Showing posts with label Nurel Javissyarqi. Show all posts
Showing posts with label Nurel Javissyarqi. Show all posts

Thursday, November 29, 2012

Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(bagian XXIII kupasan kedua dari paragraf lima dan enam dari esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Sastra-indonesia.com

Saya tidak tahu, wallahualam bissawab.Setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri, lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran langkah kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, tapi air hayati menghempaskannya. Kurang lebih sebelum 5 April 2012, saya seakan menghadapi canangan nasib, namun setelahnya diringkus takdir besar berbeda. Mungkin ini ‘terapi’ tersingkapnya Kun Fayakun walau sekelumit. Di dalam periode tersebut, perangainya bisa dilihat bagian XX (4 Juni 2012), XXI (25 Juli 2012), XXII (14 Agustus 2012) serta sekarang.

Sisi lain, saya yang pengelana kurang pantas mengurai paparan penalaran, apalagi dengan buku tebal. Setelah diraba, sejenis terjadi sebab-akibat alam semesta. Tulisan senada bisa ditengok di sini http://sastra-indonesia.com/2009/06/bahasa-kausalitas-yang-rahmatan-lil-alamin/ Hukum kausalitas menaungi sepantulan dari kebuntuan para kritikus sastra yang tahu kejahiliaan dibiarkan, setanggul air tak mengalir merubah warnanya hingga pembusukan. Dan kegiatan inikah segerak menjebol tanggul angkuh guna dialirkan airnya, demi peroleh tenaga pelestarian nilai yang mempat? Maka terpancanglah pembangkit tenaga alamiah.

Atau seyogyanya kritikus pendukung Sutardji jua menghardik kesalahfatalan terjadi pada teksnya, tapi lantaran bungkam, sunnatullah diperjalankan. Saya tiba-tiba menulis kritik panjang lebar tak lebih sepantulan energi dari kritikus malas mengkritisi, sungkan menegur SCB jadi kebodohan kian tampak parah depan mata. Ini perihal ketersumbatan; banjir besar atau ribuan semut hitam kata-kata atas kehendak keseimbangan. Seombak memecahkan keheningan malam atau gerhana bulan dua kali teralami dalam tahun ini saksinya.

Saya yang bercita-cita jadi pelukis, karena cat mahal dan oleh pilihan sudah dimatangkan di tahun 1999, lantas meyakinkan diri menghadapkan jemari memegang pena menyetiai menulis. "Apakah saya penulis, penyair atau sastrawan?" Itu tidak penting, dan tak perlu membuat plakat depan rumah atau belakang nama semisal dokter gigi. Setidaknya saya tak sebarkan gosip, tekslah yang bicara. Umpama saudara tak paham, sekali lagi saya maklumi, karena membedakan ‘kata kerja’ dan ‘kata benda’ tak mampu, dalam kasus SCB menyoal Kun Fayakun yang diselewengkan?

Lansung saja, baca ulang kutipan saya; paragraf Aguk Irawan Mn bagian sebelum ini. Lalu masuk petuah Al-Ghazali: "Barang siapa yang hendak berbicara tafsir Al-Qur'an dan takwil hadits, pertama-tama wajib menguasai bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu i'rab, dan ilmu sharaf, karena ilmu bahasa merupakan tangga dan jembatan bagi semua ilmu. Barang siapa tidak menguasai ilmu bahasa, maka tidak akan berhasil memperoleh ilmu. Barang siapa hendak meningkatkan prestasinya, pertama-tama, hendaklah membentangkan jembatan, baru kemudian melintasinya. Ilmu bahasa adalah jembatan paling utama dan lintasan paling pokok. Pencari ilmu mesti mengetahui segenap hukum bahasa."

"Pemulaan ilmu bahasa adalah pengetahuan perangkatnya yaitu: kosakata atau muffradat (vocabulary), susunan kata kerja dan lainnya. Orang yang belajar bahasa Arab harus mempelajari syair-syair Arab. Syair-syair Arab yang pertama kali harus dipelajarinya adalah syair-syair jahiliah, karena syair-syair jahiliah itu akan membantu menghapus keraguan pada suatu makna kata." (Al-Risalah Al-Laduniyah, penerjemah M. Yaniyullah, terbitan Hikmah, cetakan II, Juli 2003).

Kutipan di atas sedikit banyak pembaca bisa merujuk bagian XVI yang memuat uraian alat baca (nahwu shorof) mengenai Kun Fayakun. Dan jumputan kedua saya tambahkan tulisan Imam Al-Ghazali di buku yang sama berikut ini:

‎"Ilmu itu zatnya sendiri sudah mulia tanpa harus memandang obyeknya. Termasuk ilmu sihir, zatnya sendiri mulia sekalipun batil. Hal ini dikarenakan ilmu itu merupakan kebalikan dari kebodohan. Kebodohan pasti disebabkan oleh terhalang /terdinding. Keterhalangan disebabkan oleh diam, sedang diam itu lebih dekat kepada ketiadaan. Kebatilan dan ketersesatan berada pada posisi ini. Jika kebodohan masuk ke dalam hukum ketiadaan, maka ilmu masuk ke dalam hukum keberadaan. Tentunya keberadaan (ada) lebih baik dari ketiadaan. Hidayah, hak, dan cahaya, semuanya masuk pada level keberadaan."

Pengarang Kitab Ihya' 'Ulumuddin memperkuat landasannya berdasar Al-Qur'an, Surah al-Fathir (35), ayat 19. Setahu saya, banyak disertasi menganalisa ajaran Islam yang menghindari pengambilan ayat-ayat kitab suci, karena hal itu saklek tak terbantah. Lalu para guru besar menyarankan mencari rujukan lain, guna menyegarkan khasana dialektika. Namun rasanya saya curiga, mereka tak berani mengambil resiko di jalan ijtihat. Lebih parah menghindari lantaran kurang menguasai, terlebih akrab petuah para intelektual dari Barat sejenis. Padahal Al-Furqan kitab sucinya yang wajib dipercaya dalam meneliti soal kehidupan yang dilakoni, demi menggapai kejayaan akhirat.

"Keterhalangan disebabkan oleh diam, sedang diam itu lebih dekat kepada ketiadaan." Ingat SCB mengganti makna kata ‘Kun’ yang seharusnya ‘Jadilah’ dipandang sebagai ‘Jadi’ atau kata benda, lalu diulang-ulang demi meyakinkan ke pembaca bahwa jalurnya sudah tepat. Namun ternyata malah menyeru ke laluan kegelapan, lepas dari prosesi kerja. Mematung kayak puisi konkret atau sajak jahiliah pra-Islam di tanah suci Makkah yang ditempel di dinding Ka'bah. "...syair-syair jahiliah itu akan membantu menghapus keraguan pada suatu makna kata."Ingat pula perkataan paragrap kedua IK, esai yang saya kupas ini dan di ‘Pidato Penyerahan Anugerah Sastra Chairil Anwar 1998’ "Puisi adalah alibi kata-kata." Maka inilah jawaban paragraf IK 5 dan 6. Saya berharap pembaca tak malas berbolak-balik mecernanya, demi peroleh keadaan sebenarnya!
***

Sebelum jauh saya tulis catatan perjalanan terlebih dulu. Saya diperjalankan kembali oleh laku hidup, dari Ponorogo ke Cabean, Jogjakarta, lalu malam kini berada di Watucongol, Muntilan, Magelang. Lintasan kali ini seakan menghimpun bulir-bulir renungan sepuluh tahunan lalu, yang berlalu tak terasa. Atau begitulah hayat diobang-ambing angin kesadaran, terkadang bayu keterlepasan atas hawa sejuk melenakan pun lain. Semua serentak menghimpun satuan waktu setali-temali luput terkadang menjerat langkah, naik-turun seair laut bergelombang. Dan yang terpahat sekarang, memberi pekerti di hari kemudian.

Terpetik ungkapan Al Imam Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdurrahman Al Hamdaany dalam kitabnya "As Sab'iyyaatu fil Mawaa'idhil Barriyyat" yakni ‘Kuda diciptakan dari angin.’ Saya tidak sedang berkuda dalam setiap perjalanan, namun teringat itu, dan tertera petuah Al-Ghazali pada buku yang saya rujuk dimuka, yaitu ‘Badan bukanlah tempat ruh dan tempat hati, badan hanyalah alat ruh dan perangkat hati serta tunggangan jiwa.’ Ya, ruh serta hati saya sedang menunggangi tubuh dan diperjalankan searah hawa keganjilan. Takdir entah tiada tahu pasti ketika sudah berada di atas uap dari api tungku menyala-nyala. Air hayati dipanasi menaikkan uap menempel di kaca cermin berupa bintik-bintik bening tak terkira, nikmat patut disyukuri meski dalam gugusan suwong.

Begitu menggetarkan Al-Ghazali terus mewedaran ujarannya, ‘Kebodohan itu masuk dari kemestian jasmani, dan ilmu itu masuk dari kemestian jiwa.’ Yang berada atau diantara tulisan ini sejenis reaksi kimiawi jiwa memenuhi bebidang kajian, atau saya dalam pergumulan perasaan penalaran lembut. Mengolah bahan pertimbangan batin sebelum menempati ruang penentu, putusan dari kematangan sesudah dilakoni syarat-syarat untuk peroleh pengetahuan. Ialah perluasan kesadaran denyar cahaya, sepijar jantung gerakkan tubuh, sedang hati manaungi seawan mengembarai titian rindu. Pada gilirannya menjatuhkan bebulir hujan sejukkan pelataran, kemuncul kuncup kembang rindu bermekaran. Serbuk-serbuk menerangi seperasaan pertama, meski berkali-kali tiba waktunya. Ini mengingatkan Mbah Shalih:

Di antara murid Sunan Ampel, hanya Mbah Shalih punya peristiwa misteri; mengalami mati sembilan kali, sehingga kuburannya pun sembilan. Menurut riwayat, Mbah Shalih salah satu murid Sunan Ampel merangkap tukang sapu masjid. Pekerjaannya memuaskan Sunan Ampel dan semua orang, menyapu lantai masjid sangat bersih hingga yang sujud tanpa sajadah tak merasa ada debunya. Setelah Mbah Shalih wafat dan dimakamkan di muka masjid, baru terasa oleh Sunan Ampel serta orang banyak, yaitu tiada seorang pun mampu menyapu lantai masjid sebersih sapuannya. Lebih-lebih para santri tak bisa rutin menyapu, akibatnya keadaan masjid sering kotor. Melihat demikian, berucaplah Sunan Ampel, "Seandainya Mbah Shalih masih hidup, tentulah masjid ini menjadi bersih." Tiba-tiba di pengimaman nampak Mbah Shalih sedang menyapu, lantai masjid pun bersih kembali, semua orang keheranan melihat Mbah Shalih hidup kembali. Beberapa bulan kemudian wafat lagi, dan dimakamkan di sebelah timur berdampingan makamnya yang pertama. Sepeninggalnya kedua, keadaan masjid kotor lagi. Atas kekaromahan Sunan Ampel mengucapkan kata-kata sebagaimana dahulu, dengan ijin Allah Swt. Mbah Shalih hidup kedua kalinya. Demikian kejadiannya beberapa kali wafat dan hidup kembali. Sesudah kuburan Mbah Shalih genap delapan, Sunan Ampel tiba kewafatannya. Sepeninggal Sunan Ampel, Mbah Shalih pun wafat sehingga kuburannya sebanyak sembilan, kuburan akhir berada di ujung timur. (Kisah Wali Songo, disusun oleh Baidhowi Syamsuri, 1995 penerbit Apollo Surabaya).

Dalam karangan saya 'Kitab Para Malaikat'tertuang berikut, "Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I)." (Hukum-hukum Pecinta II: I - CXIII, terbitan PUstaka puJAngga, 2007). Membersihkan bidang perasaan, menyapu debu perjalanan demi khusyuknya pertemuan. Maka uraian lanjut saya menunggu kedatangannya, kehadiran inspirasi nan dinanti. Bekal tertanam kini, semoga menyeruak segetaran nasib menuruti peta sudah tertera jauh, sebelum saya hidup di bumi.
***

"Abu Mas'ud 'Uqbah bin Amrin al Anshari al Badri r.a. mengatakan; Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya, salah satu ucapan kenabian yang pertama yang diketahui oleh umat manusia adalah apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah sekehendakmu." (H.R. Bukhari). Hadits Riwayat dalam "Kitab Syarah Hadits Arba'in" karangan Al Imam Yahya bin Syaraf Al Nawawi, tersebut diperkuat Q.S. Fushshilat: 40, yakni bentuk larangan atau ancaman dipermanis, istilah Jawa-nya 'dibombong', semacam 'dipangku' dalam perkara akrasa Jawa berarti 'mematikan' pada kalimat "...apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah sekehendakmu."

Maaf, bagian ini tergambar kurang terkait langsung kajian, karena mengungkap catatan perjalanan, tetapi Insyaallah terpaut seirama gerak, lantaran teks saya tuangkan tak lebih cermin hati bergetar oleh cobaan menimpa. Dengan melayarkan jemari menjatuhkan pilihan demi mengisi reruang jiwa beserta nikmat tak terkira dari-Nya yang memberi wewaktu luas bersuntuk meskipun dalam kepayahan batin tengah didera musibah mengepung bak gulungan ombak menggelombang. Semogalah sampai ke pantai keyakinan; dambaan laku dari peneliti yang diombang-ambingkan hidup dalam percepatan imbang, "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (Q.S. Al Qamar: 49).

Dari ayat tersebut, Al Nawawi mengurutkan ke hadits Nabi diriwayatkan Ibnu Abbas r.a., "Ketahuilah bahwa seandainya sekelompok orang bersepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, maka tentu mereka tidak akan dapat memberikan kepadamu  manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Sebaliknya, manakala sekelompok orang bersepakat untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak akan dapat mecelakakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Pena untuk menulis, takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran buku catatan takdir pun telah habis."
***

Setelah diiperjalankan dari Gunung Pring (Watucongol, Muntilan, Magelang), ke Cabean (Yogyakarta), ke Ngelipar (Gunung Kidul), diantar lima veteran ke Ponorogo, lalu ke Menturo (Jombang, ke makam ibunda Emha Ainun Nadjib; Hj. Chalimah yang meninggal pada tanggal 1 September 2012), kemudian ke Langitan (Tuban), ke Makam Sunan Drajad (Lamongan), menuju Pasuruan serta Ponorogo lagi, kini saya lanjutkan.
***

Mungkin lebih sebulanan tak teruskan di atas, selain dinding tebal menjulang persoalan menghadang juga berkali-kali menempa. Tepatnya sesuaikan hawa prosesi tulisan, guna tetap pada kesatuan, atau 'bendelan' dapat ditarik pengertian di hari kemudian. Anggap gaya seolah tak terkait ini pertemuan kebetulan saya ketengahkan, saudara membaca tentu berbeda esainya IK bertitel "Sastra Indonesia dan Saya, Sebuah Perjumpaan, Untuk Leo Kleden, Mengenang 23 Juni 1979." Sebenarnya saya tidak perlu repot menyoroti, hanya jika ada anggapan ceriwis atau bolehlah menebalkan keyakinan ke muka. Toh saya tak mengharuskan diterima, mungkin hanya 'maaf' yang terucap, jika saudara sayang tidak meneruskannya.

Ini kali agak malas, namun rindu berkata-kata. Boleh jadi raginya kumparan gugusan pandang terlewat, dan saya asyik mencengkeramai diri mengenai kebenaran teryakini, pun perihal patut digaris bawahi. Tulisan atau hidangan ini sisi lain terapi, jika ditengok beban menimpa, sejalan tulisan menyehatkan badan-jiwa. Setidaknya dengan kualitas yang ada bisa menjurus perampokan, tapi Alhamdulillah diri ini terhanyut ketampanan para pemikir, keuletan peletak dasar penalaran dari perwujudan wahyu sampai sihir. Sehingga disibukkan suara-suara kedalaman, lalu menganggap ringan hidup hanya untuk mencari keselamatan.

Kini 15 Dulkaidah 1945, Senen Pon menurut kalender Jawa, saya balik di Perumahan Patihan berbentuk aula menghadap ke utara, di depan terhampar lapangan selalu sunyi. Sebelah barat dan timur masing-masing tak ada lima puluh langkah bangunan masjid, keduanya tidak terlalu besar jika dibanding masjid-masjid di wilayah Pantura. Saya sedang tak banyak baca buku tetapi menyerapi bacaan telah lalu, serupa melilitkan benang-benang jiwa menghitung hati berkaca diri. Sesekali menghela nafas panjang kini berkeadaan pelahan, sepelan merasakan timbagan hampir mendekati seimbang.

Dalam ruangan luas, sebelah barat berderet buku-buku cetakan karya Bapak Sutejo, calon doktor penemu teori Etnosufistik pada disertasinya "Trilogi Novel Syaikh Siti Jenar Karya Agus Sunyoto." Di atas deretan buku, lukisan karya Andry Deblenk dan Sugeng Ariyadi. Kadang ditemani kicauan beburung prenjak juga beburung lain bebas tidak terkurung sangkar bikinan manusia. Sebelah selatan letak saya tempati terbentang pesawahan menghijau meski musim kemarau, terbersitlah karena bagusnya pengairan di Ponorogo. Mungkin hanya di sini bisa tenangkan diri, setidaknya tak balik ke Tegalsari pun di Pesantren Joresan, lantaran jika lama di sana batin ini tertekan kenangan terdekat di hati.

Teman-teman lukis pun kawan-kawan penulis kerap datang di sebelah waktu sepi, seperti pagi ini serta pagi-pagi terlewat, pula malam-malam tanpa bayangan, sunyi mencekam, saya tenggelam dalam renungan laksana patung sendirian. Nyanyian bebacaanlah menghibur, ruh orang-orang dahulu mampir menyambangi,datang beraroma harum sejelas kedekatan diri keakraban pribadi mengenalnya. Lantas menjelma harmoni menemani tapak hidup mengudar pengertian senggang, serasa wewarna anyar kejadian peleburan di atas karakter pelbagai rupa drajat keadaannya.

Melodi ini rasanya berbekas pembacaan "Balada di Bukit Pasir Prahara" minggu lalu di kampus. Kini saatnya mengedarkan ingatan pada bebagian lalu, pula catatan ini demi menggenapi kisah. Jikalau ada mengira ini tegur sapa dangkal, maka meski terlambat; ‘Selamat datang wahai pengembara yang perluas kemungkinan terhampar rahmat-Nya bagi penempuh jalan kesunyian.’

Di bagian XVI saya sebut Kun Fayakunterdapat di penghujung Surat Yaasiin ayat 82, penghujung Surat An-Nahl ayat 40: "Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia." Dan "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia."

Setelah menelusuri, ternyata ada di beberapa ayat pada surat lainnya dalam al-Qur'an,
Al Baqarah: 117 : "Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia."
Al An'aam: 73 : "Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."
Al Mu'min: 68 : "Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia."
Maryam: 35 : "Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia."
Ali 'Imran: 47 : "Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia."
Ali 'Imran: 59 : "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah", maka jadilah dia."

Bayangkan, atau kata lain saya tak paham kaidah berbahasa, namun siapa tahu malah jadi masukan berharga di tempat berbeda? Dan bayangkan kata ‘Jadi’ kepunyaan SCB sebagai kata konjungsi (kata penggabung) dalam paragrafnya:

“Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, “Jadi, lantas jadilah!” Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri” (Sambutan Sutardji Calzoum Bachri Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera, Bandar Seri Begawan 14 Maret 2006, ‘Isyarat’ hal 20).

“Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, “Jadi maka jadilah!” Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri. Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri” (“Bukan” Sutardji Calzoum Bachri -Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000-, “Bentara” Kompas, 11 Januari 2003, ‘Isyarat’ hal 22).

Pada beberapa kejadian, peristiwa dalam suatu nuansa, aura atau kurung letak tertentu, kata ‘jadi’ dalam kebahasaan Indonesia tidak berarti atau tidak otomatis bermakna ‘ada, wujud,’ tetapi kehadirannya sekadar ‘kata penghubung.’ Sisi lain wewarna perlambang dari kata-kata sama, namun berbeda makna serta berlainan fungsinya, yang tertemukan kadang kuatkan kalimat, menyamarkan pula mendangkalkan peristiwa diboyongnya. Di sini, tantangan sastrawan menyuntuki rupa terkandung sedalam bahasa yang dipunyai.

Maaf, saya agak geli lantaran seolah-olah guru bahasa, namun tak apa. Misalkan dalam kalimat ada kata ‘jadi’ yang tidak bernilai ‘ada, atau wujud’: “Sebab SCB berpendapat 'puisi adalah alibi kata-kata', jadi puisinya asal-asalan." Demikian contoh kata ‘jadi’ yang tidak dimaksudkan ‘wujud atau ada,’ namun sekadar ‘kata sambung.’ (Bunyi “puisi adalah alibi kata-kata” terdapat dalam esainya SCB, “Pidato Penyerahan Anugerah Sastra Chairil Anwar 1998,” pada Catatan Kebudayaan, Horison, XXXII/5/1998, dan buku “Isyarat,” kumpulan esai Sutadji Calzoum Bachri, IndonesiaTera, hal 14).

Sebelum rambahi soal, saya turunkan bayangan di papan kemungkinan. Di beberapa perkara kata ‘jadi’ yang tidak hanya bermakna ‘wujud atau ada,’ hampir setara kata konjungsi ‘maka,’ yang dipakai menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, pun antar kalimat. Seperti: “Karena kedinginan, jadi memakai jaket,” dan “Sebab kehujanan, maka badannya menggigil." Ini bisa dikembangkan setampan penalaran pelakunya. Apakah termasuk sudah baku? Mengenai baku atau tak, diterima langsung pun tidak, saya serahkan ke pembaca. Setidaknya di sini menduduki perkara membuka perihal sudah berlaku yang masih dicurigai. Misal hanya mengikuti aturan saja, padahal lainnya berlari lincah pula melesat ke ujung setara dan lebih.

Kelenturan kata ‘jadi’ juga kekakuannya menampilkan tekanan kokoh, dibanding kata ‘maka’ yang sepintas melahirkan perangai hampir sama antara kalimat yang disambungnya atau sedikit imbang. Sedangkan kata ‘jadi’ menyerupai penghakiman terhadap peluang yang diketengahkan sebelumnya. Hukum ini berlaku lantaran kata ‘jadi’ sanggup memoles parasnya membentuk ‘kata’ tidak melempem, umpama ‘menjadi’ berbeda ‘makanya,’ itu pun dapat diserap ke tubuh ‘jadi,’ menjelma kata ‘jadinya.’

‘Kejadian’ ini. Nah, kata ‘kejadian’ pula berangkat dari kata ‘jadi,’ sedang kata kunjungsi ‘maka’ tidak sanggup menampilkan perihal demikian mewah. Kejadian tengah terunggah ini setidaknya sudah mewarnai juga mewabah di masyarakat, dan kerja penyair menggeluti nada irama menggelinjak pada ruh pencipaan karyanya. Tinggal menyadarinya luas, atau berpatokan nasib pada aturan senyatanya berselisih paham antara karya ilmiah atau tak, misalkan.

Bandingkan kata ‘makanya, olehnya, dengannya’ dengan ‘jadinya,’ yang seakan sudah meringkus peristiwa yang sedurungnya disampaikan. Inilah kelebihan sekaligus kekurangan kata ‘jadi.’ Mungkin, Sutardji termasuk penyair cerdas, namun kelewat batas menggulirkan perkara yang mencoba merombak kata ‘kun’ dari Kun Fayakun, dan ‘kun’ dimaknai ‘jadi.’ Padahal dalam kebahasaan Arab, kata ‘jadi’ ialah ‘kana’ bukan ‘kun.’ Soal ini saya kira ahli bahasa pendukungnya bisa jawab lebih lapang, andai saya keliru.

Apakah para pakar bahasa sudah merambahi kata ‘jadi’ yang disampaikan Sutardji? Saya tidak yakin, sebab hadirnya buku tipis saya yang sebelumnya dianggap ringan. Maka diri ini mensyukuri karena bisa berhadapan langsung meluas ke jangkauan yang tak sempat mereka pikir. Ini bola bekel memantul terbentur dinding karang, yang pasti keropos oleh desakan ombak berulang. Di waktu keheningan saya lihat bola tersebut bekerja, meski saya nyenyak tertidur pulas bersama tarian gelombang pemikiran yang selalu mengukir tahap kebenaran juga mengeroposkan jari-jari mitos kesusastraan yang ada.

Secara umum kata ‘maka’ sering digunakan bersamaan kata ‘jika,’ contoh "Jika ia datang, maka saya senang." Bandingkan, "Jika ia datang, jadi saya senang," dan "Jika ia datang, saya jadi senang." Tidakkah kata ‘jadi’ di sana begitu elok dapat ditaruh sebelum-sesudah kata ‘saya.’ Ini akan fatal kalau diganti, "Jika ia datang, saya maka senang," yang tampak lucu bin wagu!

Almarhum kritikus Umar Junus, lahir di Silungkang, Sumatera Barat, Indonesia 2 Mei 1934, meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, tanggal dan bulan sama kelahiran saya ‘8 Maret,’ namun di tahun 2010 kemarin. Junus menulis Sutardji (bukunya "Dari Peristiwa Ke Imajinasi, Wajah Sastra dan Budaya Indonesia," bagian 16: "Puisi Yang Mantra Di Indonesia: Suatu Interpretasi," Penerbit Gramedia, Cetakan 2, April 1985), mementingkan unsur bunyi daripada arti dalam puisi-puisi SCB, pun tak sempat mendedah keteledoran fatal pidato kebudayaan Mastera 2006 dan DKR 2000. Mungkin kata-kata “Jadi, lantas jadilah!”dan “Jadi maka jadilah!” Sutardji, dianggap memiliki kekuatan bunyi yang menyamai kata kerja dalam kata ‘jadi,’ maka alam susastra masih terselimuti pekabutan mitos paling pekat.

Junus seperti Dami, banyak mengusung referensi dari luar demi mendukung ‘keserampangan’ Sutadji, dengan abai atau menekan kekurangan manusiawi pada diri penyair diandalkan. Lewat menaikkan pamor menjulang kekaryaan SCB; seakan kehadirannya sangat berjasa untuk kemajuan sastra Tanah Air. Sekali lagi tengok siapa saja, apa pula bunyi jadi patokan, lalu bandingkan paham para tokoh lain yang terbukti telah menggerakkan nalar peradaban!

'Jika tak mementingkan arti, tapi bunyi,'maka contoh kata sambung atau penghubung, atau apa saja dapat saudara gandeng menerus, bolak-balik jempalitan tanpa harus repot mencari maknanya dari proton sampai neutron segala. Lewat kaca mata sederhana, para pendukung kekacauan itu semakin kacau. Dan kita tak peroleh apa-apa selain ketakjuban nalar tak berfaedah, sebab kerja daripada puisi sangatlah berbeda daripada bom atom misalnya!

Usah jauh mengkritisi kebesaran Chairil, Sutadji, tengok ‘kengawurannya’ jika ingin kedewasaan sejarah sastra Indonesia. Mengedepankan boroknya 'tinimbang' pamor bikinan pesona seolah-olah. Atau rasa-rasanya melebihi kupasan firman-firman-Nya, sehingga orang-orang seperti saya tidak hadir bersemangat beringas. Dan saudara layak mendapatkan jika masih berkutat pada kata-kata tanpa manfaat sesama, kecuali pentas sulapan depan mereka yang haus hiburan malam dengan tepuk tangan panjang.

Katanya, "mantra itu -sesuatu yang utuh, yang tak dapat dipahami melalui unsur pembentuknya,” dan – “sesuatu yang tak komunikatif dengan manusia, sehingga bersifat esoteris dan misterius, karena ditujukan kepada sesuatu yang gaib, merayunya, kemudian memerintahkannya untuk melayani kehendak yang mengucapkan mantra."Sayang, Junus tak banyak menebar contoh menerangkan, sambil membanding puisi-puisi Sutardji yang menurut saya terbesar sulapan. Bagaimana kita mempelajari 'yang tak dapat dipahami melalui unsur pembentuknya?' Tentu dengan misal dan saya telah nyatakan seperti perusakan Ka'bah di bagian lalu. Lantas dengan apa, para kritikus yang kini bertengger di singasana kekuasaan membetulkan dari kerusakan dalam memaknai Kun Fayakun, yang dilakukan sastrawan jempolannya?

Karena mereka menerangkan 'kemegahan' yang dikritisi, pantas pula pertahankan yang saya ajukan! Sehingga tak seperti ungkapan Junus sendiri, ‘indah kata dari rupa,’ atau indah berita dari kenyataannya. Sekali lagi saya suka penyair pula kritikus yang pandai menghipnotis dari dugaan ke realitas, dan yang kesadarannya terlambat jatuhlah kecewa. Di sini saya mensyukuri keterlambatan mengenal kritik sastra Indonesia. Karenanya berkewaspadaan bertingkat tidak langsung menelan mentah yang diterangkan para pendahulu tanpa curiga. Padahal kekritisan ialah suatu pertahanan dalam sebuah bangsa sedang krisis!

Jadi atau maka (sambil mengingat perkara sebelumnya) kita hanya mengenal ‘politik belah bamboo,’ mikul dhuwur, mendhem jero.’ Yang silap diabaikan, yang terlihat menguntungkan diperkarakan ke sidang pembaca. Lalu kapan terjadi pertaubatan besar-besar, kekacauan melebar, lebih tragis bungkam?!

Sesaat menopang puisi-mantra Sutadji, Junus sampai menuangkan kalimat, "Komunikasi bahasa pada bentuknya yang paling hakiki dilakukan dengan menggunakan bunyi bahasa." Bagi saya juga peneliti lawas, mantra tak lebih doa. Saya tidak memungkiri perwujudannya sejenis ‘komunikasi satu arah.’ Karena bagaimana pun doa tidak sekadar kata-kata, tapi adanya ruh hakikat yang disampikan ke hadirat Yang Kuasa. Kekuatannya tidak mementingkan bunyi yang tersampaikan saja, tetapi makna terkandung di kedalamannya.

Saya teringat ceramah Gus Najib -Denanyar, Kyai Ghofur pesantren Sunan Drajad, serta para kyai lain yang kisahkan dirinya bertemu kyai sepuh, lalu peroleh amalan berbahasa Arab (dari Al-Qur'an). Atau menceritakan kyai kampung dikala mengimami di mushola, yang dalam pembacaan doa-doa dalam sholat tidak fasih, namun Kyai Ghofur dan Gus Najib sangat segan kepadanya. Sebab bukan bunyi diutamakan (pengucapan bahasa Arabnya lebih kental logat Jawa), tetapi makna yang diresapi kyai sepuh sampai ke tulang sumsumnya keyakinan. Bukan bunyi bahasa yang hakiki, kesadaran terdalam dari suatu yang diucap itu menjadi penggerak dinaya mantra, doa.

Ada cerita lain terdengar dari guru saya sewaktu di bangku Ibtidaiyah; satu keluarga kota masuk kampung terpencil menikmati hari libur melepaskan penat melonggarkan benang-benang kesibukan di kepala. Keluarga itu tersesat oleh jalannya berlika-liku naik-turun gunung, bertanyalah mereka pada penduduk setempat akan jalan ke kota. Sebelum diberitahu, pemilik pondokan mempersilahkan tamunya nyeruput wedang, camilan serta makanan, sebagai tanda bahagia ada orang kota mampir ke rumahnya.

Kala menikmati suasana melegakan, orang kota melihat-lihat rumah bambu sederhana yang disinggahi. Pandangannya tertuju pada burung di dalam sangkar yang kicauannya merdu hingga terpikat. Orang kota dengan ringan ucap ingin membelinya, tapi tuan rumahnya keberatan. Singkat cerita si pemiliknya belum berkenan, entah oleh harga ditawar atau menanti kesepakatan anggota keluarga lain yang masih di ladang. Tetapi memperbolehkan memilikinya jikalau benar-benar suka, dengan syarat di hari minggu depannya. Lantas balik rombongan itu, sambil membayang minggu depan mempunyai burung yang diimpikan.

Pada hari ditentukan, orang kota beserta keluarganya ke kampung nan pernah diampiri. Sambil menyetir mobil, hati-pikirannya berbunga-bunga, karena kan menambah koleksi burung menghiasi rumahnya, yakni burung bagus bulu-bulunya dan indah kicauannya. Jalan dilewati kanan-kiri menghijau, menambah sedap senandung batinnya sumringah, sementara tuan rumah persiapkan masakan terlezat untuk tamunya. Antara yang datang pun menanti sama terjerat gulungan masa betapa mewah. Kabut turun pelahan laksanan kesopanan gadis sedari titian panjang sehabis mandi di sendang. Kembang bermekaran menebari pesona, halus disapa kerlingan mata, penciuman santun sebelum memetiknya.

Sampailah perjumpaan dinanti. Tuan rumah persilahkan tamunya menikmati hidangan yang disuguhkan. Selepas itu orang kota bertanya mengenai burung di minggu kemarin yang diimpi jadi kepunyaannya. Semenjak datang sampai habis makanan, dirinya tidak tenang, karena burung pernah dilihatnya sering berkicau. Dalam pikirannya, burung tersebut ditaruh di belakang rumah atau sudah dipersiapkan untuk dibawanya pulang. Namun apakah yang terjadi?

Dengan tenang si pemilik burung bercerita kalau makanan yang dihidangkan barusan ialah burung kemarin yang ditanyakan. Kagetlah orang kota seakan-akan tidak percaya kejadian teralami. Ia kecewa berat, menyesali ‘kebodohan’ (keluguan) orang desa yang ditemui, sehingga mukanya murung berat menerima realitas yang menimpanya. Orang kampung mengira orang kota kembali karena masakan yang pernah disediakan minggu kemarin, lantaran waktu itu jua memasak daging burung. Sementara orang kota datang sebab terpikat kicauan serta paras ayu bulu-bulu melekat pada burungnya.

Saat cerita di atas dihubungkan kritikus DJ (Dami dan Junus). Yang satu menekankan penelitian ke suara, satunya bentuk puisi SCB. Junus lebih condong bahwa terpenting dari puisi-mantra ialah bunyi bahasa, dan Dami ke perwujudannya, jadi mendekatkan kajiannya ke bentuk puisi konkret. Keduanya sama tak peroleh apa-apa yakni kecewa! Saya teringat tulisan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang bertitel ‘Islam Kaset dan Kebisingannya,’Tempo, 20 Februari 1982. Atau putar saja rekaman kicauan burung tanpa harus memeliharanya!

Lebih jauh huruf-huruf Abjad, Latin, Sansekerta, Hijaiyah, Ibrani, Yunani, Rusia, Kanji, Jepang, Jawa &st… mengalami perpecahan atau mengaliri anak-anak sungai berbeda. Berasal dari akar kepahaman atas nenek moyangnya yang menghiasi dinding-dinding goa tempatnya dulu sembunyi dari binatang buas. Di lembaran lontar, pahatan-ukiran kayu, relief di bebatuan, dan tersebar di ingatan manusia senantiasa mengalami prosesi kebermaknaan pada kulit (coraknya) juga isi (artinya). Oleh merawat kesadaran bersama demi mencapai komunikasi seimbang sampai menanggulangi selisih pendapat, paham yang bisa berujung tajamnya tombak peperangan.

Tenunan pemaknaan lebih diutamakan daripada bunyi, seumpama bebangsa tersebar di seluruh dunia ialah spesies beburung berkicau, maka keselarasannya di dalam belantara pemahaman. Demikian bahasa mantra menempati bilik sunyi di ruang kebahasaan itu, yang kehadirannya dapat dimaknai bagi benar-benar memperdalam menyinauhi. Maka hanya peneliti tanggung melihat bentuk pula bunyiannya saja? Analogi ini menjawab kritikus DJ yang tak merunut ke muasal mata air aksara-akrasa dikajinya. Yang di sana kehadiran maknanya bisa dimengerti secara sadar sebagai kelanjutan perjalanan panjang anak-anak manusia, bukan sejenis beralibi sebangsanya!

Perkara penelusuran sampai satuan huruf di antaranya bisa dibaca ulang bagian XVI pada karya Ibnu ‘Arabi, atau lihat kekaryaan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, al-Hallaj. Pula karya-karya para mufassir, pensyarah, penakwil, ahli bidang perbintangan sampai rajah. Di sinilah nafas-nafas permenungan, penghayatan bertemu keseimbangan antara mereka, yang memunculkan hukum tertentu bagi syarat lakunya. Di samping pengujian dari pelbagai penganalisaan, yang membentuk kaidah umum untuk generasi setelahnya.

26 Oktober 2012, Jum'at Sukra Masehi,
10 Besar 1945, Jemuwah Pon Jawa,
10 Dzul Hijjah 1433 Hijriah,
Ponorogo – Lamongan, Tanah Jawa.

Thursday, July 26, 2012

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden?

(bagian XXI kupasan ketujuh dari paragraf tiga dan empat)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

“Increscunt animi, virescit volnere virtus.” (Nietzsche)
Sebagai prolog, kini dengar lagu Holiday oleh kelompok musik Scorpions, sambil mengendus kalimat Nietzsche di atas saya lancarkan ini, semoga bisa terbang tidak berkecamuk dalam kepekatan. Saya telah tunjukkan luka-luka dari bagian I-XX, ini akan jadi borok semua pelaku susastra Indonesia, dan saya cukup menikmati sehiburan saat-saat belajar.

Pertumbuhan ini menyenangkan, setidaknya dari pengelana tinggal di desa lewat sekali bidikan melihat tipuan, bahasa agak halus sulapan di fakultas kesusastraan. Andai bola mata serta pikiran saya bisa ditransfer cepat ke para kritikus sastra Tanah Air, kemungkinan besar terbongkarnya kasus karbitan, tegasnya tidak jujur setindak kebohongan, atau penggorengan istilahnya di dunia lukisan.

Lewat menyeruput wedang kopi pagi ini harapan saya, mata jeli nan waras tidak silap mudah percaya, dipakai mengisari secara telanjang bungkus kemayu, atau menafsiri ayat dengan ugal-ugalan. Terbukti berkesadaran membaca tempaan dari para pendahulu, para ahli terpercaya; nyata mereka melenceng argumentasinya dekat permainan jemari.

Ini hari agak mendung, pagi-pagi terlihat pelangi seolah dari Mojokerto, lengkungannya di atas tanah Lamongan, ke pucuk lengkung satunya di kota Tuban. Seumpama dedahan saya terdahulu mengkondisionalkan suhu udara atas drajat cuaca tertentu, dan wewarna kluwung muncul adanya penerimaan. Atau saya telah usahakan sesuatu, lalu kesaksian saudara penentunya; apakah sekadar turun di dongeng mitos, atau lebih ke puncak realitas? Saya percaya saudara lebih segala, dan sekecil ini selarik tangga seyogyanya dihadapi, jika tak ingin dianggap lari tunggang langgang, atau masih tiduran? Benarkah saya tak berbuat apa-apa, dan kasus tersebut hawa udaranya, maka ini pelanginya?

Untuk meningkatkan tekanan angin disertai buliran keringat, kuping saya ambil dengar musiknya Metallica “Enter Sandman,” demi mengimbangi ungkapan sastrawan filsuf  itu; “Jiwa bertumbuh, kekuatan dipulihkan dengan melukai.”

Anggap sehiburan istirah sementara saya menghentak-hentakkan kaki memompa detakan nadi debaran jantung, geleng-geleng kepala pun boleh tidak percaya. Seperti separuh hilang kepercayaan pada pelaku sastra yang tidak bertanggungjawab atas langkah kekeliruannya. Terlalu jauh bandingkan SCB dengan tokoh Nietzsche, ‘wong’ baca konsep akidahnya dipetik pun tak sanggup mencernanya?

Hantaman cadas pukulan keras, jebolkan kendang udaranya, lengkingan pekat di langit ke ujung senjakala. Itu kesurupan menyandingkan Sutardji dengan penggunjang jaman; adakah karyanya seampuh Kitab Sabda Zarathustra? Dengan sangat memalukan saya baca mitos itu berkeliaran, dan saudara yakin halnya mengenai sejarah susastra Indonesia sejenis gempa; di suatu wilayah tidak lama, dan hanya taklid buta terguncang keder olehnya? Masihkah sarapan pagi dengan mimpi-mimpi? Bacalah berkecurigaan mawas, kedudukan Sastra Indonesia di belantikan Kesusastraan Dunia?
***

“Kenapa Nietzsche membongkar kubur Socrates, lalu memakan daging busuknya, serta menelan tulang-belulangnya?” Socrates-lah dedengkot turunnya ‘nilai wahyu kesadaran’ yang mengajarkan kepada Plato, pada gilirannya menuju Aristoteles. Dapat dibilang dari mereka bertiga mencair ke belahan bumi di Timur hingga Barat, dan Nietzsche tidak ingin cairan racun ditenggak Socrates menjelma akal budi membusuk, seperti daging barusan ia makan.


Nietzsche berkedengkian hitam menganggap kematian Socrates merupakan akal liciknya sendiri paling sempurna (baca: Senjakala Berhala). Atau ia berhasrat menghisap limpahan cairan mematikan yang sudah menyebar di kepala para filsuf dan sastrawan dunia dengan palunya paling keras, “Tuhan telah mati.” Sudahkan Sutardji melakukan? Karena sampai detik ini belum, sedang para peneliti membandingkan dengannya telah berkoar-koar, tidakkah mereka sulapan?

Apakah dengan perombakan “Kun Fayakun” dimaknai “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!” termasuk cara-cara pembunuhan terhadap Tuhan? Bukan! Namun penghinaan di depan hadirin Mastera 2006, DKR 2000, juga mengolok-olok diri sendiri, tersebab menampakkan kebodohannya, pula mempermalukan kritikus pendukungnya, tentu kalau sadar!

Memang sah mensejajarkan SCB dengan Nietzsche, wong menyepadankan penyair dengan Tuhan tidak masalah (baca buku gugatan saya sebelumnya). Begitulah para penelisik tak pernah memakai timbangan, hanya menimang-nimang sejauh perasaan keliru lantaran grusa-grusu, maka menjadi lelucon manakala dihadapkan pada kewaspadaan saya.

Kenapa bagian lalu saya sandingkan kesalahkaprahan SCB diamini kritikus, hampir sama keberingasan watak bebal kaum Qaramitah nan menumpahkan darah di tanah suci depan Ka’bah? Di batas tertentu teks Kitab Suci al-Qur’an dan kiblatnya umat Islam sama terjaga, meski ada mengotori, menghinanya. Sebayangan Allah Swt tidak serta-merta mengirim ulang sekawanan burung ababil kepada serdadu Qaramitah, sebagaimana menimpai pasukan Abrahah.

Sepertinya Tuhan membiarkan SCB merombak makna firman-Nya di depan para penikmat susastra, di sebelah mungkin saja Sutardji menyerupakan Abu Tahir pemimpin Qaramitah yang menyerang kaum muslimin kala bertowaf, dengan ayunan pedangnya berkata “Aku Allah… Aku Allah” Segelombang SCB tidak mengoreksi ulang catatannya, membiarkan kalau “Kun Fayakun” adalah “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!” seperti ‘penguasa’ saat itu, sejurus lagi para kritikus bungkam, melempem!

Kata-kata saya tak berharap lebih serupa burung ababil mencengkeram bebatuan panas didatangkan dari neraka, hanya semoga sederas air hujan membanjiri Tanah Suci demi mensucikannya, selepas pembantaikan nan berdarah juga mencemari air Zamzamnya.
***

Di bagian XVII tersebutkan, “anggap semua tulisan ini monolog semut-semut hitam merayap.”Jika ditarik ke peristiwa di Ka’bah sebelum datangnya banjir besar pada wilayah Idam, teringatlah pasukan semut mengejar orang-orang Jurhum yang kepala suku terakhirnya al-Harits III, pergi menuju Ka’bah mengambil dua patung emas rusa, beberapa pedang serta perisai yang ada di dalamnya. Merasa sedang diawasi, segera melempar barang-barang rampasan ke sumur Zamzam, lalu menutupnya dengan pasir.

Seperti dituturkan Fathi Fawzi ‘Abd al-Muthi dalam bukunya “The Ka’bah,” jauh di lain masa …Abdul Muttalib dan anaknya al-Harits mengeluarkan dua patung emas rusa, beberapa perisai dan pedang yang dikubur oleh Madad al-Jurhumi ketika pasukannya kalah perang. Abdul Muttalib yang sebelumnya mendapati firasat letak sumur Zamzam di antara sampah dan darah… diparuh burung gagak bersayap keputihan… dekat sarang semut.

Dan kita ingat Abdul Muttalib meminta kembali unta-unta yang dirampas serdadu Abrahah. Kepada Raja Abrahah ia berkata sepenuh yakin; “Aku adalah pemilik unta-unta itu, dan Rumah (Ka’bah) itu akan dilindungi oleh pemiliknya.”  Ini hampir senada Surat Al-Hijr (15): 9, antara kesucian al-Qur’an dengan Ka’bah yang terjaga: “(Sesungguhnya Kami-lah) lafaz Nahnu mentaukidkan atau mengokohkan makna yang terdapat di dalam isimnya Inna, atau sebagai Fashl (yang menurunkan Adz Dzikr) Al-Qur’an (dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya) dari penggantian, perubahan, penambahan dan pengurangan.”

Di padang gersang dibanjiri darah pertikaian, jauh setelah wafatnya Nabi Saw., sosok Abdullah ibn Zubair teringat yang dikatakan Ummul Mukminin Aisyah, tentang sabda Nabi Saw. Kepadanya; “Wahai Aisyah! Jika kaummu tidak berada dekat ke masa Jahiliah pra-Islam, aku akan menyuruh agar Ka’bah dirobohkan termasuk yang tersisa darinya, meratakannya dengan tanah, dan membuatnya dua pintu, satu menghadap ke timur dan yang lainnya menghadap ke barat; satu pintu untuk masuk dan pintu lainnya untuk keluar.” 

Ibn Zubair membangun kembali Ka’bah sebagaimana yang dikehendaki Rasulullah, namun selang beberapa masa kala Abdul Malik ibn Marwan diangkat jadi Khalifah Umayyah 65 H (685 M), ia merasa kalau kekuatan Ibn Zubair dapat mengancam kekhalifahan Umayyah, maka berupaya keras mengikisnya. Abdul Malik mengirimkan pasukan ke Makkah di bawah pimpinan al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi.

Al-Hajjaj menghujani Ka’bah dengan bebatuan menyerang pasukan Ibnu Zubair hingga peroleh kemenangan keji, tapi tetap tak merasa terpuaskan. Ia mengubah tampilan Ka’bah dibangun Ibn Zubair yang berdasarkan sabda Nabi Saw, al-Hajjaj ingin menghapus ingatan orang-orang terhadap jejak Ibn Zubair yang terdapat pada bangunan Ka’bah.

Al-Hajjaj mengirim utusan kepada Abdul Malik ibn Marwan di Damaskus, melaporkan perubahan dilakukan Ibnu Zubair kala merenovasi Ka’bah. Ia memalsukan fakta, membohongi majikannya. Kemudian meminta izin mengembalikan Ka’bah ke tampilan semula. Ia menutup pintu sebelah barat Ka’bah serta meruntuhkan dinding di sebelah Hajar Aswad dan membangunnya kembali. Sekiranya ia berkesempatan memangkas tinggi Ka’bah, ia pasti akan melakukannya.

Hari-hari berlalu, Allah Swt. menghendaki terbongkarnya perbuatan jahat al-Hajjaj, menyingkap muka kekejiannya. Tidakkah perombahkan dilakukan al-Hajjaj pada Ka’bah, sebanding “Kun Fayakun” disalahartikan: “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”?

Jika pengelanaan ini menempati filsafat amatiran, maka sudahlah menjawab pandangan Nietzsche (1844 – 1900) yang mengatakan ‘filsuf tidak memiliki kesadaran sejarah,’ di esainya “Nalar” dalam Filsafat (: Senjakala Berhala). Kini kembali ke orang Jerman itu.
***

Tiba-tiba saya dipanggil Hegel (1770 – 1831), padahal tak ada waktu membaca ulang karyanya “The Philosophy of History,” saya petik saja kalimatnya mengenai hakikat ruh: “Hakikat Ruh dapat dimengerti dengan melihat lawannya yang langsung -Materi. Karena hakikat Materi adalah Gaya Berat, maka di lain pihak, kita dapat menyatakan bahwa substansi, hakikat Ruh adalah Kebebasan.”

Sedari mula catatan ini sejak awal penalaran saya menyoal perangai kata ‘bebas,’ bukan sebebas lepas tanggungjawab, pula tidak bablas sedari beban makna. Tapi sedaun-daun runtuh ke tanah oleh kekeringan atau kebebasan tetap setiai hukum dikandungnya. Jika Hegel menyebut materi bergaya berat, maka ruh punya gaya bebas!

Ruh merupakan kesatuan diri aktual, bisa masuk dan lepas dari materi. Tanpa adanya ruh, maka materi sekadar ‘mumi-mumi’ -istilah Nietzsche. Kita teringat ungkapan Valeri, “suatu upaya untuk menciptakan yang saya sebut ruh dari ruh.” atau “ruh,“ruh dari ruh” adalah kerja”: Derrida. Sedang gaya berat atas materi dalam kehidupan ini tak lebih terhukumi / tergantung gaya gravitasi. Limpahan materi tanpa ruh menyatukan, tentu berserakan terpecah-pecah, sedari sini Nietzsche berani melangkah lepas berkabar ‘Tuhan telah mati.’ Saya memaklumi, tersebab ianya girang berjalan di depan, dirinya tidak ingin jadi orang melihat orang, hanya berhasrat dilihat. Sejauh mengidam garis finis duluan, misal mengungkap nilai baik, yang diplototi efeknya keseimbangan baik, &st.

Karena bagian ini akhir kupasan paragraf Ignas Kleden 3 dan 4, olehnya diunggah ulang: “Sebuah kata, dalam pemikiran Sutardji, diberi beban makna oleh berbagai kekuatan, yang dalam proses selanjutnya tidak mau bertanggung jawab lagi tentang makna yang mereka berikan dan memindahkan tanggung jawab tersebut pada kata yang telah diasosiasikan dengan makna tertentu.”

“Adapun kekuatan-kekuatan yang dianggap menindas kebebasan kata-kata dengan memberinya beban makna bisa berasal dari dalam bahasa, seperti semantik atau sintaksis, tetapi dapat pula berasal dari lingkungan luar bahasa, seperti konvensi sosial, kekuasaan politik, atau norma-norma moral.”

Tidakkah pandangan SCB yang diungkap IK menginginkan perilaku kesurupan? Sebab naik-turunnya musik pergeseran makna adalah niscaya bagi pemilik ruh pengertian. Di mana kekisarannya menghadirkan dialektika atau perbedaan sedari pergesekannya, perpindahannya terhadap sesuatu nilai tersebut memungkinkan tafsiran berkesadaran lain, yang menambah derajad ‘kata,’ hingga memancarkan pelbagai kilauan mewujud dinamika peradaban.

Aturan bahasa, logika kebahasaan pun perhelatan sosial pula norma-norma, serupa sarana kata-kata memenuhi maknanya! Adapun efek-efek buruk menimpainya tidaklah harus kabur lepas tanggungjawab, tapi bagaimana caranya dikembalikan ke letak semula. Para peletaknya orang-orang yang berkepentingan, pemilik kebulatan ruhani demi hawa harum kedewasaan nan mencerahkan.

Perihal materi, kita dapat melihat perselisihan pendapat suku-suku bangsa Arab dalam perebutan hasrat, siapakah terpantas memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula? Menyoal ruh pengertian, seyogyanya waras lagi mawas membaca, mencermati-pahami pola-pola pergeseran, lalu memberi penerang darinya. Bukan malah menafsiri lepas asbabun nuzul pada ayat-ayat al-Qur’an, apalagi merombak makna firman-Nya?

Bagaimana tidak disebut kesurupan, menulis puisi dari kata-kata yang tiada artinya dari bahasa atas bebangsa mana pun? Tidakkah itu kreatifitas kebablasan, kebebasan tanpa pondasi dari jiwa lemah mudah disusupi makluk halus? Lantaran oleh tingginya suhu badan berdemaman, sehingga mengoceh tak karuan, yang kata-katanya terjadi melucuti maknanya?

Kredo Puisi SCB, “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.” Tidakkah ini malah menyelewengkan konvensi sosial, kekuasaan politik, atau norma-norma moral? Membuat suara-suara kebebasan tak manusiawi, terbuang dari kesadaran insani. Kata-katanya tiada ruh, ruh yang bekerja, ibarat batu mandek; tidak adanya perbuatan kecuali menumpuk kata-kata benda tak bermakna! Hanya kritikus kesurupan pula mengandaikan ketinggian kesastrawiannya, sedari perangai kemandulan tersebut!

Untuk mengurai jauh, sepertinya sesuai paragraf IK ke 5. Maka mendingan balik ke Nietzsche, Hegel, atau orang-orang yang serius bekerja.
***

“A person cannot be God, certainly not replace God, and rule the world as a Superman; he will only succeed in creating more chaos and make a greater mess of the world. In the century after Nietzsche man-made disasters left the blackest records in the history of humankind. Supermen of all types called leader of the people, head of the nation and commander of the race did not baulk at resorting to various violent means in perpetrating crimes that in no way resemble the ravings of a very egotistic philosopher.” (Nobel Lecture, Gao Xingjian, Translation by Mabel Lee).

Jumputan paragraf kedua, kuliah Nobel Sastra Gao Xingjian yang notabene kaum ateis itu, masih menunjukkan penghormatan kepada sesuatu yang tak terketahui (Tuhan). Menganggap tak mungkin manusia menjadi Tuhan pun menyepadankannya, -meski berperangai paling unik sekalipun! Ini pukulan telak bagi pelaku sok, yang beberapa kritikus menggolongkannya penyair sufi, karyanya puisi sufistik, tapi nyatalah ngawur!

Riak pemikiran Nietzsche masih terus bergentayangan, dan saya memasuki lewat komposer ia kagumi pula sebaliknya. Sebab tanpa musik sepertinya mandul, atau ianya musik sastra yang berdenyut sedari jantung filsafat, meski ada menganggapnya ricauan filsafat yang sangat angkuh.

Bulan Maret 1861, Krug memberi ceramah “Tristan und Isolde,” ini awal kali Nietzsche mendengar mengenai Wagner. Di tahun-tahun di Pforta itu komposer favoritnya Schumann (meninggal 1856, meski demikian ia komposer kontemporer, ‘moderen’; sementara ‘Tristan’ saat itu belum dipergelarkan, merupakan musik masa depan). Ayahnya F. Nietzsche, Karl Ludwing Nietzsche, lahir 1813, sama tahun kelahiran Richard Wagner. (Kronologi Kehidupan Friedrich Nietzsche dari bukunya “Ecce Homo, How One Becomes What One Is,” terjemahan bahasa Inggris R.J. Hollingdale, pengantar dan revisi edisi Inggris oleh Michael Tanner, Penguin Group 1979, 1992).

Agak sulit memulai, sementara para tokoh yang hendak saya tulis sudah mewakili jari-jemari; ada di jari kelingking, jari telunjuk, jari tengah, jari jempol pula jari manis. Sebaiknya saya ambil perkataan pelukis Pablo Picasso (1881 – 1973):

“Sindiran dari seseorang yang menyatakan, bahwa tidak ada lebih berbahaya dari beradanya alat-alat perang di tangan para jenderal, dan kita dapat mengubahnya dalam arti yang disesuaikan lagi cocok bagi para seniman. Dalam artian yang sama, tidak ada lebih berbahaya daripada keadilan di tangan para hakim dan kuas-kuas untuk melukiskan di tangan pelukis! Bayangkan saja bahayanya bagi masyarakat.” (Selajutnya bisa dibaca di sini http://pustakapujangga.com/2009/09/philosophy-of-picasso-strategy-revolution-creative-process/ ). Ungkapan Picasso itu tak lebih sama kata-kata dalam pidatonya Gao Xingjian yang terpetik. Saat membacanya terlintas wajah sang dikator Adolf Hitler (1889 – 1945) salah satunya, seniman lukis kapiran!

Jiwa seniman demikian pula penggagas buku “Mein Kampf” ialah jiwa-jiwa tangguh lebihi karang. Pemampu mengolah kesedihan jelma keriangan, kemalangan ditatanya rapi. Terhinakan bagi tempaan hidup, atau semua dihadapi sealat tukar demi meningkatkan drajat mentalitas pencarian nan menambah jumlah pendapatan nilai-nilai dibangunnya. Tidak lebih mensyukuri derita melipat gandakan kesaksian, semacam cahaya yang melesat kemudian.

Setiap atom penderitaan memancari sinar terang bagi yang tak ngelokro berjiwa loyo. Kesungguhan hidup, patriotisme kesemangatannya merebut kemungkinan mendatang, panji kejayaan dari pemikiran dan pilihan matang sebelumnya, itu tapak langkah mengharuskan mewaspadai sambil menekan resiko sekecil-kecilnya. Sekalilagi sudah terlampau hafal kepahitan hidup, tekanan berat telah biasa dipanggulnya.

Jiwa seniman besar tidak cengeng mudah termakan waktu terhisap jaman, ia melayang terbang di puncak cakrawala penalaran, sekali tempo menyabet ikan-ikan bernasib sialan dari kedalaman lautan. Ia meletakkan dasar-dasar pemikirannya, tak melupa memberikan oksigen secukupnya, atau bebidang pengetahuan terus memompa gagasannya, meski musim kemarau tak sampai sekarat! Bagaimana tidak ambruk pertimbangan didasari iseng asal-asalan, coba-coba? Maka amburadul itu pantas bayarannya!

Demikian juga komposer ulung menurut Schopenhauer: “Tristan dan Isolde bukan hanya satu sintese dari Wagner tentang teori seni, ia lebih banyak menggambarkan sebagian dari drama Wagner yang hidup tragis dan bingung. Apakah yang direncanakan oleh otak si seniman diwujudkan dengan secara menakjubkan oleh hatinya.”

Wagner mengunyah buah maja kehidupan, lantas dicerna dalam ketenangan mempuni hingga hadirkan perbandingan pun penelusuran halus, antara pengembaraannya di pinggiran sungai hayati mencerminkan hasil-hasil karyanya. Kebeningan perangai nalarnya, keindahan hati mengelus soal, perkiraan tiang pancang harapan, yang menujah perut bumi laksana akar menyedot saripati. Dan sekelebat bendera kesegaran daun adanya angin, sereaksi tegaknya hukum kausalitas memayungi jiwa-jiwa sentausa.

Di sela-sela menggarap karyanya ‘Nibelungen’ yang besar itu, atau Wagner amat terpaksa merampungkan ‘Tristan’ terlebih dulu. Yang menurut Ackere dalam suasana kebingunan, ia ‘melarikan diri’ ke Venesia demi melupakan Mathilde. “Sebagai manusia ia coba melupakannya, sebagai seniman ia tak bisa matikan perasaannya. Begitulah ia sambil bercucuran air mata dan dalam kesepian yang mencekik menulis “Tristan” yang baginya menjadi lambang dari kekecewaan hidup.”

Batin Wagner terlunta-lunda bersama raganya meninggalkan Mathilde. Kasih meminta jarak pandang tak terlihat demi menerjemah getarannya; hal sudah meresap tidak mungkin terhapuskan, hanya tetumpukan peristiwa kadang terlupa sejenak. Saat kenangan ditingkatkan jelma sebuah karya, sebayangan makna tengah dirasai, bergolak kian menguat menggetarkan pemahatnya juga mereka menyaksikannya tertimpai beban hampir sama. Air mata terus berlinang di sudut gelap kesepian, sambil menginsyafi perkara tak mudah dielak. Jalan takdir telah tergurat dan atas langkah kesabaran menguatkan segala, tak terkecuali setiap peraman wewarna melodi menggayuhnya bertabah.

Untuk opera Tristan, mengambil dengar komposisi komposer Wagner -Tristan und Isolde ‘Prelude’ sepengantar ringkasan menulis ulang kisahnya di atas J.Van Ackere; Tristan berkelahi hebat sampai membunuh Morold, tunangan Isolde. Tristan sendiri mendapat luka parah, dan sebab dendam, Isolde hendak membunuh Tristan dengan pedang Tristan. Kala mengangkat pedang dan sedang diayunkannya, matanya bertemu mata terdalam Tristan, hatinya terpaut jerat sama. Mereka berdua telah menjadi junjungan nasib berjumpa. “Ia memandang mataku, Aku kasihan akan keadaannya dan mengobati lukanya.” kata Isolde. Tapi keduanya punya kewajiban yang menghalangi percintaan. Tristan mendapati perintah membawa Isolde berperahu kepada raja Marke, yang hendak menjadikan permaisuri, mengangkatnya sebakal ratu Cornwall.

Isolde jadi dengki oleh acuh tak acuh Tristan, memerintah pengiringnya Brangaene supaya menyuruh Tristan datang dan memujanya sebagai bakal ratunya. Tristan bawaan raja Marke, dengan sendirinya menjadi bawaan Isolde. Tristan membungkuk di hadapannya, lalu berkata, “Hamba bersedia menjalankan segala perintah Paduka.” “Adakah hutang jiwa antara kita?”, diterangkan Isolde. “Ini pedangku, bunuhlah aku sekarang juga!” jawab Tristan dengan pahitnya. Setiap perkataan mereka merasai saling mencintai. Tetapi mereka mempunyai kewajiban, ia bawaan dan Isolde permaisuri raja Marke. Hanya kematian yang bisa menghentikan keadaan menyempitkan dada ini.

Isolde menyerahkan kepadanya beker dengan racun yang disuruh disediakan Brangaene. Keduanya tahu, bahwa setiap saat mereka bisa mati, tapi mereka ingin menghentikan hidup tiada gunanya. Betapa kuatnya, betapa beraninya Isolde kala menyerahkan beker sial itu kepada Tristan. Suaranya berapi-api menuduh Tristan berhianat, karena hendak menghabiskan isi beker, dan membiarkannya ia hidup sendiri. Betapa manis penandaan ini penuh tanggung jawab terkurung, tapi sudah menentukan cintanya. Namun Brangaene silap. Daripada menyuguhkan beker racun, ia memberi beker cinta untuk raja Marke. Mereka tidak berdosa lagi, dan sudah demikian.
***

Kita berada di suatu tempat terbuka di rimba, memasuki wilayah kekuasaan raja Marke. Malam menjalin bajunya yang biru pada dedaunan, dan menara-menara dari istana raja. Isolde menunggu berpenuh ketakutan di depan pintu dengan obor di tangannya menyala, ketika raja Marke berangkat bersama pengiringnya untuk pergi berburu di malam hari. Kalau lampu-lampu telah dipadamkan, ini menjadi tanda untuk Tristan. Cinta asmara Isolde semakin meluap… Hatinya berdebar-debar kalau ia melihat di sela-sela pohonan suatu bayangan. Itu dia! Dengan penuh hasrat mereka berpeluk-pelukan. Ketakutan dan ketidaksabaran hawa nafsu, semua diucapkan oleh orkes dan sungguh menyatakan pergolakan batin. Suara-suara terjalin lembut mendebarkan, teks kata-kata melebur, satu perkataan saja dinyatakan membumbung nafsu tak kenal batas.

Tristan!
Isolde!
Di sini kita merasakan detik detakan jantung Tristan,
lalu keluhan Isolde…
Apakah ini mata kakanda?
Apa ini mulutmu?
Ini tanganmu?
Ini Hatimu?
Kedua suara itu saling bersengkarut memotong perkataan, kemudian bersatu. Melodi terus mengalung tanpa bentuk tak berakhir, menandai Wagner lambang hasrat romantik tiada batas, Tristan dan Isolde menjanjikan kebahagiaan, harapan mereka supaya hari siang, dan bukan kematian menyusul malam ini.

Tristan kembali sebagai buangan ke kastil nenek moyangnya. Di atas bebatuan karang berlumutan, dalam kesepian di tepi lautan nan tenang, berdirilah benteng mau runtuh itu. Di sela-sela batu tumbuh rerumputan subur. Di dinding-dinding yang pecah, Tristan sedang sakit melihat ke gulungan ombak, di sampingnya berdiri pengiringnya yang setia, Kurnewal. Seorang pengembala akan memberitahu datangnya Isolde di perahunya dengan lagu girang. Tapi makin menitik lagu sial itu ke dalam hati Tristan mengerang, menipis harapannya serta bertambah keinginannya.

“Das Schiff! Siehst du es noch nicht?” keluhnya. Tiada layar satu pun yang datang memecahkan kebosanan air, yang hijau biru sekeragu-raguan menyiksa. Hasratnya kian kuat seperti laut mengalun di depan matanya. Akhirnya, muncul kedua perahu berbendera putih di tiangnya, tanda Isolde di perahu. Turun ke darat dan buru-buru naik ke atas batu karang. Ia menerima Tristan dalam pelukannya sedang mati. Kini menyanyikan “Mild und leise” yang terkenal itu. Pada ciumannya terakhir, Tristan memberikan juga nafasnya yang penghabisan. Isolde mematikan kematian cintanya menuju mayat Tristan.

Raja Marke datang mengampuni dan mendekati mayat keduanya. Ia tahu, pasangan itu hanya didorong minuman sialan, dan bukan oleh kemauan mereka sendiri. Tristan dan Isolde ialah musik abadi, nan terus berlaku sebagai ayunan ombak tiada habisnya, dimana pandangan Tristan sia-sia mencari pembebasannya. Sebagaimana ibundanya Malin Kundang, atau suara burung penyesalan yang setiap pagi-petang menjerit-jerit menyebut induknya, sambil menyusuri pinggiran sendang.

Pada esai ‘Religiositas dalam Sastra Kristen Barat,’ dalam buku “Sastra dan Religiositas,” Penerbit Kanisius 1988, Y.B. Mangunwijaya berkata: “Isolde, dan sekian banyak peran-peran putri-putri istana balada-balada kala itu adalah jenis wanita fatal, dambaan murni, maut murni. Tepatnya, dambaan fana belaka, maut siklus alam raya belaka, lahan dasar manusia biologis, sadar rimba belantara negeri-negeri Utara.”

Opera “Tristan dan Isolde” yang didengar Nietzsche dari kawannya; Gustav Krug, saya sedari Ackere, mungkin dianggapnya kuno, selawas “Romeo- Juliet” William Shakespeare; setidaknya di masa-masa berikutnya, ia berhadapan langsung dengan Wagner.


“Siapakah yang benar-benar meragukan bahwa aku, prajurit artileri tua aku ini, memiliki kemampuan untuk mengangkat senjataku yang berat melawan Wagner? — Untuk diriku sendiri kusimpan segala hal yang menentukan dalam hal ini — aku dahulu mencintai Wagner. — Pada puncaknya ini adalah sebuah serangan terhadap sesuatu yang ‘tak dikenal’ yang subtil yang tidak dapat dengan mudah dideteksi oleh orang lain, dalam arti dan arah tugasku…” (‘Kasus Wagner, Persoalan Seorang Musikus,’ terjemahan Omi Intan Naomi, “Ecce Homo Lihatlah Dia Friedrich Nietzsche,” terbitan Pustaka Pelajar, Cetakan III 2004). Lantas marilah dengar salah satu karya komposer favoritnya, R. Schumann “Manfred (Kakak Faust).”

Kalau tak keliru, saking sialnya tokoh ‘Manfred’, tiada pada karya terbesarnya Goethe yang bertitel “Faust.” Dalam diri Manfred, Schumann menemukan dirinya sendiri. Pada tokoh Faust masih ada cahaya pertolongan, sedangkan pada Manfred tiada jalan keluar. Kakak Faust itu selalu diganggu kegelisahannya, dikejar-kejar fikirannya sendiri. Ia punya kastil di Jungfrau atas pegunugan Alpen, jauh dari orang-orang, hidup dalam kesunyian hati kecewa nan tersiksa. Pagi-pagi melepaskan pandangannya melalui batu-batu karang, mata mengutuki menyingsingnya fajar, kalau ia bisa meremukkan perasaan penjelasannya ke bebatuan karang ini. Bumi maupun laut, angin pun pula pegunungan, sedang kemauannya yang dahsyat tak bisa penuhi keinginannya; melupakan segala-galanya. Itu hanya bisa diberikan maut padanya, dengan maut untuk jiwa, dan kejahatannya yang tak terkikiskan.

Di tempat lain J. Van Ackere menuturkan singkat hal komponis Johannes Brahms (1833-1897), tidak mengabdikan seorang kekasih. Dalam seluruh hidup mencintai istri kawannya paling akrab, cinta yang tragis dan sia-sia. Brahms bekerja sama dengan penampil utama di masanya, termasuk pianis Clara Schumann (istri komponis R. Schumann). Gambaran simbolis hidup Schumann adalah tragis, dua jurang dimana hanya terdapat tumbuh beberapa bunga bahagia nan halus. Jurang awal pergulatan memiliki perempuan yang dicintai, pergolakan lama serta sulit yang hanya bisa dimenangkan di depan hakim. Jurang lain lebih dalam, setelah perkawinannya yang berbahagia datang menghancurkan keelokan hayatnya, musik datang pun tak dapat menghibur, penyakit gila, mundurnya otak yang gemilang, puncaknya tanggal 27 Februari 1854, ia meninggalkan rumah, pergi ke sungai Rhein lalu menerjunkan diri di tengah-tengah arus, untung dapat ditolong pelaut-pelaut yang kebetulan lalu, namun otaknya sejak itu semakin terganggu.

Schumann sebelum jadi musikus mulanya penyair, menulis dua buah roman, naskah-naskah drama dan syair, ia memuja penyair Inggris Lord Byron, saya jumput saja petikan sajaknya bertitel “Darkness” pada tulisan Goenawan Mohamad di majalah.tempointeraktif.com 06 Oktober 2008, “In the Wee Small Hours.” Judul ini sama persis label album studio kesembilan American, vokalis Frank Sinatra, filmnya dirilis bulan April 1955 di Capitol Records, diproduksi Voyle Gilmore atas pengaturan Riddle Nelson. Goenawan mengambil dari nyanyian Sting, “In the wee small hours of the morning.” Di sini saya hanya mengenai sajak Byron atas terjemahannya:

…dan bintang-bintang
menggelandang di ruang kekal
tanpa sinar, tanpa jalur,
dan Bumi yang dingin
bergoyang, buta…

Dalam kesendirian panjang Robert Alexander Schumann (1810 – 1856) berkata-kata: “Kalau aku Senyum itu sendiri gerangan, aku mau menggelepar di sekeliling matanya; kalau aku Kegembiraan aku diam-diam akan mengalir dalam nadi-nadinya.” Schumann seperti Manfred, lebih jauh adalah Nietzsche, dan Lord Byron mula segalanya. Kata Nietzsche ”… To die proudly when it is no longer possible to live proudly.” (The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro).

…dan bintang-bintang
menggelandang di ruang kekal
Manusia-manusia yang bernyali besar, kelebihan gairah, sudah terbiasa merasai kepahitan hidup, rasa ampang atas persoalan mendera, mencintai waktu-waktu kesunyiannya, menyingsingkan semangat tinggi-tinggi, paras wajahnya terus bertambah cahaya oleh kepercayaan diri. Keyakinan yang diimani, menggelandangkan seluruh kepemilikannya, mempertaruhkan dalam kepenuhan pencarian, hidup tidak hidup bagi mereka, tapi baginya luapan abadi kekekalan waktu, atas restu Sang Pemilik Masa.

Demikian waktu menghadiahkan insan selalu bergumul ikuti irama, waktu memberikan tempat tak disangka-sangka, tetapi begitulah nyanyian semesta; bintang-gemintang menembus lapisan cahaya, menerobos masa lampau pun yang datang. Salah satu cara bertahan pada lawatan tersebut mengatur nafas, disimpannya di lambung perencanaan, lambat laun mendapati cara lain. Awalnya menahan nafas lalu bernafas dalam kedirian terdalam, permenungan, penghayatan sedari waktu sebelum dan mendatangnya. Mempelajari kepadatan angin bebisikan bayu, kemudian berseluruh daya terbang menuju ruang hampa, letak segenap kerja ditaruh pada lapisan langit kekekalan terbuka lembarannya atas magnit yang sama, ketika bumi berputar pada porosnya.

tanpa sinar, tanpa jalur,
Meski sudah memamah wawasan sekesadaran gemilang, bebentuk kelebihan gairah selalu terbentur misteri hidup rahasia Ilahi, lontang-lantung seakan tak bertujuan, lantaran jalur ditempuh tak ada lain itu kepasrahan. Ketundukan pada hukum besar alam, seolah buta arah menggembarakan naluri bekerja, hatinya merambahi alam-lama disaksikannya dalam keimanan. Tapi begitu bagi mereka memandang benar matang lelangkahnya, ini tidak lebih sudah tergariskan, harus mengembarai ruang-ruang kekal;

Wewaktu tak dapat ditembus kecuali lewat kesuntukan pelajari keseluruhan hidup benturan tekat, dan tersebab kasih-sayang-Nya pada bebintang itu, dipertemukannya orang-orang mengemban nasib ganjil, lalu sama-sama menerobos kegelapan. Perpisahan mencipta jarak rindu, dan dengannya menanjaki kedewasaan menawan, keampuhan bersegenap kemauan abadi, kecintaan terhadap kekekalan. Tanpa sinar sebelumnya, tanpa jalur yang sudah-sudah, karena dirinya perintis salah satu jalur kelanggengan, pengungkap jaman kejahiliyaan.

dan Bumi yang dingin
bergoyang, buta…
Siapa yang peduli di masa hidupnya? Gairah Lord Byron? Kesialan Manfred? Kegilaan Nietzsche? Bumi dingin, lebih dingin dari ribuan tepuk tangan panjang dengan telinga tuli; lama-lama ruangan bergoyangan hebat, kian waktu tambah frekwensinya, kemudian meletus. Dalam materi ini saya ambil misal letusan gunung berapi dalam menafsirkannya;

Ada meloloskan lava cair secara merata, muntah tumpah ke mana-mana, ada letusan interval serta terus bersambung-sinambung, ada lavanya mengental sehingga menyumbat mulut kawah, lantaran tersumbat tekanan dari dalam kian meningkat memecahkan sumbatan lava, hingga keluarkan lahar dingin nan mengalir disertai awan panas, ada darinya keluar material padat pun cair berkekuatan erupsi besar nan tinggi sedari perut magma dalam gunung, ada yang wataknya hampir sama menyumbatan kawah sebab lava padat kental, menjadi letusan kecil beruntun, lalu keluar lava berpijar laksana air mancur karena sumbatan, ada letusanya dahsyat sampai puncak gunung hancur dan kawah menjadi rendah, ada kawah memiliki danau lantas meletus berakibat danau kawah berubah menjadi lahar panas ikut meluber, menyerang daerah-daerah sekitarnya serta lebih.
***

Setelah cukup menghirup udara segar di luar, sesudah bedah bukunya Aguk Irawan Mn “Penakluk Badai, Novel Biografi KH. Hasyim Asy’ari” di Pon-Pes Sunan Drajat, isi seminar di STITAF Siman, Lamongan, diteruskan mengikuti seminar Internasional “Budaya Asia Tenggara” di UNESA, lalu ikuti bedah karya “Baju Bertuah Nabi Yusuf” karangan M. Fathoni Mahsun, lantas ikut serta bedah kumpulan puisi “Balada Lelaki Tua di Pamatang Sawah” Karya A. Rego Ilalang di Jombang. Yang membikin cemburu berat mendapatkan buku kritikus sastra Maman S Mahayana bertitel “Pengarang Tidak Mati” disaat menginap di hotel Singgasana kota Pahlawan, setidaknya saya selalu terbakar semangatnya sampai kini, tatkala balik memijakkan kaki di bumi Reog, tempatnya pujangga R. Ng. Ronggowarsito dulu nyantri di Gebang Tinatar, Tegalsari, pada Kyai Ageng Hasan Besari.

Saya lanjutkan catatan ini demi menggenapi langkah ke muka, terpetik saja ungkapan Simuh di bukunya “Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita” terbitan UI-Press, 1988, hlm 47: “Melalui hasil-hasil karya seni dan sastra, istana merupakan barometer peradaban dan kebudayaan Jawa. Walaupun wibawa istana melalui hubungan kekuasaan kenegaraan telah hilang, namun istana berhasil memperbesar wibawanya melalui hubungan kebudayaan dan kesenian.”

Dan saya mencium gelagat sejarawan Hegel,“Bila satu jiwa yang agung membuat dirinya menjadi terkemuka -bagaikan sebuah gelombang besar dalam lautan yang bergelombang.” (G.W.F. Hegel, Bab II Agama Islam, dalam bukunya The Philosophy of History).

Walau dalam Seksi I, ‘Unsur-unsur Dunia Jerman Kristen’ pada bab saya kutip di atas, Hegel menghentikan kalimatnya lewat ungkapan, “Islam telah lama hilang dari tahap sejarah pada umumnya, dan telah mengalami kemunduran di dalam ketenangan dan ketentraman Timur.” Namun… “…bintang-bintang / menggelandang di ruang kekal / tanpa sinar, tanpa jalur, / dan Bumi yang dingin / bergoyang, buta…” (Lord Byron).

Ronggowarsito menggelandang ke tengah-tengah malam pergolakan jaman ke hutan Ponorogo. Nama ‘Ponorogo’ berasal dari kata ‘Pono’ dan ‘Rogo’; “Pono” dalam bahasa Jawa berarti ‘melihat, tahu, mengerti, wasis, mumpuni,’ atau ‘dinaya perasaan yang mengandung indera keenam di dalam mengetahui peristiwa kan terjadi.’ “Rogo” bermakna raga, diri atau orang. Menurut versi lain, “Pono” sedari serapan bahasa Arab berasal kata “Pono / Fana” artinya ‘hancur, hilang, lenyap, rusak, tak terlihat.’ Sedang “Rogo” adalah tubuh / jasad manusia. Maka “Ponorogo” dapat dikatakan, insan memiliki kekuatan supranatural di dalam mengetahui peristiwa masa depan, juga pengetahuan akan rusak atau lenyapnya badan. Tepatnya, kepribadian manusia yang mempunyai kesadaran berfikir jauh, mengingat bahwa kehidupan ini fana.

Santri Tegalsari tersebut bagai bintang kutukan dari keraton Surakarta, bergaul dengan para bandit, warok, berjudi, sabung ayam sebangsanya, mengumbar senang sebelum menilik kandungan pekerti lama, sedurung wahyu kapujanggaan menempa dirinya. Seolah alam telah menyiapkan datangnya, sehingga di masa sudah direstui semesta raya, ianya mudah menyerap petuah-petuah para wali (baca karyanya bertitel Wirid Hidayat Jati), demikian pun budi pekerti dari pelbagai kepercayaan yang tumbuh subur di tanah Jawa.

Setidaknya ini menjawab Hegel; “‘diam-diam’ di dalam ketenangan dan ketentraman Timur” yang dibius politik adudomba penjajahan Belanda, ajaran Islam menyusup indah, menyenggamai tanah-tanah dipijaknya, nafas-nafas rerumputan bersatu ke dalam peluk denyutan kasih mesra Jawa Seraya.

Lalu merujuk kalimat Sutan Takdir Alisjahbana “…dalam tiap-tiap kebudayaan itu yang terpenting adalah jiwanya, sikap hidupnya, cara berpikirnya, dan nilai-nilai tujuannya. Adapun bahan-bahan dan alat-alat boleh saja berasal dari mana saja, apalagi dari kebudayaan tradisi itu sendiri.” (Menutup Polemik Kebudayaan, Tempo 21 Juni 1986). Maka buku ini jawaban ataupun membuka tutup polemik kebudayaan, sebagaimana STA menyebutkan dalam esainya yang sama:

“Sebenarnya kalau saya mengatakan kebudayaan tradisi itu harus diintegrasikan dalam kebudayaan baru, hal itu artinya kebudayaan tradisi itu mesti mengalami transformasi. Dalam hal yang demikian yang diambil dari kebudayaan yang lama itu adalah unsur-unsur lahirnya, bentuk dan caranya. Tapi semuanya harus berubah menjadi penjelmaan jiwa kebudayaan modern yang, seperti kita tahu, dikuasai oleh kemajuan ilmu, ekonomi, dan teknologi. Di sini kelihatan bahwa Sutardji kurang memahami pengertian kebudayaan sebagai suatu struktur.”

“Tiap-tiap kebudayaan itu mempunyai konfigurasi nilai-nilainya yang menentukan struktur dan arahnya sendiri, dan kebudayaan modern adalah kebudayaan yang berbeda sekali nilai-nilai dan strukturnya, bukan hanya dari kebudayaan Abad Pertengahan di Eropa, tetapi juga dari segala kebudayaan tradisi yang bersifat keagamaan. Kebudayaan modern yang bersifat sekuler itu mementingkan tanggung jawab manusia, hasil pemikiran dan pekerjaan manusia dalam usahanya menguasai alam.”

Lantas kita tengok pendapat Adolf Hitler, sebelum memanasi Perang Dunia ke II: “Keduanya berbahaya. Pembicaraan palsu terjadi karena ia tidak pernah bisa menembus pusat masalah, sementara sentimentalitas salah terjadi karena ia terlewati begitu saja.”

Saya ambil dari bukunya “Mein Kampf,” Edisi Lengkap, Volume I & II, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Narasi, 2010. Kalimat Hitler itu tak lebih menyerang bayangan musuh-musuhnya, sebab ianya sebelum memegang tampuk kepemimpinan Nazi atau dapat dibilang masih waras, bagi yang menganggap gerakan kesadarannya menumpasi nilai-nilai kemanusiaan, tetapi saat memakai cara licik dan ini diperbolehkan dalam peperangan (pada peraturan peperangan Islam, tak boleh membunuh anak, para orang tua serta kaum wanita yang tak membahayakan, juga tidak ingkar terhadap perjanjian). Sayangnya Hitler kebablasan, dipakailah kalimat di atas untuk mengelabuhi atau berpropaganda, sedikit banyak memalsukan data gambar pun kata-kata, demi membikin sentimentalitas atau nasionalisme ‘buatannya’ yang tidak berakar dari realitas perjuangannya.

Jika saya pakai kalimat Hitler dalam membongkar teks SCB, tidakkah merupakan “Pembicaraan palsu terjadi karena ia tidak pernah bisa menembus pusat masalah?”  Membentuk “sentimentalitas salah terjadi karena ia terlewati begitu saja?” Kemudian para kritikus terpukau silap mengikuti gayanya, kalau “Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantra.”

Atau “Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, “Jadi, lantas jadilah!” Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri” atau “Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, “Jadi maka jadilah!” Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri.” “Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri.”

Jelas-jelaslah ini suara palsu, sentimentalitas salah kaprah! Maka sejauh pengembaraan saya menghadapi tetumpukan masalah serta peristiwa tidak main-main, sebagai jawaban soal-soal tidak mereka sentuh secara sungguh, pada kasus yang terang-terangan tidak berpijak dan tidak memiliki akar-akar sesungguhnya! Atau teringat kata penutup Ayu Sutarto dalam seminar, Prek!

Lamongan-Ponorogo, bencah Tanah Jawa,
25 Juli 2012, hari ke 5 Ramadhan 1433 H.
Dijumput dari: http://nurelj.blogspot.com/2012/07/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_25.html
Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Nurel Javissyarqi Template by Bamz | Publish on Bamz Templates