
Ekskusi suatu hari kemudian

Salah bilang orang salah
Bilang salah salah orang
Ekskusi suatu hari kemudian

Tamat

*Disadur dari cerpen Kesetiaan Sang Istri Karya R. Giryadi

Lamongan, 28 September 2009

Wednesday, June 1, 2011

Dewi Sri

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Adegan 1

Musik gamelan dan rancak bambu
Para penari bergerak seperti ular, gerakannya lincah dan menggelombang. Gerakannya nampak indah. Dari tubuh tarian ular itu muncul perempuan cantik menari dengan tarian yang lebih indah, namun tetap seirama dengan kelompok penari lain. Perempuan cantik itu adalah Dewi Sri

Adegan 2

Beberapa menit kemudian, muncul Batara Guru dengan tariannya. Ia mengamati Dewi Sri yang masih menari.

Adegan 3

Kelompok penari ular sawah itu bergerak mengelilingi Dewi Sri, lalu pergi meninggalkannya.

Adegan 4

Dewi Sri terus menari sendiri. Dan mendekatlah batara guru. Ia bergerak menari menemani Dwi sri.
Musik berhenti.

1. Batara Guru : Bersama engkau aku menari Dewi, aku menemukan akar-akar kehidupan. Kehidupan itu bernafas sejuk, nafasnya diantara akar-akar tanah. Engkau adalah Maha Dewi. Para Dewa menaruh hati padamu. Kecantikanmu membuatku jatuh cinta Dewi
2. Dewi Sri : Batara Guru, saya telah berjanji pada ibu, saya turun dari Taman Sorga Loka dengan maksud menyampaikan amanat hidup.
3. Batara Guru : Sungguh, engkau adalah Maha Dewi tercantik..
4. Dewi Sri : maaf, Batara Guru. Saya harus pergi sekarang ke Buana Panca Tengah. Kedatanganku sangat dinanti. Kami tidak bisa membiarkan mereka tidak menemukan makanan.

Musik
Dewi Sri meninggalkan Batara Guru

Adegan 5

Orang-orang menari. Namun tariannya amat lemah. Mereka terlihat kelaparan.
Orang-orang : (menari dan menyanyi dengan tidak bertenaga)
Tiada daun, buah, dan biji yang perut menjadi kenyang
Duh, dewa-dewi di atas kahyangan
Lapar, lapar, lapar tidak tertahankan

Adegan 6

Dewi Sri turun, awalnya ia larut sedih, namun ia cepat sadar. Ia tidak boleh larut. Ia datang ke bumi dengan maksud membuat orang-orang mendapatkan makanan. Dwi Sri lalu menari dengan gerakan yang agak cepat dan indah. Orang-orang merespon Dwi Sri

5. Orang 1 : Nak, tarianmu cukup indah
6. Orang 2 : Engkau pasti dari Taman Sorga Loka
7. Orang 3 : Engkau adalah bidadari
8. Orang 4 : Saya yakin, bidadari itu membawa berkah
9. Orang 5 : membawa sesuatu yang bisa dimakan
10. Orang 6 : Dia adalah kehidupan dari kahyangan untuk kita semua

Dewi Sri tersenyum. Ia menari pelan. Tariannya menggambarkan orang yang sedang nampek (nebar benih padi), tandur (menanam padi), Ani-ani (memanen).

Orang-orang seperti dituntun untuk mengikuti gerakan Dewi Sri. Sesaat kemudian gerakan menjadi rancak dan cepat. Dwi Sri berhenti menari Ia nampak senang mengamati Orang-orang punya semangat hidup kembali. Melihat orang-orang bergembira menebar dan menanam padi, lalu memanennya dengan tarian.

11. Orang 1 : Sang Dewilah yang telah menjadikan tanah kita menjadi tetumbuhan yang bisa dimakan. Dia adalah Dewi Padi juga Dewi Kesuburan.
12. Orang 2 : Benih itu menjadi tumbuhan yang semilir
13. Orang 3 : Kita memiliki semangat hidup lagi
14. Orang 4 : Kita kembali seperti penganten
15. Orang 5 : Ya, kita laksana Raden Kamajaya yang sedang jatuh cinta pada Dewi kamaratih
16. Orang 6 : Dia adalah Dewi Sri, Dewi Kesuburan
17. Orang 1 :D alam jiwa Sang Dewi, kita menemukan akar-akar kehidupan. Akar-akar itu adalah dian. Akar-akar itu sehangat susu ibu.

Orang-orang menari dan menyanyi
“tanah kita adalah sorga
Tumbuh padi menjadi nasi
Dimakan pagi, siang dan malam hari”

Mereka terus bergembira sampai malam. Dan tertidur tenang. Malam hari muncul babi.

18. Orang 1 : Ayo bangun, bangun! Ada babi kecil, ada babi kecil! Babi itu merusak tanaman kita

Orang-orang serentak bangun dengan beriringan musik kentongan. Gerakannya menjadi tarian menangkap babi. Namun mereka kwalahan.

19. Orang 1 : kita harus meminta pertolongan Dewi Sri

Orang-orang membentuk formasi memanggil-manggil Dewi Sri.

20. Orang-orang : (memanggil dewi sri)

Sang Hyang Dewi, engkau adalah Dewi Kesuburan kami.
Ragamu adalah seperti raga kami
Hidupkanlah raga yang tanah ini dengan kesegaran buah dadamu.
Sucikanlah tanah yang kotor ini.
Usirlah hama-hama pemutus nadi hidup itu.
Usirlah bala-bala yang mengancam tanah dan sawah kami

Dwi sri kemudian tiba-tiba muncul di tengah orang-orang. Dwi sri bergerak menari dalam lingkaran orang-orang.

21. Dwi Sri : Janganlah engkau terus hidup dengan kebathilan.
22. Babi : Aku dihukum Sang Batara Guru
23. Dwi Sri : Karena engkau terus menerus hidup dalam kesombongan
24. Babi : Aku telah bersumpah Dewi, selama hidupku tidak akan puas bila tidak berbuat jahil pada makhluk apa saja.
25. Dwi Sri : Namun jangan pada tanaman padi.
26. Babi : Justru tetumbuhan padi adalah makanan kesukaanku.
27. Dwi Sri : Tetumbuhan itu bukan untukmu
28. Babi : Dwi Sri, Aku turun dari kahyangan ini dengan maksud agar aku leluasa melakukan apa saja. Aku tidak mau terikat pada peraturan dewa-dewa. Maka jangan larang aku itu memakan tanaman padi yang hijau dan subur itu
29. Dwi Sri : Padi itu aku yang membawa dari kahyangan, padi itu adalah raga dan jiwaku. Di sana terdapat kesegaran susu buah dadaku. Dan disanalah kesuburan bunga-bunga jiwaku
30. Babi : (tertawa) Aku tidak peduli dengan kata-kata sucimu.(Tertawa) Saya akan melakukan apa saja atas kehendak hasratku. (Tertawa). Minggirlah, jangan halangi aku untuk memakan tumbuhan itu.
31. Dwi Sri :Engkau yang harus pergi!

Dwi sri menjadi ular lalu bertarung dengan babi. Pertarungannya sangat sengit. Dan akhirnya babi kwalahan dan lari tungganglanggang.

32. Orang-Orang : terimakasih, Sang Hyang Dewi. Sujud sukur atas karunia pertolonganmu. Sujud sukur akan karunia kesuburan. Sang Hyang Dewi Sri, Dewi kesuburan petani.

Musik menghentak keras. Semua tokoh statis dengan formasi pemujaan terhadap Dewi Sri. Musik lamat-lamat menghilang sebagai pertanda pertunjukan selesai.

Tamat

Lamongan, 25 Mei 2010

Tuesday, March 29, 2011

Naskah Teater Anak: Mata Kucing

Mata Kucing
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Sinopsis
Adalah tentang permainan tardisi yang sering kali dimainkan anak-anak di pelataran pada malam bulan purnama. Awalnya mereka bermain dengan suka ria, namun kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak sportif dalam permainan. Sasa lebih memilih tidur daripada mencari teman-temanya yang sedang bersembunyi ketika bermain petak umpet.

Mega, anak perempuan yang paling besar kemudian marah-marah dan mengajak meninggalkan Sasa yang tidur sendirian di pelataran.

Sasa mengigau, dan teman-temanya menganggap ia kesurupan karena ketakutan. Kemudian Uzan, dan Rio menyalahkan Mega. Uzan dan Rio tidak mau bertanggungjawab pada apa yang sedang terjadi pada Sasa. Mereka pun mulai bertengkar saling menyalahkan, lempar batu sembunyi tangan.

Sedang Kiki anak terkecil lebih suka bermain dari pada mempedulikan pertengkaran teman-temanya.

Setting:
Di pelataran rumah kampung pada malam bulan purnama

Tokoh:
1. Mega, anak perempuan yang paling besar. Sedikit terlihat jiwa kepemimpinannya. Pemikiranya agak mulai dewasa.
2. Sasa, anak perempuan yang suka membuat masalah. Seringkali tidak mau sportif dalam permainan.
3. Uzan, anak laki-laki yang sifatnya kadang egois. Ia tidak mau dipersalahkan.
4. Rio, anak laki-laki yang tidak punya pendirian. Selalu ikut apa kata Uzan.
5. Kiki, anak perempuan terkecil yang masih lugu.
***

Anak-anak bermain di pelataran. Mereka bermain “Pung-Pung Balung” kemudian menyusun semua telapak tangan. Masing-masing menggengem tiap jari jempol milik temannya dengan bernyanyi “Pung-Pung Balung”

pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Telapak tangan yang paling bawah terbuka di setiap akhir nyanyian. Kemudian mereka melanjutkan nyanyiannya dengan nyanyian “Yek Uyek Ranti”, sambil mengunyek punggung tangan, mereka bernyanyi

Yek-uyek ranti
Ono bebek pinggir kali
Nothol pari sak uli
Ditangisi mrebes mili
Serontang seranting
Ono bajing nyolong gunting
Guntinge mbok petoro
Uleno nang ngabean
Golekno payung abang
Abang-bang seronce
Sedelek ceplis

Pada setiap akhir lagu, salah satu anak mengangkat setiap telapak tangan ke kepala pemiliknya. Dan pada akhirnya masing-masing mengangkat kedua tangan, seakan memanggul keranjang di atas kepala. Salah satu diantara mereka kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.

1. Mega: Kalian semua sedang membawa apa?
2. Anak-Anak: Membawa keranjang berisi hewan
3. Mega: Coba turunkan, saya ingin tahu

Anak-anak menurunkan isi keranjang sambil bersuara seakan suara hewan yang ada dalam keranjang. Lalu mereka memainkan menjadi hewan. Kemudian mereka adu kekuatan dengan suara-suara.

4. Uzan : (bersuara menjadi kambing)
5. Kiki : (bersuara menjadi burung)
6. Sasa : (bersuara menjadi kucing)
7. Rio : (bersuara menjadi ayam)
8. Mega : (bersuara menjadi tikus)

Suara hewan-hewan bersahutan seakan di margasatwa. Suaranya menjadi nyanyian. Kadang-kadang merdu. Kadang-kadang menakutkan.

“embek-embek cicit-cuit cicit-cuit meong-meong pethok-pethok cit-cit uwiing”

9. Uzan: Aku berbadan besar. Akulah kambing, merumput pada pematang sawah

10. Kiki : Aku si kecil tapi cantik. Aku terbang, dan hinggap pada pepohonan

11. Sasa : Akulah si manis. namun bertaring. Aku suka makan daging

12. Rio : Akulah si ayam. Suka memakan biji-bijian
13. Mega : Aku si tikus. tapi aku adalah si tikus putih yang cantik dan tidak menjijikkan
14. Heni : Akulah si nyamuk, centil, dan suka menggigit mereka yang malas bersih-bersih
Mereka berlari sambil meneriakkan tentang binatang yang dianggap mengganggu hidupnya.
Burung hinggap dan mematuk-matuk tubuh kambing

15. Fauzan : Aduh, tubuhku sakit. Tubuhku dipathok burung
Tikus mengejar burung

16. Kiki : Takut, aku dikejar-kejar tikus
Kambing menyeruduk kucing

17. Sasa : Waduh bahaya, ada si kambing bertanduk. Ia suka Menyeruduk
Tikus merebut makanan ayam

18. Rio : Dasar si tikus. Selalu saja menggangguku. Ia merebut Makananku
Nyamuk merasa aman. Ia leluasa terbang kesana-kemari

19. Heni : Uwiing, nyamuk tidak takut apapun, karena hidupnya nyamuk pada malam gelap-gulita, nyamuk juga tidak takut pada hantu, uwiiing…

Anak-anak berlarian, mereka seakan dikejar puluhan nyamuk

20. Anak-anak : (bernyanyi)

Banyak nyamuk digigit sakit
Aduh aduh, nyamuknya nakal

Anak-anak berlarian sambil mengibas tangannya, mereka terus bernyanyi sambil melakukan gerakan tari. Lama-lama mereka kelihatan lelah. Pelan-pelan tertidur.

21. Heni : Wah, mereka kok tidur semua ya, kalau begitu nyamuk juga mau tidur. Nyamuknya ngantuk. Nyamuknya tidur, uwiiiing…

Semua tertidur pulas, dengkuran mereka bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian Sasa yang memerankan sebagai kucing bangun. Bergerak mengaum.

22. Sasa : Meong, meooong…..

Mega yang menjadi tikus itu bangun dengan ketakutan. Layaknya seekor tikus yang mau diterkam oleh seekor kucing

23. Mega : Mata kucing, mata kucing itu seakan mau menerkamku.

Satu persatu anak-anak terjaga dari tidurnya dengan rasa takut. Pelan-pelan mereka berkumpul bergerak menjauhi si kucing. Mereka bergerak dengan nyanyian.

“mata kucing, mata kucing, seakan menerkamku”

24. Mega : Ayo kita bersembunyi!
25. Anak-anak : Ayo….

Sambil menyuarakan suara binatang, anak-anak bersembunyi, sedang Sasa harus menutup matannya sambil bernyanyi meminta bantuan setan gundul untuk menemukan persembunyian teman-temannya.

26. Sasa : (bernyanyi)

Setan gundul temokno koncoku,
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu

27. Kiki : Belum (belum menemukan tempat persembunyian)
28. Rio : Aku juga belum, aku masih mencari tempat persembunyian

29. Mega : Cuit
30. Uzan : Cuit

Sasa terus bernyanyi sedang teman-teman lain bercicit-cuit, seperti memainkan musik iringi nyanyian Sasa.

Anak-anak yang bersembunyi terus bercicit-cuit untuk mengeco Sasa. Sedang Sasa bergerak kebingungan sampai ia ketiduran. Suara cicit-cuit terus mencericit. Lama kemudian Sasa berhenti mencari dan kembali tidur.

31. Mega : Sssst, sepertinya ada yang tidak beres.
32. Uzan : Kenapa Mega?
33. Mega : Coba kamu lihat Sasa, si anak kentongan itu. Dia pura-pura tidur, dia tidak mau mencari kita.

34. Kiki : Hi Sasa, tidak boleh nakalan begitu!
35. Rio : Iya, tidak boleh cepat menyerah. kalau nakalan seperti itu permaianan kita tidak seru.

36. Mega : Aku punya ide.
37. Heni : Ide apa itu?
38. Mega : Anak yang nakal, yang tidak sportif dalam permainan kita nakali juga.

39. Uzan : Maksud Mega?
40. Mega : Kita tinggal saja dia, biar dia tidur di sini sendirian, biar digondol setan gundul.

41. Rio : Ya, aku setuju.

Anak-anak mulai meninggalkan arena permainan dengan melantunkan tembang dolanannya.

Setan gundul gondolen Sasa
Setan gundul gondolen Sasa

42. Uzan : Stop, sepertinya kali ini Sasa tidak pura-pura tidur. ia benar-benar tertidur.

43. Kiki : Ya, Sasa kan biasanya penakut. Tapi hari ini dia tidak takut.

44. Rio : Pasti dia tidur sungguhan. Andaikata ia tidur-tiduran, ia pasti bangun dan mengejar kita. Ia pasti takut sendirian.

45. Kiki : Kita klitiki aja dia, pasti ketahuan, apakah dia benar-benar tidur Atau pura-pura!

Mereka berempat jalan mengendap-endap sambil membawa setangkai sapu lidi. Mereka gunakan untuk mengkelitiki telingah Sasa. Sasa terbangun, tapi ia seperti orang yang sedang ngigau. Ia duduk, berdiri dan berjalan sambil mulutnya nggedumbel.

Setan gundul, temokno koncoku
Sing gak koen temokno tak uyoi ndasmu.

Sasa terus berjalan dengan mengucapkan beberapa kalimat setan gundul tersebut.

46. Rio : Wah bahaya, dia kerasukan setan
47. Mega : Maksud kamu keserupan?
48. Kiki : (Menangis karena ketakutan) Sasa kesurupan ya? Mae, mae, aku takut…

Sasa kemudian kembali lagi ke tempat semula dan terus bergumam memanggil-manggil setan gundul.

49. Uzan : Mega, bagaimana ini semua tejadi? Ini semua gara-gara kamu.

50. Rio : Ya, ini gara-gara kamu. Sasa kesurupan dan kiki menangis ketakutan

51. Mega : Apa, gara-gara aku. ini salah Sasa sendiri. Enak-enak main kok dia malah tidur.

52. Uzan : Tapi kenapa kamu ajak kita untuk meninggalkan dia tidur sendiri di sini?

53. Mega : Biar dia kapok. Lagian dia gak sportif. Waktunya jadi dia malah tiduran. Tidak mau mencari. Apa kemudian kita biarkan saja dia, sambil kita menunggu digigiti nyamuk.

54. Rio : Pokoknya, kamu harus bertanggungjawab. Kalau ayahnya marah, aku tidak ikut-ikut

55. Uzan : Ya, kamu sendiri yang salah. Bukan kita.
56. Mega : Hai, kalian nyrocos saja, chicken you are! Pengecut kau!

Mereka terus berdebat. Sedang Kiki terus menangis dan Sasa sudah tidak ngomel lagi. Ia kembali tidur sambil mendengkur.

Uzan dan Rio terus tidak mau kalah. Ia terus menyalahkan Mega. Mereka mengolok-olok mega dengan nyanyian.

57. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
58. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai…
59. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
60. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau!

Don”t be chicken, jangan jadi pengecut kau!

61. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa”
62. Mega : Stop

Dengan terlihat marah, mega membentak mereka. Spontan nyanyiannya berhenti

63. Mega : Teman, jangan lempar batu sembunyi tangan, ini masalah kita bersama, seharusnya kita hadapi dengan kesatria.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

64. Uzan : Ayahnya datang!

Mereka berlarian mengisis ruang kosong dan saling bertabrakan. Mereka mengadu kesakitan

65. Mega : Rasakan kalian pengecut. Itu adalah batunya orang yang lempar sembunyi tangan.
Sasa tiba-tiba terbangun dan menceritakan mimpinya.

66. Sasa : Aku tadi tidur ya? Aku bermimpi bertemu dengan setan gundul. Setan gundul itu lucu sekali. (mengamati temannya yang kesakitan) Kenapa kalian mengerang kesakitan? Jatuh karena lari ya. Kenapa, takut sama setan gundul. Setan gundul alias tuyul itu imut, lucu.

67. Uzan : Hai, kucing, ini semua gara-gara kamu. Kamu merasa bersalah tidak ?

68. Sasa : Apa salah saya?
69. Rio : Hai, kamu tadi tidur apa kesurupan?
70. Sasa : Yang jalas aku bermimpi bertemu dengan setan gundul yang imut.

71. Uzan : Kamu sekarang sudah sadar belum? Jangan-jangan masih mengigau

72. Mega : Ayo kita jiwiti dia
Mereka bersama-sama menjiwit Sasa. Sasa mengerang kesakitan

73. Mega : Ternyata dia sudah sadar. Tidak ngigau lagi
74. Rio : Jangan-jangan dia masih kesurupan

Tiba-tiba Sasa menangis karena kesakitan

75. Kiki : Hayo hayo si Sasa menangis

Sasa mengerang menangis kesakitan. Mereka berdebat saling menyalahkan lagi.

76. Uzan dan Rio : Aduh, Mega lagi Mega lagi
77. Rio : Mega, kenapa kau selalu membuat ulah.
78. Uzan : Ya, tangan kamu banyak setannya. Selalu membuat masalah.

79. Mega : Hai, dasar kalian otak keyong, kenapa kalian selalu menyalahkan aku?

80. Rio : Siapa lagi kalau bukan kamu
81. Mega : Apa yang mencubit sasa tadi tangan saya sendiri?
82. Ucan : Tapi, kamu yang mengajak kan?
83. Mega : Dan kalian ikut kan?

Mereka kaembali berdebat sambil bernyanyi

84. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokoknya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
85. Mega : (bernyanyi) Hai, hai hai hai……
86. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
87. Mega : (bernyanyi) Hai, chicken chicken you are, Pengecut kau

Don”t be chicken, jangan pengecut kau

88. Uzan dan Rio : (bernyanyi) Pokonya dia yang buat ula, kita tak tahu apa
89. Mega : Stop, berhentiii! Aku muak dengan kepengecutan kalian!
90. Kiki : (berdiri) Kenapa orang besar sukanya bertengkar. Selalu

saja beranggapan dia yang paling benar. Kapan waktunya untuk bermain, bersendah-gurau

91. Uzan : Kiki, diam sebentar!
92. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
93. Uzan : Hai hai hai, sekali lagi diam!
94. Kiki : Apa semua masalah harus diselesaikan dengan pertengkaran?
95. Rio : Kiki, diam, jangan banyak bicara!
96. Mega : Hai teman, dia punya hak untuk bicara
97. Uzan : Tapi dia masih kecil
98. Mega : Apa kalian sudah besar?
99. Rio : Tapi paling tidak kita lebih besar darinya.
100. Mega : Tetapi bisa jadi dia lebih pantas bicara dari pada kalian.

Kiki bergerak menjauh dari perdebatan. Ia mencari tempat untuk menyendiri. Dan bernyanyi sendiri.

101. Kiki : (bernyanyi)
pung pung balung
bumi merak bumi mancung
mekaro ndok sepiti pyar

Sasa kemudian datang menghampirinya.

102. Sasa : Kiki, kenapa kamu bermain sendirian?
103. Kiki : Aku tidak suka pertengkaran
104. Sasa : Oh, jadi kamu bermain sendiri, karena yang lain pada suka
bertengkar. Kenapa mereka bertengkar?
105. Kiki : Ini gara-gara kamu.
106. Sasa : Ha, gara-gara aku, apa ya salah aku?(bingung) mereka
bertengkar gara-gara aku. Kiki, aku jadi bingung. Kiki,
apa salah aku?
107. Kiki : Cari sendiri!
108. Sasa : Ayo dong kiki, apa salah aku?
109. Kiki : Orang baik itu tahu kesalahan dan kekurangannya sendiri.
Lalu ia berusaha memperbaikinya.

Bertemu kembali dan meneruskan perdebatan

110. Mega : Sekarang ayo kita akhiri perdebatan kita.
111. Uzan : Tidak mau sebelum kamu mengaku bersalah
112. Mega : Apa, aku yang salah. Justru kalian yang bersalah
113. Rio : Hai hai hai… yang tadi mengajak untuk meninggalkan
Sasa itu siapa?
114. Mega : Kalian juga mendukung kan?
115. Uzan : Yang tadi mengajak untuk menjiwit Sasa siapa?
116. Mega : Kalian juga mendukung kan, ayo, masih menyalahkan
orang lain, masih tidak merasa bersalah, tetap lempar batu
sembunyi tangan!?
Mereka terus berdebat. Saling menyalahkan dan tidak mau saling mengakui kesalahannya.

117. Sasa : Oh oh oh… sekarang aku tahu kesalahanku. Ini semua gara-gara aku. aku tidak sportif dalam permainan. Satu keselahan kecil, akan menciptakan kesalahan-kesalahan yang lebih besar. Aku baru sadar, perbuatan yang tidak baik itu pasti membuat orang lain menjadi menderita.

Sasa kemudian berlarian meminta maaf pada teman-temannya.

118. Sasa : Minta maaf, minta maaf, minta maaf ya, aku minta
maaf….
119. Uzan : Hai diam. Kenapa kau berteriak-teriak?
120. Sasa : Minta maaf!
121. Rio : Kenapa meminta maaf?
122. Sasa : Aku bersalah
123. Uzan : Lihat Mega, Sasa saja mau minta maaf, lalu kamu
bagaimana? Kamu mau meminta maaf tidak?
124. Mega : Kamu sendiri bagaimana?
125. Uzan : Aku tidak bersalah, kenapa harus minta maaf
126. Rio : Ya, kita tidak bersalah, kita tidak perlu minta maaf
127. Mega : Dasar kepala batu, maunya yang paling benar.
128. Sasa : Orang-orang yang merasa dirinya sudah besar, mereka
selalu dirinya yang paling benar, padahal padahal mereka
adalah…… (berlari menggandeng tangan Kiki) Kiki Kiki
ayo kita bermain…

Sasa dan Kiki kembali bermain pung-pung balung. Sedang yang lain masih bertengkar, tidak mau damai. Kiki dan Sasa terus asyik bernyanyi. Mereka melanjutkan dengan nyanyian yek-uyrk ranti. Bergerak megal-megol seperti bebek.

TAMAT
Lamongan, Januari 2008
Sumber: http://sangbala01.blogspot.com/2010/11/naskah-teater-anak-mata-kucing_28.html

Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Rodli TL Template by Bamz | Publish on Bamz Templates