Showing posts with label Reiny Dwinanda. Show all posts
Showing posts with label Reiny Dwinanda. Show all posts

Sunday, May 27, 2012

Kongres Bahasa dan Nasib Sastra Daerah

Reiny Dwinanda
Republika, 26 Okt 2008

MASIH ingat dongeng Sangkuriang? Dongeng ini bercerita tentang alam, hubungan antarmanusia, dan interaksi manusia dengan hewan. Banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari kisah tersebut.

Legenda yang awalnya hanya diwariskan secara lisan itu makin dikenal dunia sejak dibukukan dalam sebuah karya sastra. Berbekal ide cerita legenda tersebut, lahirlah film berjudul serupa yang dibintangi Suzanna, artis kenamaan yang belum lama berpulang.
Kendati kisahnya sudah turun-temurun diceritakan, belakangan makin sukar mencari buku cerita Sangkuriang dan buku sastra daerah sejenis itu.

Pertanda apa ini? Dendy Sugono, kepala Pusat Bahasa, melihat fenomena itu sebagai bentuk pergeseran budaya. Sastra daerah memang sedang terpinggirkan. ”Kini eranya audio-visual. Budaya membaca sudah tergerus oleh budaya nonton,” katanya pada temu pers Kongres IX Bahasa Indonesia, di Jakarta, Rabu (22/10) lalu.

Selain itu, makin terbatasnya peluang untuk mendongeng juga turut andil dalam melemahkan posisi sastra daerah. Orang tua masa kini tidak lagi membudayakan dongeng di keseharian anaknya. ”Padahal, lewat dongeng yang diambil dari karya sastra daerah, mereka bisa secara efektif menanamkan budi pekerti dan memperluas cakrawala berpikir anak,” kata Dendy.

Dongeng dari sastra daerah berpotensi membentuk karakter anak. Seperti yang dialami Dendy pada masa kecilnya. ”Nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng yang dibacakan ibu semasa kecil tertanam di pikiran saya hingga kini,” katanya.

Tak menyeluruh
Meski begitu, Dendy melihat kecenderungan itu tidak terjadi menyeluruh di pelosok negeri. Di daerah yang masih memiliki banyak penutur bahasa daerah, sastra daerah masih hidup. ”Seperti di Madura, Gayo, dan Bali,” papar Dendy.

Di Bali, Dendy mencontohkan, sastra daerah bisa hidup dan berkembang. Itu karena peran warga setempat. ”Lembaga adat di Balilah yang bekerja melestarikan dan mengembangkan budaya Pulau Dewata itu.”

Keberadaan sastra daerah, lanjut Dendy, erat kaitannya dengan keberadaan penuturnya. Akan menjadi sulit bagi sastrawan untuk hidup berkarya di daerah yang tidak lagi lekat dengan budaya aslinya. Jika peminatnya sedikit, produksi sastra daerah juga seret.

Persoalannya, jumlah bahasa daerah yang masih banyak penuturnya bisa dihitung dengan jari. Artinya, bahasa daerah yang terancam punah jauh lebih banyak ketimbang yang memungkinkan untuk dilestarikan. ”Seperti bahasa daerah di suatu kawasan di Sulawesi dan Maluku Utara yang terpantau sudah punah,” ungkap Dendy.

Perubahan perilaku dan berbahasa juga turut mempengaruhi nasib sastra daerah. Di keseharian, bahasa daerah perlahan digeser oleh bahasa pergaulan. Akibatnya, bahasa remaja yang dipakai di sinetron lebih akrab di telinga ketimbang bahasa daerah.

Selain itu, bahasa daerah juga bersaing dengan bahasa Indonesia nan formal dan bahasa asing. Padahal, jika ditelisik, akar bahasa Indonesia ada pada bahasa-bahasa daerah. ”Kita akan kehilangan sumber pengayaan bahasa Indonesia andaikan bahasa daerah terus luntur dan pudar,” kata Dendy.

Pusat Bahasa mencatat setidaknya ada 746 bahasa daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 420 yang terpetakan dengan jelas. ”Baik jumlah penuturnya, ragam dialeknya, dan sejauh apa penggunaannya di keseharian masyarakat,” jelas Dendy.

Kepemilikan atas ratusan ragam bahasa daerah sekaligus memosisikan Indonesia sebagai bangsa terkaya dari segi budaya bahasa. Dua belas persen bahasa di dunia ada di Indonesia. ”Semestinya dalam kehidupan, kita bertumpu pada budaya sendiri. Jika tidak, kita akan membuatnya punah atau bahkan diambil oleh orang lain,” kata Dendy.

Apresiasi sastra daerah sejatinya akan berdampak positif bagi peningkatan rasa nasionalisme anak bangsa. Karena itu, Dendy menganggap sastra daerah harus disosialisasikan keberadaannya. ”Sastra daerah pun harus terus dikembangkan.”

Dengan cara apa sastra daerah dikembangkan? Dendy melihat sastra daerah menggarap ide cerita yang sama dengan cerita moderen. Entah hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, manusia dengan alam, atau manusia dengan Tuhan. ”Kita bisa menggali kearifan lokal dan mengangkatnya ke ranah sastra.”

Muncul dengan muatan sarat nilai, karya sastra daerah dapat beradaptasi dengan pola sastra moderen. Dalam hal ini, membiarkan akhir cerita menjadi terbuka untuk diinterpretasi. ”Biarkan saja pembaca yang menentukan akhir ceritanya. Dengan begitu, pembaca akan terlibat berimajinasi. Satu pembaca dengan lainnya bisa beragam penyelesaian ceritanya.”

Dendy mengakui sastra daerah terbatas diminati oleh mereka yang berusia 50 tahun lebih. Satu generasi akan kehilangan akar budayanya jika tak ada upaya pemeliharaan. ”Di Jawa, ada peluang cerita-cerita rakyat dimuat di koran atau majalah. Lantas, karya sastra tersebut diadaptasi ke bahasa Indonesia. Kesempatan seperti itulah yang membuat sastra daerah setempat terpelihara dan produksi karya baru bergulir.”

Apa yang terjadi jika sastra daerah hilang dari kehidupan masyarakat? Dendy memprediksi Indonesia bakal kehilangan multikulturalisme sebagai dampaknya. ”Salah satu multikultural kita yang dikagumi dunia ialah karya sastra daerahnya, berupa cerita, dongeng, naskah masa lalu, peribahasa, atau kiasan.”

Lantas, bagaimana cara melestarikan sekaligus mengembangkan sastra daerah? Sejauh ini, pemerintah mencoba melakukannya lewat pengajaran bahasa dan sastra daerah di kelas. ”Di lain pihak, orang tua juga harus berani untuk mengubah budaya nonton menjadi budaya membaca. Sediakan bacaan yang menarik bagi anak,” saran Dendy.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/kongres-bahasa-dan-nasib-sastra-daerah.html

Friday, March 23, 2012

Kebangkitan Novelis Pria

Reiny Dwinanda
Republika, 18 Maret 2007

Berakhir sudah kecenderungan merajanya novelis perempuan di kancah persaingan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Padahal, selama dua kali penyelenggaraan –1997 dan 2003– ‘sastra wangi’ selalu tampil sebagai yang terdepan. Kali ini, untuk lomba tahun 2006, seluruh trofi juara disapu bersih oleh penulis pria.

Ketua DKJ Marco Kusumawidjaja, memandang fenomena itu mencerminkan potret yang sesungguhnya tentang para penulis novel. Hasrat untuk menjadi penulis sastra, khususnya novel, masih menghinggapi kaum muda. ”Kenyataan ini sekaligus menepis anggapan masa depan sastra Indonesia berada di bawah dominasi penulis perempuan,” katanya.

Setelah tiga tahun tidak digelar, Sayembara Novel DKJ memperdengarkan sejumlah kabar baik bagi dunia sastra Indonesia. Animo masyarakat dalam penulisan novel meningkat secara drastis. ”Di tahun 2006, panitia mengalami mabuk naskah,” celetuk sastrawan sekaligus anggota dewan juri, Ahmad Tohari, Jumat (9/3) pekan lalu.

Betapa tidak, ada 249 naskah yang masuk. Padahal, selama tiga dekade penyelenggaraan jumlah peserta berkutat di angka 100. ”Ini kejutan yang menggembirakan,” kata Tohari.

Jumlah naskah bukan satu-satunya faktor yang membuat dewan juri terkejut. Jumlah halaman per naskah juga ‘memabukkan’ Tohari, Apsanti Djokosujatno, dan Bambang Sugiharto, selaku dewan juri. ”Yang paling tipis 152 halaman,” tambah Tohari yang menghabiskan waktu tiga bulan untuk menilai seluruh novel.

Kabar gembira lain menyangkut keberagaman tema pada novel-novel yang mewakili berbagai genre tersebut. Mulai dari tema domestik dan klasik, agama, rasialisme, manusia super, hingga teknologi modern. ”Semoga variasi bentuk, narasi, dan tema itu dapat memperluas cakrawala kesusastraan Indonesia,” harap Tohari.

Sedikit kilas balik, selama novelis perempuan menguasai dunia penulisan novel, tema-tema yang menyangkut seks serta pesan religi menjadi bacaan paling mudah ditemui. Meski begitu, tema yang melenceng dari arus utama tetap mendapat tempat. Di tahun 2003, DKJ menobatkan Dadaisme karya Dewi Sartika, Gani Jora karya Abidah el Khalieqy, dan Tabularasa karya Ratih Kumala, sebagai tiga terbaik di kancah persaingan penulisan novel.

Dewan juri juga bangga dengan para peserta sayembara yang mayoritas telah memakai bahasa Indonesia yang baik. Salah satu naskah malah terpantau disajikan dengan bahasa yang menakjubkan. ”Ini memperlihatkan betapa mereka mempersiapkan secara serius novel yang dilombakan,” komentar Tohari, penulis Lintang Kemukus Dini Hari.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, turut bergembira melihat geliat sastra masa kini. Terlebih di bidang prosa. ”Bila kondisi seperti ini tetap terjaga baik, tak ayal Indonesia akan melahirkan gagasan-gagasan kebudayaan yang cemerlang,” tuturnya.

Daoed memandang sastra sebagai koinsidensi dari intuisi dan imajinasi. Dengan begitu, karya sastra dapat dijadikan bukti dari proses manusia kreatif. ”Apalagi jika karya sastra dapat bahu-membahu dengan ilmu pengetahuan. Itu akan memungkinkan terjadinya perpaduan antara ungkapan perasaan dan pikiran. Pasti hasilnya akan lebih membanggakan,” katanya.

Novel berjudul Hubbu mengantarkan Mashuri sebagai penyabet juara pertama Sayembara Novel DKJ 2006. Penulis kelahiran Lamongan, 27 April 1976, ini mengambil latar belakang pesantren untuk menceritakan seorang anak muda yang mencoba mengkompromikan impiannya dengan dikte keluarganya. ”Ceritanya sangat utuh dan padu,” Tohari mengomentari novel karya awak Harian Memorandum itu.

Berikut petikan novelHubbu,

Jarot tak tahu pasti, ia hanya meyakini, manusia itu ada batasnya. Sayang tak ada seorang pun yang tahu batas itu sehingga manusia diberi kesempatan untuk mencari sampai ambang batas itu sendiri. Mungkin terlalu filosofis, tetapi apa yang dilakukan Jarot adalah untuk mengenal batas-batas dirinya, kemanusiaannya, serta akal sebagai manusia.

Berada di urutan kedua, Mutiara Karam karya Tusiran Suseno. Awak Radio Republik Indonesia ini merupakan ‘pemain’ lama di dunia sastra. Ia merupakan salah satu penulis yang produktif menggarap naskah teater Melayu.

Tampil sebagai juara ketiga, Calvin M Sidjaja. Mahasiswa kelahiran 1976 ini menulis Jukstaposisi. Di posisi selanjutnya ada Junaedi Setiyono dengan novel Glonggong dan Yonathan S Raharjo dengan novel Lanang.

Untuk memperkenalkan penulis-penulis berbakat ini kepada publik, DKJ menampilkan mereka dalam helatan kedua Lampion Sastra, Jumat (16/3) lalu. Petikan novel para pemenang Sayembara Novel DKJ dibacakan dalam acara tersebut.

Novel yang gagal memenangi Sayembara Novel DKJ, lanjut Tohari, belum tentu tak akan laku di pasaran. Sebab, dewan juri mendaulat juara berdasarkan sudut pandang kesusastraan. Sementara, penerbit memakai kaca mata selera pasar. Mungkin, yang tidak menang justru akan menjadi novel best seller.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/kebangkitan-novelis-pria.html
Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Reiny Dwinanda Template by Bamz | Publish on Bamz Templates