Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, May 23, 2012

Renungan : Saya Takut Hidup Di Jakarta !

Saat melakukan browsing, tiba-tiba saya membaca sebuah artikel menarik. Artikel ini bercerita tentang pengalaman hidup seseorang di Jakarta. Singkat cerita esensi utama yang ingin disampaikan adalah mengenai hilangnya identitas bangsa Indonesia yang "Ramah", penulis artikel tersebut mengungkapkan bahwa telah terjadi degradasi moral yang menyebabkan hilangnya sifat ramah ini. Degradasi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kebanyakan menjadi orang yang suka bentrok dengan sesamanya. Mari kita simak cerita dari saudara Budiman Hakim berikut ini.

(Jakarta, April 2012)
Benarkah Negeri ini bangsa yang ramah tamah? Dulu iya mungkin, tapi sekarang? Liat aja berita di TV, isinya cuma bentrok, rusuh, amuk dan tawuran. Saya kadang suka sengaja ga mau liat berita untuk beberapa waktu sebab enerji negatif dari berita kerusuhan selalu membuat saya depresi.

Saya jauh lebih suka nonton Kick Andy di Metro TV. Program ini memberi enerji positif sekaligus mengingatkan kita bahwa ternyata masih ada loh orang baik di negeri ini.  Acara seperti ini harusnya diperbanyak karena berfungsi sebagai balance terhadap berita-berita kisruh yang membuat kita muak dan capek hati ngedengernya.


Sayangnya, walau berenti ngeliat berita, hidup kita belum tentu menjadi lebih tenang. Ke mana pun kita pergi, kita harus waspada. Bukan sekali dua kali saya terjebak berjam-jam dalam kemacetan luar biasa gara-gara ada demo.


Pernah juga saya lagi asyik di kafe, tau-tau ada ormas islam menyerang dan menghancurkan isi kafe sambil berteriak-teriak, “Allahu Akbar!” Untunglah saya diam-diam berhasil menyelinap dan pergi dari tempat itu tanpa kurang suatu apapun.


Yang terakhir, saya kejebak di antara tawuran anak-anak SMA yang mengakibatkan mobil saya penyok-penyok akibat lemparan batu. Buset deh! Mana mobil saya ga diasuransi pula. Alhamdulillah sampe sekarang saya belum pernah ketemu sama gank motor….jangan sampe deh!
 

Dulu saya kira, masyarakat kita cuma sok jagoan kalo mereka lagi berkelompok, tapi ternyata pikiran saya salah. Ceritanya begini:

Peristiwa 1.
Setelah makan siang di restoran di bilangan Sudirman, saya jalan kaki pulang ke kantor bersama seorang temen sekantor. Kami memutuskan untuk jalan kaki karena selain tempatnya ga terlalu jauh, jam makan siang di Jalan Jenderal Sudirman selalu macetnya parah.


Nah, lagi asyik-asyiknya jalan sambil ngobrol ngalor ngidul, tiba-tba terdengar klakson motor kenceng banget di belakang kami. Karena merasa aman sudah berjalan di trotoar, kami ga ambil pusing dengan suara klakson itu. Sekonyong-konyong suara klakson dan gas ditekan sangat kenceng sudah berada beberapa senti di belakang kami.


“Wooi!!! Minggir! Mau mati lo?!!! teriak si pengendara motor.
Rupanya karena terlalu macet, banyak motor naik ke atas trotoar untuk mencari jalan. Karena ga merasa bersalah, kami pura-pura ga denger dan juga ga mau minggir. Begitu juga para pejalan kaki yang lain. Dan apa yang terjadi?
Brak! Pengendara motor itu tiba-tiba menghantamkan helmya ke punggung saya keras banget. Saya tentu saja marah bukan main dan menghampiri pengendara motor tersebut.
“Heh ngapain lo mukul gue?” bentak saya.
“Kenapa lo ga minggir? Lo mau mampus ya? Udah tau gue mau lewat.” Habis bekata begitu dia memasang posisi berantem dengan helm sebagai senjata.
“Eh Tong, ini trotoar. Lo udah salah kenapa malah lo yang marah?” Saya bales membentak.
“Lo kan liat jalanan macet. Ngalah dikit dong sama motor yang mau lewat.” Dia malah ngebalas lebih galak lagi.
“Hei Tong. Yang namanya trotoar itu buat pejalan kaki, sana lo balik lagi ke jalan.” sahut saya kesel banget.
 

“Lo mau jadi jagoan ya? Lo ga tau siapa gue ya?” Orang itu semakin murka dan mendorong tubuh saya, tapi kali ini saya udah siap. Saya ngeles ke samping lalu balas ngedorong badannya. Si pengendara motor terhuyung lalu menyerang lagi dengan helmnya. Dan ga lama kemudian terjadilah perkelahian di atara kami.

Beberapa orang dari kerumunan berusaha memisahkan kami. Dan ga lama kemudian ada polisi dateng dan turut membantu memisahkan kami. setelah suasana reda, polisi menanyakan penyebab perkelahian pada semua orang. Setelah itu dia menghampiri si pengendara motor.
 

“Kamu yang salah!” hardik Si Polisi, “Udah tau trotoar buat pejalan kaki, kamu bisa saya tilang tau?”
“Silakan kalo mau tilang tapi bapak juga harus menilang mereka semua.” kata Si Pengendara motor seraya menunjuk puluhan motor yang juga ada di atas trotoar.


Si Polisi keliatan kebingungan.
“Jangan main-main sama saya. saya ini pengacara!!” kata orang itu lagi menggeretak Si Polisi.
Lucunya bukannya menindak orang itu,  Si Polisi malah nyamperin saya, “Kamu yang salah. Kenapa kamu ga membiarkan orang lain lewat?”
Lah? Gimana sih ini polisi? Bukannya polisi yang bikin peraturan berlalu-lintas? Saya yang ga ngelanggar aturan kok ikut-ikutan disalahin?
“Loh bukannya Bapak yang bilang tadi kalo trotoar buat pejalan kaki?”
“Iya betul tapi kalo kamu ngalah sedikit, keributan ini tidak perlu terjadi. Jadi kamu yang menyebabkan keributan.” sahut polisi ini lagi.
Sontoloyo! Kalo penegakan hukum harus diselipin sama kompromi ya pantes aja hukum ga jalan. Pantes aja orang ga takut melanggar peraturan dan undang-undang.


Peristiwa 2.
Kali ini peristiwanya terjadi hari minggu. Saya mau berkunjung ke rumah temen saya di daerah Kebayoran Lama. Letaknya cukup mudah dicapai, ditambah hari minggu pula, jadinya perjalanan dapat ditempuh sangat cepat. Nah, ketika saya mau belok ke jalan satu arah, saya langsung belok tanpa menginjak rem.
 

Ciiiiit!!!!Astaghfirullah! Ampir aja saya nabrak mobil yang datang frontal ke arah saya. Gimana nih orang? Jalan satu arah kok dilabrak seenaknya? Dan yang lebih aneh lagi, dia ngelakson saya sambil tangannya mengibas-ngibas nyuruh saya minggir. Saya bales aja ngelakson sambil ngibas-ngibasin tangan juga nyuruh dia yang minggir. Karena sama-sama ngelakson, bisinglah daerah itu dengan klakson kami berdua. 

Capek ngadu klakson, akhirnya saya ke luar dari mobil dan menghampiri mobil tersebut. Ternyata pengemudinya masih muda banget, usianya sekitar 25 tahun kira-kira. Orang itu juga ke luar dari mobilnya sambil menenteng stick softball. Ga tau deh buat apa, buat ngegetok kepala saya kali.
“Mas, jalan ini satu arah, kalo mau ke jalan besar, mundur dikit terus belok di jalan yang sebelah sana.” kata saya dengan suara halus.
“Jalan ini kan cukup buat dua mobil, lo kan bisa minggir dikit supaya gue lewat.” sahut orang itu dengan suara keras.
“Ngapain gue minggir? Ini kan jalan satu arah?” jawab saya ga mau kalah karena merasa benar.
 

“Eh, gue anak kampung sini. Lo mau minggir atau gue ancurin mobil lo! Minggir ga?!!!” katanya mengancam sambil mengayun-ayunkan stick softballnya.
“Oh silakan kalo mau ngancurin mobil.” tukas saya sambil mundur dan memberi jalan buat dia menghantam mobil saya.
 

Ngeliat sikap saya, anak itu semakin emosi. Dia terus memaki-maki dengan suara memekakan telinga, sementara saya cuma menatap matanya sambil menulikan telinga,
Saking kencengnya teriakan anak itu, penduduk sekitar pada ke luar rumah dan mencari tahu apa yang terjadi. Dan bener loh, ternyata dia orang sini, buktinya semua orang pada mengenal dia. Ngeliat banyak tetangganya dateng, orang bertongkat softball itu makin mendapat angin.
 

“Liat nih orang sekampung udah pada dateng. Lo mau minggir apa gue ancurin mobil lo?” katanya sambil melemparkan senyum kemenangan.
“Silakan ancurin.” kata saya mempersilakan orang itu.
“Anjing lo!!! OK mobil lo gue ancurin sekarang juga.” teriaknya sambil berlari dengan beringas menghampiri mobil saya. Stick softball diangkat tinggi siap menghantam.
“Tunggu…tunggu…tunggu..!!!” Kerumunan orang juga berlari dan mencegah perbuatannya.
Orang itu terus berteriak-teriak memaki saya, untungnya penduduk terus memegangi sehingga selamatlah mobil saya dari mara bahaya.
 

Suasana makin tegang, beberapa orang menghampiri dan meminta saya meminggirkan mobil agar anak itu bisa lewat. Ada yang caranya membujuk dengan suara manis, ada yang mengancam dan ada pula yang netral. Tapi saya ga bergeming. Saya bingung bukan main! Kenapa ga ada satupun orang yang nyuruh anak itu mundur? Kan saya ga salah? Kan jalan ini satu jalur, kenapa saya yang harus mengalah? aneh banget kan?
Ga lama kemudian, seorang ibu mendatangi saya, “Dik, boleh ga ibu minta tolong minggirin mobil kamu?”
“Ibu siapa?” tanya saya.
“Saya isteri ketua RT, saya ga mau ada keributan di kampung saya.”
“Saya juga ga mau bikin ribut kok Bu.”
“Nah, kalau memang begitu, boleh ga kamu minggirin sedikit mobilnya supaya anak itu bisa lewat?”
“Kenapa Ibu ga minta dia yang mundur? Kan jalan ini satu jalur?” jawab saya bersikukuh.
“Saya udah minta dia mundur tapi ga mau. Maklum anak muda kan emosian…”
“Jadi karena dia emosian, saya harus mengalah?” tanya saya dengan halus.
“Saya minta kamu mundur bukan karena dia emosian, tapi karena saya merasa kamu lebih tua dan tentunya juga lebih bijak.”
“Maaf Bu, saya belum punya alasan yang tepat buat mengalah. Jalan ini satu arah. Ibu tau kan?”
 

Si Ibu menghela napas panjang. Dia ga ngomong apa-apa lagi tapi juga ga pergi dari hadapan saya. Dia cuma merenung seperti orang lagi berpikir keras. Beberapa orang mencoba untuk membujuk anak itu tapi makhluk keras kepala itu tetap ga mau mundur.
“Sampai kapan kamu mau bertahan di sini? Kenapa masalah mudah kamu persulit sedemikian rupa?” Si Ibu menatap saya dengan tajam.
“Minggir sedikitlah Nak. Ibu minta tolong…” kata Bu RT lagi. Kalimatnya memelas tapi cara mengucapkannya tegas tanpa nada memohon.


Sekarang saya yang menghela napas panjang lalu berucap dengan lirih, “Baiklah, saya akan minggirin mobil saya. Maaf, saya udah nyusahin Ibu.”
“Terimakasih ya Nak. Ibu sangat menghargai…” sahut Si ibu.
Setelah minggirin mobil, anak itu lewat. Sebelum lewat, sempet-sempetnya dia berenti di samping mobil saya dan berteriak, “Kalo ketemu lagi, bukan cuma mobil, tapi elonya juga gue ancurin!”
Saya cuma tersenyum lalu meninggalkan tempat itu.


Peristiwa 3
Kali ini yang dapet masalah bukan saya. Tapi saya ngeliat sendiri peristiwanya dari dekat. Saya baru pulang makan malam di Restoran Nasi Goreng Kemang sama seorang temen. Pulangnya saya berenti di lampu merah yang menghadap ke arah McDonald. Di paling depan ada beberapa motor yang keliatannya merupakan satu rombongan, lalu di belakangnya sebuah mobil APV warna hitam dan mobil saya tepat setelah APV tadi.
Ketika lampu hijau menyala, motor-motor yang ada di paling depan tidak juga beranjak. Kayaknya para pengendara itu terlalu asyik ngobrol satu sama lain. Setelah menunggu beberapa detik, supir APV jadi kurang sabaran dan langsung ngelakson berkali-kali. Dan apa yang tejadi?


Bukannya beranjak dari situ, para pengendara motor malah murka. Mereka menyetandard motornya di tengah jalan lalu sekitar 8 orang melepaskan helmnya. Selanjutnya terdengar suara Brak…bruk…brak…bruk!!!!


Seperti adegan di film-film Hollywood, rombongan anak muda itu menghantam mobil APV dengan ganas. Mobil malang itu penyok-penyok dan semua lampu depan dan belakang hancur berantakan. Pengemudinya ketakutan bukan main sehingga memutuskan untuk tetap tinggal di dalam mobil.


Puas menghancurkan mobil, semua anak muda itu kembali ke motornya dan meninggalkan tempat itu bagai jagoan di film-film koboy. Astaghfirullah!
Wahai Jakarta…ada apa denganmu? kenapa saya hampir ga mengenalimu lagi? Kenapa bangsa kita berubah drastis dari bangsa yang ramah tamah menjadi bangsa yang sangat pemarah?


Di negeri ini, setan pengadu domba mengintai di mana-mana. Ricuh di istana, kisruh di dalam dan di luar gedung DPR, tawuran di jalan-jalan, perang di Pilkada, perkelahian massal di lapangan sepakbola…hadoh!


Di mana kalian pernah merasa aman? Tiap bepergian ke luar rumah maut mengintai. Pesawat jatuh, kapal laut tenggelam, kereta api terguling, bis masuk jurang, perampokan di taxi, pemerkosaan di angkot. Bahkan jalan kaki di trotoar pun kita bisa mati diterjang mobil yang dikendarai pengemudi mabuk.


Negeri ini udah terlalu kacau. Saya kira perlu campur tangan Allah untuk memperbaiki negeri yang sudah amburadul ini.  Sejak semua peristiwa itu saya mencoba mendekatkan diri pada Allah. Saya jadi lebih sering ke mesjid, bukan cuma sholat jumat tapi juga waktu sholat yang lainnya.


Tiap berada di mesjid saya selalu berdoa agar bangsa kita menjadi lebih baik. Barangkali mesjid adalah satu-satunya tempat yang paling aman. Sepreman apapun seseorang, pastilah dia minimal akan bersikap baik di rumah Allah, begitulah pikiran saya.
Saya seneng banget  kalo para khatib pas sholat jumat juga membahas dan mengupas keadaan negeri yang udah mendekati chaos ini. Khutbah biasanya diakhiri dengan doa bersama. Bagus kan? Kalo berdoa ramai-ramai katanya akan lebih makbul. Insya Allah.
Nah saat itu saya sedang mendengarkan khutbah di mesjid Al Ikhlas di daerah Senopati, saya cukup antusias karena materinya cukup menarik. Pengetahuan khatib ini lumayan tinggi, analisanya cukup tajam bahkan dia juga menawarkan solusi-solusi agar negeri ini aman tenteram.


Sayangnya 3 orang yang ada di samping kanan berisik banget. Mereka ngobrol dengan suara keras. Karena sudah sangat terganggu saya mencoba menegur mereka.
“Maap Mas-mas, boleh ga suaranya dikecilin? Saya lagi denger khutbah nih. Maap ya sebelumnya.”


Ketiganya menatap saya dengan pandangan aneh tapi mereka mau juga memelankan suaranya. Alhamdulillah. Saya pun larut dalam khutbah dan melupakan ketiga orang itu sampai selesai sholat jumat.
Dalam perjalanan ke mobil, tiba-tiba ketiga orang tadi menghampiri saya, “Heh Mas, tunggu sebentar.”
“Iya kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya saya dengan suara ramah.
“Lo yang nyuruh kita diem di mesjid tadi kan?”
“Bukan nyuruh tapi mengimbau. Lagipula menurut ajaran islam, pas khutbah memang ga boleh ngomong.” kata saya.
“Eh nyet! Itu kan bukan mesjid lo? Gue mau ngomong apa kagak kan itu urusan gue? Lo mau berantem?” Tiba-tiba salah seorang membentak.
“Gue kemari mau sholat, bukan berantem.” sahut saya mulai kesel.
“Oh mau sholat? Kalo gue mah mau berantem,” Abis ngomong gitu, salah seorang memukul, tapi saya udah siap dan menghindar.


Ngeliat rekannya menyerang, dua yang lain tiba-tiba juga ikut menerjang. Perkelahian satu lawan tiga tentu saja membuat saya kewalahan, tapi untung tukang parkir mesjid langsung membantu. Bertahun-tahun, saya selalu sholat di mesjid ini dan selalu parkir di ujung taman sehingga saya udah cukup berteman dengan tukang parkir itu.


Mendapat tenaga bantuan membuat saya ga terlalu terdesak. Dan yang lebih mujur lagi, ngeliat tukang parkir ribut, temen-temen sesama tukang parkir langsung solider dan membantu menghajar ketiga anak tadi.


Alhamdulillah…jemaah jumat yang masih banyak keluar dari mesjid menyelamatkan ketiga pecundang tersebut. Mereka digelandang ke mobilnya dan dipaksa meninggalkan tempat itu.


Saya masih bengong dan ga habis pikir. Masya Allah! Apa yang salah dengan negeri ini? Masa abis sholat ngajak orang berantem sih? Di mana-mana kisruh, di mana-mana rusuh, di mana-mana tawuran. Bahkan rumah Tuhan pun ternyata tidak terasa aman. Astaghfirullah… Kalo keadaan begini terus-menerus, terus terang; Saya takut hidup di Jakarta.



Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/27/saya-takut-hidup-di-jakarta

Monday, May 14, 2012

Renungan : Iklan Djarum 76 part 2

                                          Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=lxMvKfBuN3I

    "Iki salah iku salah, opo karepe?", begitulah quote sederhana yang ada didalam iklan Djarum 76 ini. Alkisah diceritakan bahwa sang jin jawa ini bertemu dengan segerombolan preman. Walaupun banyak orang, jin ini hanya memberi satu permintaan. Kemudian, sang bos berkata ingin kuda poni, sim salabim disulaplah kuda poni dan muncul dihadapan preman tersebut. Namun apa yang terjaid?, si bos mengeluh "kok pucat!","kok cebol!", "kok Poni!" sambil memukul jin yang telah mengabulkan permintaannya.
   Kontras sekali iklan ini ingin menunjukkan bahwa sang bos preman ini ternyata bukan orang yang mudah bersyukur. setelah keinginannya dipenuhi dia malah mengeluh supaya dapat yang lebih, malahan sambil menyiksa jin yang telah mengabulkan permintaannya. Sifat ini sangat umum ditemukan di berbagai kalangan. Entah itu sebuah budaya, atau ada pembelajaran yang salah. Buktinya dapat kita amati dari tukang parkir ilegal, di kota Bandung ada beberapa titik dimana tukang parkir ilegal meminta jasa tambahan kepada pengguna kendaraan yang memarkir kendaraannya padahal sudah untung preman yang tidak memiliki ijin mengatur diberi uang, malah minta tambah. Kemudian di strata atas, para anggota DPR yang sudah di gaji cukup besar, fasilitas lengkap, namun tetap saja ada penyelewengan.
   Mulai untuk berubah adalah suatu hal kecil yang berdampak besar. semoga kita dapat mengambil hikmah dari iklan yang sederhana ini untuk kesejahteraan rakyat yang lebih baik.(Fahri/Kominfo)

Renungan : Iklan Djarum 76 Part 1

                                            Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=IB2dll19FPM

     Siapa yang tidak kenal iklan yang satu ini. lucu, kocak, sangat menggelitik perut penonton yang menyaksikan iklan ini di televisi, sekalipun iklan ini hanya diputar pada jam malam sesuai dengan aturan yang mengijinkan iklan rokok diputar setelah larut malam.
     Siapa sangka di dalam kisah lucu iklan ini ternyata ada suatu esensi yang tidak kalah pentingnya selain kelucuannya. Penulis berpendapat bahwa iklan ini dapat di tafsirkan menjadi dua inti. yang pertama sang jin jawa membantu menghilangkan berkas kasus korupsi dan yang kedua jin jawa membantu menghilangkan coretan-coretan hitam korupsi di Indonesia yang artinya membersihkan Indonesia dari segala kasus korupsi yang pernah terjadi. Untuk lebih jelasnya mari kita ulas kedua sudut pandang tersebut.
     Ceritanya ada suatu kontes jin, kontes tersebut melibatkan tiga jin, yaitu jin dari mesir, jin dari jepang dan jin dari Indonesia (dalam hal ini dari jawa terlihat dari pakaian dan logatnya yang jelas). Giliran pertama diberikan kepada jin mesir untuk menunjukkan keahliaannya dengan suaranya yang menggelegar dan ilmunya yang seakan sudah tinggi dia menghilangkan piramida di mesir sampai-sampai si unta terbengong-bengong dibuatnya, kemudian giliran kedua menjadi milik jin jepang dengan gelagatnya yang khas jin jepang ini mengeluarkan ilmunya dan menghilangkan Fujiyama. semua orang bertepuk tangan untuk kedua jin itu. Yang terakhir adalah giliran sang jin jawa melakukan aksinya, dengan penuh percaya diri dia menghilangkan setumpuk buku yang bertulisan"KASUS KORUPSI" sambil berkata "Kasus Korupsi, Hilang!". Seluruh penonton bersorak sorai, ada yang berjabat tangan, ada yang berpelukan seakan mereka sangat bahagia dengan atraksi jin ini. Disinilah kita mulai mengkaji sudut pandangnya.
    Pertama, jin jawa ini seakan menghilangkan segala berkas yang berhubungan dengan korupsi sehingga seorang koruptor bisa bebas dari jeratan hukum. Sudut pandang ini memperlihatkan kepada kita betapa buruknya korupsi di Indonesia yang seakan sudah mendarah daging dan mempunyai sensasi yang lebih hebat dibandingkan dengan hal lainnya.(tersirat saat sorakan penonton yang wajahnya mirip dengan beberapa koruptor seperti gayus dll.). Fakta nyatanya sesuai dengan kiasan iklan ini, banyak kasus koruptor yang pada akhirnya berujung kepada pembebasan sang koruptor, kasus yang kehilangan arah sehingga diselewengkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kalaupun dihukum sang koruptor hanya mendapat hukuman ringan. Selain menunjukkan  keadaan korupsi di Indonesia, iklan ini juga menjadi suatu iklan yang mengubah pola pikir kita yang tadinya apatis agar segera bangkit dan mulai mengkritisi para koruptor beserta aparat penegak walau hanya dengan ide kreatif dan konyol seperti ini tapi terbukti hal tersebut tidak sia-sia.
     Kedua, jin jawa ini seakan menghilangkan daftar hitam korupsi di negeri ini. Dengan sudut pandang bahwa penonton yang bersorak-sorai itu hanyalah masyarakat biasa kita dapat menyimpulkan betapa senangnya mereka saat korupsi hilang dari Indonesia. Sudut pandang ini juga secara tidak langsung menceritakan bahwa korupsi di Indonesia begitu luas yang apabila diibaratkan korupsi itu adalah suatu benda, korupsi ini lebih besar dari piramida dan Fujiyama. Sekali lagi, dari sudut pandang ini kita kembali diingatkan akan kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, diingatkan untuk senantiasa memperhatikan kasus yang terjadi dan memberi saran kepada pejabat berwenang untuk penanganan korupsi yang tepat dan efisien. 
    Pada akhirnya iklan hanyalah suatu media bisnis, tapi hal tersebut bukan berarti iklan ditayangkan tanpa esensi, salah satunya iklan Djarum 76 ini, simpel, kocak, menarik perhatian, dan penuh dengan makna tersirat. Tidak menutup kemungkinan akan ada iklan yang lebih kritis lagi yang membuat para koruptor menggaruk telinganya. Semoga dengan pemanfaatan media yang efisien dan tepat negara ini dapat merubah haluannya kembali ke jalan harus ditempuh demi kesejahteraan masyarakat. (Fahri/Kominfo)

Saturday, May 5, 2012

Renungan : Kakek Penjual Amplop

      Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.
      Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
      Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.
      Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
     Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
     Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
     Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
     Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
     Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.
     Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
     Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.

Sumber : Kisah Inspiratif 
(http://iphincow.wordpress.com/2012/04/18/kisah-kakek-penjual-amplop/#more-413)
Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Renungan Template by Bamz | Publish on Bamz Templates