Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Saturday, July 28, 2012

Poligami ala Emha

Judul Buku : Istriku Seribu
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress, Jogjakarta
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : iv + 64 Halaman
Peresensi: Em Syuhada’
http://arsip.pontianakpost.com/


KETIKA KH Abdullah Gymnastiar membeberkan pernikahan keduanya di media massa beberapa waktu lalu, wacana poligami kembali menjadi menu perbincangan hangat di negeri ini. Apa yang dilakukan Aa’ Gym seperti memantik reaksi sejumlah kalangan untuk buka suara. Bahkan, DPP Partai Bintang Reformasi yang notabene partai berasaskan Islam memutuskan mencopot kadernya dari kursi wakil ketua DPR, gara-gara yang bersangkutan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Aa’ Gym. Ada apa sebenarnya dengan poligami. Sebegitu menakutkankah ia, sehingga para pelakunya –meminjam bahasanya Zaenal Ma’arif dikejar-kejar layaknya seorang teroris.

Poligami memang tak henti menyulutkan kontroverasi. Di tengah maraknya isu yang berkembang di negeri yang sedang panen bencana ini, ia tampil di depan publik melengkapi seabrek permasalahan yang sedang terjadi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah tak mau kalah dalam pertarungan wacana itu dengan berencana merevisi Undang-Undang Perkawinan No.1/1974 dan PP. No. 10 Tahun 1983. Pertanyaannya, betulkah poligami adalah sesuatu yang penting sehingga kehadirannya mampu menyedot sebagian opini publik? Apakah perbincangan mengenai poligami betul-betul telah menyentuh hal yang substansial? Hal-hal semacam itulah yang tampaknya mengilhami Cak Nun –panggilan akrab Emha Ainun Nadjib– untuk menulis buku ini.

Menurut Cak Nun, perdebatan mengenai poligami yang selama ini terjadi hanya berputar-putar pada wilayah kulit. Tak ada keseriusan dari berbagai pihak dengan berusaha mencari landasan hukumnya pada khasanah agama, ideologi, atau filsafat (hlm. 11).

Dengan memakai pendekatan sastra, Cak Nun menciptakan situasi di mana ia sedang terlibat pembicaraan dengan Yai Sudrun. Dengan sangat piawai, ia menyusun serangkaian dialog mengenai soal-soal kehidupan yang sarat dengan muatan makna. Yang menarik, kesengajaan Cak Nun mengemukakan sejumlah pengalamannya dalam hal keberagamaan, baik ia sebagai pribadi atau tatkala berkelana ke berbagai belahan dunia bersama komunitasnya Kyai Kanjeng, adalah upayanya mengemukakan sikap hidup sebagai seorang Emha yang sunyi, yang pemikirannya cenderung melawan mainstream. Cak Nun memang unik, meski gagasan awal buku ini adalah mengusung tema poligami, sebagaimana tersurat dalam judulnya, kenyataannya ia mampu menyeret pembaca untuk menjelajah setiap kemungkinan dalam ruang kehidupan.

Mungkin kita bertanya, siapa sebenarnya Yai Sudrun? Kenapa dalam banyak karyanya Cak Nun sering menghadirkan sosok itu? Apakah ia hanya tokoh fiktif yang semata-mata hasil imajinasi Emha? Ataukah benar-benar ada dalam alam kasunyatan? Hanya Cak Nun yang tahu. Yang jelas, Yai Sudrun bagi Cak Nun adalah sosok nyentrik yang memiliki sangat banyak keajaiban (hlm. 18–20).**

*) Alumnus PP Roudlotun Nasyiin, Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto.

Seutas Tali Rindu yang Terpotong


Judul Buku : Lontara Rindu
Karya : S. Gegge Mapanggewa
Terbitan : Republika, Maret 2012
viii + 342 hlm
Peresensi : Ratno Fadillah *
http://www.lampungpost.com/

NOVEL Lontara Rindu hadir dengan obsesi besar. Mengabarkan kebudayaan masyarakat Bugis hari ini dengan segala permasalahannya. Melalui tokoh Vito, keluarganya, sahabat dan guru sekolahnya, Lontara Rindu adalah sebuah fragmen masyarakat Bugis yang bersahaja dan inspiratif.
Dengan riang dan ringan, melalui novel ini, kebudayaan masyarakat Bugis dapat mudah pembaca pahami, bahkan memungkinkan untuk dijelajahi. Benar. Penulis novel ini, S. Gegge Mapanggewa, seperti hendak mengantarkan pembacanya untuk berziarah ke Cenrana, Panca Lautang, Siddenre Rapang, Sulawesi Selatan.

Penulis tak hanya merayu pembacanya dengan menuturkan bagaimana keindahan alam di muasal tempat penulis lahir dan tumbuh besar itu. Namun juga menuturkan mitos-mitos yang tumbuh sampai saat ini, tradisi adat yang masih berlangsung, agama lokal yang berkembang, kebiasaan-kebiasaan khas masyarakat Bugis, kuliner khas, bahkan sampai dengan permainan tradisional, seperti gasing yang terbuat dari batang pohon kesambi.

Boleh jadi ada anggapan novel ini membosankan bila belum membaca sendiri karena penuh dengan deskripsi artefak kebudayaan tersebut. Tapi, setelah membaca halaman pertama, pembaca tak akan menutupnya sebelum ceritanya selesai. Gegge, penulis buku ini, telah berhasil mengemas artefak kebudayaan itu menjadi bagian penting dari jalinan cerita yang menghibur.

Kisahnya berawal dari Vito, laki-laki remaja yang duduk di SMP, yang sangat rindu bertemu dengan ayah dan adik kembarnya, Vino. Kerinduan Vito ini adalah benang tebal yang menautkan peristiwa-peristiwa lainnya di dalam novel ini. Melalui rindu yang berderu itu, Vito membuka tragedi masa lalu yang menimpa ibunya. Mengapa ia dan ibunya harus berpisah dengan ayahnya dan Vino. Selain itu, tanpa sadar, Vito juga telah menyibak fakta di balik keberadaan penganut keyakinan Tolotang di antara masyarakat muslim Bugis.

Kerinduan Vito yang tulus, dapat dikatakan, adalah pelita penerang bagi sepenggal riwayat kehidupan keluarganya yang disembunyikan oleh ibunya dan kakeknya sendiri.

Peristiwa yang paling menarik adalah kebersamaan Vito dengan ketujuh teman sekolahnya dan Pak Amin, gurunya. Namun, dalam narasi sekunder ini, peran Vito tampak tak selalu dominan. Pak Amin yang dicitrakan sebagai guru sekaligus sahabat murid-muridnya, juga menjadi titik pusar dalam narasi sekunder ini.

Dalam peristiwa pencurian enau untuk pembuatan ballo’ (tuak yang dicampur dengan ramuan kayu tertentu yang rasanya pahit dan memabukkan) di kebun milik Pak Japareng, peran yang dimainkan Vito sebenarnya tak begitu berbeda dengan peran Irfan, Anugerah, dan teman-teman lainnya. Justru Pak Amin memainkan peran yang cukup signifikan pada bagian kebersamaan antara siswa ini. Pada narasi sekunder ini fokus cerita seakan beralih kepada Pak Amin.

Terbelahnya fokus cerita ini, sedikitnya berpengaruh pada pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Benarkah penulis sejatinya ingin mengisahkan tentang perjuangan Vito dalam mencari saudara kembar dan ayahnya? Bahwa cinta Vito akan menjadi penawar luka dan perajut cinta yang telah putus antara keluarga ibunya dan keluarga ayahnya. Atau justru penulis ingin mengisahkan semangat hidup anak-anak Pakka Salo dalam mencari ilmu, meskipun penuh dengan keterbatasan.

Dualisme narasi yang tampak menganga ini, menimbulkan kecurigaan bahwa dalam proses kreatifnya, penulis dibayang-bayangi oleh kesuksesan novel Laskar Pelangi. Bila tidak dikatakan sebagai epigon dari Laskar Pelangi.

Jejak bayang-bayang itu dapat ditemui dari pemilihan tokoh-tokohnya, keberadaan guru, lomba dirgahayu kemerdekaan, dan setting kelas terdapat kesamaan novel ini dengan Laskar Pelangi. Benarkah ini suatu tindakan duplikasi penulisnya terhadap Laskar Pelangi atau memang suatu proses kreatif yang di luar kendali kesadaran penulisnya?

Entahlah. Namun, bila mengingat novel ini adalah pemenang dari hasil penjurian lomba menulis, hal tersebut tentulah patut disayangkan.

Pada akhir-akhir cerita, peristiwa-peristiwa tiba-tiba—bila tidak dikatakan kebetulan-kebetulan—yang diciptakan penulis seperti memaksakan akhir cerita yang bahagia. Hal ini tentu sedikit menyiksa pembaca. Ya. Mengakibatkan pembaca harus kerja keras menyusun logika cerita untuk menyimpulkan akhir cerita novel ini.

*) Ratno Fadillah, penulis /22 July 2012

Friday, June 29, 2012

Membaca Novel TEMBANG TOLAK BALA(k)

Judul Novel Budaya: Tembang Tolak Bala
Penulis: Hans Gagas)
Peresensi: Arim Kamandaka *)
http://ponorogozone.com/

Sebuah novel kesejarahan, novel ini yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Meski jika orang-orang tua membaca novel ini lantas bertanya-tanya. Karena beberapa unggahan sejarah tidaklah benar dan tidak seperti apa yang didengar.
Untuk memahami novel ini memang perlu penikmatan ekstra, sebab novel ini bukan sekedar novel konvensional dengan alur yang meluncas-luncas. Nama tokoh utama Hargo, baru muncul pada halaman 112.

Batasan fakta dan fiksi menjadi sangat tipis, inilah novel Tembang Tolak Bala. Cerita dimulai ketika Hargo dan adik kembarnya berenang di sungai. Namun, tiba-tiba adik kembarnya terhisap arus sungai. Nahas, adik kembarnya itu tidak tertolong dan tidak ditemukan.

Semenjak peristiwa itu, Hargo seperti mengalami semacam tamasya fantasi. Tamasya yang berlangsung ketika dia koma di rumah sakit selama 35 hari yang membuat khawatir semua anggota keluarganya. Akan tetapi satu hal yang menarik, dalam tamasya fantasi itu Hargo mendapat sebuah kitab dari Eyang Tejowulan yang berisi tembang tolak bala. Anehnya kitab itu terbawa ke dunia nyata ketika Hargo sudah sadarkan diri.

Sekonyong-konyong ia telah tiba di sebuah zaman yang asing. Hargo mendapati dirinya berada di tengah keluarga Ki Ageng Mirah. Seorang kharismatik dan pemurah. Lantas Hargo terhisap kembali dalam sebuah pusaran hingga akhirnya ia sampai pada keluarga Tejowulan (di sini Hargo mulai berkenalan dengan dunia gemblak, bahkan sebagai pelaku). Semua terasa ganjil bagi Hargo. Sampai sini sudah sangat kentara jika Han Gagas menulis novel perdanya ini dalam semangat realisme magis.

Dalam novel ini menunjukkan dunia gemblak dari satu sisi. Sebab gemblak belum pasti pelaku sodomi. Novel ini juga tak luput dari kisah percintaan. Ada misalnya kisah kasih (tak sampai) antara Hargo dengan Mei, Juni dan kisah cinta antara Hargo dengan Juli yang meski berlatar dendam namun berakhir di pernikahan (dengan Juli yang anak sanggar, Hargo banyak berdiskusi perihal reog, warok dan gemblak, babad tanah Ponorogo dan Serat Darmogandhul). Ada pula hubungan beda etnis dan agama antara Hargo dengan Mei Ling yang Tionghoa. Meski berbeda mereka sangat dekat dan bahkan ketika pada akhirnya Mei diusir, Hargo dan Mei saling berkirim surat. Surat-surat mereka sangat menggetarkan.

Kejutan lain muncul manakala Hargo mendapati salah seorang guru laki-lakinya, Pak Marodirojo (warok) yang hendak sodomi menyetubuhinya. Hargo terbebas dari malapetaka itu diselamatkan tembang tolak bala yang tiba-tiba ia rapal. Ternyata, ia tahu guru itu tak lain adalah masih keturunan Wulunggeni, musuh bebuyutan nenek moyang Hargo, Honggodermo.

Singgah-singgah kala singgah (pulanglah segala yang buruk, pulanglah)
Pan suminggah durgakala sumingkir (Pulanglah segala yang jahat, menyingkirlah)
Sing hama sing awulu (segala hama penyakit, segala makhluk yang berbulu)
Sing suku sing asirah (segala makhluk berkaki, segala makhluk berkepala)
Sing atenggak kelawan kang sing abuntut (segala makhluk berleher dan berekor)
Padha sira suminggaha (kalian semua menyingkirlah)
Balia mring asalneki (Kembalilah ke asalmu)
….
Luputa bilahi kabeh (terhindar dari segala kenaasan)
Jin setan datan purun (jin setan tak akan mau)
Paneluhan tan ana wani (teluh tak ada yang berani)
Miwah panggawe ala (juga rencana yang buruk)
Gunane wong luput (santet dari orang terlepas)
Aniyat temahan tirta (juga niat buruk melalui perantaraan air)
Maling adoh tan ana miwah ing krami (pencuri menjauh, tak ada yang berani)
Guna duduk pan sirna (guna-guna pengasihan sirna)

Selain itu, yang menjadi kekuatan lain novel ini yakni adanya beberapa adegan pertarungan antar warok atau antar padepokan Reyog yang berlangsung seru dan mendebarkan . Intrik politik juga menambah hidup cerita. Legenda dan dongeng seputar sejarah Ponorogo memperkaya khazanah melalui novel ini. Misal tentang berdirinya Ponorogo yang bermula dari keruntuhan Majapahit, sejarah Reog, dongeng terbentuknya Telaga Ngebel dan sebagainya.

Novel Tembang Tolak Bala yang pasti menyajikan informasi yang lumayan perihal Ponorogo serta kekayaan khazanah budayanya. Jagad Warog Ponorogo ditelisik dengan tuntas lewat cara unik. Novel yang menarik dan sangat pantas dibaca”

Harapan, akan lebih banyak novelis yang menulis tentang Ponorogo. Karena sejatinya Ponorogo adalah sebuah kearifan lokal yang sisi putihnya pantas diteladani.

*) Arim Kamandaka, Penikmat sastra yang nikmat tinnggal di Ponorogo.

Saturday, June 16, 2012

Pengisahan Tionghoa di Indonesia

Identitas Tionghoa Muslim Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri. Afthonul Afif.
Kepik, Depok, 2012. xx + 352 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
Lampung Post, 10 Juni 2012

KITA mengingat tragedi 1998 sebagai halaman buram tentang arus sejarah Tionghoa di Indonesia. Stigmatisasi dan aksi kekerasan menimbulkan khianat demokrasi. Perbedaan dan toleransi ditepikan nafsu politik-ekonomi. Kondisi itu menampilkan luka dan duka Indonesia. Sejarah panjang kehadiran Tionghoa seolah mengalami pengaburan. Kita kerap mengenang sejarah itu dalam pusaran politik. Dominasi narasi politik pun meminggirkan pengetahuan publik tentang ekspresi iman kaum Tionghoa.

Buku ini memberi ingatan tentang narasi iman dan konstruksi identitas kaum Tionghoa. Kita bisa mengingat sosok Cheng Ho sebagai pemula dari selebrasi iman. Tokoh moncer itu telah mengabarkan Islam di Nusantara sejak abad XV. Identitas sebagai muslim menjadi rujukan historis pertautan kaum Tionghoa di Nusantara. Perjumpaan iman dan kultural dengan pelbagai etnis di Nusantara memberi gairah toleransi. Jejak toleransi ini turut membentuk narasi Nusantara identik sebagai mozaik identitas mengacu ke pelbagai kiblat peradaban dan agama.

Lacak sejarah memberi peta kesadaran atas peran Tionghoa di Indonesia. Afirmasi Islam di kalangan Tionghoa memunculkan julukan “peranakan”. Julukan ini mengacu ke pembedaan pandangan kolonial untuk Tionghoa muslim dan Tionghoa bukan muslim. Kesejarahan turut dipengaruhi oleh kebijakan kolonial. Identitas menjadi urusan pelik. Kaum Tionghoa mengalami dilema sebagai konsekuensi iman, politik, ekonomi. Identitas pelik terus bersambung ke abad XX saat muncul agenda nasionalisme dan modernisasi di Indonesia. Pengakuan diri sebagai Tionghoa muslim masuk ke narasi-narasi besar.

Barangkali kita lupa selembar foto bersejarah di tahun 1938. Foto itu menampilkan Hamka, Soekarno, Karim Oei. Mereka memang tampak akrab di foto. Mereka pun memiliki ikatan persahabatan di masa kolonialisme. Kita mengenal mereka sebagai simbol perjumpaan perbedaan. Hamka adalah tokoh agama dan pujangga asal Sumatera. Soekarno adalah tokoh pergerakan dengan seruan nasionalisme. Karim Oei adalah tokoh Tionghoa dengan manifestasi keislaman dan keindonesiaan. Mereka berjumpa untuk mengonstruksi identitas di negeri terjajah. Dialog dan toleransi menjadi modal kolektif demi mengisahkan Indonesia.

Selembar foto lama itu adalah harmoni. Kita memandang sejarah tanpa curiga politik pragmatis. Para penggerak bangsa justru mengabarkan tentang hasrat hidup bersama tanpa diskriminasi. Rajutan sejarah kaum Tionghoa dalam arus konflik di Indonesia memang memicu sengketa tafsir. Klaim agama, politik, ekonomi, kultural kerap mengeraskan perbedaan. Junus Jahja selaku tokoh Tionghoa muslim memberi anjuran untuk mengatasi konflik. Agenda asimilasi memberi sekian pilihan.

Afthonul Afif menempatkan kesejarahan identitas menjadi urusan genting bagi kaum Tionghoa untuk menjadi Indonesia. Perbedaan kebijakan politik kolonial, Orde Lama, Orde Baru membuat rujukan iman bergerak dalam jebakan dominasi dan diskriminasi. Tragedi 1965 dan 1998 kentara menjadikan kaum Tionghoa sebagai kambing hitam atau korban melalui perspektif politik dan curiga ekonomi-kultural.

Keruntuhan Orde Baru (1998) memberi sengatan makna identitas menjadi Indonesia. Orang-orang Tionghoa muslim mulai mengajukan pertanyaan reflektif mengenai jati diri di Indonesia. Mereka membuat selebrasi keindonesiaan dengan tumpuan iman dan penghampiran pelbagai ekspresi politik-kultural demi menguburkan stigmatisasi. Gairah demokrasi semakin menguatkan kebebasan mengaktualisasikan identitas sebagai muslim dan manusia Indonesia.

Buku tebal ini bisa jadi rujukan untuk membuka halaman-halaman sejarah dan kebermaknaan Tionghoa muslim di Indonesia. Pilihan menguak dan menarasikan arus pembentukan identitas kalangan Tionghoa muslim membuktikan ada sensibilitas reflektif. Afthonul Afif mengingatkan bahwa situasi Indonesia usai Orde Baru memang mengalirkan inklusivitas atas narasi identitas Tionghoa Muslim. Kondisi itu justru memberi aksentuasi tentang agenda asimilasi dan kemestian menjadi Indonesia. Peleburan identitas menjadi Indonesia adalah konsekuensi untuk mengamalkan diri demi agenda-agenda Indonesia abad XXI. Begitu.

Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad Solo
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/06/buku-pengisahan-tionghoa-di-indonesia.html

Monday, June 11, 2012

Ajaran Kebijaksanaan Gus Zainal

Judul Buku: Gus Fadhil Bertutur
Penulis: Zainal Arifin Thoha
Penerbit : Pustaka Insan Madani, Jogjakarta
Cetakan : 1, 2008
Tebal : xii + 291 Halaman
Peresensi: A. Yusrianto Elga
Jawa Pos, 24 Agustus, 2008
”Salah satu jalan yang paling gampang menuju Tuhan ialah dengan cara menolong dan membantu orang lain.”

Itulah pesan terakhir Gus Zainal -sapaan akrab penulis buku ini, Zainal Arifin Thoha– kepada santri-santrinya yang disampaikan lewat secarik tulisan yang ditempel di sebuah dinding.

Kalimat tersebut memang sangat pendek. Tetapi mempunyai serpihan makna filosofis dan sufistik yang penting kita renungkan bersama. Gus Zainal, yang juga seorang kiai muda adalah salah satu budayawan yang sangat produktif dalam menulis. Puluhan buku baik yang bercorak fiksi maupun non-fiksi telah ditorehkan. Sayang, kiprah dia tidak terlalu lama. Di usianya yang relatif muda, 35 tahun, Gus Zainal dipanggil Yang Mahakuasa pada 14 Maret 2007 di rumahnya, PP Mahasiswa Hasyim Asy’ari Jogjakarta. ( Jawa Pos, 18 Maret 2007).

Sisi lain yang paling unik dari kehidupan dia selain kegemarannya dalam menulis ialah kesahajaan dan kesederhanaannya dalam bergaul dengan siapa pun. Sikap hidup demikian bukan berarti menggambarkan latar belakang sosial-ekonomi yang pas-pasan. Gus Zainal bukan seorang fakir atau yatim piatu. Dia adalah putra seorang kiai desa yang kaya raya. Tetapi walaupun demikian dia tetap mengedepankan sikap kesederhanaan, kemandirian, dan kepedulian kepada sesama.

Sebagaimana diakui sendiri oleh Gus Zainal dalam salah satu bukunya, 3 M: Muda Muslim Mandiri (2005), sikap tersebut sengaja dia lakukan sebagai wujud kesadarannya dalam menumbuhkan etos kemandirian dengan jalur kepenulisan sebagai medium kreativitasnya.

Kesederhanaan, dengan demikian, adalah kata kunci untuk memahami siapa sosok Gus Zainal yang sebenarnya. Sikap hidup yang dia pilih ini mengingatkan saya pada kisah Nizam al-Mahmudi -seorang sufi yang kaya-raya tetapi memilih hidup sederhana. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan.

Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa Nizam al-Mahmudi mempunyai kebun subur berhektare-hektare dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya suatu ketika pernah bertanya, ”Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Nizam al-Mahmudi mengemukakan tiga alasan: ”Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-hari ia cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan, ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya, ia akan kurang bersyukur kepada Allah.”

”Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesai. Kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?”

”Ketiga, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan, dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja.”

Demikianlah kisah hidup seputar Nizam al-Mahmudi yang telah banyak mengilhami perjalanan Gus Zainal. Sikap hidup yang sederhana adalah wujud dari pemaknaannya yang mendalam ihwal esensi dari kehidupan ini. Bagi Gus Zainal, yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita mampu bersikap peduli kepada sesama. Sebab, orang yang memilih peduli pasti hidupnya diberkahi (hlm. 151).

Buku Gus Fadhil Bertutur ini sebenarnya merupakan kumpulan esai pendek Gus Zainal yang lebih banyak menyoroti masalah kepedulian sosial. Apa yang terangkum dalam buku ini merupakan fakta sehari-hari yang dialami penulisnya sendiri. Itulah sebabnya kenapa kemudian tokoh Gus Fadhil dalam buku ini tak lain adalah penulisnya sendiri.

Dengan karakter tulisan yang sangat khas, dialogis dan kritis, buku ini penting kita baca sebagai referensi dalam menjalani kehidupan yang kian runyam dan menantang. Buku ini sekaligus juga menjadi ”kado perpisahan” Gus Zainal dalam mengabdikan dirinya khususnya kepada santri-santrinya yang dengan tulus telah dibimbing menjadi penulis-penulis muda berbakat dengan spirit kemandirian. Sebab, sebelum buku ini diterbitkan, Gus Zainal sudah wafat. Dengan demikian, ajaran-ajaran kebijaksanaan dia yang terekam dalam buku ini merupakan warisan intelektual sekaligus warisan spiritual yang sangat berharga. (*)

*) A. Yusrianto Elga, alumnus PP. An-Nuqayah Sumenep, Madura

Monday, May 28, 2012

Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”

Tosa Poetra
http://sastra-indonesia.com/

Seminggu yang lalu, setelah lelah dari pagi sampai sore kerja di bengkel, saya langsung pulang. Biasanya saya jalan-jalan dulu sebelum pulang. Ya, hari itu memang diharuskan saya segera pulang, karena hari itu di rumah ada acara genduri setahun Yudistira, anak laki-laki saya yang kecil. Sampai di rumah, saya melihat ada paket di meja belajar saya, kiriman dari saudari saya yang bekerja di Hongkong.
Seusai acara genduri saya membukanya, berisi buku berjudul “Jejak Mata Pena”, yang memuat kumpulan puisi karyanya dan kawan-kawannya sesama pekerja di Hongkong, saudari-saudari saya juga. Buku setebal 172 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Abatasa, Pekalongan-Jateng pada bulan April kemarin. Buku itu memuat 102 judul puisi yang terbagi atas 6 tema yang digarap bersama oleh delapan putri Kemboja. Sedari itu “Jejak Mata Pena”, menemani kemanapun saya dan menghibur saya di sela kepusingan meneliti Karya WS Rendra. Kadang saya jadi tersesat sehingga tidak dapat keluar dari buku itu untuk kembali ke note-book karena terlalu asik membacanya.

Sungguh indah para putri Kemboja menyusun tiap larik kata, semua tema yang disuguhkan menarik dan sungguh menggoda ingin untuk menulis dan mengatakan ketertarikan saya dengan memberikan apresiasi dengan cara dan pemahaman saya. Namun karena terbatasnya waktu, dalam kebingungan saya memilih mau menulis tentang yang mana, saya akhirnya memilih mengapresiasi dengan tema “Suara Hati Rakyat”, karena ada satu hal yang lebih saya kagumi. Pada tema tersebut mereka, para putri Kemboja, di tengah kesibukannya bekerja, masih sempat menulis, menyuarakan hatinya, suara-suara hati rakyat, yang itu sungguh menunjukkan keperdulian mereka pada Bumi Pancasila. Saya dapat mengira-ngira betapa sibuk mereka bekerja, dan hanya menulis itu hiburan mereka, yang tentunya dilakukan dengan mencuri-curi waktu dari majikannya, sebab dari cerita seorang saudari di sana, majikan ada yang tidak memperkenankan mereka memakai HP, sehingga mereka terpaksa menyembunnyikan HP.

Memang ada juga majikan yang memberikan kemudahan, memperbolehkan pakai HP bahkan memakai laptop, selama dapat mengatur waktu dan tidak mengganggu pekerjaan. Saya dapat membayangkan betapa susah perjuangan hidup mereka di sana. Seorang menceritakan pada saya kalau pagi dia cuma cuci muka, mandi sehari sekali, itu pun mandi tengah malam sambil membersihkan kamar mandi seusai majikannya mandi. Ya karena katanya di sana susah air, air mahal. Tidur mereka di sana pun susah, tak ada kamar kusus buat mereka, memang disediakan dipan sederhana, tapi tempatnya di ruang tamu, maklum karena di sana rumah kecil-kecil karena sempitnya tanah, itu pun di apartemen. Bahkan dari salah satu puisi di dalam buku “Jejak Mata Pena”, saya melihat ketika “Babu Mencubit Presiden”, dan menanyakan pada Presidenya, apakah akan tega jika anak yang di sayanginnya tidur di sudut ruangan, berbantal sapu dan berselimut kain pel. Oh, sungguh memilukan perjuangan mereka, namun mereka iklas melakukannya untuk orang-orang yang disayanginya di kampung halaman, untuk masa depan.

Satu hal yang menggelitik saya, mereka saja yang jauh di sana, yang seakan terpenjara, masih dapat menyuarakan suara hatinya, suara hati rakyat? Bagaimana dengan kita yang bebas di negeri yang katanya telah merdeka sejak tahun 45? Tidakkah kita juga bisa memiliki kepedulian seperti mereka? Apakah pemimpin negeri ini perduli pada mereka? Pada suara mereka? Dan tidak cuma sibuk menghitung devisa.

Saya mendengar. Minggu, 20 Mei nanti, buku tersebut akan diloncing di Victoria, sebuah taman di Hongkong. Louncing tersebut di-isi dengan bincang-bincang sastra dan baca puisi. Ah sungguh menarik sekali, dapat bertemu para pejuang dan penyair, dapat mendengar penuturan proses kreatifnya dalam menulis, dapat menjabat tangan mereka yang halus, melihat wajahnya yang cantik-cantik dan senyumnya yang sumringah. Mungkin jika saya ada di sana saya juga akan berpartisipasi membacakan dua atau tiga judul puisi, memberikan komentar sederhana, kemudian meminta tanda tangan dan foto bersama. Sayang terlalu mahal bagi jazad seorang kuli untuk menjangkau Victoria, untuk menjangkau jemari para putri Kemboja yang suci. Ya mungkin suara saya dapat menjangkau pesta mereka, setidaknya tulisan saya ini dapat menjangkau kesucian hati mereka, sebagaimana suara hati mereka telah menjangkau jiwa saya dan sebagaimana pena mereka telah meninggalkan jejak di hati saya.

Mungkin baiknya saya tidak terlalu ngelantur kemana-mana, sudah hampir dua halaman saya cuma berkelakar, padahal 17 suara hati rakyat harus saya baca dan ceritakan ulang dengan gaya bahasa saya. Tuhan menciptakan segalanya berpasangan, siang-malam, matahai-bulan, lelaki-perempuan, demikian pula baik-buruk. Dari 17 judul yang ada pada suara hati rakyat, jika kita mencari kekurangan, pasti ditemukan kekurangan itu entah sekecil apa, tapi bukankah kita hendaknya memandang orang lain dari segi positifnya, bukan dari negatifnya saja? Toh kesempurnaan hanya milik-Nya. Ya mungkin kekurangan itu juga harus dikatakan, tetapi bukan untuk menjatuhkan, melainkan memberikan masukan untuk periode yang akan datang agar dapat lebih baik. Ah rupanya dua halaman A4 sepasi 1,5 Timesnewroman 12, telah benar-benar saya habiskan cuma untuk berkelakar, ya semoga tidak menjadikan bosan membaca tulisan saya ini, seperti saya juga tidak pernah bosan membaca karya kalian.

17 suara hati rakyat itu dimulai pada halaman 71, cukup unik dan filosofis. Apakah jumlah 17 itu merupakan simbol kemerdekaan sebagaimana negara Pancasila merdeka pada angka 17, simbol ketaatan sebagaimana jumlah rekaat dalam sehari semalam yang wajib kita tunaikan. Apakah angka 71 merupakan pernyatan bahwa mereka bertujuan satu. Sungguh indah dan tentu hal itu sudah dirancang dengan mapan. Ah, mari melangkah saja membaca surat pertama, surat pada Presiden yang ditulis Rahma. Di sana dia mengatakan dia bukan srigala rimba yang mencari mangsa, dia tidak se-elok kepala kelinci, juga bukan peri, dia hanya kucing rumahan, hanya babu, hanya marmut kecil tapi tidak takut mengingatkan Presidennya agar melihat berapa jumlah TKI yang mati digantung dan menderita disiksa, agar tidak hanya menghitung devisa, agar mau melakukan pembelaan. Pada halaman kedua Rahma mengajak berjuang untuk merebut keadilan dari para manusia bertopeng, manusia bertopeng tentunya adalah para pemimpin yang berkedok baik, mengatakan bermaksud baik, tapi untuk memudahkan dirinya sendiri menumpuk kekayaan.

Pada halaman 73, saya melihat Luluk mendengar rintihan kelam dari lorong sepi di ruang tunggu yang berkata ”Aku adalah sampah, najis dan tiada guna”, kemudian Luluk mencari tahu dan bertanya, siapakah itu? (Mungkin itu adalah aku dan dia Luk!). Di halaman 73 Luluk melihat genduri di ruang diskusi, dan menanyakan apa yang terjadi? Ah kurasa kau tahu pa yang terjadi Luk!. He he he, kritik pedas pada bapak DPR yang tidur, yang melamun saat sidang. Pada halaman 75, Luluk melihat tumbal kedudukan? Ah, memang harus ada tumbal Luk! Harus ada korban, sayangnya yang jadi korban anak-anak kecil, rakyat kecil dan para pemimpin telah lupa ketika mereka mengais suara dari tempat-tempat kumuh untuk mendapatkan kedudukannya (seperti yang kau katakan).

Pada halaman 77, saya melihat bagaimana para pahlawan devisa menggenggam erat sekeping rasa dan jiwanya yang gersang berkelana, sementara para serigala negeri mencari kepuasannya sendiri, kenyang perutnya sendiri, lidah meraka basi, cuma obral janji. Dan, pada halaman 76, Asrti mengatakan tentang kobar kebebasan, bahwa pada bulan Desember telah berpulang Sondang Hutagalung, mengharumkan nama bangsa, tetapi para pemimpin negeri sibuk menghitung aset. Sayangnya saya belum sempat mencari tahu siapa sondang Hutagalung, dan lupa peristiwa yang terjadi di Jakarta akhir tahun lalu. Pada halaman 79 saya melihat penderitaan Yulia yang demi meraup dolar, mendapatkan cacian dari majikan setiap hari, tapi dia rela demi pelita jiwanya. Pada halaman 80, Yulia menceritakan tentang negeri badut, yang dipimpin badut-badut berdasi, negeri dagelan-negeri fantasi, dimanakah negeri itu? Tentu di negeri yang pemimpinnya hanya mengobral janji.

Pada halaman 81, Adhe memberikan kritikan pada pengadilan yang dapat direkayasa dengan uang, ketika penguasa yang bersalah hukumannya tak seberapa, tapi ketika rakyat kecil yang bersalah hukumannya melimpah. Adhe menuntut pada pemerintah agar menghentikan pembangunan gedung bertingkat tanpa manfaat, saya ingat Desember tahun lalu, pemerintah sibuk memikirkan pembangunan toilet gedung dewan. Adhe mengingatkan bahwa pembangunan jalan lebih penting, gedung sekolah lebih penting, banyak sarana dan prasarana lain yang rusak karena bencana bertubi-tubi di negeri ini, mulai Merapi, Mentawai, Gempa bumi dan sunami. Adhe menuntut pembangunan jalan, jembatan dan sekolah, agar dapat kesekolah lancar, agar anak-anak dapat pintar, sebab anak-anakk yang akan meneruskan perjuangan bangsa.

Pada halamman 84, Lintang mencubit Presiden, sebelunya dia mencubit dengan puisi, kemudian mencubit dengan aksara yang ditulis di selembar tisu dapur. Dia menceritakan bahwa para BMI rela meninggalkan anak, suami dan orang tua dan sebaliknya untuk masa depan, terakhir dia ingin melanjutkan luahan hatinya, tapi dia masih mau mengelap panci dan wajan, agar besok dapat memasak untuk majikan yang memberi makan, makan untuknya dan keluarganya di kampung. Pada halaman 85, Lintang menyuruh melihat dan mendengarkan teriakannya yang siap mencabik kebohongan, dan jika masih saja berdusta dia akan meninggalkan bisa demi membela nasib. Mengingatkan pemimpin agar berlaku jujur, juga mengingatkan para pembaca berlaku jujur. Ya, tak baik menyimpan dusta, kejujuran harus dikatakan walau menyakitkan, kita harus berkata jujur walau harus hancur.

Pada halaman 87, Lentera mengatakan kemarahannya melihat keserakahan para pemimpin, Lentara menanyakan: dimana mata para pemimpin? Tidakkah melihat rakyat sekarat dan melarat, sementara mereka cuma duduk manis ketika rapat. Dan pada halaman 88, Lentera mengawali suratnya dengan menceritakan dirinya yang mencari rezeki jauh dari keluarga, tapi para penguasa bagaikan lintah yang terus menghisap darah rakyat tak perduli rakyat semakin terkapar dan lapar. Kemudian menanyakan dimana nurani mereka? Dan Lintang mengingatkan bahwa kelak semua akan diperhitungkan dan mendapat balasan.

Pada halaman 89, Mei menulis surat untuk tuan budiman, yang berbaju mewah dan berdasi, tinggal di rumah mewah, bermobil mewah dan uangnya melimpah yang itu didapat dari menguras keringat rakyat, kemudian Mei mengingatkan pada janji mereka, bahwa mereka adalah pemimpinnya, penghulu birokrasi dan penentu nasib rakyat, kemudian Mei menanyakan tentang kehormatan bangsa yang dihina bangsa lain. Lalu mengajak bekerjasama agar dapat terlaksana apa yang diamanahkan. Dan terakhir berpesan agar tidak membiarkan hati bersifat jahanam. Ya, semoga hati pemimpin kita tidak jahanam dan hati kita juga tak jahanam, sebab jahanam tinggalnya kelak di neraka jahanam. Pada halaman 91, halaman terakhir dari suara hati rakyat, Mei menuliskan suara rakyat, mengingatkan pada para penjilat harta negeri bahwa kelak akan datang karma.

Demikan apa yang dapat saya baca, saya mengerti dan saya raba secara sederhana. Dan sebuah karya yang berkualitas adalah karya yang meskipun berulang kali di baca, di kaji akan di dapatkan temuan-temuan baru. Karya-karya pada Jejak Pena menyediakan berbagaimacam tema dan hal lain untuk dikaji, baik dari segi struktural maupun isi. Dari gaya bahasa, rima, citraan, religiusitas, nilai-nilai agama, nilai pendidikan, cinta kasih, pemberontakan dan sebagainya. Terakhir saya katakan bahwa saya membenarkan bahwa penulis pada Jejak Pena Telah berhasil menulis sebagaimana hal yang saya tahu: penulis akan menulis dengan hal yang tidak jauh dari dirinya, mereka dekat dengan lap dan panci maka hal itulah yang mereka jadikan sebagai diksi. Dan mereka telah berhasil menyuarakan suara hatinya, suara rakyat, suara untuk para pemimpin, untuk keluarga, untuk orang-orang tercinta juga untuk masyarakat, agar dapat diambil hikmah, pelajaran dan manfaat.

Dengan membaca Jejak Mata Pena karya para puteri Kemboja, kita juga dapat banyak tahu dan merasakan penderitaan yang mereka rasakan, menjadikan kita dapat semakin mendewasakan pikir dan lebih arif serta bijak dalam meniti jalan kehidupan yang kita pijak. Mohon maaf atas kesalahan, baik penulisan, maupun penafsiran. Lima halaman telah saya habiskan. Terakhir, izinkan saya memetik dari hal yang ada pada pena. “di negeri badut, tak kan pernah terhenti tarian mata pena selaras retas harap wujudkan asa sebab api itu masih menyala, dan terus menyala”. Sukses buat Jejak Mata Pena. Salam sastra budaya.

Surabaya, 18 Mei 2012

Sunday, May 27, 2012

Puisi Kritik Kehidupan

Judul : SELENDANG BERENDA JINGGA
Penulis : Zulkarnain Siregar
Penerbit : Jejak Publishing, Yogjakarta 2011
Jenis : Sastra
Tebal : XXIX + 148
ISBN : 978.979.19552.4.9
Peresensi: Ali Soekardi
http://www.analisadaily.com/
DULU, seorang penyair akan merasa begitu gembira dan bahagia jika karya-karyanya (baik yang telah dipublikasi lewat media massa atau belum), dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Ya, semacam antologi puisi. Namun sekarang berkat kemajuan dan kecanggihan tehnologi di bidang komunikasi, atau lebih dikenal sebagai dunia maya, maka sarana publikasi karya sastra itu menjadi lebih banyak dan lebih luas penyebarannya yang berarti juga pembaca atau peminatnya bertambah banyak pula.

Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh penyair Zulkarnain Siregar. Penyair yang produktif ini telah menulis sekian banyak puisi yang semuanya dipublikasikannya lewat dunia maya, atau tepatnya lewat facebook. Ada sekitar limapuluhan puisi karyanya yang telah dipublikasikannya, dan kini telah lahir pula dalam bentuk buku yang diberinya judul Selendang Berenda Jingga (Himpunan Puisi Facebook).

Buku kumpulan puisi yang berjudul puitis ini (juga merupakan judul salahsatu puisinya-hal. 10) diberi prologue oleh Irwansyah Hasibuan dan pengamatan puisi oleh Antilan Purba (Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan), pengantar oleh MJA Nashir (penulis dan pejalan kaki) ser-ta epilogue oleh Prof.Dr.Ikhwanuddin Nasution,M,Si (Guru Besar pada Departemen sastra Fakultas Sastra USU Medan), terasa agak unik.

Apa itu – Setiap puisi yang ditulisnya dan disiarkan lewat facebook selalu disertai komentar pembacanya, dan ini semua dikutip dan dihadirkan dalam bukunya yang dicetak indah dengan cover berwarna kuning dan coklat yang menarik. Selama ini hal seperti ini belum pernah ada, kecuali resensi, atau juga komentar atau pembahasan oleh para kritikus sastra puisi atau prosa.

Penyair ini terasa begitu “mahir” bermain kata-kata. Namun bukan sekedar kata kosong, tapi kata yang dilahirkannya dalam bentuk puisi itu mempunyai makna tersendiri. Justru inilah yang menimbulkan kesulitan bagi pembacanya (apalagi yang awam) untuk bisa mengerti atau memahami maknanya dengan cepat.

Perlu berulang-ulang membacanya, menyerap dan merenungkannya, hingga timbul penafsiran yang tentu saja penafsiran pembaca yang satu akan berbeda dengan pembaca lainnya. Meskipun ada beberapa yang sebenarnya agak mudah untuk menemukan maknanya, seperti Euforia (84), Kalau Esok Masih Ada (13), atau Tak Lagi Jadi Elegi (133).

Jelas ini berbeda dengan karya-karya penyair Taufik Ismail, yang meskipun bermain kata-kata penuh makna dan kritik terhadap suasana dan lingkungan, masih teramat mudah untuk dimengerti oleh pembaca awam. Hal ini dikemukakan bukan untuk membanding, tapi masing-masing penyair itu mempunyai ciri dan kekuatan masing-masing yang saling berbeda dalam menyampaikan rasa hatinya.

Dan Zulkarnain Siregar dalam kumpulan Selendang Berenda Jingga ini ter-nyata mempunyai rasa hati yang beragam kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, pemberontakan, tapi juga rasa iman, cinta, gagasan, kerinduan, dan juga harapan.

Jika di negeri kita sekarang ini tumbuh perasaan tidak puas bahkan kecewa di hati rakyat melihat perkembangan situasi, rasa ketidakpercayaan terhadap bapak-bapak pemimpinnya yang dulu telah diberinya suara ketika Pemilu/Pilkada lewat Tak Lagi Jadi Elegi (buat capres dan cawapres RI) penyair telah mengingatkan yang antara lain katanya :

andaikan tuan-tuan dan nyonya terpilih
jangan sangka berutang ke luar negeri
sumber penyelesaian bencana
negeri berbagai pulau ini

sebab kami pun tak tau, untuk apa ?
yang kami tau hutan kami gundul
yang kami tau sawah kami jadi realestat
yang kami tau ladang kami jadi ruko
tanah bukan milik kami
bahkan diri kami pun
bukan milik kami lagi

Hati ini ikut sakit membacanya. Tapi jadi lebih terluka membaca Euforia yang menggambarkan kegeraman terhadap suasana yang selalu menuntut bebas lalu menodainya sendiri :

kemarin kaugugat kuasa
dan bebas kaujadikan perisai
demi vested interest

hari ini kelakuanmu semena-mena
kaugadai, tanah dan air ini
demi untuk kerajaanmu
di negeri orang

esok anarkimu menjadi-jadi
kaujual, seluruh isi negeri ini
agar kau bisa nyaman bersama makelar begundal

Itulah sekedar cuplikan dari begitu banyak puisi yang terkumpul dalam Himpunan Puisi Facebook Zulkarnain Siregar, Namun dari secuil cuplikan sudah sangat terasa kritik yang terkandung di dalamnya terhadap kehidupan kita berpemimpin, bernegara, dan bermasyarakat, bahkan juga mengenai lingkungan alamnya. Penyair menumpahkan kekesalan, kejengkelan dan kemarahannya, namun masih dalam susunan kata puisi yang wajar dan sopan.

Di sinilah terasa keutamaan penyair yang tidak calak mengumbar kata tapi mengena !

23 Nov 2011

Menulis Cerpen tak Sekadar Ajang Berekspresi

Buku : Telaga Fatamorgana
Penulis : Happy Salma
Penerbit : Koekoesan, Depok
Cetakan : November 2008
Tebal : 110 halaman
Peresensi : A.J. Susmana *
Lampung Post, 17 Mei 2009
DUA tahun setelah meluncurkan kumpulan cerpen Pulang (2006), Happy Salma kembali meluncurkan 12 cerpen terbarunya dalam himpunan cerpen Telaga Fatamorgana. Penerbit Koekoesan kembali menjadi penerbitnya. Dengan begitu sidang pembaca cerpen Indonesia semakin diyakinkan akan tekad Happy Salma dalam menggeluti dunia sastra khususnya cerpen.

Apa yang menarik dari kumpulan cerpen kedua Happy Salma, Telaga Fatamorgana ini? Happy Salma sendiri mengaku kumpulan cerpen kali ini tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen dalam Pulang. “Bila ada yang berbeda, mungkin dari perbendaharaan kata atau penggalian alur yang menurut Happy lebih variatif sebagai proses pembelajaran itu sendiri.” Sebagai catatan, dalam kumpulan cerpen Pulang, Happy Salma menyatakan sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri.

Tak jauh berbeda, untuk kumpulan cerpen kedua ini, Happy Salma masih memandangnya sebagai ajang berekspresi. Hanya saja, Happy Salma tampak yakin dengan minat menulisnya ini dan untuk mengawali pembaca menikmati dan mencerna ke-12 cerpen di dalamnya, pembaca disuguhi “manifesto” Happy Salma dalam soal menulis: Menulis sebagai Hidup. Mungkin bagi Happy Salma, manifesto ini penting disampaikan mengingat dirinya oleh masyarakat dikenal sebagai artis dan selebriti dan sering masyarakat sinis pada artis dan selebriti yang memperkaya dan memperluas kemampuan diri dengan berbagai kesempatan dan peluang yang ada alias aji mumpung.

Dalam manifesto itu, Happy Salma setidaknya mengemukakan beberapa point penting mengapa ia terjun dan bergulat dalam dunia tulis-menulis. Pertama, “Dengan menulis aku banyak belajar. Setidaknya belajar mengenali diri sendiri.” Ini mengingatkan kita pada kata-kata bijak Sokrates: “Kenalilah dirimu sendiri.” Kedua, “Menulis, bagiku, adalah hidup. Hidup yang berisi perjuangan tiada henti.” Sebuah kesimpulan yang luar biasa, terlebih sebelumnya Happy Salma juga menyatakan: “Bagiku sastra adalah identitas pribadi, selalu berbicara tentang hidup. Cikal bakal dari pemahaman segala ilmu pengetahuan yang ada di muka bumi ini, teori kehidupan yang tak ada rumusnya.” Semua ini mengingatkan pada kita betapa penting aktivitas menulis dan tugas seorang penulis itu sendiri di tengah kehidupan sehari-harinya bersama beragam bagai macam orang di sekitarnya.

Sebab itu, menulis tak dapat dianggap sepele dan sembarangan. Begitulah, penulis-penulis sebelumnya semacam Kartini dan Pramoedya Ananta Toer menganggap tugas kepenulisan haruslah berguna bagi kemajuan kehidupan dan harkat martabat rakyat. Pram sendiri mengatakan: “Menulis, bagi saya, adalah tugas pribadi dan tugas nasional.” Tentu ini adalah tugas yang berat. Menulis bertendensi tentu lebih rumit agar tak jatuh sebagai tulisan atau dicap hanya sekadar propaganda dan jauh dari keindahan sastrawi. Mungkin ini yang membuat Happy Salma mundur selangkah dan menarik diri dari beban berat penulis yang memiliki cita-cita semacam Pramoedya Ananta Toer dan seakan dengan ringan (tentu saja tanpa tendensi alias beban), menyatakan: “Saya ingin menulis dengan mengalir, penuh kenikmatan, tanpa tuntutan yang akhirnya membebankan…” Paradoksal atau inkonsistensi dengan pernyataan-pernyataan yang menggebu sebelumnya?

Tetapi akhirnya, apalah arti manifesto? Seorang cerpenis tentu harus dinilai berdasarkan cerpen-cerpen yang ditulisnya.

Bila ditilik dari segi tema, Telaga Fatamorgana memang masih menunjukkan kesamaan dengan kumpulan cerpen Pulang, yakni kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya, justru membingungkan: Apa sih maunya? Dan terkadang justru terkesan kekanak-kanakan, tanggung, tak ada keberanian.

Kisah Bobi misalnya, seandainya ia berani mengatakan yang sebenarnya tentu keluarga Wiilliam akan membungkus sisa makanan itu dengan baik tanpa dicampur dengan sisa makanan sampah yang pantas untuk kucing itu. Toh, dari awal diceritakan bagaimana William suka berteman dengannya. Pada Naanaa, bahkan kita temui kekalahan dan kesialan yang bertumpuk-tumpuk. Tak habis mengerti bagaimana itu bisa terjadi: Tak bisa pulang karena peristiwa G 30 S, hidup di negeri asing, Polandia, semakin sepi setelah ditinggal mati suami lebih dahulu dan akhirnya dibunuh anak lelakinya sendiri yang menjadi brandal dan jahat seakan tak pernah mendapat didikan yang benar walau sang ibu merasa sudah mendidik dengan benar.

Pun Jalu, yang bertekad menjadi tentara bahkan berdebat dan bertengkar hebat dengan bapaknya yang tak menghendakinya jadi tentara mengalami kegagalan tragis sebagai tentara kemudian invalid. Ia pulang ke rumah, tanpa kebanggaan sedikit pun dalam menatap masa depan. Begitu pun, Fatamorgana, Bapak Belum Pulang dan Pohon Keenam, masih di sekitar kekalahan dan kesialan.

Dalam Fatamorgana, seharusnya tak terjadi kesialan bila sementara chatting juga menggunakan cam atau saling berbagi pic. Bila itu tak dipakai, terimalah konsekuensinya dengan wajar. Toh, bertemu manusia masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Di luar itu, Happy berusaha memasuki cerita mistis dan psikologis seperti Telaga, Panca dan Ikan Besar dan Aisya yang membunuh anaknya sendiri karena tak ingin anaknya hidup di dunia yang kejam dan penuh dosa. Keberanian dan ketegasan baru dapat kita temukan pada cerpen Catatan dan Undangan.

Walau begitu perlu dicatat, pada Telaga Fatamorgana, setting cerpen-cerpen Happy Salma cukup bervariasi dan beberapa berani memasuki setting krusial negeri ini, seperti peristiwa G 30 S 1965 pada cerpen Naanaa dan daerah operasi militer (DOM) Aceh pada cerpen Jalu. Ini menunjukkan Happy Salma masih bisa berkembang lebih baik dalam memasuki dunia persilatan cerpen Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Akhirnya, harus dikatakan menulis cerpen memang bukan sekadar ajang berekspresi dan mengisi waktu senggang. Kemudaan tentu tak bisa menjadi alasan untuk bersembunyi dalam aktivitas bernama belajar mengingat negeri ini pun ditegakkan dan dibangun oleh para pemuda dengan perspektif cita-cita yang besar.

Bukankah kini saatnya kaum muda memimpin?

*) A.J. Susmana, penyair, aktif di Divisi Sastra Sanggar Satu Bumi, Jakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/buku-menulis-cerpen-tak-sekadar-ajang.html

Sunday, May 20, 2012

Memopulerkan Sastra Jawa Secara Populer

PRIYAYI ABANGAN, Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Bentang, 2000
Peresensi : Faruk
http://majalah.tempointeraktif.com/

SASTRA Jawa modern adalah sastra terjepit. Begitulah kira-kira salah satu kesimpulan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya, Priyayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an, yang baru saja terbit.
Keterjepitan sastra Jawa itu setidaknya dilihat oleh penulis buku ini dari tiga segi, yaitu dari segi pengarang Jawa yang beralih ke bahasa Indonesia, dari segi minat pembaca yang beralih juga ke bahasa Indonesia, dan dari segi potensi bahasa Jawa yang masih tertahan di dalam sastra klasik. Pandangan mengenai keterjepitan sastra Jawa modern ini sebenarnya bukan pandangan baru. Hampir dalam setiap diskusi mengenai sastra Jawa modern, pandangan demikian selalu muncul. Bahkan, sebuah buku dari George Quinn berjudul The Novel in Javanese, yang terbit pada 1980-an, sudah perlu membahas persoalan tersebut. Dengan kata lain, buku ini merupakan semacam imbauan yang kesekian kalinya, yang selalu muncul berulang-ulang dan diulang-ulang, mengenai nasib malang yang mengibakan dari sastra Jawa modern, mengenai perlunya barang yang bernasib malang ini memperoleh perhatian.

Tapi, benarkah keterjepitan berarti bencana atau nasib yang malang? Bukankah banyak juga orang yang suka terjepit atau dijepit-jepit? Bukankah banyak sastrawan membuahkan karya-karya bermutu justru ketika mereka berada dalam posisi yang terjepit, misalnya di penjara? Tampaknya, dalam pandangan Sapardi, keterjepitan itu ternyata benar-benar menjadi bencana bagi sastra Jawa modern karena mengakibatkan mereka tidak terangsang menjadi lebih kreatif. Sastra Jawa modern, menurut dia, tetap terpenjara oleh sejarahnya sendiri, yaitu sebagai sastra populer.

Banyak faktor yang membuat sastra Jawa modern mengalami keadaan yang demikian. Pertama, keterikatannya pada penerbit komersial dan pemerintah membuat sastra Jawa berusaha keras menjangkau jumlah pembaca yang sebesar-besarnya. Kedua, pengarangnya, yang sudah terlepas dari pengayom khusus, menggantungkan diri pada pasar, di samping berusaha mendidik massa rakyat. Ketiga, pembacanya terkait dengan rakyat kecil yang baru saja belajar membaca atau mengalami melek huruf.

Di hadapan berbagai faktor tersebut, sifat populer sastra Jawa modern tidak terelakkan. Dan hal itu membuatnya kehilangan daya kreatif. Sastra populer, menurut Sapardi, berusaha menghibur pembacanya, menempatkan mereka dalam wilayah kehidupan yang aman. Karena itu, di dalam sastra Jawa modern, hal yang menggelisahkan dihindari, makna ganda diharamkan, perumitan masalah dan alur hanya semu, pola karakter, alur, dan latar cenderung formulaik, stereotipikal.

Tapi, menurut guru besar UI ini, kepopuleran sastra Jawa modern tidak membuatnya tenggelam sepenuhnya pada cerita-cerita yang sensasional dan berselera rendah. Karya-karya sastra Jawa modern yang ditelitinya, yaitu yang hidup di tahun 1950-an, termasuk karya-karya sastra populer berselera sedang. Di samping berusaha melayani selera pembaca, menghibur mereka, karya-karya itu juga berusaha mendidik pembaca, memberi nasihat, memberi pengetahuan. Dengan kata lain, karya-karya itu tergolong dalam karya-karya yang mengikuti sebuah diktum Barat yang terkenal mengenai karya sastra, yaitu dulce et utile, “menyenangkan dan sekaligus berguna”. Karena itu, karya-karya sastra Jawa modern juga mengandung banyak pengetahuan, terutama pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa, kebudayaan priayi dan abangan. Pandangan hidup yang terkandung di dalamnya adalah pandangan hidup priayi dan abangan, bukan santri.

Sifat karya-karya sastra Jawa yang kemudian ini, menurut Sapardi, setidaknya terkait pada dua hal. Pertama, secara historis karya-karya itu dibuahkan juga oleh penerbit pemerintah, yang bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi rakyat agar mereka terdidik dan mengalami kemajuan. Kedua, secara kultural karya-karya itu masih pula terpengaruh oleh sastra tradisional, terutama wayang dan dalang. Dalam analisisnya, Sapardi menunjukkan betapa kuat pengaruh cara bercerita dalang di dalam karya-karya sastra Jawa modern. Karya-karya itu hampir dengan setia menerapkan konsep-konsep estetis wayang, yaitu banyol, nges, sem, dan gereget.

Buku ini berasal dari disertasi penulisnya. Sebagai sebuah disertasi, buku ini tentu saja berusaha mempunyai orisinalitas di satu pihak, dan kerangka konseptual yang sudah ditentukan sebelumnya di lain pihak. Dalam hal yang pertama, disertasi ini dimaksudkan sebagai sebuah cara pandang baru terhadap sastra Jawa modern yang diharapkan akan membuahkan hasil yang baru pula. Dalam hal yang kedua, disertasi ini mendasarkan kerangka konseptualnya pada dua teori yang sudah ada sebelumnya. Teori yang digunakan adalah teori sistem sastra makro dari Tanaka dan teori estetika sastra populer dari Kaplan. Dengan teori yang pertama, Sapardi mencoba memahami karya sastra dalam konteks makronya, konteks sosiologisnya, terutama kaitannya dengan sistem pengarang, sistem penerbit, dan sistem pembaca. Sedangkan dengan teori kedua, ia mencoba memahami pola-pola estetis sastra populer secara intrinsik.

Dalam usahanya membangun orisinalitas, disertasi ini membandingkan dirinya dengan berbagai penelitian atau pembicaraan sebelumnya mengenai hal yang sama. Dalam hal ini, Sapardi tidak memaparkan sebuah diskusi yang tajam dan terfokus mengenai hasil-hasil penelitian yang lain itu. Amat disayangkan bahwa Sapardi tidak mendiskusikan secara serius disertasi George Quinn. Ia membicarakannya hanya dalam konteks materi yang dibahas oleh Quinn, bukan perspektif yang digunakan oleh ahli tersebut. Padahal, perspektif Quinn dalam memahami sastra Jawa modern amat penting dan juga terarah pada usaha memahami pola estetis sastra Jawa modern.

Kerangka konseptual yang digunakan oleh Sapardi pun dirumuskan dengan tidak begitu tajam, sangat mengambang. Karena itu, akhirnya Sapardi cenderung bekerja lebih atas dasar intuisi pribadinya sendiri daripada kerangka konseptual yang sudah dipilihnya. Pekerjaan secara intuitif itu, dalam beberapa hal, membuahkan suatu temuan yang menarik, misalnya analisis mengenai cara bercerita cerita bersambung Kramaleya. Tapi, intuisi itu membuat cara kerja Sapardi menjadi amat mengambang, dapat beralih cara pandang dengan seenaknya, dan akhirnya membingungkan pembaca. Konsep pembaca Tanaka, misalnya, sangat tidak jelas dan akhirnya menjadi kacau antara pembaca nyata, pembaca tersirat, dan pembaca ideal.

Selain itu, dalam analisisnya, Sapardi juga menggunakan konsep lain yang diperlakukannya secara taken for granted, yaitu konsep sastra konvensional seperti latar, alur, penokohan, dan sebagainya. Karena tidak dirumuskan, teori ini pun mengambang dan bergeser-geser, bergantung pada kesan pribadi Sapardi mengenai karya sastra yang diteliti. Lebih jauh, teori ini menjadi rancu pula dengan teori Kaplan, karena teori yang kemudian ini juga berbicara mengenai struktur intrinsik karya sastra.

Dengan kecenderungan tersebut, disertasi Sapardi ini menjadi terkesan lebih sebagai karya ilmiah populer mengenai sastra populer. Karena itu, di dalamnya berlaku juga kecenderungan yang ada pada sastra populer yang ditelaahnya. Ada kesan bahwa disertasi ini berusaha membuat dirinya rumit dengan mendiskusikan teori yang beraneka tetapi sebenarnya tetap dalam sebuah bingkai yang sederhana. Teori-teori yang lain sama sekali tidak menjamah Tanaka dan Kaplan. Ada kecenderungan untuk melihat sastra dalam perspektif yang baru, walaupun ternyata alat analisis yang digunakan masih tetap perspektif yang konvensional.

Maka, hasil yang diperoleh menjadi seperti pengulangan dari apa yang sudah umum, membuat pembaca tetap merasa aman di dalam dunianya. Pernyataan mengenai sastra modern Jawa sebagai sastra terjepit sungguh merupakan pernyataan yang ritualistis belaka. Begitu juga soal orang Jawa yang priayi dan abangan, yang dekat dengan Tuhan tanpa menjadi santri, sesuatu yang akhir-akhir ini digugat oleh Kuntowijoyo dan kita alami dalam rezim santri Abdurrahman Wahid.

Faruk, pengamat sastra /27 November 2000

Wednesday, April 25, 2012

Menampilkan Dunia untuk Pertama Kalinya

Peresensi: Bagus Takwin
http://majalah.tempointeraktif.com/
Judul Buku: Buli-buli Lima Kaki
Penulis: Nirwan Dewanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 halaman

Membaca Buli-buli Lima Kaki seperti bertualang ke wilayah-wilayah baru. Di dalamnya disebut hal-hal yang pernah saya kenal tetapi tak sama lagi. Puisi-puisi yang dimuatnya menghimpun itu semua menjadi tampilan baru.

Saya dulu mengenal kobra, tapi kobra itu kini tampil berbeda. Saya mengenal telur mata sapi, apel, roti, kopi luwak, hiu, soda gembira, bulan madu, palu, liburan, danau, dan tengah malam, tetapi semuanya berbeda dengan yang tampil dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto itu.

Kita bisa menyaksikan kobra tampil sebagai aku yang mampu membantah, berkisah, dan refleksi-diri. Bantahan, kisah, dan refleksi yang tak biasa. Kobra yang mampu meyakinkan dengan kata-kata “Percayalah, aku melenyapkan bayang-bayangku dengan bersembunyi dalam liang jika hari sudah terlalu terang, bergelung seperti bulan gerhana sempurna, atau, jika terpaksa, dengan menelan sesiapa yang berkeras menjadi kembaranku betapapun tampan-jelita ia.” Kobra yang menyantap nasi gurih dan Kitab Lebah Ratu.

Kita bisa menyaksikan juga tampilan apel dan roti yang terhubung secara unik dengan benda-benda lain. “Di balik dua butir apel selalu ada sekeping matahari/Hijau, sehingga pisaumu akan tersipu malu/Menatap merah yang selalu padam itu.” Dan “Di antara dua potong roti selalu ada selapis jantung/Kuning, sehingga lidahmu pasti akan berhenti/Sebelum mencapai putih yang menyala itu.” Sungguh apel dan roti yang tak biasa, seperti benda-benda yang pertama kali dikenali di dunia.

Begitulah, benda-benda, juga ide-ide, seperti terbit untuk pertama kalinya dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam buku puisi ini. Membacanya, kita seperti menyaksikan dunia dengan wajah, watak, dan gerak-gerik baru. Hal-hal yang kita biasa temui sehari-hari seperti tiba-tiba menampilkan diri mereka dengan caranya sendiri.

Ragam dunia ditegaskan dengan kemeriahan dan kekhasan benda-benda. Kita harus mengenalinya lagi seperti ketika kita belajar menamai benda-benda untuk pertama kalinya. Kita butuh kepekaan baru dan menyetel indra agar tak terjebak dengan persepsi klise-usang. Kita butuh pikiran dan tenaga baru untuk dapat menyusuri dan menikmati liku-liku dan liuk-liuk dunia yang tampil di sana. Kita perlu siap terkejut dan melepas hasil-hasil pengenalan lama. Karena itu, saya menganggap pembacaan puisi-puisi itu sebagai petualangan.

Intuisi saya menangkap presentasi-presentasi yang diambil dari puisi-puisi terdahulu dalam puisi-puisi Nirwan. Ia juga mengambil banyak unsur dari hal-hal yang pernah ada di dunia, baik dari sumber-sumber alamiah di alam maupun hasil kreasi manusia seperti lagu, teater, sains, pepatah, dan banyak lagi. Tetapi unsur-unsur itu tidak diperlakukan sebagai rujukan atau representasi. Unsur-unsur itu diperlakukan sebagai presentasi, sesuatu yang menampilkan dirinya sendiri.

Unsur-unsur itu juga tidak diperlakukan sebagai bagian dari sumbernya. Mereka dirangkai secara baru dalam puisi sebagai himpunan yang punya prinsip perpaduan tersendiri. Itu semua ikut menentukan watak, wajah, dan gerak-gerik himpunan yang memadukannya. Seakan-akan setiap unsur punya aturan tersendiri meski mereka terhimpun dan dihitung sebagai satu.

Jika puisi adalah ikhtiar untuk melampaui bahasa dengan bahasa, maka Buli-buli Lima Kaki adalah ikhtiar yang berhasil. Dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto itu bahasa melampaui fungsinya sehari-hari sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Bahasa di sana memungkinkan dunia tampil sebagai presentasi, bukan sebagai representasi.

Puisi-puisi itu tidak mewakili atau merujuk kepada apa yang ada di tempat lain, melainkan menampilkan “dunia” tersendiri yang “ada di sini dan kini”. Apa yang luput oleh bahasa, yang tak terkatakan dalam keseharian, ditampilkan di sana. Eksplorasi bahasa bahkan sampai keluar batas-batas pemaknaan yang pernah ditegaskan terdahulu memungkinkan puisi-puisi itu menjalani ikhtiar puitis hingga menghasilkan kebaruan, mencapai kemungkinan-kemungkinan presentasi dunia secara baru.

27 Desember 2010

Sunday, April 15, 2012

Indonesia: dari Paha Hingga Agama

Judul: Puisi dan Bulu Kuduk (perihal sastra dan budaya)
Penulis: Acep Zamzam Noor
Editor/Penyunting: Mathori A Elwa/Faiz Manshur
Pengantar: Jakob Sumardjo
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung, Juli 2011 Harga: Rp 48.000
Peresensi:  Arifin Hakim
http://oase.kompas.com/

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai sastra, bahasa dan budaya yang ditulis oleh seorang penyair kenamaan dari Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor.

Melalui proses kreatif yang mahir, sang penulis berhasil memotret fenomena kebudayaan nasional melalui paham yang dianutnya, yakni sastra. Sebagai sastrawan yang memiliki mindset berpikir universal, Acep mencoba melakukan rekonstruksi pemikirannya sendiri atas apa yang terjadi pada fenomena politik, budaya, agama dan seksualitas di Indonesia.

Puisi dijadikan sebagai judul merupakan simbolisasi dari bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi paling penting di dalam proses kebudayaan manusia. Sedangkan Bulu Kuduk merupakan simbolisasi perasaan di mana seseorang yang memiliki kepekaan tertentu seringkali bulu kuduknya merinding. Jadi puisi dan bulu kuduk kalau digabung bisa bermakna luas berupa fenomena bahasa nasional yang membuat banyak orang merinding.

Bulu Kuduk seseorang bisa merinding manakala melihat paha lawan jenisnya--sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa bagian esai di buku ini. Tetapi seseorang juga bisa merinding melihat perilaku orang beragama yang lakunya bertentangan dengan etika agama yang dipeluknya. Seseorang bisa merinding karena melihat banyak anak muda dengan idealisme yang kelewat gila, tetapi ia pun bisa merinding melihat banyak elit politik berpaham humanis dan bahkan religius tetapi perilakunya kelewat serakah, bahkan biadab.

Dengan memahami simbolisasi seperti itulah kita bisa menikmati kehebatan karya ini. Melalui ijtihad berpikirnya, Acep menawarkan banyak ide-ide brilian untuk melihat Indonesia, bahkan tak jarang memberikan solusi jenius. Cara pandang yang ditawarkannya berbasis kearifan batin dengan visi jauh “upaya memajukan dan memanusiakan” kehidupan berbangsa.

Ada banyak persoalan nasional selama 10 tahun terakhir yang dilihat oleh Acep. Beberapa naskah yang memotret persoalan nasional itu di antaranya: “Puisi, Posisi Saini, Sepuluh Sajak Goenawan, Cerpen-cerpen Puitik Danarto, Puisi Anggur Omar Khayam, Pesantren, Santri, Puisi, Bahasa, Identitas, Akar Tradisi, BRB , In Memoriam Irzadi Mirwan, Puisi dan Bulu Kuduk, Puisi dan Ketulusan Hati, Dari Pertemuan Kecil ke Pasar Bebas, Perlukah Sastrawan Indonesia Berserikat? Salju dan Nyanyian Bunga Mei, Para Penyair Salaf, Puisi yang Mengingatkan, Kidung Purnama, Kreativitas dan Pemicunya, Melati di Paha Yunis, Mengolah Realitas, Puisi dan Batu Akik, Sekitar Proses Kreatif Saya.”

Di tengah-tengah miskinnya tradisi penulisan kreatif berbentuk esai bermutu, Acep melalui penerbitnya berani menawarkan hal-hal baru. Para penyair, bahkan sastrawan secara umum harus diakui memang miskin dalam melahirkan karya bermutu. Acep adalah sedikit penyair yang selain mahir berpuisi juga mahir menulis esai bermutu.

Dari sekian manfaat bagi pembaca, saya menilai dua kelompok terpenting yang semestinya membaca buku ini. Pertama adalah guru dan dosen yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi. Melalui goresan pena yang didukung daya intelektualitas tinggi, sang penulis memberikan isi (konten) berupa ilmu pengetahuan yang baik untuk mengapresiasi sebuah karya. Murid-murid sekolah SMA dan mahasiswa sastra dan komunikasi akan mendapatkan banyak manfaat dari paradigma yang ditawarkan penulis.

Kedua, bermanfaat bagi para penulis. Para penulis, terutama penulis pemula, yang selama ini mengalami kebuntuan di masa-masa awal akan terbuka melalui cakrawala penggunaan bahasa, cara melihat objek/fenomena yang akana ditulis dan juga bagaimana seharusnya memilih topik dengan angle penulisan yang kokoh dan berkarakter. Lebih dari itu, para penulis juga akan mendapatkan dorongan agar berani keluar dari pakem-pakem penulisan formal yang menjebak proses kreatif.

Setelah membaca karya ini, sebenarnya kita tidak perlu ragu lagi menyebut Acep sebagai seorang pembaru dalam bidang sastra dan budaya. Ketajaman analisa dan daya intelektualitasnya lebih segar dari para sastrawan tua seperti Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, dan budawayan lain. Bisa disebut bahwa Aceplah yang saat ini mampu menjadi “empu”nya sastra di Indonesia.

Arifin Hakim. Peminat Kajian Sastra dan Agama. Tinggal di Cirebon.

Monday, March 12, 2012

Usai Ojong, Sendirilah Jakob

Judul: Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama
Penyusun: St. Sularto
Penerbit: Kompas
Cetakan: I, September 2011
Tebal: vii + 660 halaman
Peresensi: Nunung Nurdiah
http://www.lampungpost.com/

KESUKSESAN grup Kompas-Gramedia seperti sekarang lahir dari tangan dingin duet ini: P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Merekalah yang mendirikan Kompas dengan basis keimanan sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.

Peran Ojong lebih banyak di sektor usaha dan pengembangan perusahaan meskipun basis Ojong pun jurnalis yang andal. Terlebih Jakob yang memang berkonsentrasi penuh di ranah jurnalistik. Keduanya sepaham meskipun Jakob lebih luwes. Ini kentara saat Kompas termasuk koran yang diberedel pemerintah. Dan saat ada tawaran untuk terbit lagi dengan sejumlah noktah kesepakatan, lubuk hati Ojong tak sepakat. Namun, dengan beragam pertimbangan, termasuk dapur dari karyawan perusahaan yang mesti tetap mengepul, Kompas akhirnya “tunduk” dan terbit lagi. Sampai sekarang. Sampai menjadi raksasa media. Pun ke daerah-daerah dengan koran “murah” berbasis nama Tribun.

Usai Ojong mangkat pada Mei 1980, Jakob mengurus semuanya. Konsentrasinya kini tak cuma pada redaksi. Ia mesti pintar mengelola aset perusahaan dan mencari terobosan agar koran dan grup usahanya itu makin hari makin bagus performanya.

Sesuatu yang sangat menarik dari cara bertindak Jakob adalah mendasari kerjanya dengan basis keimanan. Ia percaya jika bekerja dengan iman yang baik, yang transendental, hasilnya juga bagus. Jakob, sebagaimana sudah dimulakan Ojong, sangat memanusiakan semua karyawannya. Jakob menjadi ayah sekaligus bos besar mereka dalam ranah korporasi.

Buat Jakob, sekolahnya di seminari ternyata menjadi basis terkuat dalam cara berpikir dan bertindaknya. Meskipun kemudian “menyimpang” dengan bekerja sebagai wartawan, Jakob tetap punya idealisme seorang seminari. Itu bahkan tecermin dalam sikap hidupnya dalam memimpin korporasi.

Titik balik itu barangkali terlihat saat Kompas diberedel dan ditawarkan untuk terbit lagi. Di halaman 31 buku yang disusun St. Sularto ini kita bisa menyimaknya.

“Malam itu, tanggal 20 Januari, Jakob segera menuju ke kantor, lokasi redaksi Kompas di Palmerah Selatan. Rumah tinggalnya di Pejompongan, hanya sekitar lima kilometer. Mobil Fiat warna cokelat susu itu dalam beberapa menit sudah menvapai halaman kantor. Jakob menyapa wartawan dan karyawan yang sedang tugas malam. Mereka tetap tekun bekerja walaupun sebagian tampak dengan tatapan kosong. Sebagian ada yang tertawa-tawa, menutupi kebingungan dan kecemasan dengan kebanggaan mengalami dan menyaksikan diri sebagai bagian dari korban pemberedelan penguasa atas media. …. Jakob mendekati mereka sambil merasakan beratnya rasa kehilangan pekerjaan. Swantoro—adik kelasnya di seminari, setahun bekerja bersama di Intisari sebelum akhirnya dia tarik ke Kompas tahun 1967—bertindak cepat. Swantoro meminta agar pekerjaan diteruskan….”

Buat Jakob, Ojong adalah guru sekaligus rekan kerja yang menyenangkan. Jakob tahu persis bagaimana keseriusan Ojong dalam menekuni bidang kewartawanan. Maka itu, tak heran, kalau Jakob—seperti testimoni banyak pihak—tetap sederhana. Kalaupun ada rasa bangga, itu menjadi kekuatan buat korporasi yang ia pimpin.

*

Tahun ini Jakob pas berusia 80 tahun. Usia yang matang. Ia lahir di Desa Jowahan, dekat Candi Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931. Dan sampai sekarang masih berdiri sebagai “orang tua” untuk semua karyawannya di grup korporasinya yang besar itu.

Nunung Nurdiah, praktisi pendidikan, pembaca buku /22 January 2012

Monday, February 27, 2012

Mencari Bening Mata Air Bersama Gus Mus

Judul : Mencari Beningnya Mata Air, Renungan A. Mustofa Bisri
Penulis : A. Mustofa Bisri
Edisi : I, September 2008
Halaman : viii + 152 Halaman
Penerbit : Kompas, Jakarta
Peresensi : Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/

Ahmad Mustofa Bisri atau lebih akrab dengan sapaan Gus Mus mungkin lebih dikenal oleh masyarakat sebagai sosok kyai dan juga budayawan yang dapat dijumpai di pesantren pada pengajiannya atau di kampus-kampus pada saat ia berorasi budaya dan sesekali membaca puisi religinya. Tapi patut diapresiasi bahwa melalui bukunya ini kita juga dapat mengetahui sosok Gus Mus dan pemikirannya dapat pula ditemui di dunia maya.

Mencari Bening Mata Air: Renungan A. Mustofa Bisir ini merupakan kumpulan tulisan Gus Mus yang di publikasikan di situs Gubug Maya A. Mustofa Bisri (www.GusMus.net). Sebagaimana pada situs yang langsung diasuh oleh Gus Mus, maka tulisan pada buku ini ingin menyapa pembacanya untuk sejenak merenungkan periaku sehari-hari yang kita lakukan. Pada buku ini Gus Mus bercerita tentang kesibukan kerja, zakat fitrah, akhlak, makna doa, serta soal keluarga harmonis.

Secara global buku ini terbagi menjadi empat bagian. Pada bagian pertama Gus Mus akan mengajak untuk berkisah dan merenungkan perihal teladan sang nabi yang juga disarikan dari Sirat an-Nabi karya Ibn Hisyam. Salah satu renungan pada bagian ini yaitu “tidak ada alasan untuk tidak bersedekah kepada sesama. Karena sedekah tidak harus berupa harta. Bisa ilmu, tenaga, bahkan sekedar senyum”.

Pada bagian kedua di dalam buku ini Gus Mus mengantarkan kita untuk bersama membuka mata hati. Di bagian ini Gus Mus memaparkan bagaimana menjaga kebersihan lahir bathin. Menenangkan diri dalam menyikapi musibah agar tidak lart dan menjadi penyesalan dan phobia berkepanjangan. Adab meminta dalam doa. Menyikapi kesibukan dalam perilaku sehari-hari agar tidak hanya mementingkan individu tetapi juga orang lain yang membutuhkan.

Pada bagian dua pula Gus Mus mengajak dan menjelaskan perihal kesalehan total, bahwa kesalehan individual dan kesalehan sosial yang seringkali dibahas dalam beberapa tulisan tidaklah cukup jika tidak kemudian berubah menjadi kesalehan total. Gus Mus juga berkisah dan memberikan tawaran dalam menghadapi godaan kehidupan dan kekuasaan agar kita tidak terjebak dan terperosok di dalamnya. Dan di akhir bagian dua Gus Mus menafsirkan kepada kita bahwa suara hati adalah sabda insani.

Renungan yang dapat dicicipi pada bagian ini salah satunya adalah “bukankah kalau ada yang meminta kepadamu, kau memberinya sesuai kehendakmu, atau bahkan kadang tidak memberinya sama sekali? Mengapa kalau kamu memohon kepada-Nya, Ia kau haruskan memberimu sesuai kehendakmu? Memohonlah kepadanya. Ia pasti memberimu dan biarlah Ia memberimu sesuai kehendak-Nya” (hal. 45)

Bagian tiga berceritera perihal syiar kemenangan. Gus Mus memulainya renungannya mengajak kita untuk bertakwa dan bersikap sederhana dan ini pulalah pelajaran dari 30 hari mencari cinta Allah yaitu puasa ramadhan. Dan kemudian jiwa yang takwa dan bersikap sederhana tersebut akan disucikan dengan zakat fitrah. Peristiwa ajaib pada bulan ramadhan tidak lengkap jika tidak diakhiri dengan kemenangan total. Gus Mus pada bagian ini dengan apik menceritakannya pada tulisannya yang bertema tradisi, tradisi melebur dosa.

“Seperti soal dosa antar sesama itu. Dari segi kerasnya dn sulit dimintakan maaf, mestinya menuntut perhatian yang lebih dari kita. Mestinya, kita harus hati-hati. Apalagi bila diingat rata-rata kita – khususnya manusia Indonesia – ini bukanlah pengampunan yang murah hati, dan sekaligus bukan peminta maaf yang rendah hati. Kalo jothakan, kalaupun mau wawuh, wawuh-nya nunggu saat baik, saat lebaran. Baru lebaran, orang mau merendahkan meminta maaf dan berbesar hati memafkan kesalahan. Jadi bila kesempatan lebaran ini tidak dipergunakan untuk saling memaafkan, sungguh sangat rui dan mengkhawatirkan.” (Hal. 108)

Buku ini kemudian ditutup oleh Gus Mus pada bagian keempat dengan ajak untuk menjadi kekasih Allah. Beberapa pikiran dan tawaran Gus Mus yang dapat dibaca dan direnungkan untuk menjadi kekasih Allah yaitu; membina keluarga menjadi harmonis, menuju haji mabrur menuju kubur, pengajian, berdoa, memburu lailatul qadr dan bermuara pada hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Di tengah perekonomian sedang dilanda krisis global, kondisi politik yang kian carut marut dan kondisi Indonesia yang akan sebentar lagi akan menghadapi 80 tahun sumpah pemuda buku Mencari Bening Mata Air : Renungan A. Mustofa Bisri menjadi kado terindah yang diselipkan untuk dibaca sembari direnungkan, untuk berkaca sekaligus berusaha merubah yang salah. Tidak hanya cukup dengan meraih kesalehan individual pun tida pula cukup dengan mendapatkan predikat kesalehan sosial belaka, namun kita harus menuju predikat saleh secara total.

Puisi sepanjang jalan suci [SULUK PESISIRAN]

SULUK PESISIRAN
Penerjemah: Dr. Simuh, Drs. H.M. Wasyim Bilal, Drs. Mundzirin Yusuf, dan Drs. Mohammad Damami
Puitisasi: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Mizan, Bandung, 1989, 98 halaman
Peresensi : Sugiarta Sriwibawa
http://majalah.tempointeraktif.com/

Samudera yang luas/ Di mana tepinya/ Tentang papan tanpa tulisan/ Bunga teratai tanpa telaga/ … Lampu menyala tanpa sumbu/ Daun hijau tanpa batang/ Muazin tanpa bedug/ … Memintal sekali jadi/ Tanggal satu tapi bulan purnama/ Tuturkanlah, apa maknanya.

PUISI tersebut merupakan rangkuman pertanyaan seorang pengembara kepada seorang penghulu tentang ilmu sejati. Nukilan puisi itu adalah terjemahan dari sastra suluk, yaitu sastra dalam bentuk tembang macapat yang berisi wejangan, baik melalui perlambang maupun dengan penjabaran, perihal mistik atau tasawuf.

Dalam bentuk ganjaran atau prosa, disebut wirid. Adapun kata suluk, menurut pendapat umum yang diperkuat oleh Dr. Simuh yang ahli sastra kejawen, dapat dirunut dari kata Salak at-Tariq: menempuh jalan (tasawuf) atau tarekat.

Konon, pada abad ke-17 dan ke-18 di wilayah pesisiran, yaitu pantai utara Pulau Jawa, terutama di lingkungan Kesultanan Cirebon, di kalangan para ahli tasawuf atau mistik banyak dilantunkan tembang yang memanjatkan pujian akan keesaan dan keagungan Allah. Terkadang tembang itu diiringi dengan bunyi-bunyian.

Kata suluk selanjutnya lebih dikenal dalam dunia pewayangan karena para wali pun menggunakan wayang sebagai sarana dakwah. Lagi pula, dalam pedalangan sering dituturkan ajaran moral, kebatinan, dan mistik, yang memuncak pada lakon Bima Suci atau Dewa Ruci dari babon Nawa Ruci.

Lakon mistik ini banyak persamaannya dengan cerita Seh Malaya atau Seh Melaya dalam sastra Jawa, yang mengisahkan pembicaraan antara Sunan Kali Jaga dan Nabi Kilir. Naskah-naskah sastra suluk yang beraksara Jawa dan Arab Pegon itu sampai kini masih terawat baik di perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV), bahkan banyak yang sudah disalin ke dalam huruf Latin dan dalam bentuk mikrofilm. Adapun kutipan suluk di atas adalah nukilan dari Suluk Pesisiran (tercatat di bawah kode LOr atau Codese Leidse Orientalia 7375).

Mengapa naskah suluk Pesisiran yang terdiri dari 41 suluk itu melayang dari Cirebon sampai Leiden? Semula naskah itu milik Sultan Adiwijaya dan Penghulu Abdul Kahar, yang selanjutnya pada tahun 1896 oleh Patih Bratadiwijaya diserahkan kepada Dr. Snouck Hurgronje. Dan beberapa waktu yang lalu dalam rangka penelitian ilmiah, ke-41 suluk itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. Simuh dan rekan-rekannya. Selanjutnya sepuluh suluk di antaranya dipuisikan oleh Emha Ainun Nadjib.

Ciri utama Suluk Pesisiran ialah menonjolnya paham manunggaling kawula lan Gusti, menghadapnya abdi kepada sesembahannya, atau dalam peristilahan yang lebih luas: menyatunya mikrokosmos dan makrokosmos. Hal ini sudah barang tentu mengingatkan kepada paham Al Hallaj dan Ibnu Arabi.

Sedangkan dalam suasana sastra sufi kita mudah teringat akan karya Faridu’d-din Attar Mantiqu’t-Thair, yang diterjemahkan oleh Hartoyo Andangjaya menjadi Musyawarah Burung (PJ 1983). Sastra suluk Jawa pun mengenal Suluk Peksi atau Suluk Burung karangan Yudha Nagara, yang menokohkan tiga ekor burung: puyuh, pelatuk, dan perkutut, yang dengan asyiknya berembuk tentang agama dan kehidupan makhluk.

Walaupun paham kawula-Gusti sedikit banyak menampakkan paham mistik zaman pra-Islam, suluk Cirebon ini cukup awas terhadap tarikan yang secara tidak sadar dapat menuju pada pembelokan:

Banyak orang tergelincir syirik/ Terjebak jadi kufur/ Atau munafik jalan sembahnya/ Atau sibuk meraba-raba/ Yang sejati tak jelas baginya/ Tapi guru tak dicarinya. Syariat pun dikumandangkan: Nyi Selobrangti turun pelahan-lahan/ Akan mengambil air sembahyang/ Shalat ashar hendak ditegakkan/ Nyi Centhini mengikuti/ Telah diambilnya air pemujan/ Mengikutinya bersembahyang/ Siap memuja, sajadah dihamparkan/ Kemudian shalat pun didirikan.

Masih banyak naskah suluk yang tersimpan di Leiden yang perlu kita terbitkan, baik dalam aksara Latin maupun terjemahannya, dalam bahasa Indonesia, antara lain Suluk Aspiya, Suluk Wujil, Suluk Jati Rasa, Suluk Lusang, Suluk Nala Kirdha Among Raga, Suluk Purwa Sari Rasa.

Hampir menjadi pendapat umum bahwa penerjemahan karya sastra hanya dapat ditangani oleh sastrawan pula, apalagi puitisasi. Barangkali perlu pula ada varian dari kata-kata Chairil Anwar: Yang bukan penyair tidak ambil bagian, menjadi: Hanya penyair yang dapat ambil bagian.

Dan ini dibuktikan oleh penghayatan Emha Ainun Nadjib atas Suluk Gedhong (15) sebagai ciri khas suluk:

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku/ Hendaklah engkau waspada manatap-Nya/ Lantaran tak ada lagi selain Ia/ Tinggal bagai keheningan/ Satu Wujud Abadi.

Penerjemahan atau puitisasi karya sastra menjadi hak sepenuhnya bagi penerjemah dan penghayatnya yang mempuisikannya.

10 Maret 1990

Thursday, October 20, 2011

Satu Sudut Almari Sejarah Sastra Amerika

Judul Buku: The Dante Club
Judul Asli: The Dante Club: A Novel
Penulis: Matthew Pearl
Penerjemah: Agung Prihantono
Penerbit: Q-Press
Cetakan I: Agustus 2005
Tebal: 614 halaman
Peresensi: Yanto Musthofa
http://www.ruangbaca.com/

Khazanah kesusastraan Amerika mengenal triumvirat begawan Brahmin Boston–sebutan bagi kaum elite berpendidikan Harvard. Mereka adalah Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), James Russel Lowell (1819-1891), dan Oliver Wendell Holmes (1809-1694). Mereka memelopori aliran yang memadukan tradisi trans-Atlantik Amerika dan Eropa.

Bersama satu tokoh lainnya, James Thomas Fields, mereka menjalin persahabatan istimewa. Fields sendiri pengarang dan editor di dua majalah berpengaruh, The Atlantic Monthly/ dan The North American Review. Tapi dia juga juragan penerbit sukses, Ticknor & Fields. Kedua majalah dan penerbit itu menjadi ladang kreasi sang triumvirat.

Di tangan Matthew Pearl, persahabatan itu lahir menjadi cerita fiksi yang menghebohkan lewat karya perdananya, The Dante Club. Pearl, lahir pada 1975, lulus dari Universitas Harvard dengan yudisium summa cum laude bidang sastra Inggris dan Amerika pada 1997. Fiksi sejarah ini mulai ditulisnya sewaktu dia masih kuliah di Universitas Yale, tempat dia meraih gelar doktor bidang hukum (JD) pada tahun 2000.

Pearl mengisahkan, para kampiun sastra Harvard itu bertemu dalam satu kepedulian yang meluap-luap pada Dante. Dante Alighieri (1265-1321) adalah penyair Fiorentina yang terkenal dengan karyanya, Divina Commedia. Pada 1865, mereka sepakat menggarap proyek ambisius penerjemahan syair-syair Dante, walau harus menghadapi represi kaum birokrat Korporasi Harvard yang sangat berkuasa.

Maklum, sebagai entitas sastra Italia, Dante tak luput dari setumpuk stigma negatif waktu itu. Bahasa Italia, Jerman, dan Spanyol lekat dengan citra ambisi politik murahan dan amoralitas dekaden Eropa. Bahkan Dante dicap terlalu Katolik bagi Universitas Harvard (hlm. 56 dan 69).

Fields diintimidasi Korporasi agar urung menerbitkan terjemahan itu. Ancamannya, kontrak dengan Harvard akan diputus. Tapi Fields tak surut. Lewat majelis yang bertemu saban Rabu malam di Craigie House, kediaman Longfellow, syair-syair Dante terus didiskusikan untuk diterjemahkan. Karya Dante, bagi mereka, adalah harta karun yang harus diperkenalkan pada Amerika.

Di tengah jalan, proyek Klub Dante menghadapi ancaman serius. Tiba-tiba pembunuhan sadis berantai muncul di Boston dan Cambridge. Para anggota Klub Dante tercengang ketika tahu gaya dan cara pembunuhan itu menyontek habis Bab Inferno (Neraka), bagian penting buku Commedia.

Dalam pelacakan kasus itulah Pearl menyelipkan tokoh fiksi Nicholas Rey, polisi kulit hitam pertama dan satu-satunya di Boston. Di abad ke-19? Pearl tak mengada-ada. Massachusetts adalah negara bagian pertama yang menghapus perbudakan, walau di sini pula sebetulnya perbudakan mengawali sejarahnya di Amerika. Walhasil, pada 1865 yang menjadi setting kisah Pearl, Boston memang sudah lebih maju menyangkut dinamika gerakan dan partisipasi kulit hitam dalam kehidupan ber-Amerika.

Toh, Pearl tetap “menjaga” perspektif sejarah dengan menyisakan iklim diskriminatif yang melingkupi Rey. Tak seperti opsir polisi lainnya yang berkulit putih, Rey tak boleh memakai seragam, membawa senjata apa pun kecuali pentungan, atau menangkap orang kulit putih tanpa bersama polisi lainnya (hlm. 94).

Untuk karya bestseller versi The New York Times dan segepok media terkemuka Amerika ini, pujian selangit datang dari Dan Brown, pengarang The Davinci Code. “Mathew Pearl adalah bintang baru yang cemerlang di jagat fiksi,” kata Brown.

Pearl pandai menjaga plot, lincah mengerahkan kedigdayaan risetnya untuk mengatur suspense dan ayunan misteri sepanjang novel. Pearl seperti pemandu ulung ketika mengajak pembaca berkelana di jalan-jalan berdebu Boston dan Cambridge yang dilindas kereta-kereta kuda. Atau, bertamasya menyusuri nuansa kuliah Universitas Harvard abad ke-19, melongok interaksi eksotis antara dosen dan para mahasiswanya (hlm. 124-130).

Syukurlah, meski tidak luar biasa, versi terjemahan bahasa Indonesia ini pantas diacungi jempol karena kenikmatan dan kejutan yang disuguhkan Pearl tetap terjaga dan bisa dikunyah seutuhnya.
***

Saturday, September 24, 2011

KETAKLAZIMAN PRINGADI ABDI SURYA

Judul : Dongeng Afrizal
Penulis : Pringadi Abdi Surya
Tebal : 166 halaman
Edisi : cetakan I, 2011
Penerbit : Kayla Pustaka _ Jakarta
Peresensi : Lina Kelana
http://sastra-indonesia.com/

Kesan pertama setelah tuntas membaca Dongeng Afrizal, pikiran saya langsusng tertuju pada sang penulis, bahwa Pring (Panggilang Pringadi Abdi Surya) sedang tak waras, atau memang sudah tak waras lagi. Dan Pring harus bertanggung jawab manakala ada beberapa orang yang merasa pusing atau bahkan gila setelah membaca bukunya. Bagaimana tidak? Keliarannya benar-benar “tak beradab”.

Dari Surat ke Delapan hingga Senja terakhir di Dunia, saya mendapati kedalamanan dan ketakwarasan itu sudah “direncanakan” atau “terencanakan” di alam bawah sadarnya : sebelum atau pada saat ia menulis. Bukan hal yang tak mungkin ini membuat krenyit di kening pembaca. Beberapa kali kita diajaknya berlari, terpeleset, berjinjit, tersungkur, mundur menata kuda-kuda, dan kadang meloncat-loncat dalam imaji. Jadi tak salah jika saya bilang “Pring memang tak waras”.

Pada Surat ke Delapan, Pring menghadirkan konflik “kecil” dalam hubungan suami istri. Suatu kesalahpahaman yang tak dikomunikasikan, ternyata berpengaruh menimbulkan prasangka-prasangka “sepihak” yang menimbulkan masalah-maslah lain(baru) untuk selanjutnya.

Kisah seorang Alina hampir mendominasi cerita dalam buku ini. Kisah klasik Romeo dan Juliet yang diramu dalam berbagai versi dan“menu” , De Ja Vu yang tak bisa lepas dari kisah hidup anak manusia.

Resital Kupu-Kupu, Setan di Kepala Ibu, Djibril dan Aku, Maconda Melankolia, dan Fiksimaksi : Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, sebagai ketakwajaran yang disuguhkan dengan “kengerian dunia lain”. Alam Ketuhanan yang dibuntal dengan gaya “ekstrim” ini bisa menyesatkan banyak kaum.

Keseluruhan cerita dalam realita, atau realita dalam certia di Dongeng Afrizal ini sangat kental dengan “penjelajahan” batin dan filsafat. Tak kalah seru dalam epilognya yang menampilkan beberapa rumus matematika, yang, oleh sebagian pembaca mungkin bukan hal yang penting untuk dituliskan. Mungkin juga demikian menurut sang penulis. Tetapi tahukah? Ruang-ruang yang coba ditampilkan, rumus-rumus matematika yang kaku dan baku, juga filsafat dan Ketuhanan, tak bisa dilepaskan dalam kehidupan seorang individu. Di sadari atau tidak semua hal di alam ini, bahkan ilmu pengetahuan adalah filsafat (Perbincangan bersama Khrisna dan Sholahuddin di suatu sore di beranda rumah). Dan itu memang benar. Filsafat yang dianggap sebagai kegilaan menuju kemurtadan kepada Tuhan tak lain dan tak bukan adalah perjalanan batin manusia mengenal Tuhannya. Bukankah untuk mengenal Tuhan lebih dari sekedar syari’at–(syariat + hakekat)–dibutuhkan suatu ketiadaan diri, ketiadaan identitas dan keinginan, serta segala yang lekat pada ke”diri”an seseorang? Dan kita semua tahu, itu hanya dimiliki oleh orang yang sudah mengalami “gila”. Gila(menghilangkan diri) terhadap diri sendiri dan gila (mabuk kepayang)untuk senantiasa menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya yang di hati dan “diri” kita. Dan ingatkah? Bagaimana kisah kegilaan Kusrau terhadap Syirin, Qais dan Layla juga serentetan kisah cinta lainnya. Secara harfiah memang, baik Kusrau maupun Qais tergila-gila dengan Syirin dan Layla, demikian juga sebaliknya. Tetapi lebih dari itu, mereka “mengagungkan” dan telah “gila” akan makna sebuah”cinta”. Bagaimana perjuangan, kenikmatan, dan efek yang diberikan cinta, tentang arti kerelaan, ketakberdayaan, pengorbanan, perjuangan, keikhlasan, juga macam nilai moral lainnya. Dan penggemblengan atas semua itu tak lain merujuk pada sifat-sifat mulia, yang tak lain dan tak bukan adalah manifestasi dari sifat-sifat yang 99 (Asmaul Husna) itu.

lalu apa hubungannya dengan kelimabelas cerita dalam Dongengnya Pringadi?
Tauhid dimaknai sebagai (mem)percaya(i) bahwa Allah itu satu/Esa.

Ketauhidan adalah kepercayaan, keyakinan, keimanan terhadap keesaan Allah s.w.t. Sesuatu yang dimiliki setelah selampauan peristiwa-peristiwa yang dialami disertai dengan pembuktian-pembuktian (sengaja atau tidak) yang didukung oleh kebenaran-kebenaran empiris, logika, juga dalil-dalil (aqli dan naqli).

Tak berlebihan jika ini ditarik pada karya milik Pringadi—khususnya terlihat pada epilognya—yang nyleneh itu. Ilmu matematika adalah ilmu yang berhubungan dengan logika. Dan logika perlu, bahkan harus dimiliki dan gunakan di dalam hidup dan kehidupan. Logika yang meliputi : categoriae (mengenai pengertian-pengertian), de interpretatiae (mengenai keputusan-keputusan), analitica priora (tentang selogisme), analitica parteriora (mengenai pembuktian), topika (mengenai berdebat), dan de sophisticis elenchic (mengenai kesalahan-kesalahan berpikir). Lepas dari beberapa pengertian yang ada dan bisa disistematikakan : logika naturalis,ilmiah, tradisioanl, modern, formal, deduktif, induktif, dansebagainya, logika sangat diperlukan untuk memahami dan menyakini sesuatu hal lewat penginderaan (lahir ataupun batin). Dan jika sampai pada ranah ini, kita menyebutnya sebagai keimanan. Keimanan terhadap Tuhan, benda, peristiwa, atau apapun (tergantung bagaimana diri pribadi menerjemahkannya).

Tauhid + logika, artinya berpikir tentang Tuhan, ketuhanan, dan segala macam yang meliputi dan berkenaan dengan Tuhan dan keTuhanan. Dari pengamatan sungai, langit, tumbuhan, manusia, hewan, dansebagainya yang ada di langit dan bumi sebagai pengejawantahan ciptaan/kekuasaan Allah s.w.t.

Pemikiran tentang Tuhan, sebagaimana konsekuensi logis ajaran tauhid, merupakan salah satu dari banyak tema yang paling sentral dalam tradisi filsafat (ketauhidaan-Agama) Islam. Baik Aristotelian, Neoplatonisme, Paripatetisme, maupun Illuminasionisme.1)

Ketidakwarasan dan “kemurtadan” Pring yang sedemikian kompllit dituturkan dalam gaya bahasa kuat. Bahasa kepenyairan yang digunakannya meledakkan segenap kegilaan yang bisa menyesatkan umat.

Ket : 1) Analisi Matematikan Terhadap Filsafat Islam. (Abd Azis, UIN Press 2006)
Ketuhanan + rasa + imaji + ke“binal”an = Dongeng(nya) Pringadi

Maka berhati-hatilah.
Haha….

Friday, August 26, 2011

Pemantik Kesadaran Revolusioner

Judul Buku : Trilogi Kesadaran

(Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran, dan Ras Pemberontak)

Penulis : Nurel Javissyarqi

Penerbit : Pustaka Pujangga

Cetakan : I, Oktober 2006

Tebal : xxx + 490 hlm

Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

http://indonimut.blogspot.com/



Berpacu pada aforisma padat Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, Maka Aku Ada), ada kemiripan ketika membaca pemikiran Nurel dalam buku ini. Nurel bisa dikatakan sosok muda yang gila akan makna kesadaran. Ia berani menggugat tanpa tedeng aling-aling akan kemapanan dalam dirinya. Pemberontakan jiwanya telah mewarnai kanvas-kanvas kehidupan untuk dituangkan. Seturut Descartes, yaitu sosok filsuf ‘yang menyangsikan segalanya’, “cogito”.



Trilogi kesadaran, merupakan buah refleksi anatomi kesadaran Nurel demi mengembang-terbangkan sayap-sayap pemikirannya. Ujung pemikirannya, dibidikkan pada ranah pembebasan orisinalitas jiwa insan dari ketertindasan atas masa perubahan (pancaroba). Jejak jajakan intelektualnya, diberangkatkan dari asal kesadaran akan eksistensi diri menuju kegelisahan besar atas sejarah zaman. Lahan kesangsiannya adalah kehidupan sehari-hari dalam menggali nilai-nilai.



Berkiblat pada Goenawan Muhamad dipengantar bukunya, Eksotopi, berujar: “Sejak selama hampir separuh abad terakhir; seorang Indonesia adalah seorang yang peka oleh pengalamannya dengan kekuasaan. Pengalaman itu, sesuatu yang traumatis, bermula dari tubuhnya, dari ruang bersama tempat ia tinggal dan bergerak, dari saat pertemuannya dengan orang lain, dari penentuan identitas, dari kehidupannya berbahasa dan menafsirkan, dari kepercayaannya.”



Adalah sosok Nurel, kelahiran tanah Lamongan, 08 Maret 1976, sebagian dari orang Indonesia yang dimaksud Goenawan telah mempertajam pengalaman, dan menisbatkan dirinya untuk jadi wakil suara-suara pedesaan. Lewat karya-karya lainnya, Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga & Kulya Dalam Relung Filsafat, dan juga buku ini, menghantarkan kepada pemahaman, bahwa ada generasi muda yang memiliki kesadaran revolusioner saat ini.



Budaya Semi



Dikajian ini, Nurel memosisikan kesadaran asimetris dengan segala kebijakan-kebijakan Negara yang digulirkan. Ia tak mudah terima kenyataan bulat-bulat, terus digugat hingga temukan kesadaran versinya. Kalau saya maknai, ia seolah mendambakan bangsa mandiri, tanpa intervensi siapapun. “Kenapa kita selalu belajar pada bangsa sudah ompong (yang telah kenyang pengalaman hingga seenak udelnya berbuat onar dimuka bumi). Bukankah bangsa asing sudah cukup mengocok perut otak kita, sebagai bola bekel, adu domba antara ideologi dalam pada bangsa kita sendiri.”



Ditopang “kesadaran murni”, ia sangat berharap bangsa ini percaya diri, dan mampu ciptakan wejangan sendiri walaupun itu bobrok. Bangsa yang tak lagi didekte oleh bangsa asing, ruh pendidikan tak lagi dikonsumsi dari negeri seberang, yang nyata-nyata tak sesuai dengan kepribadian kita.



Renung kesadaran Nurel, sengaja diletupkan meraih kembalinya karakter asli bangsa. Berpayung cinta tanah airnya, “Ingat, kita memilikinya; danau indah, rawa-rawa menawan, lautan megawan, kepulauan, rentet sekalung putri raja. Tapi dengan apa kita suguhkan kepada dunia, jikalau masih selalu pulas tidur mendengkur, mabuk tak bisa berbuat atas kekuasaan anggur asing.”



Budaya semi, dianggap Nurel sebagai penelitian pseudo ilmiah. Ia tuangkan kesadaran bebas ditengah pergulatan bangsa ini. Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif, dan sempurna puas dengan diri yang sebenarnya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial, dan historis. Sejarah adalah sejarah budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).



Anatomi Kesadaran



Dijelaskan Nurel, anatomi kesadaran merupakan gabungan psikologi diri dalam meramu filsafat kalbu keimanan dengan memakai timbangan nalar (hlm 172). Anatomi kesadaran adalah pemaknaan diri didepan cermin. Merefleksi segala yang ada bertopangan kesadaran diri, menelisik, meneliti bahwa perubahan harus terus dirasakan berkesadaran puncak.



Sebagaimana manfaat kesadaran, anatomi kesadaran merupakan esensi paling dalam. Yaitu, pengembangan fitrah insani untuk terus diperjuangkan meski pada ranah mengecewakan. Karakter suatu kesadaran takkan terbentuk jika tak mau merawat (kegelisahan atas keseimbangan integralitas diri sebagai diri bangsa). Garis inilah, yang selalu digebu agar terbentuk wacana baru, yaitu kesadaran diri.



Dicontohkan Nurel: “misalnya kita terkadang terima sepucuk surat dari kawan lama, lalu tahu-tahu dapati kegembiraan, sebab kawan itu tak berhubungan lama, bagi tanda mengingat lewat datangnya surat. Ketiba-tibaan inilah macam rindu tersembuhkan atas gerak luar yang nanti membentuk kesadaran baru, kiranya sapaan kalimat lembut memanggil jiwa atau sebaliknya jika surat yang datang berberita tragedi, kita bisa memberi motivasi agar yang terselubung permasalahan cepat teratasi.”

Anatomi kesadaran dapat mewujud atas kesungguhan cita, menancapkan kepercayaan yang dalam, agar gerak langkah menambah penciptaan atas kerja keras, demi mencapai tujuan yang diharapkan.



Ras Pemberontak



Jiwa pemberontak tak dapat dilepaskan dari kesadaran. Ruh kesadaranlah, menyebabkan seseorang memberontak, menggugat, dan mendekonstruksi. Apapun disekitarnya, perlu diselaraskan dengan pemahaman dan kesadaran. Karena, kesadaran mutlak pemberontak hanya bersemai didalam diri.



Refleksi Nurel: “Kesadaran itu kekuasaan terbangun, berlangsung bagi naluri, berkembang dari sekumpulan pertanyaan dan ruang kosong penentu pijakan. Perbendaharaan dari sembuhan nalar atas daya tarik kontrak sosial dan kontrol tampak dinamai kesadaran kekuasaan.” (hlm 315).



Kekuasaan dan kesadaran adalah cara pandang mendasar, hadir atas penjajalan (percobaan) persepsi hingga menghasilkan premis penentu. Yaitu, dibangun melalui sarana mental evolusi nilai, terus dikembangkan di alam sekitar, dan hidup kita sehari-hari.



Yang terpenting, cara kerja membuang kebiasaan lama, bangun berkekuatan baru, berasal dari tiap diri kita masing-masing. Jiwa pemberontak, yang benar-benar berharap revolusi diri-dari revolusi nilai positif- yang selama ini kita abaikan.



Buku ini lewat refleksi-refleksi kristal sang pengarang, memberikan stimulus hebat menuju manusia berkesadaran. Membacanya, kesadaran mapan kita terkikis, digugat, hingga direstorasi. Menjadi referensi, bagi siapapun yang ingin bergerak sosial (social movement) menuju revolusi sosial.



Tuesday, August 23, 2011

Menafsir Ulang Gajah Mada

Abimardha Kurniawan*

http://oase.kompas.com/



Tidak sulit menemukan nama Gajah Mada (GM) dalam buku pelajaran sejarah. Muhammad Yamin, sastrawan sekaligus tokoh pergerakan itu, menyebut sang mahapatih sebagai “pahlawan persatuan Nusantara” yang kemudian ditabal sebagai judul buku biografi GM gubahannya (1945). Saking terkenalnya, nama GM pun dipakai sebagai nama jalan, perguruan tinggi, bahkan nama restoran! Juga tak lupa, beberapa tahun lalu, Langit Kresna Hariadi menerbitkan 8 jilid biografi tokoh ini dalam bingkai fiksi. Meski banyak kalangan menganggap GM punya peran penting dalam sejarah bangsa ini, namun sosok GM masih diliputi misteri dan kerap mengundang polemik nan pelik.



Pertengahan tahun 2009, Viddy AD Daery pernah membuat sebuah pernyataan sensaional. Ia menyatakan bahwa GM putra asli Lamongan. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Sebagai orang yang berasal dari daerah Lamongan, juga tentunya sebagai orang yang mahfum betul tentang sosok GM, Viddy mengaitkan beberapa ansair folklor dalam kultur lokal masyarakat Lamongan dengan pribadi GM yang ia pahami. Salah satunya, toponimi sebuah daerah di Lamongan mirip dengan nama GM, yaitu Kecamatan Modo. Sebagai respon, Pemkab Lamongan kemudian membentuk tim pencari fakta untuk menguak kebenarannya. Namun, hingga kini belum terdengar kabar, apakah pencarian itu masih berlanjut atau berbuah hasil…



Untuk menandai bahwa ikhtiar mencari gambaran eksistensi sosok GM belum menemui titik yang pasti, melalui buku ini. Agus Aris Munandar, coba mengungkap tafsiran baru atas biografi sang tokoh melalui telaah arkeologis terhadap Prasasti Gajah Mada dan dua arca perwujudan. Teks-teks sastra sejarah, seperti N?garakr?t?gama, Pararaton, Kidung Sunda, Kidung Sundayana, Babad Gajah Mada, dan Babad Arung Bondhan, dipakai sebagai pembanding untuk menghasilkan interpretasi yang kredibel dalam telaah ini. Sebab, antara prasasti, arca, dan teks sastra sejarah (naskah kuno) memiliki kuantitas informasi yang berbeda-beda.



Tidak semua bagian teks sastra sejarah tersebut dijadikan acuan, hanya yang dianggap punya fakta historis menyangkut sosok GM dan lingkungan sosialnya. Hal ini untuk menghindari bercampurnya peristiwa sejarah dengan peristiwa mitologis yang berlebihan dan irasional. Terlebih, teks-teks yang diacu punya ciri historiografi tradisional yang penarasiannya tiada batas antara fantasi dan kenyataan. Hanya N?garakr?t?gama sebagai perkecualian.



Prasasti Gajah Mada ditemukan di pelataran Candi Singhasari (sekarang di Kecamatan Singosari, Malang) dan kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti yang berangka tahun 1273 ? (1351 M) ini dikeluarkan GM, yang menyebut diri “rakryan mapatih Mpu Mada”, pada masa pemerintahan ?ri Tribhuwanottunggadewi, raja ke-3 Majapahit. Sebagai sang mahâmatrimukya, GM punya hak untuk mengeluarkan prasastinya sendiri. Mungkin inilah alasan penulis lebih memilih nama Prasasti Gajah Mada dan memakainya secara konsisten dalam buku ini, daripada Prasasti Singhasari yang sudah lazim dikenal.



Dalam prasasti tersebut, tersirat motif yang melatarbelakangi Sumpah Palapa (tan amukti palapa) yang legendaris itu. Disebutkan, GM punya hak untuk memerintahkan pembangunan caitya (bangunan suci) bagi tokoh yang telah meninggal. Karena prasasti ini ditemukan di pelataran Candi Singhasari yang notabenenya tempat pendharmaan Kertanagara, bisa ditengarai GM hendak mempersembahkan caitya kepada raja Singhasari terakhir itu. Dalam kultur Jawa Kuna, lazimnya caitya dipersembahakan oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh yang didharmakan. Jadi, tak lain tak bukan, GM adalah keturunan Kertanagara, tepatnya dari jalur selir.



GM juga menjuluki diri Jirnnodhara, artinya ‘pembangun sesuatu yang baru’ atau ‘pemugar sesuatu yang telah runtuh’. Selain berkaitan dengan pembangunan Candi Singhasari, julukan ini membuktikan—GM ingin meneruskan gagasan Dwipantara mandala, yaitu pengembangan pengaruh hingga ke wilayah luar Jawa, yang semasa Kertanaga hidup terlaksana dalam ekspedisi Pamalayu (1197 ? / 1275 M). Setelah sang raja mangkat, gagasan ini meredup dan kehilangan penerus karena Jawa silih berganti mengalami huru-hara. Pembangunan Candi Singhasari jadi semacam “ngalap berkah” yang dilakukan GM kepada leluhurnya sebelum mengajukan Sumpah Palapa. GM sadar tentang konstelasi politik kawasan Asia Tenggara. Ia ingin membendung pengaruh kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara daratan agar jangan sampai masuk ke wilayah Kepulauan Nusantara.



Selain itu yang menarik, dan tak terduga sebelumnya, adalah pengarcaan sosok GM dalam perwujudannya sebagai Bima dengan karakter lingga (phallus) menonjol. Ini bukti adanya unsur Siwaisme dan diduga berasal dari masa akhir Majapahit. Arca ini berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Pada patung tersebut juga terdapat inskripsi dengan karakter tulisan yang mirip dengan Prasasti Gajah Mada. Sayangnya, inskripsi hanya terbaca sebagaian karena kondisinya cukup rusak.



Banyak yang berspekulasi, antara arca perwujudan Bima dan Prasasti Gajah Mada dibuat oleh seorang citralekha (pemahat batu) yang sama. Pendapat ini masih perlu ditinjau ulang, walaupun kemiripan karakter tulisan bisa dikatakan sangat jarang terjadi antara dua inskripsi. Dari segi isi, khususnya dari nama yang disebut, tidak ada hubungan antara keduanya. Mpu Wirata yang mempersembahkan arca ini, tidak pernah ada di Prasasti Gajah Mada, begitu juga sebaliknya.



Berkaitan dengan tokoh Bima, penulis menghubungkannya dengan konsep astadikpalaka (delapan dewa penjaga arah mata angin) yang mengelilingi Siwa. Bima merupakan perwujudan Siwa di arah barat daya. Dalam konsep India Kuna, arah barat daya dipandang sebagai yang terburuk. Pengarcaan itu merupakan bentuk kerinduan masyarakat Majapahit saat itu kepada sosok GM yang tangguh dan dapat memulihkan stabilitas politik yang terus merosot akibat peperangan. Penemuan arca Bima di situs-situs tempat suci, juga menjadi tanda—GM seorang menguasai ilmu keagamaan.



Pada masa sebelum GM lazim diwujudkan sebagai arca Bima, GM diwujudkan sebagai Brajanata, tokoh pendamping Panji, dengan karakter phallus yang juga menonjol menonjol. Ada kesinambungan konsep antara keduanya. Sebab, siklus cerita Panji merupakan penuturan simbolis kehidupan Majapahit di masa Hayam Wuruk. Tak lain tak bukan, tokoh Panji adalah figur simbolis sang raja Rajasanagara (Hayam Wuruk). Selain menjawab polemik seputar siapa sebenarnya tokoh Panji, pendapat ini juga mencuatkan gambaran lain tentang bentuk fisik GM. Jika Brajanata merupakan ikon GM, maka gambaran wajah GM sungguh sangat berbeda dengan yang dipahami selama ini. Gambaran itu muncul dalam cover buku ini.



Banyak tafsiran baru tentang GM dalam buku ini, mulai dari pengertian nama GM secara etimologis-terminologis dan kaitannya dengan Gan?e?a (h. 12), siapa orang tuanya serta perkiraan tempat kelahiran (h. 10, lantas bandingkan dengan pernyatan Viddy di atas), muasal nama kota Bima di Sumbawa yang berkaitan dengan “penebusan dosa” GM pasca perang Bubat (h. 99), hingga senjata apa yang dipegang saat mengucapkan Sumpah Palapa (h. 51). Tak jarang, tafsiran itu membuat tercengang karena belum pernah terdengar dan terduga sebelumnya.



Namun demikian, sebagaimana judul buku ini, sebagian besar substansi biografi mengungkap sepak terjang sang patih di ranah politik. Ini bisa dimaklumi. Sumber-sumber tentang profil GM dan yang bersifat rasional sebagain besar merekam sepak terjang sang tokoh di ranah itu. Agaknya GM lebih dikenal sebagai tokoh publik yang tangguh dan punya kredibilitas tinggi. Mungkin karena itulah, dan karena GM dikenal ketika berkiprah di ranah politik, kehidupan pribadi serta kelahirannya tersamar dan sering diliputi hal-hal fantastis. Dan penulis buku ini ingin menempatkan GM dalam proporsinya sebagai manusia biasa yang tak luput dari khilaf, bukan sebagai superhuman.



Buku ini punya kedudukan penting dalam kajian tentang biografi GM, sejarah Majapahit, dan sejarah Nusantara kuna umumnya. Buku ini bukan simpulan final atas siapa sebenarnya GM. Bagaimanapun, dalam buku ini biografi GM ditampilkan sebagai “realitas tafsir”. Lebih baik menyikapinya secara kritis, daripada menjadikannya serangkaian “mitos” dalam bentuk baru. Mungkin masih banyak data (artefak) yang terserak dan hingga kini belum ditemukan. Penelitian-penelitian selanjutnya masih ditunggu. Penulis buku ini pun mengharap demikian. Sayangnya, peminat bidang semacam ini terbilang langka. (*)



Judul : Gajah Mada: Biografi Politik

Penulis : Agus Aris Munandar

Penerbit : Komunitas Bambu

Cetakan : Pertama, Maret 2010

Tebal : xiv + 162 halaman

Peresensi : Abimardha Kurniawan, penikmat buku, tinggal di Surabaya.



Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Resensi Template by Bamz | Publish on Bamz Templates