Showing posts with label Benny Benke. Show all posts
Showing posts with label Benny Benke. Show all posts

Sunday, May 27, 2012

Sosiawan Leak Akan tampil di Korsel

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

Sosiawan Leak, penyair dari Solo akan menampilkan puisi-puisinya dalam beberapa kesempatan di Korea Selatan. Selain akan tampil di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul pada Jumat (1/6), dia juga akan membacakan puisi-puisinya di Ansan pada Sabtu (2/6), dan KBRI Seoul pada Minggu (3/6).

Di samping Leak, beberapa penyair Indonesia lainnya juga akan tampil dalam program yang dirancang oleh Indonesian Student Association in South Korea tersebut. Mereka di antaranya adalah Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), D Kemalawati (Aceh), Asrizal Nur (Riau) dan Jumari HS (Kudus).
Event yang merupakan bagian dari kegiatan Festival “One Day Indonesia” itu, diselenggarakan dalam rangka ikut mengangkat citra Indonesia dalam pergaulan dunia, khususnya bagi bangsa Korea. Oleh karena itu selain acara pembacaan karya sastra (puisi), juga akan digelar berbagai pertunjukan kesenian Indonesia, pembukaan stand makanan, dan kerajinan tangan yang melibatkan berbagai organisasi perhimpunan masyarakat Indonesia, baik yang ada di Korea maupun yang didatangkan dari tanah air.

Menurut Andy Tirta, Presiden Student Association in South Korea, acara tersebut bakal dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat yang ada di Korea Selatan, baik masyarakat Korea sendiri, maupun masyarakat internasional yang ada di sana, termasuk masyarakat Indonesia.

Leak sebagaimana rilisnya yang diterima Suara Merdeka, Jumat (18/5), telah menyiapkan beberapa puisi, seperti “Phobia”, “Pejantan Babi”, “Dunia Bogambola”, “Diorama”, dan “Ya”, untuk ditampilkan dalam event tersebut. Puisi-puisi itu, bersama dengan karya penyair lain yang diundang juga akan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi oleh panitia. Namun berbeda dengan penampilan penyar lain, Leak akan mendeklamasikan karya-karyanya tanpa menggunakan teks dan melengkapinya dengan eksplorasi gerak (ekspresi & akting) serta bunyi (suara & tubuh).

Ini bukan kali pertama Leak unjuk kebisaan di mancanegara. Sebelumnya, dia juga pernah dilibatkan di sejumlah festival internasional seperti “Festival Puisi Internasional Indonesia 2002″ (Makassar, Bandung & Solo), “Poetry On The Road” 2003 (Bremen, Jerman), “Ubud Wiriters & Readers Festival” 2010 (Ubud, Bali), “Jakarta Berlin Arts Festival” 2011 (Berlin, Jerman).

Kemudian melakukan poetry reading di Universitas Pasau (2003), Universitas Hamburg (2003 & 2011), Deutsch Indonesische Gesellschaft (2011), Kedutaan Besar Indonesia di Berlin Jerman (2011).

Tahun 2011 mementaskan monolog gerak “Sarung” di Amphi Theatre (Monbijoupark, Berlin, Jerman), di The Panda Club Theatre (Cultur Braureire, Berlin, Jerman) dan Marie Cafe (Berlin, Jerman). Sedangkan pada 2012 melakukan poetry reading bersama Adam Wideweisch (USA) di (Biltar, Indonesia) dan melakukan poetry reading bersama Penyair Afrika Selatan (Charl-Pierre Naude, Vonani Bila, Mbali Bloom, Rustum Kozain) & Kurator Jerman (Indra Wussow) di Universitas Negeri Jember (Jember, Indonesia).

18 Mei 2012

Monday, March 26, 2012

Puisi pun Ditadaruskan

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

SEBAGAIMANA menjadi permakluman umat muslim sedunia, bulan Ramadhan adalah saat dan tempat segala berkah dan kelimpahan cahaya atas cahaya bagi seluruh umat manusia; tanpa terkecuali. Di bulan itu -dalam terminologi Islam-, terdapat sebuah syariat yang bernama tadarus, membaca kitab suci Alquran sekerap mungkin. Dengan ikhtiar, mendapatkan kelimpahan ridho dan berkah-Nya.

Pada Selasa (11/11) malam lalu, bertempat di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghimpun 11 penyair -beberapa di antaranya penyair terkemuka- di Tanah Air. Mereka diundang untuk menadaruskan puisi-puisinya. Itulah, dalam rangka menyelaraskan dengan bulan Ramadhan, sebuah hajat berjuluk ''Tadarus Puisi'' telah menjadi media untuk saling mengapresiasikan puisi religius para penyair tersebut.

Dalam kesempatan itu, penyair Achmad Nurullah, Slamet Soekirnanto, Jamal D Rahman, Ahmadun Yossy Herfanda, Kurnia Effendi, Jefri Al-Katiri, Abdul Hadi WM, Agus R Sarjono, Leon Agusta, Acep Zamzam Noor, dan Taufik Ismail, berurut menadaruskan puisinya. Maka, rasakanlah nuansa malam itu, saat penyair senior Abdul Hadi WM -yang mengaku sempat sedikit gentar oleh kehadiran penyair muda yang tampil sebelumnya- dengan lirih mendeklamasikan sajak ''Barat dan Timur''. Berikut cuplikannya:

// Barat dan Timur adalah guruku/ walau kiblatku kota suci Mekah/ Muslim, Hindu, Kristen, Bhuda, pengikut Zen atau pun Tao, semua adalah guruku/ Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani rahasia cinta/ hakikat bara api jadi api berkobar/ dan tikar sembahyang menjadi pelana menuju arasnya//

Kerinduan Manusia

Memang, hampir semua puisi yang dideklamasikan atau dinyanyikan malam itu bernarasi tentang kerinduan manusia atas cintaNya. Namun tidak dengan puisi Agus R Sarjono, yang membacakan sajak ''Doa Iblis Suatu Malam''. Agus malah ''menggugat'' kebaikan Tuhan, karena terlalu sayang kepada manusia atas segala kejahatan yang telah dipermaklumkannya di muka bumi. Coba resapi cuplikan ini:

//Sesungguhnya aku tak pernah bertuhankan selain Engkau, wahai yang Maha Tinggi, Maha Meliputi/ Seperti malaikat dan seluruh semesta raya kami pun bertasbih kepadaMu saja/ hanya kami tak rela kepada manusia/ Lumpur brengsek yang Kau bikin jadi mulia hanya karena mengenal bahasa dan nama-nama/ Lihatlah mereka tak putus-putus berkata-kata dan berbuat sengketa/ Mereka kenali nama-nama segala benda lalu mereka rusakkan/ Kau kenalkan mereka dengan DzatMu/ Tapi begitu lekas mereka lupakan// Tuhanku lihatlah, kami bujuk mereka menjauh dariMu sepuluh langkah/ Dan mereka berpacu menjauhimu berlaksa depa/ Kami bujuk mereka untuk berzina dengan tetangga/ Dan mereka zinahi anak dan ibunya sendiri//

Demikian pula dengan penyair dari Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor, yang tak lain adalah putra mantan Rois Am PBNU KH Ilyas Ruhyat. Penyair muda itu mendedikasikan puisi ''Qasidah Sunyi'' untuk para koruptor. Coba cermati puisinya itu.

//Kepada sunyi jagalah napasku agar tidak berbunyi/ Peliharalah tubuhku agar tidak ikut pergi/ lemparkan aku ke lembah biarkan sendiri/ Tengelam dalam rindu biarkan mati/ Aku ingin tidur lelap dalam pelukan kasihmu/ tapi bayang-bayang kehidupan impian-impian masa depan selalu mengusik kantukku//

Sebagai puncak acara, penyair senior Taufik Ismail menutup tadarus puisi itu dengan membawakan sajak ''Malu Aku Jadi Orang Indonesia''. Penyair berpenampilan kalem yang pernah mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat, mengikuti festival penyair internasional di Rotterdam, menjadi peserta kongres penyair sedunia di Taipe, serta mengikuti festival seni Adelaide di Australia itu, mendapat aplaus hangat dari para apresian.

13 November 2003

Kesaksian Para Sahabat untuk WS Rendra

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

Aku mendengar suara/ Jerit makhluk terluka, luka, luka, hidupnya/ Orang memanah rembulan/ Burung sirna sarangnya, sirna, sirna, hidupnya/ Orang-orang harus dibangunkan/ Aku bernyanyi, menjadi saksi.

TEMBANG ''Kesaksian'' yang dinyanyikan Aning Katamsi dan Trie Utami dengan iringan Jockie Soeryoprayogo (organ), Sawung Jabo (gitar akustik), Totok Tewel (gitar), Doddy Katamsi (bas), dan Inisisri (drum), menutup perayaan ulang tahun WS Rendra.

Lebih dari seribu orang yang memenuhi arena Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, turut menyanyikan lagu karya pimpinan Bengkel Teater itu. Penyair, budayawan, sastrawan, dan aktor kelahiran 7 November 1935 di Jayengan, Solo itu pun hanya tersenyum haru disamping kawan dekatnya, Adnan Buyung Nasution dan Panda Nababan.

Rampung sudah rangkaian perayaan ulang tahun ke-70 Rendra yang dilangsungkan 27 - 29 November 2005. Puncak acara bertema ''Menimbang Gerakan Kebudayaan Rendra'' diawali dengan pemutaran film dokumenter perjalanan hidup dan karier Rendra. Film produksi Yayasan Lontar sepanjang 33 menit ini mengisahkan nukilan sepak terjang Si Burung Merak.

Setelah pemutaran film dokumenter, secara bergilir kawan-kawan dekat Rendra membacakan sajak-sajak buah karyanya. Diawali tampilan Panda Nababan yang membacakan sajak ''Aku Tulis Pamflet'' ini, Ratna Riantiarno (Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya), Renny Djayusman (Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta), Wowok Hesti Prabowo (Orang-Orang Miskin), Haris Kertorahardjo (Kangen) dan Jajang C Noer (Perempuan yang Tergusur).

Setelah itu tampillah para personil Kantata Takwa, minus Setiawan Djodi dan Iwan Fals. ''Ini adalah Kantata Takwa minus Iwan dan Djodi. Selamat ulang tahun mas...'' kata Sawung Jabo memberi salam dam selamat ulang tahun kepada guru dan kawannya itu.

Selanjutnya, tembang-tembang yang berangkat dari syair-syair Rendra seperti ''Sogokan'', ''Paman Doblang'', ''Sajak Pertemuan Mahasiswa'', ''Rajawali'' dan ''Kesaksian'' menyulap suasana tak ubahnya konser akbar dadakan yang membuat semua yang hadir memberikan tepuk soraknya.

Dan di atas panggung, di antara koor tembang ''Kesaksian'' yang masih mengalun, disamping Adi Kurdi yang menuntun keseluruhan acara, Rendra dengan haru berujar, ''Terima kasih atas kedermawanan saudara-saudara yang hadir disini. Semoga anugerah usia ini semakin membuat saya berserah pada Yang Widi, Tuhan Yang Maha Esa''.

Penghargaan

Willibrodus Surendra Broto yang kemudian dikenal dengan nama WS Rendra pernah kuliah di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, namun tidak sampai tamat. Dia kemudian memperdalam ilmunya di American Academy of Dramatical Arts, AS (1964-1967). Kembali ke Tanah Air, Rendra membentuk Bengkel Teater di Yogyakarta.

Sebelumnya pada 1964, suami Ken Zuraida ini mengikuti seminar internasional di Harvard, AS. Dan pada 1971 dan 1979 mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Sajak-sajaknya pernah dibacakan di sejumlah kota besar dunia seperti di Amsterdam, Berlin, Koln, Hamburg, Melbourne, Sidney, New York, Moskow dan Leiden.

Karya drama WS Rendra berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan meraih Hadiah Pertama Sayembara Drama Bagian Kesenian Kementrian P dan K, Yogyakarta, tahun 1954. Pada tahun yang sama ia pergi ke Moskow, Rusia. Tahun 1956 cerpennya mendapat hadiah dari majalah Kisah. Tahun 1957 mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk kumpulan sajak Ballada Orang-Orang Tercinta (1957).

Sastrawan ini juga meraih berbagai penghargaan antara lain Hadiah Sastra Horison (1968), hadiah Pertama dari Yayasan Buku Utama Departemen P dan K untuk bukunya ''Tentang Bermain Drama'' (1976), Anugerah Seni dari Pemerintah RI atas karya ''Drama Mini Kata'' (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1974). Rendra juga pernah mendapatkan Habibie Awards untuk perannya dalam dunia sastra dan budaya.

Sedangkan karya-karya monumentalnya antara lain ''Empat Kumpulan Sajak'' (1961, 1978), ''Ia Sudah Berpulang'' (1963), ''Blues untuk Bonnie'' (1971), ''Sajak-Sajak Sepatu Tua'' (1972), ''Potret Pembangunan dalam Puisi'' (1980). Kumpukan sajaknya terdiri atas ''Orang-orang dari Rangkasbitung'', ''Mencari Bapa'', ''Penabur Benih''.

Sajak-sajaknya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa, antara lain Ingris, Belanda, Prancis, Jepang, dan Rusia. Rendra juga menerjemahkan drama-drama monumental ke dalam bahasa Indonesia, seperti Sophokles Oedipus Sang Raja (1976), Oedipus di Kolonus (1976), dan Antigone (1976). Selain itu juga melahirkan karya saduran; Perampok, dan Kereta Kencana.

01 Desember 2005
Old Post ►
 

Copyright 2012 Forum TJK Indonesia: Benny Benke Template by Bamz | Publish on Bamz Templates